KONTRIBUSI A. HASSAN TERHADAP KAJIAN HADIS DI INDONESIA

KONTRIBUSI A. HASSAN TERHADAP KAJIAN HADIS DI INDONESIA: STUDI ATAS CARA MEMERIKSA DAN MEMAHAMI HADIS
(Bagian Keempat)

Oleh: Al-Hāfizh Ibnul Qayyim [1]
(Mahasiswa Konsentrasi Tafsir Hadis PPs UIN Alauddin Makassar)

2. Kaedah Kesahihan Sanad
Mayoritas muhadditsīn (Ulama Hadis) sepakat dengan definisi Hadis sahih yang dirumuskan oleh Abū ‘Amr ‘Utsmān ibn ‘Abd al-Rahmān ibn Shalāh al-Syahrazūriy, sebagi berikut:

أَمَّا الْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ فَهُوَ الْحَدِيْثُ الْمُسْنَدُ الَّذِيْ يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ وَلاَ يَكُوْنَ شَاذًّا وَلاَ مُعَلَّلاً

Terjemahnya:
Adapun Hadis sahih itu adalah Hadis yang disandarkan (kepada Nabi saw.), yang sanad-nya bersambung, yang diriwayatkan oleh seorang yang ‘ādil lagi dhābith dari seorang yang ‘ādil lagi dhābith (pula) sampai perhentian sanad-nya, tidak syādz (janggal) dan tidak pula mu‘allal (cacat).[2]

A. Hassan mengemukakan definisi Hadis sahih menurut pandangannya, sebagai berikut:
“Hadis yang sah datangnya dari Nabi saw. yaitu Hadis yang didengar dari Nabi oleh seorang rawi A; dan A menyampaikan pada B; dan B menyampaikan pada C; dan C menyampaikan pada D; dan seterusnya begitu sampai tertulis di kitab-kitab Hadis para imam-imam yang masyhur. Tiap-tiap rawi dari A, B dan seterusnya itu, harus bersifat kepercayaan.”[3]

Definisi yang dikemukakan oleh A. Hassan ini, memberi kesan bahwa ia telah menyederhanakan kaedah kesahihan Hadis menjadi dua saja, yaitu; (1) sanad-nya bersambung, (2) diriwayatkan oleh orang-orang yang kepercayaan (tsiqah).

Penyederhanaan ini, sudah jāmi‘un māni‘un (menghimpun seluruh kaedah dan tidak mengurangi sedikitpun ketercakupannya itu) terhadap bagian-bagian dari definisi yang telah dikemukakan oleh muhadditsīn sebelumnya.

A. Hassan melanjutkan penjelasannya tentang sifat-sifat orang yang ia sebut kepercayaan (tsiqah) itu, sebagai berikut:
“Orang yang bersifat kepercayaan itu paling sedikit harus punya empat sifat, (1) bulūg (cukup umur), yakni hendaklah ia sudah cukup umur waktu menyampaikan Hadis yang ia dengar itu, walaupun waktu ia mendengarnya itu, ia masih kecil. (2) Islam, yakni cukuplah ia Islam waktu menyampaikan Hadis itu. (3) ‘adālah artinya keadilan, yakni hendaklah ia bersifat ‘ādil di waktu menyampaikan Hadis itu. Yang dikatakan ‘ādil itu, yaitu orang yang; tidak terdengar atau terlihat ia mengerjakan dosa besar teristimewa dusta dan khianat, tidak selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, tidak melanggar kesopanan kaumnya yang tidak dilarang oleh agama. (4) dhābith, artinya tetap, tegak, beres dan lain-lain yang searti dengan itu. Maksudnya di sini ialah kuat ingatannya, tidak biasa lupa atau keliru pada meriwayatkan sesuatu Hadis.”[4]

