RU’YAH vs HILAL pilih mana…?

Oleh : Muhammad Thalib Bonto

Islamabad, 31-Agt-2008

Sebentar lagi ummat islam seluruh dunia akan menyambut bulan penuh berkah, didalamnya penuh dengan amalan yang memiliki nilai sangat berharga, dan dengan amalan inilah akan menjadikan sosok manusia memiliki bernilai sebagai baik secara individu maupun bermasyarakat.

Tapi kedatangan bulan ini tidak luput dari kisruh yang selalu menjadi perdebatan tiada henti setiap tahun, ini dikarenakan penetuan bulan ramadhan sering kali menjadi ajang selisih pendapat dalam menentukan posisi bulan, tidak heran pada tahun 1428 H ummat islam di dunia berhari raya selama empat hari berturut-turut, dua negara di Afrika melaksanakan hari raya pada hari kamis, empat puluh Negara beridul fitri pada hari jumat, tiga puluh delapan pada hari sabtu dan India, Bangladesh juga Pakistan sebagai negara tampat kita berdomisili lebaran pada hari Ahad.

Pertanyaan besar di benak kita, mengapa hal ini bisa terjadi, sementara bumi hanya memiliki waktu sehari semalam 24 jam dan memiliki satu bulan juga matahari…?

Ikhtilaf penentuan ramadhan bukan perkara baru

Perbedaan penentuan awal ramadhan bukan hal baru dalam literatur islam, hal ini telah berlangsung sejak zaman Rasulullah SAW, namun seperti yang sering kita perhatikan bahwa perbedaan ini seakan membenarkan arti bahwa perbedaan adalah sebuat rahmat dalam dinamika hidup manusia. Maka jauh jauh hari Rasulullah pun memberikan tuntunan dalam penentuan awal bulan ramadhan, sabdanya :

لقوله  في حديث أبي هريرة – رضي الله عنه – : “صُوموا لِرُؤْيتهِ وأفطِروا لرُؤيته[1]
Berpuasalah kalian karena melihat (hilal) dan berbukalah kalian karena melihat (hilal).

ولقوله  في حديث ابن عمر – رضي الله عنهما – : “إذا رَأيتُموهُ فصوموا، وإِذا رأَيتُموهُ فأفطِروا. فإن غُمَّ عليكم فاقْدُرُوا له[2]
“Bila kamu melihat hilal, maka berpuasalah, dan bila kamu melihat hilal maka berbukalah. Bila hilal itu tertutup awan maka takdirkanlah ia.”

لقوله  في حذيفة – رضي الله عنه – : “لاَ تُقَدِّمُوا الشَّهْرَ حتى تَرَوْا الهِلاَلَ أوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثُمَّ صُومُوا حتى تَرَوْا الهِلاَلَ أوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ[3]
Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari kecuali seseorang diantara kalian yang biasa berpuasa padanya. Dan berpuasa kalian sampai melihatnya (hilal Syawal), atua menyempurnakan hitunggannya.

Berdasarkan hadits di atas, penetapan awal bulan Qamariah, khususnya dalam memulai dan mengakhiri puasa, haruslah mempersyaratkan terlihatnya hilal. Hadits tekstual-eksplisit lain yang senada semakin menguatkan pendapat tersebut. Menurut mazhab rukyat, makna فاقْدُرُوا له pada hadits di atas tidak boleh ditafsirkan dengan arti “hisablah menurut perhitungan ilmu hisab”, tetapi harus ditafsirkan menurut hadits-hadits lainnya, yaitu “sempurnakanlah bilangan hari pada bulan tersebut 30 hari lamanya.”

Bagi yang berpendapat (Ru’yatul Hilal) terbagi dalam beberapa pendapat :

Metode melihat :
1. bolehnya penggunaan alat atau mesti dengan penglihatan secara langsung.
2. bagi yang memperbolehkan dengan alat ada dua pendapat :
a. ada yang memperbolehkan dengan metode pemantulan kaca atau permukaan air.
b. Sebahagian yang lain memperbolehkan dengan alat pembesar, seperti teleskop.
Persoalan saksi :
1. Beberapa ulama berpendapat asal terpenuhinya syarat bahwa saksi perukyat sudah bersumpah mengaku melihat hilal (apa pun yang terlihat itu) serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sudah dianggap sah.
2. Sementara yang lain berpendapat sumpah saja belum cukup, namun harus dilakukan pengecekan dengan hasil hisab akurat yang ada.

