KONTRIBUSI A. HASSAN TERHADAP KAJIAN HADIS DI INDONESIA

STUDI ATAS CARA MEMERIKSA DAN MEMAHAMI HADIS

(Bagian Ketiga)

Oleh: Al-Hāfizh Ibnul Qayyim[1]

A. Pengertian Hadis, Sunnah, dan Atsar

Hadis secara bahasa berarti perkataan, pembicaraan, percakapan, sesuatu yang baru, dan khabaran. Menurut istilah, maksudnya ialah perkataan, perbuatan, dan hal-hal rasul, juga taqrīr-nya yaitu perbuatan atau percakapan sahabat yang diketahui oleh Rasulullah Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam, tetapi dibiarkannya.[2]

Sunnah menurut bahasa berarti perjalanan, peraturan, tabi‘at, dan syari‘at. Menurut istilah, Sunnah sama dengan Hadis.[3] Sedang atsar itu, adalah perkataan sahabat.[4] Demikian A. Hassan mengemukakan penjelasan mengenai tiga term (istilah) tersebut.

B. Pembagian Hadis

Hadis atau sunnah yang terdapat dalam kitab-kitab Hadis yang terkenal, ditinjau dari sisi jumlah periwayatnya terbagi kepada dua macam; (1) mutawātir, (2) āhād.

Hadis mutawātir adalah Hadis-Hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam oleh beberapa banyak manusia kepada beberapa banyak manusia dan seterusnya demikian hingga tercatat, dengan beberapa sanad pula.[5]

Hadis āhād terbagi kepada tiga macam lagi; (1) Hadis masyhūr atau mustafidh yaitu Hadis-Hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam oleh tiga orang atau lebih kepada tiga orang atau lebih, dan seterusnya begitu hingga tercatat dengan sanad yang sekurang-kurangnya tiga. (2) Hadis ‘azīz yakni Hadis-Hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam oleh dua orang kepada dua orang, dan seterusnya demikian hingga tercatat dengan dua sanad. (3) Hadis garīb yakni Hadis-Hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam oleh seorang kepada seorang, dan seterusnya demikian hingga tercatat dengan satu sanad.[6]

Hadis mutawātir sudah pasti maqbul yang termasuk Hadis ashah yakni yang terlebih sah, kecuali bila kandungan matan-nya bertentangan dengan al-Qur’an.[7] Hadis āhād ada yang maqbul (diterima) dan ada pula yang mardūd (ditolak).

Hadis āhād yang maqbul terbagi dua; (1) Hadis shahīh, yakni Hadis yang sanad-nya bersambung dari awal sampai akhir serta diriwayatkan oleh orang-orang yang kepercayaan (tsiqah) (2) Hadis hasan, yakni Hadis yang di antara rawi-rawinya ada yang kurang ke-dhābith-annya, tidak banyak, hanya sedikit-sedikit saja.[8]

Hadis āhād yang mardūd memiliki banyak jenis, masing-masing jenis memiliki nama-nama tersendiri, namun secara keseluruhan disebut dengan istilah Hadis dha‘īf yakni Hadis yang tidak memenuhi sifat-sifat dan syarat-syarat Hadis shahīh atau tidak pula Hadis hasan.[9]

Hadis dha‘īf ada yang lemah saja (maksudnya, ringan), dan terkadang ada juga yang sangat lemah. Adapun Hadis yang lemahnya ringan kalau memiliki banyak jalan dan masing-masing kelemahannya tidak berat, selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadis yang maqbūl, maka dapat dianggap sebagai Hadis hasan.[10]

C. Cara Memeriksa Sanad Hadis

1. Mengumpulkan Sanad dan Matan

a. Cara Mencari Hadis

Dalam kitab-kitab ilmu-ilmu Hadis, untuk menelusuri suatu Hadis kepada sumber kitab asalnya disebut dengan istilah takhrīj. Kata takhrīj merupakan ism al-mashdar, dari kata kharraja yukharriju takhrījan, bila ditelusuri ke akarnya, kata ini terdiri dari huruf khā’, rā’ dan jīm yang asal artinya menembus sesuatu (النَّفَذُ عَنِ الشَّيْءِ) dan perbedaan antara dua warna (إِخْتِلاَفُ اللَّوْنَيْنِ).[11] Selain itu, arti yang populer adalah mengeluarkan (الإِسْتِنْبَاطُ), meneliti atau melatih (التَّدْرِيْبُ), dan menerangkan (التَّوْجِيْهُ).[12]

