CARA BERDIRI I’TIDAL

CARA BERDIRI I’TIDAL[1]

Bag 01

Soal:
Bagaimana cara berdiri i’tidal apakah kedua tangan digantungkan ataukah diletakkan di atas dada?

Jawab:
“berdiri i’tidal” itu, ialah berdiri bangkit dari ruku’.

Biasanya yang kita dan orang lakukan beratus tahun ialah sesudah bangkit dari ruku’ lalu berdiri dengan “menggantungkan kedua-dua tangan”.
Sebenarnya tidak ada satupun keterangan dari hadits-hadits yang menyuruh atau memberikan contoh “menggantungkan tangan di waktu” berdiri bangkit dari ruku’ itu.

Riwayat-riwayat yang terdapat adalah sebagai berikut:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ:كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلاَةِ. رواه البخاري

Artinya: dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: dahulu para sahabat diperintah (Nabi saw), untuk meletakkan tangan kanannya atas lengan kirinya. SR (shahih riwayat) Bukhari, bab meletakkan tangan kanan atas yang kiri dalam shalat: lihat Fathul Bary 2:152, Ahmad: Al Fathur Rabbany, sarah Musnad Ahmad 3:173.

مَا نَسِيتُ مِنْ الْأَشْيَاءِ مَا نَسِيتُ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ فِي الصَّلاَةِ. رواه أحمد

Dari Ghadhief bin Harits, ia berkata: aku tidak lupa dari kejadian-kejadian sama sekali, sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah saw meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya dalam shalat. SR Ahmad 4:105 Al Fathur Rabbany, sarah Musnad Ahmad 3: 173: Majma’uz Zawaaid 2:104.

سَمِعْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ:إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا بِتَعْجِيلِ فِطْرِنا، وَتَأْخِيرِ سُحُورِنا، وَوَضَعِ أَيْمَانِنَا عَلَى شَمَائِلِناَ فِي الصَّلاةِ. رواه الطبراني

Ibnu Abbas berkata: aku pernah mendengar Nabiyullah saw bersabda: sesungguhnya kami golongan para Nabi diperintah mengsegerakan berbuka (shaum), mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan-tangan kanan kami atas tangan-tangan kiri kami dalam shalat. SR Thabrani: Majma’uz Zawaaid 2:105

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعًا يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ فِي الصَّلاَةِ. رواه أحمد

Dari Ghadhief bin Harits, ia berkata:……sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah saw meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya dalam shalat. SR Ahmad : Al Fathur Rabbany, sarah Musnad Ahmad 3:172.

Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu majah dengan lafadz:

عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ هُلْبٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّنَا فَيَأْخُذُ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ. رواه الترمذي و ابن ماجه

Dari Qabishah bin Hulb dari ayahnya, ia berkata: adalah Rasulullah saw mengimami kami dengan memegang tangan kirinya memakai tangan kanan.

صَلَيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَوَضَعَ يَدَهُ اليُمْنَى عَلَى يَدِهِ اليُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ. رواه ابن خزيمة

Dari Waail bin Hujr, ia berkata: aku pernah shalat bersama Rasulullah saw dan beliau meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya di dada. Riwayat Ibnu Khuzaimah 479.

PENJALASAN:
1. Dalam 5 riwayat dari 5 shahabat tersebut dan lainnya, tidak diterangkan dibagian yang mana saja kita harus “meletakkan tangan kanan atas tangan kiri” itu. Berarti di semua bagian. Yang begini disebut UMUM atau ‘AAM.
2. Kalau kita berpegang kepada keumuam riwayat-riwayat itu, maka kita harus meletakkan tangan tersebut:
– sesudah takbiratul ihraam sampai ruku’.
– Dalam waktu ruku’.
– Di waktu berdiri setelah bangkit dari ruku’ yang biasa disebut berdiri i’tidal.
– Dalam sujud.
– Di waktu duduk setelah bangkit dari sujud pertama dan kedua.
– Dalam duduk attahiyat awal dan akhir.
3. Tetapi terdapat hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang mengecualikan yaitu:
– Bahwa dalam ruku’ diperintah meletakkan kedua-dua tangan atas lutut. SR Tirmidzi, Ahmad dan Abu Dawud.
– Bahwa dalam sujud diperintah bersujud atas tujuh anggota badan, termasuk tangan. SR Bukhari.
– Bahwa dalam duduk setelah bangkit sujud diperintah seperi duduk attahiyat (Muslim).
– Bahwa dalam duduk attahiyat awal atau akhir, diperintah meletakkan tangan atas paha dan lutut.
4. Setelah kita mengetahui pengecualian-pengecualian tersebut pada poin no.3 maka tinggallah bahwa “meletakkan tangan atas dada” itu adalah di waktu berdiri saja. Berdiri dalam shalat itu ada empat:
– Sesudah takbiratul ihraam.
– Sesudah bangkit dari ruku’ (i’tidal).
– Sesudah bangkit dari sujud raka’at pertama dan raka’at ketiga.
– Bangkit sesudah duduk attahiyat awal.