Madzab Ru’yah dalam hal mathla’ (posisi hilal) :
Ru’yah global :
Jika suatu negara melihat hilal, kemudian negara tersebut menetapkan awal ramadhan, maka negara lain di seluruh dunia mesti mengikutinya.
Dalil yang di gunakan oleh pendapat ini adalah :

ذهب الجمهور: إلى أنه لا عبرة باختلاف المطالع. فمتى رأى الهلال أهل بلد، وجب الصوم على جميع البلاد لقول الرسول صلى الله عليه وسلم ” صوموا لرؤيته، وافطروا لرؤيته “. وهو خطاب عام لجميع الامة فمن رآه منهم في أي مكان كان ذلك رؤية لهم جميعا.[5]
Jumhur berpendapat : tidak ada perbedaan mathla, maka kapan saja ada sebuah negara melihat hilal, maka wajib bagi negara lain untuk mengikutinya, ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW : berpuasalah karena melihatnya dan berbuka puasalah karena melihatnya (hilal), dan ini adalah khitab secara umum yang berlaku bagi seluruh ummat, maka barang siapa yang melihat dari tempat mana saja,itu ruyah itu bagi mereka semua.

Ru’yah lokal :
bahwa setiap negara memiliki ru’yah masing masing, sehingga negara lain tidak ada kewajiban untuk mengikuti ru’yah Negara lain.

قَدِمْت إلَى الشَّامِ فَقَضَيْت حَاجَتَهَا وَاسْتَهَلَّ عَلَيَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وأنا بِالشَّامِ فَرَأَيْنَا الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ثُمَّ قَدِمْت الْمَدِينَةَ في آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي ابن عَبَّاسٍ عن أَشْيَاءَ ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ قال مَتَى رَأَيْت الْهِلاَلَ قُلْت رَأَيْتُهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ قال أنت رَأَيْتَهُ قُلْت نعم وَرَآهُ الناس فَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ قال لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حتى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أو نَرَاهُ فَقُلْت أَلاَ تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ قال لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم
Artainya : aku tiba di syam, maka aku menunaikan keperluanku, kemudian di tetapkan awal ramadhan tatkala aku masih di syam, kami melihat hilal pada malam jumat, kemudian aku tiba di madinah pada akhir bulan ramadhan, maka ibnu Abbas bertanya kepadaku banyak hal, sampai persoalan hilal. Ia bertanya : kapan engkau melihat hila, aku menjawab : aku melihatnya malam jumat, ia bertanya lagi : kamu melihat sendiri..? aku menjawab : iya, dan selain aku melihat juga, maka mereka berpuasa dan muawiyah berpuasa. Ibnu abbas berkata : tapi kami melihat malam sabtu, maka kami akan menyempurnakan hingga 30 hari atau sampe kami melihatnya, maka aku berkata : tidakkah cukup dengan ru’yah muawiyah dan puasanya, ibnu abbas menjawab : “tidak, demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kami”.

Ru’yah lokal yang diikuti oleh negara tetangga :
Jika sebuah negara telah mengumumkan bahwa hilal sudah nampak dengan terpercaya dan terbukti, negara yang berdekatan dengan negara tersebut mesti mengikutinya.
Ini pendapat sebahagian syafiiyah
1. Ada yang pendapat bahwa rukyat hanya berlaku sejauh jarak shalat qashar diizinkan.
2. ada yang berpendapat sejauh 8 derajat bujur, kurang lebih seluas Brunei Darussalam.
dan ada yang menggunakan prinsip wilayatul hukmi, seperti yang umumnya berlaku di Indonesia.[6]

Madzah Hisab

Mazhab hisab hampir seluruhnya menggunakan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an sebagai landasan argumentasinya. Memang pada kenyataannya, dan hal ini yang menjadi salah satu sebab perbedaan penetapan awal bulan Qamariah, adalah bahwa secara tekstual, kata ru’yah hanya dijumpai dalam Al-Hadits dan tidak ada di dalam Al-Qur’an. Berbeda dengan itu, kata al-hisab, dalam kaitannya dengan penentuan awal bulan Qamariah, secara tersurat hanya dijumpai dalam Al-Qur’an dan tidak dijumpai di dalam Al-Hadits.Ayat yang seringkali menjadi dasar argumentasi mazhab hisab adalah :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Dia-lah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya, dan ditetapkannya manazila (tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab (perhitungan waktu).” (Yunus ayat 5).