Para muhadditsīn (‘Ulama Hadis) dahulu mengenal kegiatan takhrīj untuk hal-hal sebagai berikut; (1) menjelaskan Hadis kepada orang lain dengan menyebutkan nama para perawi dan lambang-lambang periwayatan[13] yang mereka gunakan dalam sanad Hadis itu. Takhrīj seperti ini telah dilakukan oleh para Pendaftar Hadis (mukharrij), seperti al-Bukhāriy dan Muslim dalam kitab Shahīh-nya masing-masing, demikian pula para Pendaftar Hadis lainnya. (2) mengeluarkan dan meriwayatkan Hadis dari beberapa kitab, seperti al-Bayhaqiy yang banyak mengutip Hadis dari kitab al-Sunan karya Ahmad ibn ‘Ubayd al-Bashriy al-Saffar, lalu mengemukan sanad-nya sendiri. (3) menunjukkan kitab-kitab sumber Hadis, dan menisbatkannya dengan cara menyebutkan para perawinya, yaitu para pengarang sumber Hadis tersebut, seperti apa yang dilakukan oleh ‘Abd al-Ra’ūf al-Munāwiy dalam kitabnya, Faydh al-Qadīr Syarh Al-Jāmi‘ al-Shagīr fī Ahādīts al-Basyīr al-Nadzīr.[14]

Kegiatan takhrīj yang ketiga inilah yang cukup populer dan kemudian dikembangkan oleh para muhadditsīn akhir-akhir ini, sehingga al-Thahhān merumuskan bahwa kegiatan takhrīj al-hadīts adalah menunjukkan tempat Hadis pada sumber-sumber aslinya, dimana Hadis tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanad-nya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan.[15]

Dalam mencari Hadis kepada sumber aslinya, ada beberapa metode yang dapat digunakan,[16] sebagai berikut:

1. Mengetahui sahabat yang meriwayatkan Hadis; cara ini termasuk cara yang mudah karena cukup mengetahui siapa nama sahabat yang meriwayatkan Hadits yang sedang dicari sumbernya. Kitab yang biasa digunakan adalah Tuhfat al-Asyrāf bi Ma‘rifat al-Athrāf, karya Al-Hāfizh Jamal al-Dīn Abi al-Hajjāj Al-Mizziy.[17]

2. Mengetahui awal kalimat matan Hadis; cara ini termasuk cara yang paling mudah dilakukan, namun dengan catatan, seorang pencari Hadis harus mengetahui secara jelas lafazh matan Hadis yang ingin di-takhrīj. Adapun kitab yang biasa digunakan melalui metode ini adalah Mawsū‘at al-Athrāf al-Hadīts al-Nabawiy al-Syarīf, karya Abū Hajar Muhammad al-Sa‘īd ibn Basyūniy Zaglūl[18] dan kitab Al-Jāmi‘ al-Shagīr fī Ahādīts al-Basyīr al-Nadzīr, karya Al-Suyūthiy.[19]

3. Mengetahui kata-kata dalam matan Hadis; cara ini dengan melihat kata-kata yang ada dalam matan Hadis tersebut, baik ism yang ada dalam matan Hadis tersebut ataupun fi’il-nya. Kitab yang biasa digunakan adalah Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāzh al-Hadīts al-Nabawiy, karya A.J. Wensink.[20]

4. Mengetahui tema-tema kandungan Hadis; yakni dengan cara memahami tema materi yang terkandung dalam suatu Hadis yang hendak di-takhrīj. Adapun kitab yang biasa digunakan untuk metode ini adalah Miftāh Kunūz al-Sunnah, karya A.J. Wensink juga.[21]

5. Melihat klasifikasi Hadis; cara ini tergantung kedudukan Hadis yang akan di-takhrīj, umpamanya, mencari Hadis dha‘īf atau mawdhū‘, maka dicari di kitab-kitab yang menghimpun Hadis-Hadis dha‘īf atau mawdhū‘, demikian seterusnya.

Dalam hal metode takhrīj al-hadīts ini, selama berbulan-bulan penulis mengkaji dan meneliti kitab-kitab karya A. Hassan, namun penulis tidak menemukan penjelasan tentang metode takhrīj yang digunakannya. Setelah salah seorang guru penulis, Salam Russyad, berkunjung ke rumah di Gowa pada Januari lalu,[22] penulis mengambil kesempatan untuk bertanya tentang masalah ini, dan menurutnya, “A. Hassan nampaknya memang belum menggunakan metode takhrīj al-hadīts sebagaimana lima metode tersebut. Persoalannya, buku-buku semacam itu sangat langka pada masanya. Namun, lanjutnya, kitab Nayl al-Awthār karya al-Syawkāniy dan Subul al-Salām karya al-Shan‘āniy, serta kitab-kitab lainnya, seperti syuruh al-hadīts yang dimiliki A. Hassan sudah cukup membantunya menelusuri sanad dan matan Hadis kepada kitab aslinya, dan ini termasuk salah satu cara takhrīj pada masa itu”.

