CARA BERDIRI I’TIDAL

CARA BERDIRI I’TIDAL

Bag 03 (Habis)

YANG BERHUBUNGAN DENGAN MENGANGKAT TANGAN DAN BERTAKBIR KETIKA TURUN SUJUD.

Sudah saya sertakan riwayat bahwa Nabi saw mengangkat tangannya ketika takbir turun sujud. Riwayat itu adalah dari jalan Umar r.a (lihat riwayat ke – 8 )
Lalu:
A. Ada yang meragukan tentang keshahihan hadits riwayat Thabrani tersebut.
B. Saudara A.T berpendapat bahwa riwayat Thabrani itu berlawanan dengan riwayat no.9 dari Ibnu Umar r.a, ia berkata bahwa Nabi saw “tidak mengangkat tangan waktu sujud”. Maka yang dipakai adalah riwaat no.9 karena ia lebih kuat (ditarjih).

DARI SAYA:
1. Tentang keraguan keshahihan riwayat Thabrani. Riwayat Thabrai itu begini: (HADITS KE-16)

عَن ابن عمر أنّ النبي صلى الله عليه وسلّم كان يرفع يدَيْه عند التَّكْبِيْرِ للرُّكُوْعِ وعند التّكبير حين يَهوِي ساجِدًا.

Riwayat ini terdapat dalam kitab maj-ma’uzzawaaid, juz II hal 102. setelah meriwayatkan hadits itu Al-Haitsami berkata: (RIWAYAT KE-17)

رَوَاهُ الطَّبْرَانيِ في الأَوْسَطِ وهوَ في الصَّحِيحِ خَلاَ التَّكْبِيرِ لِلسَُجُوْدِ وَاسْنَادُهُ صَحِيْحٌ.

Artinya: Hadits itu diriwayatkan Thabrani dalam kitabnya: Al-Aushatd dan hadits itu ada dalam Shahih (Bukhari), selain (hal) takbir untuk sujud dan isnadnya shahih.

Sesudah mengetahui ini, kalau saudara yang meragukan itu masih juga ragu-ragu, tolong tunjukkan kelemahan sanadnya. Siapa rowi yang tercela.
2. Tentang berlawanan dengan riwayat no.9 di atas. Dalam diriwayat no.9 itu dikatakan: ( HADITS KE – 18 )

وَلاَيَفْعَلُ ذلكَ حِيْنَ يَسْجُدُ.

Artinya: Nabi saw tidak berbuat demikian (angkat tangan) ketika sujud.

Sedang hadits no.16 menyatakan “Nabi saw mengangkat tangan”.
Kedua riwayat itu dari Ibnu Umar r.a, nampaknya berlawanan. Karena itu perlu didudukkan begini:
riwayat dari Ibnu Umar r.a itu ( no.18 ) bermacam-macam susunannya seperti di bawah ini:
( HADITS KE – 19 )

ولايفعل ذلك في السجود. رواه البخاري

Artinya: Nabi saw tidak berbuat demikian (angkat tangan) dalam sujud. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

(HADITS KE-20)

ولايفعل ذلك حين يَسْجُدُ. البخاري

Artinya: Nabi saw tidak berbuat demikian waktu sujud. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

(HADITS KE-21)

ولايَرْفَعُهُما بين السَّجْدَتَيْنِ. مسلم

Artinya: Nabi saw tidak mengangkat kedua tangannya di antara dua sujud. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

(HADITS KE-22)

ولايفعل حِيْنَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ من السُّجُوْدِ. مسلم

Artinya: Nabi saw tidak mengerjakan itu ketika mengangkat kepalanya dari sujud. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Padalah ceritanya satu, kalau kita perhatikan 4 macam susunan itu adalah yang no.19 itu sebagai pokok, yaitu tidak mengangkat tangan dalam sujud. “tidak mengangkat tangan antara dua sujud” no.21 dan “tidak ketika mangangkat kepala dari sujud” no.22 termasuk “dalam sujud” no.19 itu.

Maka “حين يسجد” yang ada dalam keterangan no.9,8 dan 20 artinya adalah “waktu sujud”, yakni dalam sujud -bukan hendak turun sujud-. Makna ini sesuai dengan “في السجود” no.19.

