Sejarah Singkat Peradapan Islam 610M-1566M

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Surabaya, 13-April-2013

Oleh : Karnan Baiduri Akbar

Alhamdulillah segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan berbagai nikmat yang tidak kita dapatkan selain dari sisi-Nya. Shalawat serta salam kita hanturkan kepada Nabi Muhammad saw dan kepada seluruh Nabi Allah serta para Rasul-Nya.

 

Sebelum kita memasuki pembahasan pokok tentang sejarah peradapan Islam, mari kita mengenal lebih jauh arti dari sejarah itu sendiri. Kata sejarah diambil dari bahasa arab yaitu “syajaratun” yang artinya pohon, karena bangsa arab dahulu mencatat silsilah keturunan mereka menyerupai cabang pohon yang mempunyai banyak ranting. Maka arti sejarah adalah pelajaran dan pengetahuan tentang perjalanan masa lampau umat manusia, mengenai apa yang dikerjakan, dikatakan dan dipikirkan oleh manusia pada masa lampau.

 

Peradaban Islam mulai tumbuh dan berkembang pada zaman Dinasti Bani Umayyah sampai berada dipuncak pada masa pemerintahan Sulaiman Al-Qanun tahun 1566 M dari Kesultanan Utsmaniyah. Setelah itu mengalami kemunduran yang diakibatkan konflik politik dan peperangan.

Kemajuan peradaban suatu negara tidak lepas dari kestabilan kondisi politik negara tersebut dengan disokong perekonomian yang kuat, wilayah yang kondusif dan dukungan dari pemerintah pada kemajuan ilmu pengetahuan. 3 Dinasti yaitu Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah selalu memberikan “reward/penghargaan” cukup besar bagi para ulama’, ilmuan serta seniman yang berkontribusi untuk kemajuan ilmu pengetahuan, oleh karena itu mereka berlomba untuk memajukan peradaban Islam.

 

Kemajuan atau keberhasilan suatu bangsa dapat diraih dengan kemampuan untuk memetakan semua rintangan, hambatan dan mencari solusinya. Cara pandang seperti ini akan memberikan kesuksesan gemilang, bisa kita lihat dalam usaha Muhammad Al-Fatih menaklukkan Istambul (yang dulu bernama Konstantinopel kemudian berubah menjadi Islambul dan Istambul yang artinya kota Islam). Sejarah terbentuknya peradaban Islam dapat kita bagi menjadi 3 fase, yaitu :

  1. Masa kelahiran peradaban Islam.

  2. Masa transisi.

  3. Masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam).

Islam berperan penting dalam menyumbang kemajuan peradaban bangsa Arab, umat Islam dan dunia. Kurang dari 25 tahun Nabi Muhammad saw telah meletakkan dasar nilai-nilai kehidupan kepada bangsa Arab dan non-Arab.

 

Sebelum kita membahas fase kelahiran ideolgi peradaban Islam, mari kita tengok sejenak bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. Penduduk Arab dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu : penduduk desa/padang pasir (yang sering kita sebut Badui) dan penduduk kota. Kehidupan penduduk desa sangat sederhana tidak disibukkan oleh hingar bingar perpolitikan antar suku, bisa dikatakan kehidupan peduduk desa tidak terkontaminasi oleh berbagai persoalan yang timbul pada kehidupan penduduk kota, mereka menyambung hidup dengan cara mengembalakan ternak, sedangkan penduduk kota mata pencarian mereka rata-rata sebagai pedagang, bercocok tanam atau sebagai pengrajin dengan segala corak gemerlap kehidupan kota, karena penduduk kota secara tidak langsung berinteraksi dengan kebudayaan asing yang dibawa oleh para musafir atau pedagang. Oleh kerena itu sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab di Mekkah untuk mengirimkan anaknya ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah berumur delapan atau sepuluh tahun guna menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh ikatan rohani dan materi serta belajar bahasa Arab yang murni. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa penduduk desa di masa ini lebih sopan dalam bertutur kata, hal ini senada dengan kehidupan pada zaman lampau.

