Alangkah Lucunya Negeri Indonesiaku

  • بسم الله الرمن الرحيم
  • Oleh: Karnan Baiduri A.

    Judul diatas memang terinspirasi dari sebuah film yang digarap oleh Deddy Mizwar, sebuah pesan moral terhadap bangsa ini atas problematika pendidikan dan matinya nilai akhlaq sebagian orang-orang berpendidikkan di bangsa ini. Kita sadar bahwa bangsa kita tidak jelek-jelek amat tapi masih jauh dari yang diharapkan, pernah terpikir enak juga mungkin menjadi warga negera Malaysia atau warga Pakistan, walaupun tidak punya duit insya Allah masih bisa sekolah tanpa harus sibuk memikirkan bagaimana harus membayar SPP, makan, beli buku dll. Selama 4 tahun tinggal di Pakistan, banyak hal-hal baru yang didapat, pada tahun pertama saya datang, ada kawan dari sulawesi yang saat itu lagi menuntuk ilmu di fakultas sastra inggris, hampir setiap sore dia pergi memberi bimbingan privat kepada anak-anak kecil warga Malaysia, semua pelajaran dia sampaikan keculai pendidikan agama. Dari gaji yang dia dapat sudah cukup untuk keperluan dia sehari-hari, bahkan menurut penulis, dia bisa menyisihkan uang yang dia terima. Kemudian ada kawan lain pula yang diminta oleh warga Malaysia dari kalangan embassy untuk mengisi pengajian dan mengajar mengaji bagi anak-anak mereka, Alhamdulillah dari sana pula dia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Secara tidak langsung warga Malaysia membantu sebagian mahasiwa asal indoneisa untuk mandiri, tidak lagi minta uang saku kepada orang tua yang ada di Indonesia. Tidak hanya itu kita sebagai kawan mereka tadi pun ikut merasakan nikmat yang mereka dapatkan. Jika mereka pulang mengajar, terkadang membawa bungkusan satu ekor ayam untuk dimasak sebagai makan malam. Ada pula kawan lain yang dari Jakarta, dia juga mengajar mengaji beberapa anak-anak embassy Malaysia, selama dia mengajar tidak pernah meminta uang saku kepada orang tua di indoneisa sampai saat ini. Karena kawan ini masih melanjutkan pendidikan di jenjang S2.

    Penulispun pernah menjadi tenaga pengajar untuk anak-anak itu selama beberapa bulan, sebagai guru pengganti karena kawan saya sedang pulang kampung setelah 5 tahun tinggal di Pakistan, dan Alhamdulillah saya tidak menyangka dengan waktu mengajar yang hanya 2 jam selama 3 hari dalam seminggu. Saya menerima hampir 80 dollar, jumlah yang cukup besar bagi ukuran guru mengaji yang murid didiknya 4 orang. Dengan jumlah gaji yang segitu, hampir setiap mengajar saya selalu menggunakan taxi untuk pergi mengajar, dan saya masih bisa memenuhi kebutuhan saya sehari-hari dan masih bisa menyimpan sedikit sebagai tabungan.

    Ini semua bukan cerita tentang kemakmuran yang diterima kawan-kawan asal Indonesia di Pakistan, tetapi saya ingin bercerita bagaimana orang-orang Malaysia memanfaatkan sumber daya manusia yang dimiliki didareah tersebut, kebetulan mahasiswa yang dari Malaysia yang belajar di IIU mereka semua orang-orang yang berada. Pernah kawan kita ini ditawari mengajar oleh orang Malaysia setelah mengajar beberapa waktu, kemudian dia lempar kepada kawan-kawanya dari Indonesia. System pendidikan yang ada di paksitan sedikit berbeda dengan kita, mereka disini jika mengajar anak-anak dan mendapati kesalahan tidak segan-segan menggunakan hukuman fisik kepada anak-anak tersebut, entah dipecut menggunakan rotan dll. Mungkin sebab itulah warga Malaysia lebih rela anak-anak mereka diajar oleh orang-orang yang serumpun, selain bahasa yang kita miliki dan adat istiadat yang tidak jauh berbeda.

    Pada waktu yang sama ditahun pertama saya datang ke Pakistan, orang-orang kita dari Indonesia masih belum melakukan apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang Malaysia, tidak pernah saya dengar mereka ngadakan pengajian rutin yang diisi oleh mahasiswa ataupun meminta anak-anak mereka diajar mengaji. Baru satu tahun belakangan ini orang-orang kita mencontoh apa yang dilakuan orang-orang Malaysia. Para ibu-ibu berkumpul bersama untuk mendengarkan pengajian, kemudian ada beberapa orang-orang KBRI meminta kita untuk mengajarkan iqra’ kepada anak-anak mereka.

    Setelah 4 tahun ini penulis bisa memberikan penilaian bahwa rata-rata anak-anak Malaysia lebih sopan dari anak-anak Indonesia dikalangan warga kedutaan, walaupun tidak seluruhnya. Saya bisa melihat itu semua dari cara mereka berbicara dan bergaul.

