Keteladanan Kepemimpinan

بسم الله الرحمن الرحيم

Islamabad, 03-10-2015

Oleh : Adnin Zahir

“Wahai manusia, sungguh aku telah didaulat (sebagai pemimpin) atas kalian dan aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Maka jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat salah maka luruskanlah aku.

Kebenaran itu amanat, kedustaan itu khianat. Orang-orang yang lemah diantara kalian adalah orang kuat disisiku, hingga aku singkirkan kesusahannya, Insya Allah. Orang-orang yang kuat diantara kalian adalah lemah (disisiku) sampai aku mengambil (apa-apa) yang hak darinya Insya Allah. Janganlah kalian meninggalkan jihad, karena tidaklah sebuah kaum meninggalkannya kecuali Allah SWT akan menimpakan kehinaan kepada mereka.

Taati aku selama aku taat kepada Allah dan Rasulnya. Jika aku durhaka kepada Allah, maka tidak ada kewajiban taat atas kalian kepadaku. Bergegaslah menuju shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian semua.” (pidato Abu Bakar Ra. Ketika diangkat menjadi khalifah)

Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan salah seorang sahabat Nabi SAW. yang termasuk diantara mereka yang pertama masuk islam. Sahabat Nabi Saw yang menemani perjalanan hijrah ke Madinah. Sahabat Nabi SAW yang menggantikan posisi beliau sebagai imam ketika beliau sakit. Gelar Ash-Shiddiq ia dapatkan ketika membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi SAW. Begitu besar perjuangan beliau bersamanya, hingga ia dipilih untuk menjadi khalifah pertama kaum muslimin setelah wafatnya Nabi SAW.

Abu Bakar Ra. menjabat sebagai khalifah dalam rentang waktu yang cukup singkat, 2 tahun. Selama periode kepemimpinannya itu banyak kebijakan yang diambil dalam rangka memperbaiki kondisi internal kaum muslimin. Perbaikan ini dilakukan terkait munculnya kelompok-kelompok yang meninggalkan ajaran Allah SWT. pasca wafatnya Nabi SAW. Hal inilah yang menyebabkan terjaganya persatuan umat islam tetap terjaga selama periode kepemimpinan beliau.

Karakteristik Kepemimpinan Islam

Seorang pemimpin yang baik akan selalu memperhatikan keadaan orang yang dipimpinnya. Ada yang memimpin, ada pula yang dipimpin. Itulah simulasi kehidupan kita ini. Karakter yang dimiliki seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi terhadap kelangsungan dan kelancaran yang dipimpinnya.

Dalam islam, masalah kepemimpinan menjadi pembahasan yang sangat penting. Pada dasarnya, kepemimpinan dalam islam bersifat menuntun, memotivasi dan mengarahkan manusia agar beriman kepada Allah SWT. Seorang pemimpin juga dapat mempengaruhi dan sikap mental yang selama ini ada pada masyarakat. Karena itu, kepemimpinan dalam islam merupakan sebuah kewajiban yang menantang dan berat. Ia juga harus mempertanggungjawabkan atas semua yang dipimpinnya dihadapan Allah SWT.

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Dari Abdullah bin Umar r.a : ia telah berkata saya telah mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda : Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya (diminta pertanggung jawaban) terhadap apa yang dipimpinnya”. (HR. Bukhari-Muslim)

Berbicara mengenai karakteristik kepemimpinan maka tak lepas dari teladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Dalam sejarah tercatat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya berperan sebagai pemimpin dalam satu hal saja. Ia juga lihai dalam politik, militer, ekonomi, dll. Menarik untuk dicermati bagaimana ia mengimplementasikan sifat-sifat yang ada pada diri beliau menjadi karakter kepemimpinan islam.

Sifat wajib Rasul merupakan pencerminan karakter dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin umat. Secara rinci sifat-sifat tersebut adalah shiddiq, tabligh, amanah, fathanah.

Shiddiq, ketika masih muda, orang-orang Quraisy menjulukinya sebagai Al-Amin. Ia memiliki kepribadian serta kekuatan bicara yang memikat. Sehingga orang-orang yang ingin berbicara dengannya akan kembali dengan keyakinan akan kejujuran perkataannya. Peranannya sebagai seorang Rasul dan pemimpin dibuktikan dengan perbuatan sesuai yang termaktub dalam al-Qur’an. Keutamaan dan kemuliaan sifat Shiddiq ini diperkuat dan dijelaskan dalam firman Allah:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul- Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan kedudukan”. (Q.S. al-Ahzab : 22)

Amanah, Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bertanggung jawab pada tugas dan kewajiban yang diembannya. Sebagai seorang nabi yang diberi mukjizat berupa al-Qur;an, ia menyampaikan ayat-ayat tersebut meskipun ayat tersebut bertentangan dengan hawa nafsu. Dalam artian, ia menyampaikan ayat tersebut bukan sebagai ajang untuk mendapatkan keuntungan belaka. Sifat amanah yang ada pada diri beliau ini semata-mata berasal dari perintah Allah untuk umatnya. Karena hakekat seorang pemimpin adalah ia mampu membimbing dan mengarahkan manusia ke jalan yang benar.

