CARA BERDIRI I’TIDAL

CARA BERDIRI I’TIDAL[1]

Bag 02

DARI SAYA (Abdul Qadir Hassan)
Tentang Sifat berdiri I’tidal:

1. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh golongan yang mengharuskan berdiri i’tidal dengan menggantungkan tangan itu adalah sebagaimana yang telah lalu dan hadits no1 sampai 7 yang isinya berlainan. Selain dari itu tidak ada.

2. Pendapat tersebut berkisar kepada dua soal:
i. Tentang memahami kata “i’tidal” yang ada dalam hadits.
ii. Tentang tidak disebutnya sedekap dalam hadits.

3. Tentang “tidak disebut sedekap” dalam hadits itu, tidak berarti “tidak ada sedekap”. Mungki ada dan mngkin tidak ada, perlu dicari keterangan lain, baru dapat kita bersikap demikian. Tetapi tentang i’tidal itu, masih dalam pembicaraan kita. Maka pendapat ini kita biarkan dulu. Kita perhatikan keterangan-keterangan selanjutnya.

4. Tentang makna i’tidal: dalam hadits-hadits, para shahabat Nabi saw meriwayatkan hal i’tidal itu dengan beberapa macam lafadz:
i. Dengan lafadz : i’tadala, seperti riwayat Tirmidzi, Bukhari, Muslim. Artinya: lurus (ada juga dengan makna “betul, sedang, tidak melampaui batas”).
ii. Dengan lafadz: is-ta-waa, seperti riwayat Bukhari, Ibnu Hibban 1860, A Razzaq 2859, Muslim 2:54. artinya: lurus (sama dengan makna i’tidal, betul, sama, tetap).
iii. Dengan lafadz in-ta-shaba, seperti riwayat Bukhari dan Muslim yang tersebut. Artinya: lurus, tegak (sama dengna i’tadala).
iv. Dengan lafadz ith-ma-anna, seperti riwayat Ibnu Majah no 1060 (lihat bulughul maram hadits no 279). Artinya: tetap, tenang, diam, thu-ma’ninah.

5. Arti: i’tadala, is-ta-waa dan in-ta-shaba seperti tersebut maka semakna dengan arti “thuma’ninah”, karena semua riwayat itu menceritakan satu soal, yaitu “cara berdiri i’tidal”.

Arti “thuma’ninah” sudah ada di atas pada bagian iv. Artinya ini adalah arti menurut bahasa.
Tentang makna “thuma’ninah”, Imam Al-Ainy meriwayatkan Hadits Bukhari: (HADITS KE-11)

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كَانَ رُكُوعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسُجُودُهُ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ مَا خَلا الْقِيَامَ وَالْقُعُودَ قَرِيبًا مِنْ السَّوَاءِ

Artinya: Dari Al-Baraa’ ia berkata: Adalah ruku’ Nabi saw, sujud, (duduk) antara 2 sujud dan bangun dari ruku’ selain berdiri dan duduk kurang lebih sama. (bab ta’rif “menyempurnakan ruku’ dan i’tidal serta thuma’ninah).

(“selain berdiri” maksudnya: selain berdiri yang ada bacaan al-fatihah/surah/ayat. “duduk” maksudnya: selain duduk attahiyat. ‘Umdatul Qary, sarah shahih Bukhari oleh Al-Ainy 6:67)

Lalu Imam Al-Ainy berkata: (RIWAYAT KE-12)

وَيُعْلَمُ أَنَّ فِيْهِ مُكْثاً زَائِداً عَلَى أَصْلِ حَقِيْقَةِ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ وَعِنْدَ رَفْعِ رَأْسِهِ مِنَ الرُّكُوْعِ، وَالمُكْثُ الزَّائِدُ هُوَ الطُّمَأْنِيْنَةُ وَالإِعْتِدَالُ فِيْ هذهِ الأَشْيَاءِ فَافْهَمْ

Artinya: Dan diketahui bahwa dalam hadits itu, ada “diam” yang lebih dari asal hakikat ruku’ dan sujud. Dan antara dua sujud dan ketika mengangkat kepala dari ruku’. “diam yang lebih” inilah (yang dikatakan) “thuma’ninah” dan “i’tidal” dalam hal-hal ini. Maka hendaklah engkau faham. (‘Umdatul Qary, sarah shahih Bukhari oleh Al-Ainy 6:66)