Dalam hal ini, A. Hassan tidak menyebutkan syudzūdz dan ‘illat sebagai sifat-sifat orang yang kepercayaan (tsiqah), karena ada dua kemungkinan alasan; (1) tidak mungkin suatu Hadis yang sanad-nya dinyatakan bersambung (muttashil), dan diriwayatkan oleh orang yang tsiqah (‘ādil dan dhābith) ternyata riwayatnya mengandung syudzūdz dan ‘illat, sebab keduanya hanya terkait pada sanad yang tidak bersambung dan periwayat yang tidak dhābith. (2) penyebutan keduanya (syudzūdz dan ‘illat) dalam definisi Ibnu Shalāh itu semata-mata li al-ta’kīd (penekanan) terhadap pentingnya pemenuhan kedua unsur tersebut di samping sebagai sikap kehati-hatian semata.

Dapat dirinci bahwa untuk sanad yang bersambung memiliki beberapa unsur, sebagai berikut: (1) muttashil, yaitu Hadis yang sanad-nya sampai kepada Nabi saw. dengan tidak putus, dinamakan mawshūl atau muttashil al-sanad yakni yang disambung sanad-nya, yang tidak putus sanad-nya. Perkataan ini, juga terpakai untuk sanad atau riwayat atau atsar al-shahābah atau tābi‘īn.[5] (2) marfū‘, yaitu satu Hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh seorang rawi kepada ulama mudawwin, seperti al-Bukhāriy, Muslim, Abū Dāwud, dan lainnya, yakni Hadis yang riwayatnya diangkat sampai kepada Nabi saw. Kalau ada perkataan Ahli Hadis bahwa Hadis itu di-rafa‘-kan oleh seorang sahābiy, seperti Ibnu ‘Umar, umpamanya, maka maksudnya bahwa Ibnu ‘Umar katakan Hadis itu dari Nabi saw. bukan fatwanya sendiri.[6] (3) mahfūzh, yaitu dalam satu pemeriksaan, umpamanya, bila ada dua Hadis yang diriwayatkan dari Nabi saw. yang berlawanan, sedang yang satu lebih kuat sanad-nya daripada yang lain, maka yang kuat sanad-nya itu dinamakan mahfūzh dan yang kurang kuat dinamakan syādz.[7] (4) bukan mu‘all, maksudnya bukan Hadis yang cacat. Hadis yang cacat (mu‘all) itu adalah satu Hadis yang zahirnya sahih, tetapi sesudah diperiksa, terdapat ada cacatnya. Cacatnya itulah yang dinamakan ‘illat (artinya penyakit).[8]

Untuk periwayat yang kepercayaan (tsiqah) juga memiliki beberapa unsur, sebagai berikut: (1) al-‘adālah, yaitu beragama Islam, mukallaf (cukup umur), melaksanakan ketentuan agama, dan memelihara murū’ah (akhlaq kesopanan), (2) al-dhabth, yaitu hafal dengan baik Hadis yang diriwayatkannya, mampu dengan baik menyampaikan Hadis yang dihafalnya kepada orang lain, dan secara otomatis terhindar dari syudzūdz, terhindar dari ‘illat.

Umumnya para muhadditsīn mengemukakan bahwa untuk mengetahui tingkat ke-tsiqah-an seorang periwayat, maka yang mesti diperiksa adalah ke-‘ādil-an yang berhubungan dengan kualitas kepribadiannya, dan ke-dhābith-an yang berhubungan dengan kapasitas intelektualnya.