Tentang meletakkan tangan atas dada sesudah takbiratul ihraam itu kita sama-sama sudah maklum (R Muslim).
Tentang bangun dari sujud lalu berdiri dan bangun dari attahiyat awal lalu berdiri harus meletakkan tangan atas dada itu juga sudah kita ketahui (R Muslim dan lainnya).

Tinggal perkara dimana “meletakkan tangan sesudah bangkit dari ruku’. Di atas sudah saya katakan bahwa kebiasaan kita, sesudah bangkit dari ruku’ kita menggantungkan kedua tangan. Keterangan dari Nabi saw tentang ini sama sekali tidak ada, oleh karena itu seharusnya kita berpegang kepada hadits-hadits dan riwayat tersebut di atas, yaitu: ketika bangkit dari ruku’ harus meletakkan tangan kanan atas tangan kiri di dada, karena hadits-hadits tersebut tidak menentukan peletakan tangan itu sebelum ruku’ atau sesudah ruku’, hadits-hadits itu adalah umum.

5. Oleh karena hadits-hadits tersebut di atas itu umum, maka cara itu berlaku dalam semua shalat wajib dan shalat sunnat, termasuk shalat gerhana yang ditanyakan. Yaitu: tiap kali bangkit dari ruku’, sambil berdiri tangan tidak digantungkan, tetapi diletakkan atas dada seperti sesudah takbiraul ihraam.

(Masalah ini sudah dikemukakan oleh Syaikh Bin Baas dalam majalah Rabithah Al-Alamil Islamy no.10 tahun ke II, terbitan 1393 H halaman 77 dan dalam risalahnya “Tsalatsu masaa-il fish shalat” halaman 18: isinya sama. Bandingkan dengan kitab-kitab: shifatus Shalatin Nabi saw halaman 144, Fathul Bary 2:152, Umdatul Qary 5:278)

Hukum meletakkan tangan atas dada itu adalah wajib, berdasarkan sabda Nabi saw:

صَلُوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِي أُصَلِّي . رواه البخاري

Artinya: shalatlah sebagaimana kamu melihat (mengetahui) aku shalat. SR Bukhari.

CARANYA:
Setelah kita mengetahui hadits-hadits dan keterangan-keterangan tersebut, maka caranya menjadi sebagai berikut:
Bangkit dari ruku’ sambil mengangkat kedua-dua tangan dan mengucap “samii allahu liman hamidah”, kemudian tangan kanan di atas tangan kiri diletakkan di dada. Lalu membaca “rabbana lakal hamd”, kemudian mengangkat kedua-dua tangan untuk turun sujud.

Tentang “mengankat tangan” ketika turun sujud itu ada riwayatnya:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنّ لنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ التَّكْبِيرِ لِلرُّكُوعِ وَعِنْدَ التَّكْبِيرِ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا. رواه الطبراني

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw biasa mengankat kedua-dua tangannya ketika takbir untuk ruku’ dan ketika takbir waktu akan turun sujud.

Cara angkat tangan ini berlaku juga pada shalat gerhana, shalat 2 hari raya dan shalat jenazah. Cara berdiri i’tidal dalam shalat tersebut diatas yang ringkasnya: setelah bangun dari ruku’ tangan tidak digantungkan, tetapi dengan “berdekap tangan” (sedekap), yaitu dipelukkan di atas dada.

Lalu saya menerima beberapa surat yang isinya: ada yang setengah membantah, ada yang menjelaskan, ada yang menguatkan bahwa “berdiri i’tidal” itu harus dengan menggantungkan kedua-dua tangan seperti yang biasa dilakukan. Di antara surat-surat itu ada pula yang minta penjelasan dan mengajukan beberapa pertanyaan berhubungan dengan soal “sedekap” itu.