Menurut ini “thuma’ninah” itu ialah berhubungan dengan soal “diam yang lebih dari biasa” “bukan soal meluruskan tangan”.
Ada riwayat: (HADITS KE-12a)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ إِنِّي لاَآلُو أَنْ أُصَلِّيَ بِكُمْ كَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا، كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ انْتَصَبَ قَائِمًا حَتَّى يَقُولَ الْنَّاسُ: قَدْ نَسِيَ. وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ سَكَتَ حَتَّى يَقُولَ الْنَّاسُ: قَدْ نَسِيَ. متفق عليه

Artinya: Dari Anas berkata: Sesungguhnya aku tidak teledor (lengah) untuk shalat mengimami kamu sebagaimana aku melihat Rasullah saw shalat mengimami kami. Maka apabilabBeliau berdiri mengangkat kepalanya dari ruku’ biau berdiri hingga orang-orang berkata: Beliau telah lupa. Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau diam, hingga orang-orang berkata: Beliau talah lupa. (riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

“Beliau telah lupa” berdiri bangkit dari ruku’ itu, maksudnya: lupa bahwa beliau mesti turun sujud, karena lama berdiri.
“Beliau telah lupa” dalam hal duduk sesudah bangkit dari sujud itu maksudnya: lupa karena lama duduk. (riwayat Ismaa’ily Fathul Bary, sarah shahih Bukhari 2:196)

Dalam riwayat Bukhari, bab al-muktsu baina assajdatain, Fathul Bary, sarah shahih Bukhari 2:204, diterangkan bahwa antara dua sujud juga Nabi saw duduk lama. “lama ruku'”, “lama i’tidal”, “lama sujud” dan “lama duduk antara dua sujud” inilah yang dikatakan thuma’ninah atau i’tidal atau istawaa atau intashaba sebagaimana tersebut dalam keterangan 11 dan 12.

Isi hadits riwayat Bukhari dan Muslim tersebut dikuatkan lagi dengan sabda Nabi saw: (HADITS KE-12b)

لاَتُجْزِئُ صَلاةٌ لايُقِيمُ فِيهَا الرَّجُلُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ. الخمسة

Artinya: Tidak memadai shalat orang yang tidak meluruskan padanya tulang belakanggnya ketika ruku’ dan sujud. (S. Riwayat Lima Imam: Nailul Authar 2/280)

Sabda Nabi saw lagi: (HADITS KE-12c)

اِعْتَدِلُوْا فِيْ السُّجُوْدِ، وَلاَيَكُوْنُ أَحَدُكُمْ باَسِطًا ذِرَاعَيْهِ كَالْكَلْبِ. ابن حبان والجماعة

Artinya: Berlaku luruslah dalam sujud dan jangan seseorang dari kamu menghamparkan kedua-dua lengannya seperti anjing. (S.R Ibnu Hibban 1928, dan riwayat 7 Imam: Nailul Authar 2/285).

Ada riwayat dari Abu Humaid As-Sa’idy, ia berkata: (HADITS KE-13)

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ اِعْتَدَلَ قَائِماً، وَقَالَ: ثُمَّ قَالَ : الله أَكْبَرُ، وَرَكَعَ، ثُمَّ اِعْتَدَلَ وَلَمْ يَصُبَّ رَأْسَهُ وَلَمْ يُقْنِعْ، وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: سَمِعَ اللّـهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ، وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عِظْمٍ فِيْ مِوْضِعِهِ مُعْتَدِلاً، ثُمَّ هَوٰى إِلَى الأَرْضِ سَاجِدًا، ثُمَّ قَالَ : اللّـهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ تَجَافَى عَضُدَيْهِ عَنِ ابْطَيْهِ، وَفَتَحَ أَصَابِعَ رِجْلَيْهِ، ثُمَّ ثَنٰى رِجْلَهُ الْيُسْرٰى وَقَعَدَ عَلَيْهَا، ثُمَّ اعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِيْ مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلاً، ثُمَّ هَوٰى سَاجِداً، ثُمَّ قَالَ: اللـهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ ثَنٰى رِجْلَهُ وَقَعَدَ، وَاعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِيْ مَوْضِعِهِ، ثُمُّ نَهَضَ. ابن خزيمة

Artinya: Biasa Rasulullah saw apabila berdiri shalat beliau berdiri tegak. Kemudian ia berkata: Nabi saw mengucap “ALLAHU AKBAR”, lalu ruku’, kemudian tegak dengan tidak menundukkan kepalanya dan tidak menengadahkannya sambil meletakkan kedua-dua tangannya di atas lututnya, kemudian mengucap “SAMI ‘ALLAHU LIMAN HAMIDAH” sambil mengangkat kedua-dua tangannya dan tegak, sehingga kembali tiap-tiap tulang di tempatnya dengan lurus, kemudian beliau menjunam ke bumi sambil sujud, kemudian mengucap “ALLAHU AKBAR”, kemudian menjauhkan kedua lengannya dari kedua ketiaknya (merenggangakan), dan melemaskan jari-jari kedua kakinya kemudian tegak sehingga tiap tulang kembali di tempatnya dengan lurus, kemudian ia turun sujud, kemudian ia mengucap ALLAHU AKBAR, kemudian beliau lipat kakinya dan duduk dengan tegak sehingga kembali tiap tulang ditempatnya, kemudian bangkit. (S. Ibnu Khuzaimah No.578, Ibnu Hibban no.1858, Ahmad: Al Fathur Rabbany 3:154)