 

  1. Masa Kelahiran Peradaban Islam.

 

Masa ini dimulai dari tahun 610 M ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul sampai 632 M yaitu ketika Rasul saw wafat. Peradaban Islam pada masa Rasulullah saw yang paling fenomenal adalah perubahan sosial. Suatu perubahan yang mendasar dari kebobrokan moral menuju moralitas manusia yang beradab. Selama 13 tahun Rasulullah saw berda’wah di Mekkah untuk mempersiapkan mental para sahabatnya agar siap menyambut perubahan besar, yaitu “hijrah” membangun peradaban Islam di kota Yastrib. Nabi Muhammad saw berhasil mengubah tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup berubah memuliyakan mereka, dari masyarakat yang suka mabuk-mabukan menjadi masyarakat yang lebih cinta gugur dalam perjuangan membela Islam.

 

Nabi Muhammad saw mengubah masyarakat yang diikat oleh kesetiaan kepada kelompok menjadi masyarakat yang setia kepada Islam, dari kehidupan yang berdasarkan semangat suku dan fanatisme kelompok kepada kehidupan didasarkan pada persaudaraan Islam. Dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah, orang-orang diikat oleh kabilah atau keluarganya masing-masing. Misalnya, dalam kabilah Bani Kinanah, Bani Quraisy dan Bani Kilab. Kesetiaan seseorang bergantung pada kabilahnya. Kalau ada tamu datang kepada satu kebilah, tamu itu bukan saja menjadi tamu bagi seorang, melainkan juga bagi seluruh kabilah itu. Orang yang memusuhi seseorang dalam suatu kabilah, bukan saja menjadi musuh bagi orang tersebut, melainkan juga musuh bagi seluruh angggota kabilah itu. Kalau ada orang yang terbunuh di antara mereka, seluruh kabilah akan membelanya, tidak jadi persoalan apakah orang itu benar atau salah. Nabi Muhammah saw mengubah bangsa Arab untuk meninggalkan seluruh kabilah itu, mereka harus mencari perlindungan yang satu saja, yaitu dibawah naungan Allah swt.

 

Jika kita mengkaji S. Al-Isra’ (Makkiyah), isi surat ini hanya satu ayat yang berkenaan dengan peristiwa isra’ mi’raj, selebihnya tentang kisah Yahudi dan beberapa perkara mengenai iman, hukum, muamalah dll. Allah memberikan semacam “warning” kepada Nabi Muhammad saw bahwa di masa depan beliau akan menghadapai kaum Yahudi, agar Nabi saw siap dengan karakter mereka, persiapan ini juga tentunya ditujukan kepada para sahabat yang saat itu masih tinggal di Mekkah. Nabi Muhammad saw sendiri telah mengetahui bahwa Beliau tidak akan diterima di kota kelahirannya dalam menegakkan agama Allah swt, beliau akan didustakan, disiksa, diusir dan diperangi. Kabar ini didapat Beliau dari seorang pendeta Nasrani yang bernama Waraqah bin Naufal pada permulaan turunnya wahyu.

 

Sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Yastrib, beliau mempersiapkan penduduk Yastrib agar bisa menerima kedatangan para saudaranya dari Mekkah. Peristiwa ini diabadikan pada kisah perjanjian Aqabah I dan II. Peradaban Islam di masa Rasulullah saw di dominasi oleh pembentukan ideologi Islam antara lain menegakkan keadilan, misi Rasulullah saw yang utama ialah memperbaiki moral masyarakat dan menegakkan sebuah sistem kemasyarakatan berlandaskan keadilan yang jauh dari penindasan, dengan menghapus perbudakan secara bertahap, semua manusia mempunya derajat yang sama, tidak dibedakan atas warna kulit dll. Keadialan ini tidak diperuntukkan bagi umat Islam saja tetapi semua yang berada di bawah naungan Islam.