Dalam qamus Al-Mu’jamul washit disebut:

الحِينُ وَقْتٌ من الدَّهْرِ مُبْهَمٌ طَالَ أو قَصُرَ.

Artinya: “al-hiin” itu satu waktu dari masa yang tidak terang, baik panjang atau pendek.

Dalam lisanul arab disebut:
1. waqtun: waktu.
2. muddatun: masa.

Selain itu, kata-kata “hiin” itu dapat diartikan “sesudah”, seperti hadits:

مَن قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللهم…. الخ إلاَّ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعةُ يومَ القِيَامةِ. الترمذي وغيره

Artinya: barang siapa mengucap sesudah ia mendengar adzan “Allahumma sampai akhir” pasti turun syafa’at atasnya pada hari qiamat. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan yang lain.

Ini do’a adzan, diucapkan sesudah adzan, tidak ketika adzan. Karena kita diperintah menjawab adzan. Kata al-Mubaarkafury (Tuhfatul-Ahwadzy 1:622) bahwa do’a itu diucapkan di waktu selesai adzan.

Maka arti “hiina yasjudu” itu ialah: sesudah sujud, yaitu sesudah sujud pertama, berarti di dalam sujud, bukan akan sujud.

Dengan begini, maka riwayat Ibnu Umar r.a dari Thabrani itu tidak berlawanan dengan riwayat Bukhari dan Muslim tersebut. Masing-masing dipakai pada tempatnya.

Riwayat Thabrani yang ada “angkat tangan” dipakai untuk “turun sujud” (sebelum sujud), sedang riwayat Bukhari dan Muslim yang “tidak angkat tangan” dipakai dalam sujud.

1. Ada pendapat bahwa tidak ada keterangan “berdekap itu rukun”.
JAWAB: Memang tidak ada keterangan yang mengatakan “berdekap” itu rukun atau syarat.

Tetapi yang nyata bahwa “berdekap” itu diperintah sebagaimana telah disebutkan di atas.

Tiap perintah wajib dikerjakan “kecuali kalau ada keterangan lain yang mengubahnya”.

2. Ada yang berpendirian bahwa sedekap itu “bid’ah”.
JAWAB: Sesudah jelas bahwa “berdekap” itu diperintah, maka “berdekap” itu bukan “bid’ah”.

3. Syaikh M. Nashiruddin Al-Bany dalam kitabnya “Shifat Shalat Nabi saw” hal.145 berpendapat bahwa “berdekap” itu bid’ah.
JAWAB: Memang ada perkataan Syaikh Al-Bany tersebut, tetapi beliau tidak membawakan hadits atau riwayat, hanya beliau berkata:
a. Karena tidak ada dalam hadits (tentang berdekap itu).
b. Ulama’ salaf tidak mengerjakannya.
c. Para Imam hadits tidak menyebutnya.
d. Pendapat Imam Ahmad boleh “berdekap” itu tidak dapat diterima karena itu ijtihadnya.

Jawaban menurut tertib abjad di atas:
a. Hadits yang memerintahkan berdekap ada dari Sahl bin Sa’d, ia berkata:

كانَ النَّاسُ يُؤْمَرُ أن يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ اليُمْنٰى على ذِرَاعِهِ في الصَّلاَةِ. البخاري

Artinya: Adalah orang-orang diperintah (oleh Nabi saw) supaya meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya dalam shalat. SR. Bukhari.

Dan ada beberapa riwayat lagi sebagaimana telah disebut. Mungkin waktu membaca riwayat tersebut dan sebagainya tidak terfikir soal “berdekap”, karena lalai dengan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun lamanya.

b. Bukan ulama’ salaf “tidak mengerjakannya”, tetapi tidak ada riwayat yang tegas menerangkan mereka mengerjakannya. Kita percaya mereka mengetahui perintah Nabi saw itu dan kita percaya pula bahwa mereka mesti mengerjakannya, walaupun riwayatnya tidak sampai kepada kita.
c. Para Imam hadits tidak menyebut riwayat salaf itu, tidak berarti “tidak dilakukan”, dapat dicukupkan dengan “perintah” berdekap sebagaimana tersebut dalam riwayat Bukhari di atas.
d. Pendapat Imam Ahmad, sebagaimana Syaik Al-Bany terangkan: “boleh digantungkan tangan” dan “boleh berdekap”. Kalau begini, memang tidak diterima, tetapi soal “berdekap” mesti diterima karena telah sesuai dengan perintah Nabi saw dalam hadits Bukhari di atas.