Dalam riwayat ini, ada 5 kali kata ” I’TADALA “. kalau kata ini kita artikan “tegak, lurus” dengan makna “menggantungkan tangan”, akan memberi arti begini:
a. Yang pertama maknanya: sebelum takbiratul ihram tegak berdiri MENGGANTUNGKAN TANGAN.
b. Yang kedua maknanya: dalam ruku’ tegak dengan MENGGANTUNGKAN TANGA.
c. Yang ketiga maknanya: bangkit dari ruku’ tegak berdiri dengan MENGGANTUNGKAN TANGA.
d. Yang keempat maknanya: setelah sujud, duduk tegak dengan MENGGANTUNGKAN TANGA.
e. Yang kelima maknanya: sesudah sujud yang kedua kali, duduk tegak dengan MENGGANTUNGKAN TANGA.

Padahal kita sudah maklum bahwa:
• Dalam ruku’, setelah bangkit dari sujud pertama dan sujud kedua, tidak ada “menggantungan tangan”.
• Berdiri tegak sebelum takbiratul ihram itu, tidak ada ketentuannya. Dengan sendiri berdiri akan shalat itu adalah dengan tegak, tetapi tidak mesti dengan “menggantungkan tangan”. Biasa kita dapati orang yang berdiri tegak sebelum takbiratul ihram membetul-betulkan bajunya, kainnya, kopiahnya, mengusap muka bekas air wudhu dll, lalu ia segera mengangkat tangannya bertakbiratul ihram dengan tidak menggantungkan tangannya lebih dahulu.

Ada riwayat dari Abu Humaid, ia berkata: (HADITS KE-13a)

كاَنَ رسول الله صلى الله عليه وسلّم إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ اعْتَدَلَ قَائِماً وَرَفَعَ يَدَيْهِ. رواه الخمسة إلاّ النسائي

Artinya: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri shalat beliau berdiri tegak sambil mengangkat kedua-dua tangannya. (S.R Lima Imam kecuali Nasa’i: Nailul Authar 2:198)

Dalam riwayat ini ada perkataan ورفع يديه “wau” disini kalau diartikan “dan” tidak begitu tegas, karena itu saya artikan “sambil”.
Ini menunjukkan bahwa Nabi saw langsung “tegak dengan mengangkat tangan”, tidak pakai berdiri menunggu sebentar.

• Tinggal soal bangkit dari ruku’ yang tidak ada ketentuannya dalam riwayat-riwayat bahwa harus digantungkan tangan kita, disinilah terletak riwayat-riwayat berikut:
PERTAMA: Dari Shal bin Sa’d, ia berkata: (HADITS KE-14)

كاَنَ النَّاسُ يُؤْمَرُ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ اليُمْنَى عَلى ذِرَاعِهِ فِي الصَّلاِةِ. البخاري

Artinya: Adalah Shahabat-shahabat (Nabi saw) diperintahkan (oleh Nabi saw) bahwa seseorang harus meletakkan tangan kanannya atas lengan kiri (sedekap). (SR. Bukhari Fathul Bary, syarah shahih Bukhari 2:152)

KEDUA: Sabda Nabi saw:

إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْناَ بِتَعْجِيْلِ فِطْرِناَ وَتَأْخِيْرِ سِحُوْرِناَ وَأَنْ نَضَعَ أَيْمَانَناَ عَلى شَمَائِلِناَ فِي الصَّلاَةِ. الطبراني

Artinya: Sesungguhnya kami golongan para Nabi diperintah mensegerakan berbuka shaum kami dan menlambatkan sahur kami, dan meletakkan tangan-tangan kami dalam shalat. (S. Thabrani dan para rowinya adalah para rowi Bukhari Majma’uz Zawaaid 2:105)

Kedua-dua riwayat ini umum untuk semua macam shalat wajib dan sunnah, dan untuk semua macam bentuk berdiri dalam shalat, bukan khusus untuk berdiri sesudah takbiratul ihram dan berdiri bangkit dari rakaat kedua dan ketiga saja. Kedua-dua hadits ini, terutama yang kedua adalah sebagai pokok ketentuan disabdakan khusus tersendiri dari riwayat-riwayat lain.