Nada surat-surat itu hampir bersamaan. Keterangan-keterangan atau alasan yang dikemukakan juga sama. Kerena itu supaya tidak memakan tempat saya bawakan berikut ini alasan-alasan yang berlainan yang dikemukakan oleh saudara-saudara itu.
Surat-surat yang saya terima di antaranya:
1. Dari pelajar pesantren Persis Bangil tanda “P”.
2. Dari Bawean tanda “M”.
3. Dari Surabaya ada 2 tanda “A” dan “NH”.
4. Dari Jakarta tanda “H”.
5. Dari Sepanjang tanda “AT”.
6. Dari Jatinegara tanda “R”.
7. Dari Bali tanda “Sy”.
8. Dari Kediri tandan “Ar”.
9. Dari Sedayu tandan “Ay”.
10. Dari Kaliwungu-Semaranga tandan “SS”.

ALASAN yang saudara kemukakan sebagai berikut:
I. YANG BERHUBUNGAN DENGAN MELETAKKAN TANGAN ATAS DADA (berdekap/sedekap):

A. Riwayat dari Ibnu Umar ia berkata: (HADITS KE-1)

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا قَامَ إلَى الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا بِحَذْوِ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ يُكَبِّرُ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَهُمَا مِثْلُ ذَلِكَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَك الْحَمْدُ.

Artinya: Adalah Nabi saw apabila berdiri hendak shalat, Beliau mengankat kedua-dua tangannya hingga kedua-duanya berbetulan dengan bahunya, kemudian Beliau bertakbir. Maka apabila Beliau hendak ruku’, Beliau mengangkat kedua-duanya seperti itu. Dan apabila Beliau mengangkat kepalanya dari ruku’, Beliau mengankat seperti itu jua dan mengucap “sami ‘Allahu liman hamidah, rabbana lakal hamdu”. SR. Imam Bukhari, Muslim dan Bahaqi: Nailul Authar 2:192.

Riwayat ini dibawakan oleh P. Dari riwayat ini, difaham “tidak ada meletakkan tangan” itu sesudah bangan dari ruku’, karena dalam hadits itu tidak disebut.

B. Dari Abi Humaid As-Sa’idy, ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri shalat….. kemudian mengucap “sami ‘Allahu liman hamidah” sambil mengangkat kedua tangannya, lalu Abu Humaid berkata: (HADITS KE-2)

وَ اعْتَدَلَ حَتَّى يَرْجِعَ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلاً. رواه الترمذي

Dan Nabi saw berdiri tegak hingga tiap-tiap tulangnya kembali di tempatnya dengan lurus. SR Imam Tirmidzi.

Riwayat ini tersebut dalam Nailul Authar 2:18, Pengajaran Shalat A.Hassan 224.
Riwayat ini dibawakan oleh saudara M, H dan SS. “Dari berdiri tegak” dan “lurus” yang ada dalam riwayat ini, diambil kesimpulan: TANGAN HARUS TERGANTUNG, TIDAK BERDEKAP.

C. Dari Abu Humaid As-Sa’idy, ia berkata: (HADITS KE-3)

كان رسول الله صلى الله عليه وسلّم إذاَ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ اعْتَدَلَ قَائِمًا ثُمَّ يُكَبِّرُ. رواه البخاري ومسلم

Artinya: Adalah Rasulullah saw apabila berdiri shalat, Beliau berdiri tegak kemudian bertakbir. (hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim)

Hadits ini ada dalam Nailul Authar 2:198, dibawa oleh saudara H. Maksudnya menguatkan bahwa bangun dari ruku’ itu adalah berdiri tegak dengan menggantungkan tangan, karena dalam riwayat tersebut dikatakan “Nabi saw berdiri tegak” kemudain baru bertakbir. Di waktu berdiri tegak itu, adalah masuk shalat (sebelum takbiratul ihram). Tentu “berdirinya” itu tidak dengan berdekap. Jadi: I’tidal itu maknanya “menggantungkan tangan”.

D. Dari Waa-il bin Hujr: (HADITS KE-4)

أَنَّهُ رأى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلّم….. فَلَمَّا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَفَعَ يَدَيْهِ….. رواه مسلم

Arinya: Bahwa dia pernah melihat Nabi saw….. maka tatkala Nabi saw mengucap “sami ‘Allahu liman hamidah” Beliau mengangkat kedua tangannya…….. Hadits riwayat Imam Muslim.

Riwayat ini dibawakan oleh saudara AT agak panjang, tetapi saya kutip yang berhubungan dengan soal i’tidal saja. Ringkasnya dalam riwayat ini tidak ada “berdekap” sesudah mengucap “sami ‘Allahu liman hamidah” dan dalam keterangan selanjutnya juga tidak ada.