Beberapa ayat lain yang senada dengan ayat di atas dijumpai dalam Q.s. Al Isra’: 12, Q.s. Al An-am: 96, dan Q.s. Ar Rahman: 5.

Ayat-ayat tersebut semestinya menjadi dasar untuk menyuruh umat Islam mengetahui perhitungan waktu dengan hisab. Ayat-ayat itu juga dapat dijadikan dasar bagi penafsiran ayat-ayat lain yang berhubungan dengan kriteria penetapan awal bulan Qamariah.
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
“Dan telah Kami tetapkan bagi Bulan manazila, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah dia seperti (bentuk) ‘urjunil qadim (tandan yang tua).” (Yasin: 39)

Kalau konsisten dengan penafsiran ayat satu ditafsirkan dengan ayat lainnya, maka urjunil qadim akan lebih bermakna jika digunakan untuk menjelaskan ayat-ayat hisab di atas. Sehingga urjunil qadim akan lebih tepat diterjemahkan dalam bentuk hisab atau hitungan-hitungan astronomis tentang kapan terjadinya urjunil qadim tersebut, yaitu pada saat Bulan yang secara hisab mempunyai bentuk paling tipis. Bentuk Bulan yang paling tipis secara hisab dicapai pada saat sekitar ijtima’ (konjungsi). Begitu pula kata al-ahillah (hilal-hilal) yang terdapat dalam Q.s. Al Baqarah ayat 189 dapat dikorelasikan pengertiannya dengan urjunil qadim tersebut. Jadi, dari ayat di atas dapat dijadikan petunjuk tentang dimulainya awal bulan Qamariah, yaitu pada saat sekitar ijtima’. Dengan demikian aliran hisab ijtima’ mempunyai sandarannya di dalam Al-Qur’an.

Meskipun demikian, aliran hisab ijtima’ masih menyisakan persoalan berkaitan dengan kelanjutan dari Q.s. Yasin ayat 39 tersebut, yaitu penggalan pertama Q.s. Yasin: 40
لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
“Tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan…”

Secara astronomis ayat ini menerangkan tentang perjalanan bulanan Bulan dan perjalanan tahunan Matahari yang arahnya sama-sama dari Barat ke Timur. Bulan menempuh perjalanan sekitar 13 derajat dan Matahari sekitar 1 derajat setiap harinya, sehingga Bulan-lah yang lebih cepat, dan tidak ada kemungkinan bagi Matahari mengejar apalagi mendahuluinya.

Semua orang pun mengetahui bahwa malam dan siang selalu silih bergantian dan tidak pernah saling mendahului. Oleh karenanya penafsiran ayat ini menunjukkan situasi bahwa malam “mengambil alih kekuasaan” siang, yaitu pada saat terbenamnya Matahari. Saat terbenamnya Matahari inilah yang pada umumnya dipakai umat Islam untuk menentukan pergantian hari dan tanggal. Dan terbenamnya Matahari adalah kondisi terbenam terhadap “garis ufuk”. Dengan demikian dapat dipahami bahwa garis ufuklah yang dianggap sebagai petunjuk adanya “garis finish” tersebut. Bila kita menghadap ke arah Ufuk Barat, maka ke bawah adalah arah Barat, dan ke atas adalah arah Timur. Menurut pemahaman ini, maka dapat disimpulkan bahwa bulan baru dimulai bila setelah ijtimak, pada saat Matahari terbenam di ufuk barat, Bulan sudah mengejar dan berada di sebelah timur (di atas) Matahari.

