Az-Ziyadah Tsiqoh fi al Matn

Oleh :Su’ud Hasanudin

Muqodimah.

 

Hadits atau sunnah telah dibukukan dalam lembaran-lembaran. Masa penyusunan tadwin (kodivikasi) memakan  rentang waktu yang cukup panjang. Dari mulai abad pertama, semenjak Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, sebagian para sabahat pun telah menulis dalam lembaran-lembaran, dan sebagian yang lainya semata hanya  berpegang dan pada hafalan.

Pada masa dimana jumlah sahabat mulai berkurang, pada masa Khalifah Umar bin al Khatab pun sudah memikirkan akan pentingnya untuk membukukan hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. Namun hal tersebut urung dilakukan dikarenakan masih adanya kekhawatiran akan bercampurnya antara al Qur’an (sebagai Kalamullah) dengan sunnah (sebagai bagian dari wahyu, yang Allah ilhamkan kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam).

Pada masa cucu Umar bin al Khatab, yang bernama Umar bin Abdul Aziz, dengan dirasakanya jumlah sahabat mulai kian sedikit, muncul kekhawatiran akan hilangnya Sunnah. Dikaranakan desakan yang sekiat ketat, maka kodivikasi hadits dirasakan perlu untuk diwujudkan. Pada masa inilah Sunnah mulai secara resmi untuk dibukukan.

Dari hasil keputusan sang Khalifah para ulama berlomba-lomba untuk menulis hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. Karya yang mereka hasilkan tidaklah sedikit, walaupun mereka harus berjalan selama berbulan-bulan untuk mendapatkan sebuah hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dengan Muwatho’nya, Imam Ahmad dengan Musnadnya, imam al Bukhori dengan al jami’ as shohih, demikian juma imam Muslim, at Tirmidzi, an Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Majah, dll. Adalah saksi sejarah akan proses kodovikasi hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam.

Para ulama pun tidak cukup puas dengan hanya mengumpulkan hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam, mereka juga mencoba untuk tetap mempertahankan ke asliannya. Mulai bermunculanlah ilmu riwayat, hingga seseorang yang memiliki simpanan hafalan dari sabda Rasul tidak sembarangan jika perkatanya masih ingin didengar. Sebab para pencari hadits yang ingin mempertahankan keotentikan sabda Rasul tidak mau sembarangan menerima perkataan seseorang jika berkenaan dengan sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya orang-orang yang terpercaya yang tidak mungkin melakukan kebohongan dari orang yang memiliki hafalan kuat serta orang-orang yang selalu menjaga mur’uah (kehatia-hatian dalam berprilaku) mereka mau menerimanya.

Dari sikap kehati-hatian yang dikembangkan tersebut, para ulama generasi berikutnya mencoba dengan segenap kehati-hatiannya menyeleksi hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada diantara sanad hadits didapati kejanggalan dikarenakan adanya seseorang yang tidak memenuhi persyaratan periwayatan maka hadits yang dibawanya dikategorikan sebagai hadits yang pantas untuk ditolak.

Disiplin ilmu tersebut belakangan disebut sebagai ilmu hadits. Dimana dengan ilmu tersebut seseorang dapat melihat gejala benar dan salahnya proses periwayatan hingga didapatkan kesimpulan pantas dan tidaknya hadits tersebut diterima dan diamalkan.

Dalam kesempatan kali ini kami mencoba untuk membahas satu permasalahan dalam ilmu hadits tersebut az ziyadah fi al matn yang memiliki hubungan secara langsung dengan praktek ibadah.

 

Cara periwayatan hadits.

 

Dalam ilmu hadits kita mengenal dua cara periwayatan; riwayat dengan  lafadz, dan riwayat secara makna. Yang dimaksud dengan riwayat dengan lafadz adalah tatkala seorang rawi menyampaikan hadits sebagaimana yang Rasulullah sampaikan tanpa ada pengurangan atau penambahan kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan riwayat secara makna adalah tatkala seorang rawi menyampaikan hadits dengan lafadz yang mewakili maksud dari yang diucapkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam.