Untuk menentukan sejauh mana kualitas kepribadian seorang periwayat, maka kreteria ke-‘ādil-an yang diajukan A. Hassan adalah (1) tidak terdengar atau terlihat ia mengerjakan dosa besar teristimewa dusta dan khianat, (2) tidak selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, (3) tidak melanggar kesopanan kaumnya yang tidak dilarang oleh agama.[9]

Ulama lain, mengajukan kriteria ke-‘ādil-an, sebagai berikut; (1) beragama Islam, (2) balig, (3) berakal, (4) taqwa, (5) memelihara murū’ah, (6) teguh dalam agama, (7) tidak berbuat dosa besar, (8) menjauhi dosa-dosa kecil, (9) tidak berbuat bid‘ah, (10) tidak berbuat maksiat, (11) tidak berbuat fasiq, (12) menjauhi hal-hal yang dibolehkan, yang dapat merusak murū’ah, (13) baik akhlaqnya, (14) dapat dipercaya beritanya, (15) biasanya benar.[10]

Dari kriteria-kriteria ke-‘ādil-an tersebut di atas, sesungguhnya dapat disaring, menjadi empat kriteria saja, sebagai berikut; (1) beragama Islam, (2) mukallaf, (3) melaksanakan ketentuan agama, dan (4) memelihara murū’ah. Dengan demikian, perawi yang memenuhi empat kriteria ini dapat disebut ‘ādil.

Ke-‘ādil-an seorang rawi dapat diketahui berdasarkan (1) kemasyhuran keutamaannya di kalangan ulama Hadis, (2) penilaian para kritikus Hadis, (3) penerapan kaedah-kaedah al-jarh wa al-ta‘dīl, bila terjadi ketidaksepakatan penilaian terhadap kualitas kepribadian seorang periwayat.[11]

Untuk menentukan sejauh mana kapasitas intelektual seorang periwayat, maka kriteria ke-dhābith-an yang diajukan A. Hassan adalah (1) mengerti apa yang diriwayatkannya, (2) tau apa-apa yang bisa mengubah makna Hadis, yaitu kalau dia meriwayatkan dengan makna, (3) kuat hafalannya, (4) ingat akan kitabnya, yaitu kalau dia meriwayatkan Hadis dengan tulisan.[12]

Dapat penulis simpulkan bahwa ke-dhābith-an yang dimaksud A. Hassan adalah periwayat yang mampu menghafal dengan sempurna Hadis yang diterimanya, dan mampu menyampaikan dengan baik Hadis yang dihafalnya. Bila periwayat itu juga mampu memahami dengan baik Hadis yang dihafalnya maka kapasitas intelektualnya berada ditingkat tamm al-dhabth (ke-dhābith-an yang sempurna).

ke-dhābith-an seseorang dapat diketahui berdasarkan (1) kesaksian para ulama, (2) kesesuaian riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh periwayat yang ke-dhābith-annya telah masyhur, (3) kekeliruan seorang periwayat yang dhābith dapat ditolelir selama hal itu tidak sering terjadi, namun bila kekeliruan itu sering terjadi maka predikat ke-dhābith-an yang disandang tidak berlaku lagi.[13]

Predikat ke-dhābith-an tidak mungkin disandang oleh periwayat yang (1) lebih banyak salahnya daripada benarnya dalam meriwayatkan Hadis, (2) lebih menonjol sifat lupanya dari pada sifat ingatnya, (3) diduga kuat wahm atau keliru dalam meriwayatkan Hadis, (4) riwayatnya menyalahi periwayat yang lebih tsiqah, (5) buruk ingatannya.[14]

3. Cara Memeriksa Setiap Rawi dan Metode Periwayatannya

a. Biografi Periwayat
A. Hassan mengemukakan bahwa untuk mengetahui sahih tidaknya masing-masing Hadis, lebih dahulu perlu diketahui semua rawi-rawinya, lalu memeriksanya di kitab-kitab rijāl al-hadīts, terutama kitab Mīzān al-I‘tidāl karya al-Dzahabiy, kalau rawi-rawi tersebut semua termasuk orang-orang yang kepercayaan (tsiqah) atau tidak terdapat orang-orang yang tercela, maka Hadis itu boleh dimasukkan dalam bilangan Hadis hasan atau Hadis sahih, menurut kedudukannya masing-masing.[15]