Ketika penulis mengkaji buku Mengenal Muhammad (Al-Nubuwwah) karya A. Hassan, pada kata pengantarnya ia mengemukakan:

“Isi kitab ini saya ambil dari: … … Al-Jāmi‘ al-Shagīr”.[23]

Pernyataan ini menunjukkan bahwa A. Hassan telah memiliki salah satu kitab yang biasa dipakai dalam kegiatan takhrīj al-hadīts metode ke-2 sebagaimana penjelasan di atas.

Dari kegiatan takhrīj al-hadīts maka hal yang sangat bermanfaat antara lain; (1) terkumpulnya berbagai sanad dengan berbagai lambang periwayatan dari suatu Hadis, dan (2) terkumpulnya berbagai redaksi dari sebuah matan Hadis yang sedang diperiksa.[24] Dapat penulis simpulkan bahwa dengan menggunakan metode takhrīj al-hadīts maka seorang pemeriksa Hadis dapat mengetahui asal-usul dan seluruh sanad dan matan Hadis yang diperiksa, serta ada atau tidaknya syāhid atau mutābi‘.

A. Hassan mengemukakan contoh di bawah ini, yaitu Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan kepada Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam di hadapan para sahabat yang diriwayatkan oleh Al-Bukhāriy melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu. Al-Bukhāriy berkata:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْل بْنُ إِبْرَاهِيْمَ أَخْبَرَنَا أَبُوْ حَيَّانَ التَّيْمِي عَنْ أَبِيْ زُرْعَةَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَقَالَ مَا الإِيْمَانُ؟ قَالَ: ((الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ ……))

Terjemahnya:

Musaddad ceritakan kepada kami, ia berkata: Isma‘īl ibn Ibrāhīm ceritakan kepada kami, ia berkata: Abū Hayyān al-Taymiy khabarkan kepada kami, dari Abū Zur‘ah, dari Abū Hurayrah, ia berkata: Nabi shalla Allāh ‘alayhi wa sallam pada suatu hari pernah keluar menemui para sahabat, lalu datanglah Jibrīl bertanya, apa iman itu? Nabi shalla Allāh ‘alayhi wa sallam menjawab: “Iman itu ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan bahwa engkau percaya kepada pembangkitan (sesudah mati) … …”.[25]

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad,[26] al-Bukhāriy,[27] Muslim,[28] dan Ibnu Mājah.[29] Untuk menelusurinya lebih lanjut, seseorang yang sedang melakukan kegiatan takhrīj, dapat menggunakan kitab Al-Jāmi‘ al-Shagīr fī Ahādīts al-Basyīr al-Nadzīr karya al-Suyūthiy, sebagaimana kitab yang ada pada A. Hassan. Hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Hadis no. 3092:

الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. (م 3) عن عمر (صحـ)

Hadis no. 3093:

الإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْمِيْزَانِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. (هب) عن عمر (صحـ)

Pada akhir matan Hadis no. 3092 terdapat symbol 3) عن عمر (صحـ) maksudnya, Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim,[30] Abū Dāwud,[31] al-Nasā’iy,[32] dan al-Turmudziy,[33] dari ‘Umar ibn al-Khaththāb, dengan kualitas shahīh. Demikian pula pada akhir matan Hadis no. 3093 terdapat symbol (هب) عن عمر (صحـ) maksudnya, Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqiy dalam kitabnya, Syu‘ab al-Īmān,[34] dari ‘Umar ibn al-Khaththāb, dengan kualitas shahīh pula. Demikian menurut al-Suyūthiy.[35]

Setelah Hadis-Hadis tersebut diketahui sumber kitabnya, maka seseorang yang sedang memeriksa Hadis ini harus terus menelusuri dan mengumpulkan seluruh sanad dan matan-nya masing-masing dari kitab-kitab para Pendaftar Hadis tersebut untuk kemudian dibuatkan gambaran sanad-nya.

b. Gambaran Sanad

Setelah mengadakan kegiatan takhrīj al-hadīts maka langkah selanjutnya adalah pemeriksaan terhadap sanad yaitu dengan melakukan kegiatan al-i‘tibār[36] terlebih dahulu atau dalam istilah A. Hassan dinamai “gambaran sanad”.[37] Hal ini dilakukan agar supaya orang yang memeriksa Hadis dapat mengetahui ada atau tidak adanya pendukung berupa periwayat yang berstatus syāhid atau mutābi‘.