    Penilaian ini saya buat atas dasar apa yang saya lihat, bukan karena saya pernah hidup dari hasil mengajar anak-anak warga Malaysia. Pernah suatu ketika saya telibat pembicaraan mengenai pendidikan di Malaysia bersama orang tua anak didik saya, ternyata bapak ini mengerti banyak tentang pendidikan di negera kita, bahkan dia juga bisa sedikit berbicara bahasa jawa. Dia bercerita, di Malaysia orang yang tidak punya kesempatan untuk tidak sekolah sangatlah sedikit, bahkan bisa dikatakan tidak ada, kecuali mereka yang memang niat untuk meninggalkan kesempatan menuntut ilmu. Di Malaysia tutur bapak itu, kerajaan telah memberi beasiswa kepada warganya dan apabila mereka tidak mendapatkannya banyak NGO-non governmental organization menyediakan beasiswa. Ada yang sifatnya secara cuma-cuma, ada yang bersifat bersyarat dia harus bekerja untuk NGO tersebut selama beberapa tahun dan ada pula yang bersifat pinjaman lunak, bisa mengembalikannya secara dia mendapatkan pekerjaan secara berangsur-angsur. bapak tadi pun bercerita bahwa ayahnya tidak sanggup membiayai dirinya untuk sekolah, kemudian dia berinisiatif untuk mencari pinjaman kepada NGO sampai dia lulus kuliah, dan sampai sekarangpun dia setelah menjadi orang sukses dengan gaji ribuan dollar, tiap bulan membayar cicilan pinjaman tadi kepada NGO yang telah membantu dia.

    Lain ladang lain pula belalangnya, lain negara lain pula kondisinya. Kali ini saya ingin bercerita tentang Pakistan, pesantren yang dimiliki negara ini sangatlah banyak, lebih banyak dari negera kita, hampir semua pesantren itu memiliki satu keistimewaan bagi orang-orang miskin, yaitu GRATIS. Yaaa… kata itu yang dimiliki hampir semua pesantren di Pakistan, gratis SPP, gratis uang gedung, gratis uang makan dan gratis-gratis yang lain. Tugas anda hanyalah belajar tidak perlu pusing atas tunggakan SPP, nanti sarapan dengan menu apa ? atau bagaimana cara membeli buku-buku pelajaran dll, bahkan anda tidak perlu pusing untuk membeli seragam sekolah (karena mereka tidak mewajibkan santrinya memakai seragam).

    Dengan segala ke-gratisan itu, kita bisa mengacungkan jempol kepada warga Pakistan, khususnya kepada pengurus pesantren bagaimana mereka mengatur pesantren agar selalu berjalan tanpa harus memungut biaya sepeserpun dari para anak didiknya. Jika saya bandingkan Pakistan itu lebih miskin dari negara kita, harga bahan pokok disini lebih mahal dari Indonesia, tetapi yang saya salutkan adalah rasa kekeluargaan yang dimiliki oleh orang-orang disini. Pesantren disini tidak seperti di Indonesia yang sebagian besar telah terdaftar di depag yang memiliki santri minimal 100 orang/pesantren, dengan mengikuti kurikurum yang telah disediakan. Hal ini terjadi sebaliknya di Pakistan, mereka mempunyai kurikurum yang berbeda disetiap pesantren dan terkadang kita bisa melihat jumlah santri yang kurang dari 100.

    Penulis mendapat cerita dari beberapa orang yang pernah masuk ke pesantren khusus penghafal Al-qur’an, jadi orang-orang yang memiliki pesantren biasanya adalah orang kaya di kampung tersebut.

    Mereka ini yang mempunyai semangat tinggi untuk memperjuangkan Islam dan pendidikan di daerahnya karena telah saya ceritakan tadi, Pakistan adalah negera yang lebih miskin dari Indonesia, para orang tua disini yang tidak mampu menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah pemerintah atau swasta yang harus mengeluarkan biaya tiap bulan untuk SPP, orang tua tersebut menitipkan anak-anak mereka ke pesantren.

    Kemudian saya bertanya kepada kawan saya tadi: “bagaimana cara mereka makan tiap hari?” sekaya apapun yang dimiliki seseorang pastilah tidak mungkin biaya operasional ditanggung sendiri dengan puluhan santri atau bahkan ribuan. Jadi disebagian pesantren setiap mendekati waktu makan siang dan malam, ada beberapa santri yang ditugaskan untuk berkeliling kampung mengetuk pintu-pintu rumah warga sekitar, ada yang memberi lauk, sayur mayur, ada pula yang memberi roti (makanan pokok warga Pakistan). Setelah terkumpul semua itu lauk dan sayur mayur dicampur menjadi satu untuk dimasak lagi ( jangan berpikir bahwa makanan mereka sama dengan kita, makanan orang disini hampir bisa dikatanan satu rasa yaitu: asin, sedikit pedas merica dan berminyak).

    Kawan-kawan saya tadi tidak terbisanya dengan menu makanan para santri. Akhirnya mereka memasak sendiri dan tentunya orang Indonesia tidak terbiasa makan dengan roti.