Orang yang meriwayatkan Hadis dari zaman Nabi Muhammad saw. hingga abad pen-tadwin-an (pengumpulan) Hadis dalam kitab-kitab, baik itu periwayat dari kalangan sahabat, tābi‘īn, dan seterusnya, orang-orang yang terkenal besarnya atau terkenal sebagai orang yang berdusta, orang-orang yang saleh atau fasik, penurut sunnah dengan betul atau ahli bid‘ah sekalipun jahatnya itu tidak diketahui, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa, semua mereka itu, telah didaftarkan oleh ulama akan nama-nama mereka beserta tarikh riwayat hidup (biografi) masing-masing sedapat-dapatnya.[16]

Kitab-kitab yang menerangkan tarikh rawi-rawi itu ada banyak dan bermacam-macam metode penulisannya, ada yang bercampur antara perawi sahih dan dha‘īf, seperti Tahdzīb al-Tahdzīb karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy dan Mīzān al-I‘tidāl karya al-Dzahabiy; ada yang menerangkan rawi-rawi yang baik dan yang boleh dipercaya saja, seperti kitab Al-Tsiqāt karya Abu al-Hasan Ahmad ibn ‘Abdillāh ibn Shālih al-‘Ijliy dan Al-Tsiqāt karya Ibnu Hibbān al-Busthiy; ada yang pisahkan (khususkan) rawi-rawi yang lemah, pendusta, fasik, dan sebagainya, seperti kitab Al-Dhu‘afā’ al-Kabīr karya al-Bukhāriy dan Al-Kāmil fī Dhu‘afā’ al-Rijāl karya Abu Ahmad Abdullah ibn ‘Adiy al-Jurjāniy; ada yang sendirikan rawi-rawi dari kalangan sahabat saja, seperti kitab Al-Isti‘āb fī Ma‘rifat al-Ashhāb karya Ibnu ‘Abd al-Barr dan Usud al-Gābat fī Ma‘rifat Asmā’ al-Shahābah karya Ibnu al-Atsīr al-Jazriy; demikianlah seterusnya.[17]

A. Hassan menyebutkan pula beberapa kitab-kitab yang menerangkan biografi para perawi Hadis yang ada padanya, antara lain; (1) Tahdzīb al-Tahdzīb karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 12 Juz, mengandung 12.460 nama rawi. (2) Lisān al-Mīzān karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 6 Juz, mengandung 15.343 nama rawi. (3) Mīzān al-I‘tidāl karya al-Dzahabiy, terdiri dari 3 Juz ukuran besar, mengandung 10.907 nama rawi. (4) Al-Ishābah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 8 Juz besar, kitab ini khusus menerangkan riwayat hidup sahabat-sahabat Nabi saw. dsb., mengandung 11.279 nama sahabat. (5) Usud al-Gābat fī Ma‘rifat Asmā’ al-Shahābah karya Ibnu al-Atsīr al-Jazriy, terdiri dari 4 Jilid, mengandung 7.500 nama sahabat Nabi. (6) Al-Tārīkh al-Kabīr karya al-Bukhāriy, sebanyak 6 Jilid, mengandung 9.048 rawi Hadis. (7) Al-Fihris karya Ibn Nadīm, terdiri dari 10 Juz tipis. (8) Al-Badr al-Thāli‘ karya al-Syawkāniy, ada 2 Juz, mengandung 441 nama rawi, dan ada Mulhaq-nya 1 Juz. (9) Al-Jarh wa al-Ta‘dīl karya Ibn Abīy Hātim, ada 9 Jilid sedang, mengandung 18.040 nama rawi-rawi. (10) Al-Durar al-Kāminah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 4 Juz, yang mengandung 5320 nama-nama. (11) Nuzhat al-Khawāthir karya Abd al-Hayy al-Hasaniy, ada 3 Jilid, mengandung 807 nama-nama ulama India yang ada sangkut pautnya dengan sanad-sanad Hadis. (12) Ta‘jīl al-Manfa‘ah karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 1 Juz, yang mengandung 1733 nama rawi yang tidak terdapat pada kitabnya Tahdzīb al-Tahdzīb. [13] Thabaqāt al-Mudallisīn karya Ibnu Hajar al-‘Asqalāniy, terdiri dari 1 Juz. [14] ‘Ilal al-Hadīts karya Ibn Abīy Hātim, terdiri dari 2 Juz, mengenai penyakit-penyakit Hadis.[18]