6. Tentang maksud tulang kembali di tempatnya, dalam riwayat-riwayat yang dibawa oleh saudara-saudara tersebut ada yang berbunyi:
• Seperti hadits kedua, yaitu: Dan Nabi saw berdiri tegak hingga tiap-tiap tulangnya kembali di tempatnya dengan lurus.
• Ada yang berbunyi: Beliau berdiri rata hingga tiap tulang belakangnya kembali ke tempatnya, seperti hadits ketujuh.
• Ada yang disebut: luruskanlah tulang belakangmu hingga semua tulang kembali ke sendi-sendinya, seperti riwayat keenam.
• Ada yang berbunyi: Nabi saw menanti sambil berdiri, hingga tiap-tiap anggota badannya terletak di tempatnya, seperti hadits kelima.

Dari kata-kata “tiap tulang kembali ke tempatnya” dan sebagaimana itu difaham bahwa tulang tangan juga harus begitu, berarti harus diluruskan dengan digantungkan. Begitulah pendapat golongan saudara-saudara tersebut di atas.

Pendapat ini tidak kena (kurang tepat). Perlu diuraikan riwayat-riwayat yang mereka bawakan:
i. Dalam hadits kedua, kata-kata “kullu ‘adhmin” kalau berdiri sendiri yaitu tidak ada hubungan dengan yang lainnya memang dapat diumumkan, termasuk tulang tangan juga harus diluruskan. Tetapi keumuman ini ada tahshisnya (dikhususkan) sebagaimana keterangan-keterangan dibawah ini.
ii. Dalam hadits ke-6, ada kata-kata “al-‘idham” artinya tulang-tulang. Di lafadz itu ada huruf “al” yang disini artinya: “itu”, jadi tulang-tulang itu. Sebelumna Nabi berkata: “luruskanlah tulang belakangmu”. Maka tulang itu ialah “tulang belakang” bukan tulang tangan. Riwayat ini menjadi penentuan bagi riwayat kedua.
iii. Dalam hadits ke-5 disebut “kullu ‘udhwin” artinya tiap anggota badan. Riwayat ini terdapat dalam Musnad Ahmad 3:407, tetapi dalam riwayat Ibnu Abi Syibah 1:235 disebut “kullu ‘udhmin” artinya tiap tulang. Riwayat ini juga dapat difaham seperti hadits ke-2 kalau dianggap dia berdiri sendiri dan tidak berhubungan dengan yang lain.
iv. Dalam hadits ke-7 dengan tegas disebut “kullu faqarin” FAQAAR artinya tulang belakang, sebagaimana tersebut dalam kamus-kamus dan kitab Fathul Bary, syarah shahih Bukhari 2:208. riwayat ini sebagai takhshis “yang mengkhususkan”. Maka semua kata-kata “tulang” yang tersebut dalam riwayat bangkit dari ruku’ itu tidak ada yang mesti diluruskan, melainkan “tulang belakang” bukan tulang tangan atau lainnya. Ini dibantu oleh hadits ke-6 yang ada kata-kata “shulbaka” yang artinya juga “tulang belakang”.

KESIMPULAN (DARI SAYA).
1. Bahwa dalam riwayat-riwayat tidak disebut soal “bersedekap itu tidak menjadi alasan tidak adanya” karena sudah ada hadits umum yaitu hadits ke-14.

2. Bahwa arti i’tadala, istawa, intashaba dan tuhuma’ninah sama dengan makna “tenang” dan “lama” sebagaimana riwayat ke-12 dan penjelasan mengenainya.

3. Bahwa perkataan “tiap tulang/anggota badan kembali ditempatnya” itu maksudnya tulang-tulang belakang badan bukan tulang tangan. Lihat hadits ke-6 tentang maksud tulang.

4. Oleh karena itu semua, maka harus dikembalikan kepada ketentuan pokok, yaitu “harus bersedekap setalah bangan dari ruku’ sebagaimana hadits dan riwayat 14,15”.

[1] Diringkas dari buku “CARA BERDIRI I’TIDAL” oleh Abdul Qadir Hassan, penerbit LP3B cetakan ke IV/1992.


One thought on “CARA BERDIRI I’TIDAL

  1. Perintah meletakkan tangan kanan diatas tangan kirinya itu bukan perintah sedekap. Perintah meletakkan tangan kanan diatas tangan kirinya itu karena, masih adanya Sahabat yang meletakkan tangan kiri diatas tangan kanannya, padahal Nabi SAW tidak pernah mencohkan. Wallohua’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s