    Untuk pesantren yang lebih besar dan sudah mempunyai nama, terkadang mereka telah memiliki donator tetap. Para santrinya tidak perlu untuk bekeliling kampung mengetuk pintu-pintu rumah masyarakat, pesantren itu antara lain yang dimiliki oleh Deobandi, Tabligh, Maududi, Syiah, Ahlul Hadith dll.

    Pesantren-pesantren tersebut memiliki fasilitas yang sangat memadai, bahkan beberapa diantaranya dibangun seperti sebuah kota kecil yang menyediakan berbagai fasilitas didalamnya, cotohnya: klinik, rumah makan, sekolah, swalayan dll.

    Selanjutnya kita mencoba menguraikan sedikit berita dari Mesir tentang pendidikan, sudah 2 tahun belakangan ini pemerintahan mesir menyediakan kurang lebih 110 beasiswa untuk mahasiwa Indonesia yang ingin menimbah ilmu di Azhar university. Dengan perincian 90 untuk progam S1 dan 20 untuk progam S2.

    Tetapi bagi kawan-kawan yang tidak mendapatkan beasiswa dari pemerintah mesir biasanya mereka berinisiatif mencari beasiswa sendiri ke NGO yang ada disana. Jika kita perhatikan beasiswa yang ditawarkan di mesir jumlahnya lebih besar dibandingkan negara kita, hal ini mungkin disebabkan oleh banyaknya jumlah orang kaya atau orang-orang mesir memiliki rasa bahwa pendidikan itu penting dan mungkin memang orang-orang mesir mempunyai tradisi berbagi antara sesama yang cukup tinggi.

    Saat ramadhan tiba banyak kita temui maidaturrahman disetiap distrik kota cairo, ini adalah sebuah acara ifthar jama’i/buka bersama. Model acara ini seperti sebuah bazar yang memiliki stan-stan yang bisa dibongkar pasang, jumlah stan tidak dibatasi, semua orang bisa andil dalam acara ini, dan semua orang bisa datang untuk mengikuti acara ini kaya, miskin, tua, muda, pria, wanita, 1 jam sebelum adzan maghrib dikumandangkan para pemilik stan telah bersiap-siap menyambut para tamunya, menu yang disajikan beraneka macam tetapi anda jangan berharap mendapatkan menu lontong sayur disana karena orang mesir tidak mengenalnya, andapun bisa membawa pulang makanan dari sana, semua makanan tadi GRATIS anda tidak akan terkana sepeserpun biaya atas makanan yang telah anda makan. Inilah suatu tradisi yang sangat mulia, mereka memiliki rasa berbagi atas sesama, atas rizki yang telah mereka dapatkan disisihkan untuk orang-orang yang menunaikan ibadah shaum.

    Terlepas dari apakah masyarakat mesir itu banyak yang kaya atau mereka mengerti perlunya pendidikan atau mereka mempunya rasa berbagi antar sesama. Terlepas pula dari orang-orang Pakistan yang memiliki banyak pesantren dan terlepas pula dari negara Malaysia yang mempunya NGO yang siap membantu anda sekolah. Kita bangsa Indonesia harus bisa memberi pendidikan kepada anak-anak bangsa agar mereka keluar dari kebodohan, kita bisa menyupayahkan dengan berbagai cara, kita adalah bangsa yang memiliki sumber daya alam yang begitu berlimpah, memiliki ratusan sekolah, pesantren bahkan ribuan, kita juga mempunyai orang-orang yang kaya, seandainya itu semua digabung menjadi satu untuk memajukan bangsa ini dengan memberi pendidikan yang layak kepada anak-anak bangsa. Kita akan menjadi bangsa pengekspor manusia sebagai tenaga pengajar yang handal bukan sebagai mengekspor manusia yang dijadikan pelayan.

    Pernah suatu hari penulis berbincang-bincang dengan saudara Su’ud Hasanuddin, dia bercerita problematika pendidikan di Indonesia, kita sebagai warga negara Indonesia sudah selayaknya ikut andil dalam hal tersebut. Dia menawarkan sebuah gagasan yang cukup bagus, kita dikampung pastilah mempunyai kawan-kawan yang bisa dibilang orang-orang berada (tidak miskin, tidak juga terlalu kaya) seandainya ada 10 orang dalam satu kampung tadi sepakat untuk menyisihkan 10ribu rupiah setiap satu bulannya maka akan terkumpul uang sebesar 100 ribu rupiah, uang ini bisa kita gunakan untuk menyekolahkan 1 anak dikampung tersebut yang kurang mampu. Kalau bisa kita sekolahkan sampai ke tingkat sarjana. Nah apalagi bagi para da’i yang pastinya mempunyai para jama’ah di kampungnya, sudah selayaknya bisa mengajak para jama’ahnya untuk saling membantu antar sesama, ini adalah sebuah PR bagi kita semua agar rasa saling berbagi itu menjadi sebuah tradisi walaupun itu hanyalah sedikit.

    semoga bermanfaat dalam mencerdaskan bangsa indoneisa.


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s