Tabligh, menyampaikan. Penetapan sebagai Rasul ketika berumur 40 tahun menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad SAW. merupakan seorang penyampai risalah islam. Sebagai seorang penyampai risalah, ia menyampaikan apa-apa yang diturunkan Allah kepadanya dalam bentuk wahyu meskipun itu bertentangan dengan fitrah manusia atau bahkan isinya sebagai peringatan kepada beliau sendiri.

Fathanah, mustahil bagi Rasul itu bersifat bodoh. Dikarenakan banyak hal dalam ayat al-Qur’an yang memerlukan penjelasan baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Beliau memang seorang yang Ummi, namun itu justru menunjukkan bahwa ia pikiran beliau tidak dirasuki oleh pemikiran yang menyesatkan. Perjalanannya sebagai pemimpin umat yang mampu mentransformasikan bangsa Arab yang asalnya terpecah belah menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengatahuan cukup menjelaskan bahwa ia memiliki sifat yang cerdas.

Dewasa ini kita sering menyaksikan keterbalikan moral baik di media massa ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang berpegang teguh kepada tali Allah yang kesehariannya membawa al-Qur’an, berjenggot ditangkap dengan dalih “terduga teroris”. Sedangkan orang yang telah jelas-jelas melakukan kemaksiatan, prostitusi dibiarkan bebas lepas tanpa pengawasan. Bahkan belakangan ini kita mendapat berita bahwa di DKI Jakarta (maaf) pelacur akan mendapat sertifikasi untuk melegalkan profesinya tersebut. Lebih jauh lagi, akan mendapatkan tempat khusus. Tak sadarkah bahwa kerusakan moral yang melanda negeri ini, salah satu penyebabnya melalui prostitusi ?

Kita bisa menengok kepada sejarah dimana ketika syari’at islam diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari akan tercipta masyarakat yang unggul dan memilki akhlaq yang mulia. Pada masa Abu Bakar ra, muncul gerakan orang-orang yang meninggalkan agama islam (murtad). Gerakan ini muncul akibat wafatnya Rasul SAW. dan mereka melepaskan kesetiannya pada khalifah. Mendapati hal itu, Abu Bakar ra. dengan tegas menumpas gerakan tersebut.

Pada masa itu juga muncul orang-orang yang enggan membayar zakat. Keengganan membayar zakat itu baik karena kikir atau karena anggapan bahwa pembayaran zakat sudah tak berlaku lagi pasca Rasulullah wafat. Mereka mogok membayar zakat yang juga menyatakan kalau mereka tidak tunduk pada kekhalifahannya. Karena itu, Abu Bakar menumpas kelompok ini juga.

Dari kebijakan Abu Bakar ra. yang diambil Abu Bakar dalam menghadapi gerakan pelanggar syariat ini, tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaga stabilitas negara. Dimana ketika sebuah kelompok berniat untuk melanggar hukum namun dibiarkan oleh pemerintah setempat maka akan merusak tatanan stabilitas yang telah ada. Dari situ, akan timbul gerakan-gerakan baru atau bahkan lebih ekstrem untuk menentang pemerintahan.

Sikap seperti ini hendaknya ditiru oleh pemerintah kita. Banyaknya pelanggaran-pelanggaran moral yang dilakukan oleh masyarakat disebabkan ketidak tegasan pemerintah mengambil sikap. Kita sering menyaksikan di media-media massa belakangan ini tentang hubungan seks antar ayah dengan anak. Atau pemerkosaan antara guru dengan murid. Dan itu seperti sebagai sebuah hal yang biasa. Tidak adanya sikap tegas pemerintah dalam masalah ini justru akan menembulkan dampak buruk di masa yang akan datang.

Kasus sunni-syi’ah juga bisa menjadi contoh. Kita melihat konflik di Yaman yang melibatkan syi’ah houthi hendaknya bisa menjadi pelajaran bagi kita. Hal yang aneh adalah ketika sebagian kelompok menafikan adanya perbedaan ini. Padahal dalam status facebook Emilia Renita (istri Jalaluddin Rahmat) sendiri menegaskan adanya perbedaan tersebut. Dalam status tersebut berbunyi “Tuhan kita adalah tuhan yang menurunkan wahyu kepada Ali, sedangkan tuhan yang menurunkan wahyu kepada Muhammad maka bukan tuhan kita”. Ironisnya lagi, baru-baru ini pemerintah mengadakan kerjasama pemberantasan radikalisme dengan pemerintah Iran.

Hendaknya kita mencontoh sikap malaysia dalam menghadapi syi’ah. Dalam hal ini mereka dengan tegas menyatakan bahwa syi’ah termasuk dalam aliran sesat. Bahkan pada 10 Maret 2015 Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) melarang adanya publikasi, edukasi serta penyebaran faham sesat ini. Mereka memandang bahwa aliran ini dapat mengancam keamanan negara.

Penutup

Pada akhirnya kita dituntut untuk lebih cermat dalam memilih seseorang menjadi pemimpin. Jangan sampai kita memilih pemimpin yang justru menurunkan kualitas iman kita. Media memiliki perang yang sangat vital untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat. Dari media, yang baik bisa menjadi buruk dan yang buruk bisa menjadi baik. Karena itu, benarlah firman Allah :

“ Hai Orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”. (Al-Hujurat :6)

Posted in Tak Berkategori

2 thoughts on “Keteladanan Kepemimpinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s