Contoh gambaran sanad Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan tersebut di atas, melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu

Gambaran sanad Hadis riwayat Ahmad, sebagai berikut:

1. Ahmad (haddatsanā)

2. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (haddatsanā)

3. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an)

4. Abū Zur‘ah, (‘an)

5. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

6. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat al-Bukhāriy, sebagai berikut:

1. Al-Bukhāriy (haddatsanā)

2. Musaddad (haddatsanā)

3. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (akhbaranā)

4. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an)

5. Abū Zur‘ah, (‘an)

6. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat Muslim, sebagai berikut:

1. Muslim (haddatsanā)

2. Abū Bakr ibn Abī Syaybah dan Zuhayr ibn Harb (haddatsanā)

3. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (‘an)

4. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an)

5. Abū Zur‘ah, (‘an)

6. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat al-Nasā’iy, sebagai berikut:

1. Al-Nasā’iy (akhbaranā)

2. Muhammad ibn Qudāmah ibn A‘yun al-Qurasyiy (‘an)

3. Jarīr ibn Abd al-Hamīd al-Tsaqafiy (‘an)

4. Abū Farwah ‘Urwah ibn al-Hārits al-Hamdāniy (‘an)

5. Abū Zur‘ah ibn ‘Amr, (‘an)

6. Abū Hurayrah dan Abū Dzarr al-Gifāriy radhiya Allāh ‘anhuma, (qālā)

7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat Ibnu Mājah, sebagai berikut:

1. Ibnu Mājah (haddatsanā)

2. Abū Bakr ibn Abī Syaybah (haddatsanā)

3. Isma‘īl ibn Ibrāhīm (‘an)

4. Abū Hayyān al-Taymiy (‘an)

5. Abū Zur‘ah, (‘an)

6. Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

7. Al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Contoh gambaran sanad Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan kepada Nabi saw. di hadapan para sahabat tersebut di atas, melalui jalan sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab radhiya Allāh ‘anhu.

Gambaran sanad Hadis riwayat Muslim, sebagai berikut:

1. Muslim (haddatsanā)

2. Zuhayr ibn Harb (haddatsanā)

3. Wakī‘ ibn al-Jarrāh (‘an)

4. Kahmas ibn al-Hasan (‘an)

5. ‘Abd Allāh ibn Buraydah (‘an)

6. Yahya ibn Ya‘mar (simā‘)

7. ‘Abd Allāh ibn ‘Umar ra. (haddatsanīy)

8. ‘Umar ibn al-Khaththāb radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

9. al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat Abū Dāwud, sebagai berikut:

1. Abū Dāwud (haddatsanā)

2. ‘Ubayd Allāh ibn Mu‘ādz (haddatsanā)

3. Mu‘ādz ibn Mu‘ādz ibn Nashr al-‘Anbariy (haddatsanā)

4. Kahmas ibn al-Hasan (‘an)

5. ‘Abd Allāh ibn Buraydah (‘an)

6. Yahya ibn Ya‘mar (simā‘)

7. ‘Abd Allāh ibn ‘Umar ra. (haddatsanīy)

8. ‘Umar ibn al-Khaththāb radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

9. al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat al-Nasā’iy, sebagai berikut:

1. Al-Nasā’iy (akhbaranā)

2. Ishāq ibn Ibrāhīm al-Hanzhaliy al-Marūziy (haddatsanā)

3. Al-Nadhr ibn Syumayl al-Nahwiy (anba’anā)

4. Kahmas ibn al-Hasan (haddatsanā)

5. ‘Abd Allāh ibn Buraydah (‘an)

6. Yahya ibn Ya‘mar (simā‘)

7. ‘Abd Allāh ibn ‘Umar radhiya Allāh ‘anhu, (haddatsanīy)

8. ‘Umar ibn al-Khaththāb radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

9. al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Gambaran sanad Hadis riwayat al-Turmudziy, sebagai berikut:

1. Al-Turmudziy (haddatsanā)

2. Abū ‘Ammār al-Husayn ibn Hurayts al-Khuzā’iy (akhbaranā)

3. Wakī‘ ibn al-Jarrah (‘an)

4. Kahmas ibn al-Hasan (‘an)

5. ‘Abd Allāh ibn Buraydah (‘an)

6. Yahya ibn Ya‘mar (simā‘)

7. ‘Abd Allāh ibn ‘Umar radhiya Allāh ‘anhu, (haddatsanīy)

8. ‘Umar ibn al-Khaththāb radhiya Allāh ‘anhu, (qāla)