Keadaan inilah yang sering disebut dengan situasi di mana hilal sudah wujud. Atau dengan makna lain, hilal dikatakan sudah wujud bila Matahari terbenam lebih dahulu dari pada terbenamnya Bulan, walaupun hanya sejarak 1 menit atau kurang (Muh. Wardan, Hisab Urfi & Hakiki, 1957: 43). Sistem hisab inilah yang kemudian disebut dengan hisab wujudul hilal. Dengan demikian sistem hisab wujudul hilal mendapatkan landasan yang lengkap dari penafsiran ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Jadi pengertian wujudul hilal tidak semata-mata berkaitan dengan wujud serta adanya hilal, terutama hilal dalam pengertian hilal yang dapat dilihat dengan mata sebagaimana yang sering disalahpahami orang, tetapi lebih pada pengertian ilmu hisab. Yaitu situasi pada saat terbenamnya, Matahari sudah terkejar oleh Bulan setelah berlangsungnya ijtimak.[7]

Selain ayat di atas madzab hisab juga menggunakan hadits sebagai dasar dalam berhujjah, tiga hadits yang menjadi landasan ahli ru’yah tidak harus di lihat sebagai hadits yang bersifat muthlaq, karena masih ada hadits lain yang perlu di kaji dan di lihat maknanya agar dapat di sinkronisasikan dengan hadits di atas.
Sebuat hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya :
عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، أَنَّهُ قَالَ: إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هكَذَا وَهكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّة ثَلاَثِينَ[8]
“Sesungguhnya kita ummat yang ummi (buta aksara) tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung (hisab), bulan itu begini dan begini”

Hadits diatas sangat pokok dalam masalah hisab, karena seakan-akan Rasulullah mengatakan bahwa berpegang kepada rukyat mata telanjang itu lantaran kebanyakan umat Islam di masa beliau buta aksara, belum mengenal ilmu hisab. Begitu dipahami oleh para pensyarah Hadits tersebut.

Ibnu Hajar, Al Aini dan AlQastallany menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perkataan “لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ” mengaitkan penentuan awal ramadhan dengan perhitungan bintang untuk memudahkan (رفع الحرج عنهم في معاناة حساب التسيير).[9]

Ada juga dikalangan ulama salaf angkatan tabi’in seperti Mutharrif bin Abdillah yang mempergunakan hisab falakiyah untuk menetapkan awal bulan puasa.
Al-Hithabi dari kalangan ulama Malikiah di dalam kitab Mawahibul Jalil

ولا يحرم الاشتغال به لأنه ليس من علم الغيب وإنما هو من طريق الحساب والله أعلم[10]
Jelas pula bagi orang yang berpengetahuan dan punya pemahaman yang mendalam bahwa perintah Nabi saw untuk menyempurnakan bulan tiga puluh hari, ketika keadaan mendung atau berkabut yang karenanya tidak bisa melihat bulan dengan mata telanjang. Hal itu, bukan berarti bulan yang berjalan itu dalam kenyataannya tiga puluh hari, bahkan kadangkala hilal baru sudah terbit dan bisa dilihat sekiranya cuaca terang, tidak berkabut, dan ketika itu, berarti tanggal tiga puluh itu pada hakekatnya awal bulan baru, baik ketika kita berpuasa atau berhari raya. Karena, kita tidak mampu mengetahui hal itu dengan jalan rukyah dan kita tidak mempunyai sarana lainnya. Syara’ mentolerir kita berpuasa atau berbuka (berhari raya) tidak tepat/persis pada waktu yang sebenarnya. “Allah tidak membebani hamba-Nya kecuali menurut kemampuannya”, begitu penegasan al-Qur’an.[11]

Dalam sebuat tulisan yang dimuat Suara Muhammadiyah di tulis oleh Drs. H Ismail Thaib berjudul “mengapa muhammadiyah memakai hisab astronomi?” memberikan masukan yang cukup bagi pembaca untuk memahami persoalan hisab yang selama ini selalu menjadi “idola” Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan awal syawal.