Literatur-literatur biografi para periwayat Hadis tersebut masih tersimpan rapi di perpustakaan peninggalan A. Hassan di Bangil. Ini, menunjukkan bahwa A. Hassan cukup menguasai literatur rijāl al-hadīts.

Data informasi yang harus diperiksa dari perawi Hadis menurutnya, sebagai berikut; (1) nama lengkap perawi, termasuk laqab dan atau kunyah-nya, (2) kelahirnya, (3) tahun matinya, (4) negerinya, (5) guru-gurunya, (6) murid-muridnya, (7) dimana ia belajar yakni sejarah perlawatannya mencari Hadis, (8) siapa-siapa yang ia jumpai dari kalangan ahli Hadis, (9) penilaian ulama terhadapnya.[19]

Salah satu contoh yang dapat penulis kemukakan dari hasil pemeriksaan A. Hassan terhadap biografi perawi Hadis, yaitu Hadis tentang keadaan jasad para Nabi di alam kubur riwayat Ahmad, Abū Dāwud, Al-Nasā’iy, Ibnu Mājah, Ibnu Hibbān, al-Hākim, al-Bayhaqiy, al-Dārimiy, Sa‘īd ibn Manshūr, al-Thabrāniy, dan Ibn Abī Syaybah. Menurut al-Hākim dan al-Nawāwiy, Hadis tersebut sahih. Al-Mundziriy juga menganggap Hadis tersebut baik. Namun A. Hassan melemahkan Hadis tersebut.[20]

Ketidaksahihan Hadis tersebut menurut A. Hassan, disebabkan karena adanya seorang perawi dalam sanad Hadis tersebut yang bernama ‘Abdurrahmān ibn Yazīd ibn Jābir. Adapula sebagian ahli Hadis yang menyebutkan bahwa Hadis tersebut tidaklah melalui jalur ‘Abdurrahmān ibn Yazīd ibn Jābir, tetapi melalui ‘Abdurrahmān ibn Yazīd ibn Tamīm.

b. Perawi Pertama dan Terakhir.
Pemeriksaan terhadap perawi Hadis memang sangat diperlukan, sebab dengan memeriksa keadaan mereka, orang yang mengadakan pemeriksaan akan lebih yakin akan kesahihan sebuah riwayat. Dalam memeriksa perawi Hadis, A. Hassan hanya memeriksa guru mukharrij hingga tabi’in, karena menurutnya, para sahabat itu sudah masyhur ke-ādil-an mereka, demikian pula para mukharrij. Ia mengemukakan:

“Sebenarnya, ulama-ulama Pendaftar Hadis, seperti Malik, Ahmad, Bukhāriy, Muslim, dan lain-lainnya, tidak perlu diperiksa lagi, karena mereka sudah diuji kealiman, kesalehan, dan keamanatannya dalam urusan agama, terutama dalam urusan Hadis oleh ulama-ulama yang sangat teliti di masing-masing masa dan terus menerus. Begitu juga, para sahabat Nabi yang jadi rawi yang masyhur-masyhur, sudah diselidiki dan diuji oleh ulama dan terdapat kebenaran, kesalehan, keikhlasan, dan keamanatan yang sempurna pada mereka. Jadi yang perlu diperiksa itu ialah lain dari dua golongan tersebut”.[21]