9. al-Nabiy shalla Allāh ‘alayhi wa sallam

Para ulama Hadis membagi sanad kepada tiga bagian, yaitu (1) awal sanad, (2) akhir sanad, dan (3) wasath sanad, yakni pertengahan sanad. Umpamanya, al-Bukhāriy dan atau orang yang sampaikan Hadis kepadanya, seperti Musaddad, disebut awal sanad. Sedangkan Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu dan atau orang yang menerima Hadis darinya, seperti Abū Zur‘ah ibn ‘Amr, disebut akhir sanad. Adapun selain mereka, seperti Isma‘īl ibn Ibrāhīm dan Abū Hayyān al-Taymiy, disebut pertengahan sanad. Perhatikan gambaran sanad Hadis riwayat al-Bukhāriy di atas, demikian pula seterusnya dengan sanad-sanad Muslim, Abū Dāwud, dan lainnya.[38]

Adapun kata “haddatsanā” dan lain-lainnya itu merupakan lambang-lambang periwayatan. Dari lambang-lambang periwayatan inilah seseorang yang sedang memeriksa persambungan sanad Hadis dapat mengetahui cara para perawi menerima dan meriwayatkan Hadis. Umpamanya, kata haddatsanā yang artinya “ia telah menceritakan kepada kami”, menunjukkan bahwa perawi yang menggunakan lambang ini, “mendengar langsung” Hadis tersebut dari gurunya. Insya Allah, pada pembahasan thuruq al-tahammul wa al-adā’ mendatang, penulis akan menguraikannya lebih lanjut.

c. Syāhid dan Mutābi‘

A. Hassan menjelaskan pengertian syāhid yang artinya penyaksi, umpamanya, jika ada satu Hadis Nabi Muhammad shalla Allāh ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh al-Bukhāriy, dari jalan Ibnu ‘Abbās radhiya Allāh ‘anhu, kemudian Hadis yang sama maknanya itu diriwayatkan pula melalui jalan sahabat lain, maka jalan sahabat lain inilah dinamakan syāhid. Adapun Mutābi‘ artinya yang mengikuti atau yang mengiringi, umpamanya, bila Hadis tadi, diriwayatkan dari Ibn Abbās juga, maka yang ini dinamakan mutābi‘.[39]

Jadi, syāhid itu adalah satu Hadis yang matan-nya mencocoki matan Hadis lain, dan biasanya sahabat yang meriwayatkannya pun berlainan.[40]

Contoh matan Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan tersebut di atas, melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu. Setelah diperiksa melalui gambaran sanad, ternyata terdapat sahabat Abū Dzarr al-Gifāriy dan ‘Umar ibn al-Khaththāb radhiya Allāh ‘anhuma yang menjadi syāhid-nya, demikian seterusnya, walaupun lafazh matan-nya ada perbedaan, namun maknanya mencocoki, inilah yang disebut syāhid ma‘nan. Bila lafazhnya sama disebut syāhid lafzhan.

Adapun mutābi‘ itu adalah satu Hadis yang sanad-nya menguatkan sanad lain dari Hadis itu juga.[41]

Contoh sanad Hadis kedatangan Jibrīl bertanya tentang iman, islam, dan ihsan tersebut di atas, melalui jalan sahabat Abū Hurayrah radhiya Allāh ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Bukhāriy, ia berkata: (haddatsanā) Musaddad (haddatsanā) Isma‘īl ibn Ibrāhīm, dst. dan pada sanad Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, ia berkata: (haddatsanā) Abū Bakr ibn Abī Syaybah dan Zuhayr ibn Harb (haddatsanā) Isma‘īl ibn Ibrāhīm, dst. ternyata antara guru al-Bukhāriy, yakni Musaddad dan dua guru Muslim, yakni Abū Bakr ibn Abī Syaybah dan Zuhayr ibn Harb sama-sama menerima Hadis di atas dari Isma‘īl ibn Ibrāhīm. Guru-guru Muslim itulah yang disebut mutābi‘. (BERSAMBUNG)

Endnote

[1] Alamat e-mail: kayyink_uinmakassar@yahoo.com

[2] A. Hassan, Ringkasan Islam, (Bangil: Al-Muslimun, 1972 M.), h. 11

[3] Ibid.; lihat pula, A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis dan Ushūl Fiqh”, dalam Tarjamah Bulūg al-Marām, (Cet. XXV; Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2001 M.), h. 15, selanjutnya disebut “Muqaddimah Ilmu Hadis” saja.

[4] Ibid., h. 2

[5] Ibid., h. 10; lihat pula, A. Hassan, Ringkasan Islam, loc. cit.

[6] A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis”, loc. cit.

