Perbedaan Iqamat, antara As-Syafi’i dan Hanafi

oleh: Adam Bakhtiar

Bismillahirrohamnirrohim

Para ulama empat mazhab, Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad. Telah sepakat bahwa adzan dan iqamat di syariatkan dalam sholat 5 waktu.

Kemudian para Imam Mazhab tersebut berbeda pendapat dalam hal pada wajib dan tidaknya adzan dan iqamat.

  1. Imam Abu Hanifah, Imam As-Syafi’i serta Imam Malik mengatakan bahwa adzan dan iqamat adalah “ Sunnah Muakkadah”.
  2. adapun Imam Ahmad Bin Hanbal, berpendirian bahwa adzan dan iqamat merupakan “Fardu Kifayah” yaitu jika ada seseorang yang telah mengerjakannya maka gugurlah kewajiban orang lain yang disekitarnya.

Perlu diketahui, bahwa adzan pertama kali disyariatkan pada tahun pertama hijrah Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.

Kemudian yang menjadi inti permasalahan sebetulnya adalah, kenapa mazhab Hanafiyyah tidak membedakan antara adzan dan iqamat?

  • Imam As-Syafi’I dan Imam Malik menggunakan dalil hadith ;

عَنْ أَنَس رَضِيَ اللَّه عَنْهُ قَالَ : أَمَرَ بِلَال أَنْ يَشْفَع الْأَذَان ، وَيُوتِر الْإِقَامَة إِلَّا الْإِقَامَة ( رواه البخاري و المسلم)

Artinya; dari Anas bin Malik radhiallohu berkata ; “Telah diperintah bilal untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamat”. ( diriwayatkan, Imam Bukhori dan Imam Muslim).

Adapun Imam As-Syafi’i berbeda sedikit dengan Imam Malik dalam hal Iqamat, yaitu ketika mengucap Qad Qamatisholah hanya 1x. Padahal semestinya 2x sebagaimana jumhur ulama.

  • Imam Abu Hanifah berkata; “Iqamat itu 2x, 2x seperti halnya Adzan, Cuma ditambah ‘Qad QamatiSholah’ 2x”.

Akan tetapi hal ini dibantah oleh Imam Al-Khattabi; “ Para ulama telah bersepakat, sebagaimana yang dilakukan oleh penduduk Al-Haromain ( Mekkah-Madinah), Hijaz, Syam, Yaman, Mesir, Maghrib (Maroko) sampai daerah terpencil Islam, mengamalkan bahwa; Iqamat ganjil (satu-satu). (seperti yang kita ketahui dalam Mazhab As-syafi’i).

Keterangan; dalam kitab Fathul Bari Syarah kitab Shohih Bukhori, Imam Ibnu Hajar memberi keterangan bahwa; “ Hadith tersebut adalah sebagai hujjah terhadap orang yang menganggap bahwa adzan dan iqamat itu sama”. Masih dalam keterangan Ibnu Hajar, mereka para pengikut Mazhab Hanafiyyah menjawab bahwasannya hadith tersebut telah terhapus dengan hadith riwayat Abi Mahzuroh, sebagaimana yang ada dalam kitab-kitab sunan; seperti Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i dst.

Akan tetapi dalil mereka (mazhab hanafiyyah) di bantah oleh Imam Ahmad Bin Hanbal, dengan alasan bahwa sekembalinya Rasululloh salallahu alaihi wa sallam dari Madinah beliau memerintahkan Bilal untuk mengganjilkan qamat ( kecuali qad qamati sholah 2x) dan mengajarkannya kepada Sa’ad al-Qardh dan beliau mengizinkannya sampai sesudahnya, sebagaimana diriwayat Imam ad- Daroquthni, Al-Hakim dan Abdul Barr.

Imam Ahmad, Ishaq, Abu Daud dan Ibnu Jarir; menyatakan bahwa Ikhtilaf (perbedaan) dalam masalah tersebut adalah sebuah Ikhtilaf yang “Mubah” alias dibolehkan. Misal dalam adzan mau takbir 4x, atau hanya 2x, atau 4x dalam menyebut syahadat dalam adzan atau hanya 2x (seperti yg sekarang) hal itu boleh-boleh saja. Begitu juga dengan Iqamat yang double seperti halnya yang dipegang Mazhab Imam Abu Hanifah, atau mengganjilkannya seperti yang kita ( pengikut Mazhab Syafi’i ) percayai, itu boleh juga. Kecuali Qad Qamatisholah harus 2x.

Hikmah dari Perbedaan

Salah satu faedah yang dapat dipetik dari perbedaan di genapkannya Adzan dan diganjilkannya Iqamat adalah, bahwasannya Adzan adalah layaknya pengumuman atau pemberitahuan akan datangnya waktu Sholat kepada orang-orang yang tidak tahu, olehkarenanya senantiasa diulang-ulang (digenapkan) agar mereka tahu datangnya waktu sholat. Sebaliknya Iqamat adalah pemberitahuan bagi jama’ah yang telah hadir di dalam Masjid yang telah siap untuk menunaikan sholat secara berjama’ah, oleh karenanya Adzan dan Iqamat berbeda Intonasinya. Kalau adzan dianjurkan dengan suara yang lantang serta mendayu-dayu (Tartil). Adapun kalau Iqamat dengan suara biasa dan cepat tidak seperti adzan.

Kemudian dalam Iqamat diperintah untuk mengulam ‘Qad Qamatisholah’ karena kalimat tersebut bermakna penekanan yang artinya “ telah didirikan sholat”.

Wallohu A’lam Bisshowab.

Referensi;

  1. Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqolani.
  2. Iikhtilaful a’immatul Ulama, oleh Imam Ibnu Hubairoh as-Syaibani.


One thought on “Perbedaan Iqamat, antara As-Syafi’i dan Hanafi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s