Riwayat Imam Ahmad ini menunjukkan bahwa di zaman Imam Ahmad (wafat tahun 241H). sudah ada masalah “berdekap” itu.

Tentang pendapat Syaik Al-Bany bahwa “berdekap” itu bid’ah, dijawab oleh Syaikh Bin Baaz, di antaranya:

  • Menentukan bahwa meletakkan tangan kanan atas tangan kiri waktu berdiri sesudah ruku’ itu bid’ah yang sesat adalah satu kesalahan yang nyata, tidak ada seorang pun dari ahli ilmu sepanjang pengetahuanku mendahului dia (tentang mengatakan bid’ah itu) dan pendapat itu menyalahi hadits-hadits shahih yang terdahulu.
  • Aku (Bin Baaz) tidak ragu-ragu tentang ilmunya (Al-Bany), keutamaanya, keluasan pengetahuanya dan perhatiannya kepada sunnah. Mudah-mudahan Allah menambah ilmunya dan taufiqnya, tetapi sesungguhanya ia (Al-Bany) telah salah dalam masalah ini, satu kesalahan yang terang.
  • Lalu Syaikh Bin Baaz menunjukkan hadits dan riwayat adanya “berdekap”.
  • Lalu Syaik Bin Baaz mendo’akan mudah-mudahan sesudah membaca hadits dan riwayat yang ia kemukakan, akan ternyata kebenaran bagi Al-Bany, lalu ia ruju’ kepada yang benar itu.

4. Hukum “berdekap” dalam shalat sesudah bangun dari ruku’ itu adalah wajib (lihat no.1).
5. Ada yang perpendapat bahwa “menggantungkan tangan” adalah sebagai pokok dari perilaku manusia, karena itu setelah bangun dari ruku’ tangan harus digantungkan.
JAWAB: kita anggap saja pendapat itu benar, tetapi setelah ada hadits Bukhari yang memerintah “berdekap” dalam shalat, maka yang dikatakan “pokok” itu sudah tidak terpakai untuk shalat.

Malah “berdekap” itulah yang menjadi pokok dalam shalat dalam berdiri, yang ringkasnya di semua ketika berdiri dalam shalat harus “berdekap”.

6. Tentang qaidah ushul yang disertakan dalam mendudukkan keterangan soal i’tidal itu cukuplah kalau diperhatikan keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan di atas.

Saya sudahi sampai sekian dulu.

<<<—>>>

TAMBAHAN:
Disamping dalil umum wajibnya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada ketika berdiri dalam shalat, adanya sedekap juga dapat disimpulkan dari riwayat di bawah ini:

عنْ وَائِلِ بن حُجْرٍ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلّم حِيْنَ كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ خَذَاءَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ حِيْنَ رَكَعَ ثُمَّ حَيْنَ قَالَ سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَه رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَأَيْتُهُ مُمْسِكاً بِيَمِيْنِهِ عَلى شِمَالِهِ في الصَّلاَةِ. أحمد

Artinya: Dari Wail bin Hujr, ia berkata: saya pernah melihat Nabi saw ketika bertakbir beliau mengangkat kedua tangannya hingga berbenturan dengan kedua telinganya, kemudian juga (mengangkat tangan) ketika ruku’, kemudian ketika mengucap “samia’LLAHU liman hamidah” (juga mengangkat kedua tangannya), dan pada waktu itu saya melihatnya dalam keadaan memegang dengan tangan kanannya atas tangan kirinya dalam shalat….. HR. Ahmad.