[7] Ibid.; A. Hassan, Ringkasan Islam, op. cit., h. 12

[8] A. Hassan, et. al., Soal Jawab, Jilid II, (Cet. XII; Bandung: Penerbit CV Diponegoro, 2000 M.), h. 696; lihat pula, A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis”, op. cit., h. 10, 12

[9] Ibid., h. 11

[10] A. Hassan, Ringkasan Islam, loc. cit.

[11] Ahmad ibn Fāris, Mu‘jam al-Maqāyis fī al‑Lugah, (Cet. I; Beirūt: Dār al‑Fikr, 1415 H.-1994 M.), h. 313

[12] Majd al-Dīn Muhammad ibn Ya‘qūb al-Fayruzzabādiy, Al-Qāmūs al-Muhīth, (Cet. I; Beirūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1425 H.-2004 M.), h. 211

[13] Lambang-lambang periwayatan yang dimaksud adalah siyag al-isnād, yakni lafazh-lafazh yang ada dalam sanad yang digunakan oleh rawi-rawi ketika menyampaikan Hadis atau riwayat, umpamanya haddatsanā, haddatsaniy, akhbaranā, akhbaraniy, ‘an, dan sebagainya.

[14] Mahmūd al-Thahhān, Ushūl al-Takhrīj wa Dirāsat al-Asānīd, (t.d.), h. 10-11

[15] Ibid., h. 12

[16] Lebih lanjut lihat, ‘Abd al-Mahdi ibn ‘Abd al-Qadir, Thuruq Takhrīj Hadīts Rasūlillah Shalla Allāh ‘Alayh wa Sallam, diterjemahkan oleh Sayyid Agil Husin Munawwar dan Ahmad Rifqi Muchtar dengan judul Metode Takhrīj Hadis, (Cet. I; Semarang: Dina Utama, 1994 M.), h. 15; Mahmūd al-Thahhān, Ushūl al-Takhrīj wa Dirāsat al-Asānīd, op. cit., h. 37-38; Tasmin Tangngareng, “Metode Takhrīj Dalam Penelitian Sanad Hadis”, Diktat Perkuliahan, (Makassar: UIN Alauddin, t.th.), h. 6-20; Baso Midong, Kualitas Hadis Dalam Kitab Tafsir An-Nur Karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, (Cet. I; Makassar: YAPMA, 2007 M.), h. 11-12

[17] Cet. I; Bombay: Dār al-Qayyimah, 1982 M.

[18] Cet. I; Beirūt: Dār al-Fikr, 1989 M.

[19] Cet. II; Beirūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1425 H.-2004 M.

[20] A.J. Wensink memberi judul Concordance et Indices la Tradition Musulmane, diterjemahkan oleh Muhammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqiy dengan judul Al-Mu‘jam al-Mufahras li Alfāzh al-Hadīts al-Nabawiy, Cet. Leiden: E.J. Brill, 1965 M.

[21] A.J. Wensink memberi judul A Handbook of Early Muhammadan Tradition, diterjemahkan oleh Muhammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqiy dengan judul Miftāh Kunūz al-Sunnah, Cet. Lahore: Sohail Academy, 1391 H.-1974 M.

[22] Salam Russyad, adalah Dosen Hadis dan Ilmu-ilmu Hadis pada Ma‘had ‘Āliy (Pesantren Tinggi) Persis Bangil, Jawa Timur. Saat ini, ia diamanahi sebagai Ketua Persis (Persatuan Islam) Wilayah Indonesia Timur. Berkunjung ke rumah penulis di Jln. Syeikh Yusuf III No. 54 Ko’bang, Gowa, Sulawesi Selatan, pada 30-31 Januari 2008 M.

[23] A. Hassan, Mengenal Muhammad, (Cet. VI; Surabaya: PT Bina Ilmu, 1987 M.), h. 10

[24] ‘Abd al-Mahdi ibn ‘Abd al-Qadir menyebutkan hingga 20 manfaat dari kegiatan takhrīj al-hadīts. Lihat, ‘Abd al-Mahdi ibn ‘Abd al-Qadir, op. cit., h. 4-6

[25] A. Hassan, Ringkasan Islam, op. cit., h. 15

[26] Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Imām Ahmad ibn Hanbal, Jilid II, (t.t.: Dār al-Fikr, t.th.), h. 426