 

Setelah peristiwa hijrah, Nabi Muhammad mulai mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, persaudaraan ini lebih kuat dari pada persaudaraan keluarga sendiri. Mereka kaum Anshar membagi rumah dan harta yang dimilikinya. Dengan persaudaraan ini, Rasulullah saw telah menciptakan sebuah kesatuan yang berdasarkan agama sebagai pengganti dari persatuan yang berdasarkan kabilah.

 

Rasulullah saw telah berhasil mereformasi masyarakat yang setia dan fanatik kepada sistem kekabilahan ke sebuah sistem yang berdasarkan pada ideologi Islam selama 23 tahun, ini merupakan modal utama umat Islam menuju peradaban Islam yang lebih maju, sebuah peradaban yang akan menjadi kiblat bagi peradaban lain di masanya.

 

  1. Masa Transisi.

 

Di masa ini umat Islam mengalami waktu yang sulit, negara Islam digoncang dengan berbagai masalah politik, pemberontakan, fitnah, pembunuhan khalifah, perang saudara dll. Masa ini terjadi pada tahun 632 M – 705 M, yang meliputi masa Khulafaur Rasyidin 4 sahabat yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali semoga Allah meridhoi mereka semua sampai khalifah Abdul-Malik bin Marwan dari dinasti Umayyah.

 

Pemerintahan Abu Bakar ra.

 

Masa pemerintahan Abu Bakar ra dimulai dari 632 M – 634 M, setelah peristiwa di As- Saqifah, yaitu berkumpulnya para pembesar sahabat setelah wafatnya Rasulullah saw untuk memilih siapa yang paling berhak untuk menjadi imam bagi umat Islam. Hal pertama yang dilakukan Abu Bakar setelah menjabat khalifah adalah pengokohan pondasi negara Islam di jazirah Arab. Usaha Abu Bakar ra meliputi pengiriman banyak ekspedisi, seperti ekspedisi pasukan Usamah, ekspesisi Buzakhah, Yamamah dll, pembukuan mushaf Al-Qur’an. Dan usaha yang paling penting adalah memerangi para pemberontak, karena mereka inilah timbulnya fitnah yang luar biasa di jazirah Arab. Mulai dari pengakuan Nabi palsu Musailamah dan Tulaihah, orang-orang murtad sampai para pembangkaang zakat

 

Keengganan membayar zakat karena kikir dan beranggapan bahwa zakat adalah upeti yang sudah tidak berlaku lagi sesudah Rasulullah saw tiada, dan boleh dibayarkan kepada siapa saja yang mereka pilih sendiri sebagai pemimpinnya. Mereka mogok tidak mau membayar zakat dengan menyatakan bahwa dalam hal ini mereka tidak tunduk kepada Abu Bakar ra. Kabilah-kabilah Abs dan Zubyan serta Banu Kinanah, Gatafan dan Fazarah merekalah pelopor anti zakat pertama dalam Islam.

 

Abu Bakar ra berhasil memperluas daerah penyebaran Islam sampai ke negeri Syam dan Irak. Pemerintahan Abu Bakar ra berhasil mengokohkan perpolitikan di jazirah Arab dan menyatukan bangsa Arab yang terpecah belah setelah wafatnya Rasulullah saw.

 

Pemerintahan Umar ra.

 

