Ramadhan di Pakistan, Gimana seh?

Oleh: Karnan Baiduri A

Alhamdulillah pada hari ketiga Ramadhan tahun ini 1431H/2010M terasa begitu nyaman di siang hari walaupun kita saat ini masih berada pada suasana musim panas, dikala waktu sore tiba udara lebih segar menyapa kami. Seolah-olah kita disini telah memasuki awal-awal musim dingin. Jika kita bandingkan dengan tahun lalu pada tanggal yang sama kita masih merasakan udara yang kurang bersahabat, untuk ukuran orang tropis suhu udara 42*C adalah musibah, karena kita di Indonesia tidak pernah merasakan hawa sepanas itu.

Tradisi yang berkembang di Pakistan sedikit berbeda dengan kita bangsa Melayu terutama orang Indonesia, suasana Islami lebih terasa di Pakistan.  Di bus, angkutan umum atau halte kita bisa melihat orang-orang sedang membaca Al-Qur’an. Masjid-masjid lebih ramai dari hari bisanya, padahal dihari biasapun mereka juga ramai datang ke masjid, inilah yang tidak kita dapatkan di negera kelahiran kita Indonesia.

Pada saat waktu sahur tiba, kita bisa melihat suatu kesamaan, tatkala menjelang waktu sahur mereka mengumandangkan adzan agar para warga muslim mempersiapkan hidangan sahur, ketika waktu imsak telah tiba, sebagian masjid membunyikan sirine sebagi tanda waktu imsak telah tiba, 10 menit kemudian adzan subuh berkumandang. Ada sebuah tradisi unik di Pakistan tentang waktu mengumandangkan adzan, sehari sebelum ramadhan mereka mengumandangkan adzan pukul 04.20 pagi, selang keesokannya adzan dimulai pukul 04.00 pagi, hanya terpaut 1 hari perbedaan waktunya 20 menit, ada apakah dengan Pakistan? Tenyata disini sebagian masjid mereka mempunyai kebiasaan mengakhirkan adzan sampai hampir waktu terbit matahari. Kemudian adzan bagi mereka pada hari-hari biasa menandakan bahwa disana akan dilaksanakan shalat jama’ah, begitu juga pada waktu-waktu shalat yang lain. Bahkan dalam suatu kampung bisa terdengar adzan per15menit sekali.

Di negara Indonesia yang kita cintai, ramadhan membawah berkah tersendiri bagi pedagang makanan dadakan, banyak kita jumpai dipinggir jalan berjubel aneka makanan yang mereka tawarkan mulai dari gorengan sampai minuman yang beraneka ragam jenisnya. Rumah kita pun tatkala ramadhan tiba, sudah bisa diperkirakan ada menu tambahan dari hari biasanya, entah itu kolak atau es buah yang selalu sedia sebelum buka menjelang. Hal ini sangat bertolak belakang dengan Pakistan, ramadhan bagi mereka bukan ajang mencari rizki tambahan atau adanya menu tambahan dirumah. Kita tidak akan mendapati makanan atau minuman yang beraneka ragam, yang tidak berbeda dengan kita adalah mereka dalam mempersiapkan ifthar/buka menggukanan qurma dan buah-buahan.

Pada sisi lain, KBRI sebagai perwakilan negera kita di Pakistan, mengagendakan pada tahun ini 1431H buka puasa bersama dan shalat tarawih di majid KBRI setiap 2 kali dalam seminggu yaitu pada hari jum’at dan sabtu, yang kemudian disusul dengan acara I’tikaf pada 10 hari akhir ramadhan. Ini merupakan ajang silaturahmi warga Indonesia yang berada di Islamabad dan sekitarnya, agar hubungan sosial kita semakin erat.

Bagi mahasiswa acara ini selain menyambung tali silaturahmi antar sesama, acara ini pun sebagai obat kangen kita terhadap makanan khas Indonesia, karena setiap acara buka bersama selalu disajikan menu-menu khas Indonesia. Contohnya : sop ayam, ayam bakar, rendang, kolak, es kacang ijo dll, yang kesemua itu sangat sulit kita rasakan sehari-hari, karena kesibukan kampus dan sulitnya mencari beberapa bahan untuk menu tersebut.

Masjid kita di KBRI terasa berbeda tahun ini jika dibandingkan dengan 3 tahun lalu. Dulu acara buka bersama dan shalat tarawih berjama’ah dilakukan setiap hari sampai akhir ramadhan. Tetapi sekarang hanya 2 kali dalam seminggu.

Ada suatu keistimewaan ramadhan di Pakistan, jika kita tarawih di majid, kemudian kita perhatikan bacaan para imamnya, setiap hari pasti berbeda-beda surah yang mereka baca, dan surah yang telah dibaca tidak akan dibaca lagi pada keesokan harinya karena mereka punya tradisi untuk mengkhatamkan Al-Qur’an pada shalat tarawih, jadi minimal mereka akan membaca 1 juz disetiap malamnya. Dan pada sebagian masjid Agung disini pada akhir ramadhan mereka mengadakan malam shabina, yaitu pengkhataman Al-Qur’an secara penuh dimulai dari awal sampai akhir pada shalat tarawih pada malam ke 27-29 ramadhan. Yang penulis dengar (karena saya sendiri belum berani ikut acara itu) dimulai selepas shalat isya’ dan diakhiri menjelang waktu sahur, jadi pembaca bisa memperkirakan berapa lama meraka melaksanakan shalat tarawih, kalau dihitung 30juz dibagi 3hari = 10juz setiap malam, yang dibaca untuk 23 rakaat.

Semoga ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, amiin.

Islamabad, 13-agustus-2010.

00.53 di kuwait hostel.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s