[27] Muhammad ibn Ismā‘īl al-Bukhāriy, Shahīh al-Bukhāriy, Juz I, (Cet. I; Beirūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1412 H.-1992 M.), h. 22, Kitāb al-Īmān, Bāb Su’āl Jibrīl al-Nabiy Shalla Allāh ‘Alayhi wa Sallam ‘An al-Īmān wa al-Islām wa al-Ihsān wa ‘Ilm al-Sā‘ah, Hadis No. 50; Juz V, h. 318, Kitāb Tafsīr al-Qur’ān, Bāb Qawluhu Inna Allāh ‘Indahu ‘Ilm al-Sā‘ah, Hadis No. 4777

[28] Muslim ibn Hajjāj al-Qusyayriy al-Naysābūriy, Shahīh Muslim, Juz I, (Cet. I; Beirūt: Dār al-Fikr, 1412 H.-1992 M.), h. 28, Kitāb al-Īmān, Bāb Bayān al-Īmān wa al-Islām wa al-Ihsān wa Wujūb al-Īmān bi Itsbāt Qadar Allāh Subhānahu wa Ta‘ālā, Hadis No. 5

[29] Muhammad ibn Yazīd al-Qazwīniy, Sunan ibn Mājah, Juz I, (Beirūt: Dār al-Fikr, 1415 H.-1995 M.), h. 37, Kitāb al-Muqaddimah, Bāb fī al-Īmān, Hadis No. 64

[30] Muslim ibn al-Hajjāj al-Qusyayriy al-Naysābūriy, op. cit., h. 27, Kitāb al-Īmān, Bāb Bayān al-Īmān wa al-Islām wa al-Ihsān wa Wujūb al-Īmān bi Itsbāt Qadar Allāh Subhānahu wa Ta‘ālā, Hadis No. 1

[31] Sulaymān ibn al-Asy‘ats al-Sijistāniy, Sunan Abī Dāwud, (Cet. I; Beirūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1422 H.-2001 M.), h. 739, Kitāb al-Sunnah, Bāb fī al-Qadar, Hadis No. 4695

[32] Ahmad ibn Syu‘ayb ibn ‘Aliy ibn Bahr al-Nasā’iy, Sunan al-Nasā’iy bi Syarh al-Hāfizh Jalāl al-Dīn al-Suyūthiy wa Hāsyiyah al-Sindiy, Juz VIII, (Al-Qāhirah: Dār al-Hadīts, 1407 H.-1987 M.), h. 97-98, Kitāb al-Īmān wa Syarā’i‘hi, Bāb Na‘t al-Islām.

[33] Muhammad ibn Īsā ibn Sawrah al-Turmudziy, Sunan al-Turmudziy, Juz IV, (Beirūt: Dār al-Fikr, 1414 H.-1994 M.), h. 275-276, Kitāb al-Īmān, Bāb Mā Jā’a fī Washfi Jibrā’īl li al-Nabiy Shala Allāh ‘Alayh wa Sallam al-Īmān wa al-Islām.

[34] Abū Bakr Ahmad ibn Husayn ibn ‘Aliy al-Bayhaqiy, Syu‘ab al-Īmān, (t.d.)

[35] Jalāl al-Dīn ibn Abī Bakr al-Suyūthiy, Al-Jāmi‘ al-Shagīr fī Ahādīts al-Basyīr al-Nadzīr, (Cet. II; Beirūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1425 H.-2004 M.), h. 185; lihat pula, Muhammad ‘Abd al-Ra’ūf al-Munāwiy, Faydh al-Qadīr Syarh Al-Jāmi‘ al-Shagīr fī Ahādīts al-Basyīr al-Nadzīr, Jilid III, (Cet. II; Beirūt: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1427 H.-2006 M.), h. 240

[36] Al-I‘tibār secara bahasa merupakan mashdar dari kata i‘tabara yang berarti memperhatikan suatu perkara untuk mengetahui perkara lain yang sejenis. Menurut istilah, menelusuri jalur-jalur Hadis yang diriwayatkan secara menyendiri oleh seorang rawi, untuk mengetahui apakah terdapat rawi lain yang bersekutu dalam riwayatnya atau tidak. Lihat, Mahmūd al-Thahhān, Taysīr Mushthalah al-Hadīts, (Surabaya: Syirkat Bunkūl Indah, t.th.), h. 141

[37] A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis”, op. cit. h. 2-3; A. Hassan, Ringkasan Islam, op. cit. h. 15

[38] A. Hassan, “Muqaddimah Ilmu Hadis”, op. cit. h. 3

[39] Ibid., h. 9

[40] Abdul Qadir Hassan, Ilmu Mushthalah Hadis, (Cet. VIII; Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2002 M.), h. 305

[41] Ibid., h. 302


2 thoughts on “KONTRIBUSI A. HASSAN TERHADAP KAJIAN HADIS DI INDONESIA

  1. saya ingin bertanya apakah hadist-hadist dibawah ini shahih dan boleh diamalkan???

    نْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) يُرَدِّدُهَا ، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ »

    Dari Abu Sa’id (Al Khudri) bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca dengan berulang-ulang ’Qul huwallahu ahad’. Tatkala pagi hari, orang yang mendengar tadi mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut dengan nada seakan-akan merendahkan surat al Ikhlas. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga Al Qur’an”. (HR. Bukhari no. 6643) [Ada yang mengatakan bahwa yang mendengar tadi adalah Abu Sa’id Al Khudri, sedangkan membaca surat tersebut adalah saudaranya Qotadah bin Nu’man.]

    Begitu juga dalam hadits:

    عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ». قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ».

    Dari Abu Darda’ dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al Qur’an dalam semalam?” Mereka mengatakan, ”Bagaimana kami bisa membaca seperti Al Qur’an?” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al Qur’an.” (HR. Muslim no. 1922)

    1. bismillahir rahmanir rahim.

      Hadits yang semakna dengan itu diriwayatkan pula oleh Imam Ibnu Hibban, Abu Dawud, Tirmidzi An Nasa’i, Ibnu Majah, At Thabrani, Ahmad bin Hambal, Al Baihaqi, Malik
      Dan Imam Hakim meriwayatkan dengan lafadz yang berbeda dalam Mustadrak, kemudian mengomentari haditsnya:
      هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه
      Hadits ini secara sanad shahih, Bukhari dan Muslim tidak mencantumkannya.
      Dan Imam jalaluddin As Suyuthi juga mencantumkan dalam bukunya “jami’ul ahadits”
      (أحمد ، ومسلم ، والترمذى – حسن صحيح غريب – عن أبى هريرة)
      Hadits diatas diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan At Tirmidzi – hasan Shahih Gharib- dari Abu Hurairah.

      Dalam ilmu hadits disebutkan semua yang diriwayatkan dari jalur Imam Bukhari dan Muslim Insya Allah Shahih, karena Umat ini telah sepakat bahwa bahwa kedua kitab tersebut adalah yang paling terpercaya kebenarannya setelah Al-Qur’an. Kemudian pada tingkatan berikutnya adalah kitab “mustadrak” karangan Imam Malik, kemudian Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.
      Adapun hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sebagian imam di atas tadi mengenai keutamaan membaca “ Qul Huwallahu…” sebagian ada yang Dhaif (lemah), tetapi para Ulama’ dalam bidang Hadits membolehkan pemakaian hadits2 dhaif dengan Syarat tidak terlalu parah kelemahan/kecatatan yang dimilikinya dan boleh dipakai dalam hal2 berikut ini:
      1. Fadhailul amal: keutamaan-keutamaan dari beberapa amal: yakni hadits-hadits yang menerangkan keutamaan sesuatau amal.
      2. Qishah: cerita, yakni hadits yang berisi cerita-cerita.
      3. Zuhud.
      4. Targhib: menggemarkan, yakni hadits-hadits yang mengandung penggemaran supaya orang suka mengerjakan sesuatu amal.
      5. Tarhib: mengancam, yakni hadits-hadits yang bersifat mengancam manusia mengerjakan sesuatu perbuatan.
      6. Ganjaran: yakni hadits-hadits yang menjamin ganjaran bagi suatu amal.
      7. Siksaan: yakni hadits-hadits yang menerangkan siksaan kalau orang mengerjakan amal ini atau amal itu.
      8. Akhlak: yakni hadits-hadits yang mengandng kemualiaan akhlak atau sopan santun.
      9. Peperangan: yakni hadits-hadits yang berisi cerita-cerita peperangan.
      10. Dzikir: yakni hadits-hadits yang berisi dzikir-dzikir.

      Dan yang paling selamat (ini pendirian penulis juga) kita tolak semua macam hadits lemah apabila ia bersendiri atau tidak ada keterangan lain yang menguatkannya. Karena:
      1. hadits yang lemah itu sudah terang tidak dapat dianggap sebagai sabda Rasulullah SAW.
      2. Hadits yang lemahnya ringan itu, masih meragu-ragukan, apakah itu sabda Nabi SAW atau bukan. Hal yang meragu-ragukan itu tidak dapat dijadikan ketentuan.

      Untuk hadits diatas hendaklah kita memakai yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, walaupun kita boleh memakai hadits yang diriwayatkan oleh imam-imam lainnya dalam fadhailul amal (keuatamaan amal), tapi mengapa kita harus memakai hadits dhaif ? kalau disana ada hadits yang sudah terbukti keshahihannya.

      Wallahu a’lam…

      Admin-Fospi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s