Pemerintahan Umar ra dimulai dari 634 M – 644 M, model politik Umar ra sangat berbeda dengan pendahulunya Abu Bakar, Umar bisa dikatakan sebagai pencetus administrasi negara Islam, beliau membuat banyak gebrakan, seperti sistem upah, rotasi tugas tentara, sensus penduduk. Orientasi politik Umar berbeda dengan pemikiran Abu Bakar yang adakalanya sampai sangat berlawanan. Abu Bakar cenderung mempersamakan semua kaum Muslimin, tidak membeda-bedakan yang Arab dan yang bukan Arab, dan antara yang baru ber-Islam atau yang telah lama memeluk Islam. Pada masanya ada sebuah tambang emas dekat kota Madinah, pembagian emas yang dihasilkan dari tambang tersebut disamaratakan antara kaum Muslimin. Ketika dikatakan kepadanya tentang kelebihan mereka yang sudah lebih lama dalam Islam sesuai dengan kedudukan mereka , ia menjawab : “Mereka menyerahkan diri kepada Allah dan untuk itu mereka patut mendapat balasan, Allah akan memberi ganjaran di akhirat..”. Tetapi Umar kebalikannya, ia dengan pemikirannya lebih cenderung pada sistem kelas/bertingkat (sistem pengupahan). Ia mengutamakan mereka yang sudah lebih dulu dalam Islam dan lebih utama lagi dari kalangan keluarga Rasulullah saw (ahlul bait). Pemikiran Umar demikian telah meninggalkan bekas dalam kehidupan ummat Islam dan dalam politik kedaulatan Islam. Untuk itulah Umar ra memberikan hak setiap orang berbeda dilihat dari tugas yang diemban.

 

Ketika terjadi kelaparan yang disebabkan oleh tidak turun hujan selama 9 bulan yang menghancurkan segala usaha pertanian dan peternakan waktu itu, sampai digambarkan bahwa penduduk menggali lubang-lubang untuk memburu tikus sekedar menyambung hidupnya, sejak saat itu Umar bersumpah tidak makan samin atau daging (makan makanan mewah) sampai semua orang hidup seperti sediakala. Suatu ketika ada seseorang yang menyuguhkan susu dan samin kepadanya tetapi dia menjawab : “Saya tidak suka makan dengan berlebihan. Bagaimana saya akan dapat memperhatikan keadaan rakyat jika saya tidak ikut merasakan apa yang mereka rasakan”.

 

Pencapaian hasil pemerintahan Umar antara lain adalah penaklukan Irak, Palestina, Mesir, Afrika Utara dan Armenia, merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, berkunjung langsung untuk melihat kinerja para gubernur. Termasuk membangun sistem administrasi untuk dareah yang baru ditaklukkan.

 

Pemerintahan Utsman sampai Abd Malik bin Marwan.


Setelah peristiwa penikaman Umar ketika menjadi imam shalat subuh, dia menunjuk beberapa orang untuk dipilih menjadi penggantinya, mereka adalah, Abdul Rahman bin auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan. Maka terpilihlah Utsman untuk melanjutkan kepemimpinan negara Islam, Utsman mewarisi pemerintahan Islam yang telah mapan dan terstuktur dengan daerah kekuasaan yang sangat luas.

 

Ia adalah khalifah pertama yang melakukan perluasan Masjidil Haram dan Nabawi dengan mendatangkan bahan baku yang berkualitas tinggi untuk memperindahnya. Renovasi dan perluasan ini karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (Haji). Ia mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membangun kantor pengadilan yang sebelumnya setiap perkara diputuskan di masjid, membangun pertanian, membentuk angkatan laut dan jasa yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Tetapi di akhir masa kepemimpinannya ini perkembangan umat Islam sempat vakum dikarenakan munculnya pemberontak yang ingin melengserkan pemerintahan Utsman, dia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam walaupun mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan mereka.

 

Utsman akhirnya wafat sebagai syahid ketika para pemberontak yang berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca mushaf Al-Qur’an. Kaum Muslimin membait Ali sebagai pengganti Utsman, yang menjadikan Ali sebagai khalifah pertama yang dibai’at secara massal.