Ucapan Wail bin Hujr dalam hadits tersebut “ra’aituhu mumsikan bi yaminihi ‘ala syimaalihi” merupakan petunjuk yang sangat jelas, bahwa setelah bangkit dari ruku’ (ketika berdiri I’tidal) tangan kanan berada di atas tangan kiri dan tentu saja letaknya di dada, karena ada riwayat lain yang menerangkan demikian, sebagaimana berikut ini:

عنْ وَائِلِ بنِ حُجْرٍ قال: صَلَّيْتُ مع النَّبيِّ صلى الله عليه وسلّم فَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنٰى على يَدِهِ اليُسْرٰى على صَدْرِهِ. ابن خُزَيْمَة

Artinya: Dari Wail bin Hujr, ia berkata: saya pernah shalat bersama Nabi saw, ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di dadanya. HR. Ibnu Khuzaimah.

Kalau riwayat di atas masih dianggap belum cukup, maka berikut ini adalah kesaksian lain dari Wail bin Hujr ketika ia shalat bersama nabi saw:

صَلَّيْتُ خَلْفَ رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلّم فَكَبَّرَ حِيْنَ دَخَلَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وحَيْنَ أرَادَ أنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَحِيْنَ رَفَعَ رَأْسَهُ مَنَ الرُّكُوْعِ رَفَعِ يَدَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ….. أحمد

Artinya: saya pernah shalat di belakang Nabi saw, maka ia bertakbir ketika masuk (memulai shalat) dan mengangkat kedua tangannya, dan ketika akan ruku’ ia angkat kedua tangannya dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ ia juga mengangkat kedua tangannya dan ia meletakkan kedua telapak tangannya. HR Ahmad.

Riwayat yang terakhir inipun cukup terang menjelaskan bahwa ketika bengkit dari ruku’ beliau mengangkat kedua tanganya dan kemudian meletakkan kedua telapak tangannya.

Meskipun pada riwayat ini tidak dijelaskan di mana kedua telapak tangannya diletakkan, tetapi riwayat lain (sebagaimana yang tersebut di atas) menerangkan bahwa yang dimaksud adalah di dada. Adapun waktunya setelah bangkit dari ruku’ yaitu ketika berdiri I’tidal.

Mudah-mudahan dengan beberapa riwayat tersebut di atas cukup menyakinkan kita terhadap kebenaran sedekap pada waktu berdiri I’tidal.

Untuk lebih jelasnya lihat Musnad Imam Ahmad bin Hanbal julid IV halaman 318.


5 thoughts on “CARA BERDIRI I’TIDAL

  1. gak perlu diperpanjang urusan yang seperti ini….cukup ikhtilaf ijtihad saja. lakukan sesuai keyakinan kalau sudah punya argumennya masing2. terserah mau mbantah komentar ini. tak akan saya gubris