E. Ada riwayat: (HADITS KE-5)

ثُمَّ يَمْكُثُ قَائِماً حَتَّى يَقَعَ كُلُّ عُضْوٍ مَوْضِعَهُ…..

Riwayat ini dibawa oleh saudara Ar dari kitab Subulus Salam. Dalam riwayat ini disebut “menanti sambil berdiri” tanda ada sedekap (meletakkan tangan atas dada).

F. Dari Rifa’ah bin Rafi’, Nabi saw bersabda: (HADITS KE-6)

فَاِذاَ رَفَعْتَ رَأْسَكَ فَاَقِمْ صُلْبَكَ حَتَّى تَرْجِعَ العِظَامُ إِلَى مَفَاصَلِهَا. روه أحمد و أبوداود

Artinya: Maka jika engkau mengangkat kepalamu, luruskanlah tulang belakangmu sehingga tulang-tulang itu kembali ke sendi-sendinya. Hadits riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud

Hadits ini dibawa oleh saudara H dan Ay. Riwayat ini dihubungkan dengan hadits ke-2 diatas, saudara H berkesimpulan bahwa i’tidal itu adalah dengan menggantungkan tangan, bukan diletakkan di dada.

G. Riwayat dari Abu Humaid As-Sa’idy, ia berkata: (HADITS KE-7)

فَاِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اِسْتَوَى حَتَّى يَعُوْدّ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ. رواه البخاري

Artinya: …. Maka apabila Nabi saw mengangkat kepalanya Beliau berdiri rata hingga tiap tulang belakangnya kembali ke tempatnya. Riwayat Imam Bukhari

Riwayat ini dibawa oleh saudara H, Ar dan MDS (admin: mungkin yang dimaksud adalah SS, karena tidak ada inisial “MDS”). Kata “berdiri rata” atau “berdiri tegak” itu menunjukkan bahwa ketika berdiri itu tidak ada dekap (sedekap).

Dari 7 hadits dan riwayat tersebut yang maknanya kurang lebih sama, saudara-saudara mengambil kesimpulan bahwa dalam berdiri i’tidal tangan harus digantungkan tidak bersedekap.

II. YANG BERHUBUNGAN DENGAN BERTAKBIR DAN MENGANGKAT TANGAN KETIKA HENDAK SUJUD SESUDAH BERDIRI I’TIDAL ITU.

Riwayatnya ialah: (HADITS KE-8)

عَنِ ابنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ التَّكْبِيرِ لِلرُّكُوعِ، وَعِنْدَ التَّكْبِيرِ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا. الطَبراني

Artinya: Dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw biasa mengangkat kedua tangannya di waktu bertakbir untuk ruku’ dan di waktu takbir ketika turun sujud. Riwayat Imam Thabrani

Saudara AT berpendapat bahwa riwayat ini berlawanan dengan riwayat dari Ibnu Umar juga, yaitu ia berkata: (HADITS KE-9)

لاَيَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يَسْجُدُ وَلاَحِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ. البخاري

Artinya: …. Dan Nabi saw tidak berbuat demikian (angkat tangan) waktu Beliau sujud dan tidak (juga) ketika Beliau mengangkat kepalanya dari sujud. Riwayat Imam Bukhari

Riwayat ini dibawa juga oleh saudara P, M, A dan H. Tambahan pula ada riwayat dari Imam Baihaqi, Ibnu Umar berkata: (HADITS KE-10)

فَمَازَالَتْ تِلْكَ صَلاَتَهُ حَتَّى لَقِيَ الله ُ تَعَالى.

Arinya: Maka tetaplah begitu shalat Nabi saw hingga ia bertemu Allah (wafat). Nailul Authar 2:192

Ringkasnya: yang terpakai adalah riwayat Bukhari dari jalan Ibnu Umar, karena riwayat ini lebih kuat dari riwayat Thabrani di atas.
Selain ini ada juga yang meragu-ragukan keshahihan riwayat Thabrani itu. Begitu pendapat saudara-saudara yang berpendirian:
1. Menggantungkan tangan dalam i’tidal.
2. Tidak mengangkat tngan waktu turun sujud dari i’tidal.

[1] Diringkas dari buku “CARA BERDIRI I’TIDAL” oleh Abdul Qadir Hassan, penerbit LP3B cetakan ke IV/1992.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s