 

Sebagai khalifah ke-4, Ali mewarisi pemerintahan dalam keadaan kacau fitnah mulai muncul dan berbagai kelompok Islam memecah belah persatuan umat. Di awal pemerintahannya, Ali sudah harus berurusan dengan persoalan perang saudara bahkan harus berhadapan di medan pertempuran dengan gubenurnya sendiri yaitu Muawiyah. Sebagian sahabat berpihak kepada Ali, sebagian yang lain berada di pihak Muawiyah dan sebagian yang lain berlepas diri dari mereka berdua, salah satunya adalah Ibnu Umar pada sebuah riwayat, yaitu :

أن رجلاً قال لعبد الله بن عمر ألا تغزو فقال إني سمعت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} يقول إن الإسلام بني على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصيام شهر رمضان وحج البيت. رواه مسلم

Seseorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar : kenapa engkau tidak ikut berperang ? Dia menjawab : aku mendengar Rasulullah bersabda : “sesungguhnya Islam dibangun atas 5 pondasi, syahadat kepada Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji. R Muslim

 

Ali selama menjabat khalifah disibukkan oleh urusan internal umat Islam dalam menstabilkan kondisi pemerintahannya sampai beliau meninggal dunia di usia 63 tahun karena di bunuh oleh seorang khawarij.

 

Sepeninggal khalifah Ali (656-661 M), umat Islam memiliki 2 khalifah yang pertama Hasan bin Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Setelah menjabat beberapa bulan sebagai khalifah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah untuk kemaslahatan umat dan menghindari fitnah yang lebih besar. Serah terima jabatan itu berlangsung di kota Kufah sebuah kota pelabuhan yang makmur di Teluk Persia. Perpindahan kekuasaan kepada Muawiyah telah mengakhiri bentuk pemerintahan “demokratis” berubah menjadi monarchi, yaitu sistem kerajaan yang diwariskan secara turun-temurun kepada anak cucunya.

 

Walaupun Muawiyah telah menjadi satu-satunya khalifaah bukan berarti kondisi negara Islam tatkala itu terkendali, sisa konflik pertentangan politiknya dengan Ali melahirkan golongan yang pro dan kontra dengannya, langkah politik Muawiyah dalam menstabilkan negara dengan kekuatan militer untuk membungkam semua lawan politiknya.

 

Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu ajma’in dilanjutkan kembali oleh daulah ini. Di zaman Muawiyah Tunisia dapat ditaklukkan. Di sebelah timur, Muawiyah dapat menguasai daerah Khurasan sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium, Konstantinopel. Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balucistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.

 

Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Khalifah Abdul Malik juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.

 

Selain itu Dinasti Umayyah merubah sistem pemerintahan yang dulu dengan dibentuknya undang-undang pemerintahan yang baru, yaitu :

  • Undang-undang Politik (An Nidham As Siyasi).

  • Undang-undang Keuangan (An Nidham Al Mali).

  • Undang-undang Adm Negara (An Nidham Al Idary).

  • Undang-undang Kehakiman (An Nidham Al Qadha’i).

  • Undang-undang Militer (An Nidham Al Harbi).

Selain membentuk Undang-undang diatas, pemerintah juga menunjuk menteri yang mengurus 5 hal diatas. Di samping itu dibentuk pula Al Hijbah (pasukan mengawal khalifah) untuk melindungi khalifah dari aksi percobaan pembunuhan yang telah terjadi terhadap para khalifah di masa lampau.

 

  1. Masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam).

 

Masa keemasan ini dimulai pada tahun 705-1566 M, walaupun daulah islamiyah mengalami pasang surut, tetapi bisa dikatakan sebagai negara yang sangat maju dengan daerah kekuasaan yang luas, ditunjang oleh kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi yang dimiliki. Khalifah Walid bin Abdul Malik menggantikan ayahnya Abdul Malik bin Marwan pada tahun 705, di masa ini daulah Umayyah berada pada puncak kejayaan.