Dari pernyataan ini, dapat penulis simpulkan bahwa kegiatan pemeriksaan terhadap pribadi periwayat yang dilakukan A. Hassan, lebih tertuju pada, selain “para sahabat Nabi yang jadi rawi yang masyhur-masyhur” dan “Pendaftar Hadis”. Alasannya, karena mereka telah lulus uji pemeriksaan yang diadakan oleh ulama terdahulu. (BERSAMBUNG)

Endnote:
[1] Alamat e-mail: kayyink_uinmakassar@yahoo.com
[2] Abū ‘Amr ‘Utsmān ibn ‘Abd al-Rahmān ibn Shalāh al-Syahrazūriy, Muqaddamah Ibn Shalāh, (Bombay: Qayyimah Press, 1938 M.), h. 7-8.; lihat pula, Jalāl al-Dīn ibn ‘Abd al-Rahmān al-Suyūthiy, Tadrīb al-Rāwiy fī Syarh Taqrīb al-Nawāwiy, (Cet. I; Beirūt: Dār Ihyā’ al-Turāts al-‘Arabiy, 1421 H.-2001 M.), h. 58.
[3] A. Hassan, et al., Soal Jawab, Jilid II, (Cet. XII; Bandung: Penerbit CV Diponegoro, 2000 M.), h. 696.
[4] Ibid.
[5] A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis dan Ushūl Fiqh”, dalam Tarjamah Bulūg al-Marām, (Cet. XXV; Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2001 M.), h. 5-6.; Selanjutnya disebut “Muqaddimah Ilmu Hadis” saja.
[6] Ibid., h. 5.
[7] Ibid., h. 9.
[8] Ibid., h. 8.
[9] A. Hassan, et al., Soal Jawab, loc. cit.
[10] Lebih lanjut lihat misalnya, Muhammad Shiddīq Hasan Khān, Hushūl al-Ma‘mūl min ‘Ilm al-Ushūl, (Cairo: Dār al-Fadhīlah, t.th.), h. 139-140.; Muhammad Mahfūzh ibn ‘Abd Allah al-Tirmisiy, Manhaj Dzawiy al-Nazhar, (Surabaya: Ahmad ibn Sa’ad ibn Nabhān, 1394 H.-1974 M.), h. 9.
[11] Muhammad Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Cet. II; Jakarta: Bulan Bintang, 1415 H.-1995 M.), h. 134.
[12] A. Hassan menambahkan bahwa ada lain-lain syarat yang tidak begitu penting, bahkan telah termasuk di salah satu syarat tersebut. Lihat, A. Hassan, et al., Soal Jawab, op. cit., Jilid I, h. 345.
[13] Muhammad Syuhudi Ismail, op. cit., h. 136.
[14] ‘Abd al-‘Azīz ibn Muhammad ibn Ibrāhīm al-‘Abd al-Lathīf, Dhawābith al-Jarh wa al-Ta‘dīl, (Cet. I; Madinah: al-Jāmi‘ah al-Islāmiyyah bi al-Madīnat al-Munawwarah, 1412 H.) h. 14.
[15] A. Hassan, et al., Soal Jawab, op. cit., h. 434-435.
[16] A. Hassan, Ringkasan Islam, (Bangil: Al-Muslimun, 1972 M), h. 16.
[17] Ibid.
[18] A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis”, op. cit., h. 5, 25-26.
[19] Ibid., h. 2, 12.
[20] A. Hassan, et al., Soal Jawab, op. cit., h. 520.
[21] A. Hassan, Ringkasan Islam, op. cit. h. 17.


2 thoughts on “KONTRIBUSI A. HASSAN TERHADAP KAJIAN HADIS DI INDONESIA

  1. Kajian hadis di zaman modern sering tidak mendapat ruang yang luas. Ia sering dipandang tidak membumi, karena sebagain orang memandangnya sangat rumit untuk digali. Di zaman yang serba praktis ini. kajian hadis mesti disesuaikan dengan kondisi dan situasi, senginga semua orang dapat mengkonsumsi pusaka berharga ini dengan menyluruh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s