Ru’yatul Hilal dan Hisab ta’abbudy atau wasilah
Bagi mereka yang berpendapat bahwa menggunakan ilmu hisab berarti mereka berhubungan dengan dukun dimana para Munjamun memiliki hitungan-hitungan perbintangan dan tidak dapat di jelaskan secara akurat keilmiyahan, ini sangat jelas di larang dalam agama kita. Namun berbeda halnya saat keakuratan menggunakan alat untuk menghitung dan dapat di buktikan secara ilmiyah, maka pada ruang ini akan kita dapatkan beragam pendapat yang bisa menguatkan bahwa hisab tetap dapat di pertanggung jawabkan dalam menetapkan awal bulan ramadhan dan bukan hal yang di larang dalam agama kita.[12]
رؤية الهلال لإثبات الشهر وسيلة متغيرة لهدف ثابت
Memperhatikan keterangna di atas dapat diambil kesimpulan bahwa melihat hilal itu bukan suatu ibadah ta’abbudi, tetapi semata-mata berupa sarana (wasilah) yang dapat dengan mudah untuk mengetahui awal bulan qamariah.

Maka sangat jelas dan gamblang bahwa melihat hilal baru pada zatnya bukanlah ibadah dalam Islam, tetapi semata-mata sarana untuk mengetahui waktu. Dan memang pada waktu itu bagi mereka satu-satunya sarana yang mungkin bagi umat yang buta aksara adalah melihat awal bulan dengan mata telanjang. Lalu kita bertanya, apa yang melarang kita sekarang berpegang kepada hisab astronomi yang begitu meyakinkan ketepatan dan keakuratannya adanya bulan baru?
Wallahu’alam

[1] أخرجه البخاري في صحيحه كتاب الصوم / باب قولِ النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – : “إذا رأيتمُ الهلالَ فصوموا، وإذا رأيتُموهُ فأفطِروا” (1888) ، ومسلم في صحيحه في كتاب الصيام / باب وجوب صوم رمضان لرؤية الهلال، والفطر لرؤية الهلال ، وأنه إذا غم في أوله أو آخره أكملت عدة الشهر ثلاثين يوما (2468) ، والترمذي في سننه في كتاب الصوم / باب ما جاء لا تقدموا الشهر (678) ، والنسائي في سننه في كتاب الصيام / باب إكمال شعبان ثلاثين إذا كان غيم (2118) ، وأحمد في مسنده (9696).

[2] أخرجه البخاري في صحيحه في كتاب الصوم / باب هل يُقالُ رَمضانُ أو شهرُ رمضانَ، ومَن رأَى كلَّهُ وَاسِعاً (1879) ، ومسلم في صحيحه في كتاب الصيام / باب وجوب صوم رمضان لرؤية الهلال، والفطر لرؤية الهلال ، وأنه إذا غم في أوله أو آخره أكملت عدة الشهر ثلاثين يوما (2457) ، والنسائي في سننه في كتاب الصيام / باب ذكر الاختلاف على الزهري في هذا الحديث (2121) ، وابن ماجه في سننه في كتاب الصيام / باب ما جاء في “صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته”/ (1704) ، وأحمد في مسنده (6307

[3] أخرجه أبو داود في سننه في كتاب الصيام / باب إذا أغمي الشهر (2327) ، والنسائي في سننه في كتاب الصيام / باب ذكر الاختلاف على منصور في حديث ربعي فيه (2127) ، قال الألباني : صحيح [صحيح سنن أبي داود للإمام الألباني (2\50) رقم الحديث (2326)].

[4]Abd. Karim Kasim, Menentukan Awwal/Akhir Puasa Ramadlan dengan Ru’yah dan Hisab

[5] فقه السنة، سيد سابق 1/437

[6] الموسوعة الفقهية الكويتية، وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية – الكويت 22/35

[7]Tinjauan masalah hisab dan ru’yah, Suara Muhammadiyah 19 oktober 2007

[8] (البخارى ، ومسلم ، وأبو داود ، والنسائى عن ابن عمر)

[9] فتح البارى 4/127. عمدة القارئ 16/307.

[10] مواهب الجليل لشرح مختصر الخليل، الرُّعيني 3/290.

[11] mengapa muhammadiyah memakai hisab astronomi, Drs. H Ismail Thaib, Suara Muhammadiyah, 16 april 2008

[12] يوسف القرضاوى ، الحساب الفلكي وإثبات أوائل الشهور الأحد 18 سبتمبر 2005


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s