 

Ekspansi ke barat secara besar-besaran dilanjutkan di zaman Walid bin Abdul Malik. Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahannya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun itu tercatat suatu ekspedisi militer dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Setelah al-Jazair dan Maroko dapat ditundukan, Thariq bin Ziyad Rahimahullah, pemimpin pasukan Islam, dengan pasukannya menyeberangi selat yang memisahkan antara Maroko (magrib) dengan benua Eropa, dan mendarat di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Tentara Spanyol dapat dikalahkan. Dengan demikian, Spanyol menjadi sasaran ekspansi selanjutnya. Ibu kota Spanyol, Kordova, dengan cepatnya dapat dikuasai. Menyusul setelah itu kota-kota lain seperti Seville, Elvira dan Toledo yang dijadikan ibu kota Spanyol yang baru setelah jatuhnya Kordova. Pasukan Islam memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan dari rakyat setempat yang sejak lama menderita akibat kekejaman penguasa. Wilayah negara Islam saat itu meliputi Indus di India sampai ke Andalus (spanyol).

 

Sesudah Bagdad ditakluklan oleh Hajjaj bin Yusuf (661-714 M), Daulah Bani Umayyah membangun sektor pertanian untuk mencukupi kebutuhan warganya yang sangat besar, Hajjaj membangun kanal-kanal, waduk, danau yang dimulai pada tahun 702 M disekitar Baghdad.

 

Pada tahun 750 M Banu Abbasiyah mengambil alih pemerintahan dan memindahkan ibu kota negara dari Damaskus (Suriah) ke Baghdad. Pada masa itu, kota-kota di Eropa membangun tembok pertahanan (benteng) untuk melindungi dari serangan musuh, tetapi tembok tersebut sangat rawan di empat titik, yaitu sudut-sudutnya. Jika terdapat tekanan yang cukup di titik-titik tersebut, maka tembok akan tuntu. Kalangan Abbasiyah memecahkan permasalahan ini dengan membangun ibu kota Baghdad sebagai Kota Bundar (circular city) yang pertama kali di dunia. Baghdad kemudian menjadi pusat perniagaan yang sangat luas, yang jaringan perdagangannya menghubungkan Asia dan Mediterania. Pada masa kekhalifahan Harun Ar Rasyid (786-806 M) Baghdad menjadi kota terbesar kedua di dunia setelah Konstantinopel.

 

Perkembangan pertanian di era pemeritahan Bani Abbasiyah adalah sesuatu yang fenoenal, dengan mengendalikan aliran air sungai Tigris dan Eusfrat. Sistem irigasi ditingkatkan dengan cara mengagali kanal baru yang dikenal sebagai Nahr Isa (Kanal Isa) dan dibuka untuk kapal-kapal yang melayani transportasi antara Suriah dan Irak. Dan kalangan Abbasiyah merekontruksi kanal, danau dan waduk yang telah dibangun oleh Hajjaj. Setelah rekonstruksi selesai, rawa-rawa di sekitar Baghdad dikeringkan dan membuat kota bebas dari wabah malaria.

 

Besarnya jumlah populasi di baghdad, pemerintah mengembangkan ahli pertukangan yang menghasilkan pekerja metal, kulit, penjilid buku, pembuat kertas, ahli batu permata, penenun kain, apoteker dll. Selain Baghdad, pemerintah Abbasiyah juga membangun industri di kota lain, seperti kota Basrah terkenal dengan penghasil sabun dan gelas, Kuffah penghasil sutra, Damaskus penghasil kemeja tekstil. Daerah Syam penghasil keramik.

 

Umat Islam di Andalus yang berada di bawah pemerintahan Bani Umayyah juga telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks. Masyarakat Andalus/Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), umat Islam yang berasal dari Afrika Utara, Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol. Kemajuan umat Islam di Andalus/Spanyol meliputi bidang :

  • Intelektual.

  • Filsafat.

  • Sains.

  • Fiqh.

  • Musik dan Kesenian.

  • Bahasa dan Sastra.

  • Kemegahan Arsitektur Bangunan.

 

Kemajuan Islam di Spanyol dipengaruhi oleh penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman al-Dakhil, Abdurrahman al-Wasith dan Abdurrahman an-Nashir. Keberhasilan politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah yang terpenting diantara penguasa dinasti Umayyah di Spanyol dalam hal ini adalah Muhammad ibn Abdurrahman (852-886M) dan al-Hakam II al-Muntashir (961-976M).