  2. DALIL-DALIL KEHARUSAN BERSEDEKAP SAAT I’TIDAL

    1. عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ (البخاري)
    Dari Sahl bin Sa’d ra, ia berkata: Adalah orang-orang (Shahabat) diperintahkan (Nabi Saw), bahwa seseorang meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya dalam shalat. (SR. Bukhary, bab meletakkan tangan kanan atas tangan kiri dalam shalat: FB 2:152, Shahih Bukhary 1:180, Ahmad: FR 3:173).
    2. إِنَّ مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا بِتَعْجِيْلِ فِطْرِنَا وَ تَأْخِيْرِ سَحُوْرِنَا وَ أَنْ نَضَعَ أَيْمَانَنَا عَلَى شَمَائِلِنَا قِيْ الصَّلاَةِ (الطبراني)
    Ibnu Abbas berkata: Aku pernah mendengar Nabiyullah Saw. bersabda: Sesungguh-nya kami golongan Nabi-nabi diperintah melekaskan buka puasa, melambatkan sahur dan hendaklah kami meletakkan tangan-tangan kami atas tangan-tangan kiri kami dalam shalat. (SR. Thabrany: Majma’udz-Dzawa-id 2:105)
    3. عَنْ وَائِلٍ بْنِ حُجْرٍ رض قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ s إِذَا كَانَ قَائِمًا فِيْ الصَّلاَةِ قَبَضَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِمَالِهِ
    Dari Wail bin Hujr ra. Ia berkata : Saya pernah melihat Rasulullah saw apabila dalam keadaan berdiri dalam shalat, beliau menggenggamkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. (HSR An Nasa’i)
    4. عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حِذَاءَ أُذُنَيْهِ ثُمَّ حِينَ رَكَعَ ثُمَّ حِينَ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ وَرَأَيْتُهُ مُمْسِكًا يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ فِي الصَّلَاةِ (أحمد)
    Dari Waa-il bin Hujr, ia berkata: Saya pernah melihat Nabi Saw. ketika bertakbir be-liau mengangkat kedua tangannya hingga berbetulan dengan dengan kedua telinga-nya, kemudian juga (mengangkat tangan) ketika ruku’, kemudian ketika mengucap ”Sami’allahu liman hamidah” (juga mengangkat kedua tangannya), dan pada waktu itu saya melihatnya dalam keadaan memegang dengan tangan kanannya atas tangan kirinya dalam shalat … … (HR. Ahmad).
    5. عَنْ وَائِلٍ الْحَضْرَمِيِّ قَالَ صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ حِينَ دَخَلَ وَرَفَعَ يَدَهُ وَ حِينَ أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَ حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ رَفَعَ يَدَيْهِ وَ وَضَعَ كَفَّيْهِ (أحمد)
    Dari Waa-il al Hadhrami, ia berkata: Saya pernah shalat di belakang Rasulullah saw, maka beliau takbir ketiak masuk shalat dan mengangkat tangannya, dan ketika beliau ingin ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya. Dan ketika beliau mengangkat ke-palanya dari ruku’ , Beliau mengangkat kedua tangannya dan meletakkan kedua telapak tangannya. (Ahmad)
    6. صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ s وَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ (إِبْنُ خُزَيْمَةَ)
    Dari Waa-il bin Hujr ra, ia berkata: Aku pernah shalat bersama Rasulullah Saw. dan beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya didada. (R. Ibnu Khuzaimah No.479).
    7. صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ (البخاري)
    Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat (HSR. Bukhari)