 

Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol. Untuk orang-orang Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk, terdiri dari berbagai komunitas, baik agama maupun bangsa. Dengan ditegakkannya toleransi beragama, komunitas-komunitas itu dapat bekerja sama dan menyumbangkan kelebihannya masing masing.

 

Pada tahun 1258 M Dinasti Abbasiyah runtuh setelah kota Baghdad dikuasai oleh bangsa Mongol. Terpecahlah wilayah Islam yang dikuasai oleh kerajaan-kerajaan kecil, di tahun 1299 Bani Utsman/Osman dari daerah Eskişehir, bagian barat Anatolia bersekutu dengan pihak Kesultanan Seljuk melawan kerajaan Romawi, pada saat itu Bani Utsman yang dipimpin oleh dari Ertugrul memenangkan pertempuran. Atas jasa beliau, Sultan Seljuk menghadiahi sebuah wilayah di Eskişehir. Sepeninggal Ertuğrul pada tahun 1281, Osman I menjadi pemimpin dan tahun 1299 mendirikan Kesultanan Utsmaniyah. Inilah cikal bakal terbentuknya Kesultanan Utsmaniyah.

 

Puncak kejayaan Kesultanan Utsmaniyah dimulai dari penaklukkan Konstantinopel oleh tahun 1453 mengukuhkan status kesultanan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode penaklukkan dan perluasan wilayah, memperluas wilayahnya sampai ke Eropa dan Afrika Utara, di bidang kelautan, angkatan laut Utsmaniyah mengukuhkan kesultanan sebagai kekuatan dagang yang kuat. Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia.

 

Sultan Salim I (1512-1520) secara dramatis memperluas batas wilayah kesultanan dengan mengalahkan Shah Dinasti Safavid dari Persia, Ismail I, di Perang Chaldiran. Salim I juga memperluas kekuasaan sampai ke Mesir dan menempatkan keberadaan kapal-kapal kesultanan di Laut Merah.

 

Pewaris tahta Salim, Sulaiman yang Agung/Al Qanuni/the Magnificent (1520-1566) melanjutkan ekspansi Salim. Setelah menaklukkan Beograd tahun 1521, Sulaiman menaklukkan Kerajaan Hungaria dan beberapa wilayah di Eropa Tengah. Beliau kemudian melakukan serangan ke Kota Wina tahun 1529, namun gagal menaklukkan kota tersebut setelah musim dingin yang lebih awal memaksa pasukannya untuk mundur. Di sebelah timur, Kesultanan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Baghdad dari Persia tahun 1535 dan mendapatkan kontrol wilayah Mesopotamia dan Teluk Persia.

 

Di bawah pemerintahan Salim dan Sulaiman, angkatan laut Kesultanan Utsmaniyah menjadi kekuatan dominan, mengontrol sebagian besar Laut Mediterania. Beberapa kemenangan besar lainnya meliputi penaklukkan Tunis dan Aljazair dari Spanyol; Evakuasi umat Muslim dan Yahudi dari Spanyol ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah sewaktu inkuisisi Spanyol dan penaklukkan Nice dari Kekaisaran Romawi tahun 1543.

 

Kemajuan peradaban kerajaan Utsmaniyah dipelopori oleh Sultan Muhammad I putra dari Sultan Beyazid I untuk mengadakan perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usaha ini diteruskan oleh Sultan Murod II (1421-1451 M), sehingga kerajaan Utsmaniyah mencapai puncak kekuasaan pada masa pemerintahan Muhammad II/Mahmet II/ Muhammad Al Fatih (1451-1484 M). Kerajaan ini mengalami kemajuan pada bidang :

  • Pemerintahan.

Dibentuklah komite yag diambil dari kalangan ulama terkemuka untuk membuat undang-undang yang disebut Qaanun Namah yang diambil dari syariat Islam, undang-undang ini dijadikan asas bagi pemerintah. Pembagian administrasi wilayah-wilayah besar yang dipimpin oleh gubernur yang disebut “Bakalarbek”, kemudian dibagi dalam wilayah yang lebih kecil yang dipimpin oleh “sanjaqbek” yaitu bupati.

  • Kemiliteran.

Dengan dibentuknya Tentara Baru (Yani Tasyri) yang dibagi ke dalam satuan khusus dengan tugasnya sendiri. Seperti tentara berkuda/kavaleri, infantri, pendobrak (bomber), Alghamajiah (tentara penggali tempat ranjau, parit dibawah tanah untuk menghancurkan pondasi benteng kota musuh). Tentara ini dilatih khusus pada markas-markas tentara, pasukan Yani Tasyri semua adalah para pemuda yang siap untuk bertempur setiap saat, mereka ini adalah tentara elit yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk negara, kerena syarat untuk menjadi pasukan ini adalah tidak boleh menikah sehingga orientasi mereka hanya untuk kesuksesan misi.

Kemudian dibentuknya Al Inkisyariyah, mereka ini adalah tentara cadangan yang terdiri dari kalangan kaum Muslimin yang baru masuk Islam dimana jumlah mereka semakain banyak setelah wilayah kekuasaan Utsmaniyah semakin luas.

Selain itu dibangun juga industri militer guna menutupi kebutuhan pakaian mereka, kebutuhan pelana, tameng dll. Dibangun juga Arsenal (gudang senjata).

  • Ilmu Pengetahuan dan Budaya.

Para sultan juga berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa bengunan-bangunan masjid yang indah dihiasi tulisan kaligrafi. Setiap sultan mempunyai masjid kebanggaan sendiri ini sebagai simbol kemajuan di masanya.

Sultan Sulaiman juga membangun banyak sekolah, rumah sakit, jembatan, saluran air, pemandian umum dan villa.

 

 

Penutup :

 

Secara tekstual sejak 14 abad yang lalu Al Qur’an telah menegaskan bahwa Islam adalah ajaran universal, dimana kebenaran ajarannya melampaui batas-batas suku, etnis, bangsa dan bahasa. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika berbagai seruan Al Qur’an banyak sekali menggunakan ungkapan yang berciri universal. Misalnya saja banyak firman Allah yang memulai seruan-Nya dengan ungkapan “Wahai manusia….” Lebih dari itu, karena Islam kita yakini sebagai agama penutup, maka jangkauan dakwah Islam mestilah mendunia, bukannya agama suku, rasial sebagaimana agama-agama terdahulu yang hanya dialamatkan pada suatu kaum tertentu.

 

Kemajuan suatu bangsa bukan disebabkan oleh kekuatan spiritual, tetapi melalui proses kemajuan ilmu pengetahuan yang memadai. Karena negara Islam telah jatuh bangun membangun peradabannya. Perpecahan internal di tubuh umat ini akan berakibat kemerosotan diberbagai bidang.

 


4 thoughts on “Sejarah Singkat Peradapan Islam 610M-1566M

    1. semua masa pemerintahan dalam Islam pasti mempunya kelemahan, tidak hanya di 4 khalifah pertama, tetapi semua, dan semua pemerintahan dari yang pertama hingga turki ustmani juga mempunya kelebihan2 yang sampai saat ini tidak ada negera yang mayoritas penduduknya Muslim mampu untuk mengikuti jejek mereka.
      seandainya masa keemasan itu hanya di 4 khalifah awal kenapa Nabi Muhammad saw bersabda :
      لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَنِعْمَ الأَمِيرُ أَمِيرُهَا ، وَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ
      “akan dibebaskan(ditaklukkan) kostantinopel(istambul/islambul), maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik prajurit adalah prajurit tersebut”

      ini menjelaskan keutamaan Muhammad Al-Fatih dalam mengatur pemerintahannya. bagaimana sistem yang Beliau terapkan dalam peperintahannya sampai bisa menguasai kostantinopel jika tidak mempunyai keunggulan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s