    KITAB-KITAB YANG MENGANJURKAN SEDEKAP DI WAKTU I’TIDAL SETELAH BANGUN DARI RUKU’
    8. ثُمَّ اْلإِعْتِدَالُ الْوَاجِبُ أَنْ يَعُوْدَ بَعْدَ رُكُوْعِهِ إِلَى الْهَيْئَةِ الَّتِيْ كَانَ عَلَيْهَا قَبْلَ الرُّكُعِ سَوَاءٌ صَلاَّهَا قَائِمًا أَوْ قَاعِدًا
    Kemudian I’tidal yang wajib itu, hendaklah mengembalikan setelah ruku’nya kepada sikap yang sama sebagaimana yang dilakukan sebelum ruku’, baik shalatnya dengan berdiri ataupun duduk. (Kifayatul Akhyar I:67 bab shalat)
    9. وَ رَدَّهُمَا مِنَ الرَّفْعِ إِلَى تَحْتِ الصَّدْرِ أَوْلَى مِنْ إِرْسَالِهِمَا
    Mengembalikan kedua tangan setelah diangkat (bangun dari ruku’) ke bagian bawah dada, lebih utama daripada menggantungkannya lurus ke bawah. (Fathul Mu’in I:119, Bab Shalat)
    10. )فَأَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ ) أَيِ الَّتِيْ انْخَفَضَتْ حَالَ الرُّكُوْعِ تَرْجِعُ إِلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ حَالُ الْقِيَامِ لِلْقِرَاءَ ةِ وَ ذَلِكَ بِكَمَالِ الْإِعْتِدَالِ
    (Maka luruskanlah tulang punggungmu sehingga tulang-tulang itu kembali ke semu-la), yaitu hingga kembali tulang-tulang yang menurun (membungkuk) sewaktu dalam keadaan ruku’ kepada keadaan semula sewaktu dalm sikap berdiri membaca al fati-hah dan ayat. Dan begitulah I’tidal yang sempurna. (Subulus Salam I:160, Bab Shalat)
    11. (وَ سُئِلَ) نَفَعَ اللهُ بِعُلُوْمِهِ وَ مَتَّعَ بِوُجُوْدِهِ الْمُسْلِمِيْنَ هَلْ يَضَعُ الْمُصَلِّيْ يَدَيْهِ حِيْنَ يَأْتِيْ بِذِكْرِ الْإِعْتِدَالِ كَمَا يَضَعُهُمَا بَعْدَ التَّحَرُّمِ أَوْ يُرْسِلُهُمَا ؟ (فَأَجَابَ) رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِقَوْلِهِ اَلَّذِيْ دَلَّ عَلَيْهِ كَلاَمُ النَّوَوِيْ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ أَنَّهُ يَضَعُ يَدَيْهِ فِي الْإِعْتِدَالِ كَمَا يَضَعُهُمَا بَعْدَ التَّحَرُّمِ
    Artinya: Telah ditanya (yakni Ibnu Hajar AL Haitami), (semoga Allah SWT membe-rikan kemanfaatan dan keberkatan kepada kaum muslimin dengan ilmu-ilmunya dan keberadaannya)………Apakah orang yang shalat itu meletakkan kedua tangannya ke-tika berdiri I’tidal sebagaimana meletakkannya setelah takbiratul ihram, ataukah menggantungkannya lurus ke bawah? Maka beliau menjawab dengan menunjukkan penjelasan Imam Nawawi dalam kitab syarhil Muhaddzab, sesungguhnya beliau me-letakkan kedua tangannya di waktu berdiri I’tidal, sebagaimana meletakkannya setelah takbiratul ihram. (Al Fatawa al Kubra Al Fiqhiyah 1:39, bab shalat.)
    12. وَ الْإِعْتِدَالُ الْوَاجِبُ هُوَ أَنْ يَعُوْدَ بَعْدَ الرُّكُوْعِ إِلَى الْهَيْئَةِ الَّتِيْ كَانَ عَلَيْهَا قَبْلَ الرُّكُوْعِ سَوَاءٌ صَلَّى قَائِمًا أَوْ قَاعِدًا
    Dan I’tidal yang wajib itu, bahwa hendaklah mengembalikan setelah ruku’nya kepa-da sikap yang sama sebagaimana yang dilakukan sebelum ruku’, baik shalatnya de-ngan berdiri ataupun duduk. (Syarhul Muhadzdzab III:416 Bab Shalat)
     Dari dalil-dalil di atas, dapat dipahami bahwa posisi tangan di waktu berdiri setelah takbiratul ihram, setelah ruku’ pertama pada shalat gerhana, dan berdiri setelah sujud tilawah, begitu juga setelah bangun dari sujud kedua dan berdiri setelah duduk at tahiyyat awwal adalah dengan “MELETAKKAN TANGAN KANAN DI ATAS TANGAN KIRI DI DADA”.

    1. terima kasih atas tanggapannya.

      kita disini tidak mewajibkan bersedekap.
      itu hanyalah kutipan dari buku Abd Qadir.

      mau sedekap monggo…
      mau tidak juga monggo…

  3. Sebetulnya penjelasan Ust. Abdul Qodir Hassan (Allohu yarham) tentang posisi tangan saat i’tidal disampaikan sehubungan adanya pertanyaan pembaca majalah Al Muslimun (kalau tak salah sekitar tahun 1982) yang inti pertanyaannya sebagai berikut: “Bagaimana sikap tangan kita pada saat i’tidal dalam sholat gerhana dimana terdapat 2 (dua) kali i’tidal”.

    Kemudian setelah ada penjelasan/jawaban dari Ust. Abdul Qodir Hassan (Allohu yarham), barulah ramai dibahas oleh para ulama baik yang setuju maupun yang tidak setuju atas penjelasan Ust. Abdul Qodir tersebut.

    Hanya sayangnya para ulama yang membahas masalah ini khususnya yang tidak setuju dengan penjelasan Ust. Abd. Qodir. lupa menjelaskan/menjawab pertanyaan pembaca majalah Al Muslimun “Bagaimana sikap tangan kita pada saat i’tidal dalam sholat gerhana dimana terdapat 2 (dua) kali i’tidal”.

    Oleh karena itu, alangkah baiknya jika para pakar yang tidak setuju dengan penjelasan Ust. Abdul Qodir dalam masalah “Posisi tangan dalam i’tidal”. juga menyampaikan penjelasan/jawaban atas pertanyaan tersebut di atas, agar kita orang awam bisa membandingkan mana penjelasan yang lebih sesuai dengan tuntunan Sunnah Rosululloh s.a.w.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s