Riwayat secara makna sekilas dapat menimbulkan penyimpangan dari yang Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan. Sebab tidak semua orang bisa menerjemahkan apa yang Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam kehendaki dan maksudkan. Oleh sebab itu para ulama hadits memberikan batasan dan persyaratan bagi seseorang yang menyampaikan hadist secara makna, demi menghilangkan keraguan cukup dan tidaknya riwayat secara makna tersebut mewakili dari yang Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam inginkan. Ketentuannya adalah;

a)      bahwa orang yang menyampaikan hadits secara makna tersebut adalah orang yang benar-benar faham (faqih) baik secara susunan bahasa yang dikehendaki oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam, serta memiliki pemahan tentang Syariah Islam yang memadahi.

b)      tidak boleh menyampaikan hadits secara makna terhadap hadits-hadits yang memiliki nilai ta’abud[1] dengan lafadz yang diucapkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya adalah do’a dalam sholat dsb.

c)      tidak boleh menyampaikan hadist secara makna jika berkenaan dengan sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam yang menyangkut jawamiul kalam.[2] (sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki pemahaman dan arti yang cukup tinggi. Seperti;

 

أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)

     Artinya : Sesungguhnya surga berada dibalik kilatan pedang[3]. (HR. Al Bukhori dan Muslim, dll)

 

Iktilaf ur riwayat

 

Yang dimaksud dengan iktilaf ur riwayat adalah perbedaan lafadz dari hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu bab masalah yang sama. Perbedaan tersebut disebabkan adanya pemambahan atau pengurangan beberapa kalimat, atau mendahulukan yang akhir dan mengakhirkan yang awal. perbedaan riwayat dalam hadits Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam adalah waqi’i nyata keberadaanya.

Ada beberapa istilah dalam ilmu hadits berkenaan dengan perbedaan riwayat. Maqlub, Mudroj, Muthorib, Syadz dan Mahfud, Maruf dan Munkar, serta ziyadah fi al Matan. Masing-masing memiliki hukum dan pengertian tersendiri.

 

 

Az ziyadah as tsiqoh

 

Az ziyadah as tsiqoh adalah Tambahan dalam riwayat oleh orang yang bisa terpercaya bisa terjadi pada sanad bisa pula terjadi pada matan. Yang menjadi pokok pembahasan kami pada kesempatan kali ini adalah tambahan yang terjadi pada susunan teks hadits.

 

Az ziyadah fi al matn

 

Az ziyadah fil al matn adalah tambahan kata atau kalimat yang terdapat dalam sebuah susunan teks hadits yang tidak diriwayatkan oleh yang lain. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum az ziyadah fi al matn.

a)      Sebagian ulama ada yang menerima secara mutlak

b)      Sebagian lagi menolak secara mutlaq

c)      Sebagian lagi memerima dengan memberikan catatan jika riwayat tersebut bukan dari riwayat orang yang sama.

 

Secara teks Ibn as-Sholah membagi ziyadah dalam beberapa katagori berdasarkan diterima dan tidaknya;

a)      Ziyadah yang tidak saling bertentangan. Maka dia diterima dan dianggap bagian dari teks

b)      Ziyadah yang saling bertentangan. Tidak diterima.

c)      Ziyadah yang mengandung unsur tidak bertentangan dan ada nilai bertentangan. Dan para ulama berbeda pendapat dalam mensikapinya[4].

 

Contoh masalah.

 

Contoh yang kami bawa dalam masalah ini adalah bagian dari katagori ziyadah yang tidak saling bertentangan namun memiliki nilai pertentangan seperti mengkhusukan lafadz yang umum. Dalam sebuh hadits diriwayatkan

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ …. وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا  (رواه البخاري، مسلم، وأبو داود، الترمذي، والنسائي، وابن ماجه، أحمد، وابن حبان، والبيهقي، والطبراني،والدارمي، وابن خزيمة، وابن ابي شيبة، وعند الرزاق، وابي عوانة، والبزار)   وفي لفظ مع القلب “. مَسْجِدًا وَطَهُورًا” وفي لفظ مع الزيادة “طَيِّبَةً طَهُورًا وَمَسْجِدًا”. وفي لفظ لنا بدلا من لي وفي لفظ الآخر لي ولأمي. وما تغير المعنى مع هذه الإختلفات.

Artinya : sesungguhnya Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah melebihkanku dari nabi-nabi yang lain dengan enam perkara ; ….. dijadikan untukku bumi suci dan bisa digunakan sebagai tempat sujud (sholat). (HR. Iman al Bukhori, Muslim , Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ibn Hibban, al Baihaqi, at Thobroni, ad Darimi, Ibn Huzaimah, Ibnu Abi Syaibah, Abdur Rozak, Abu Awanah.) [5]

Teks hadits tersebut walaupun diriwayatkan dengan adanya perbedaan lafadz namun tidak mengurangi maknanya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan adanya perubahan lafadz yang dapat merubah makna dari hadits tersebut. Riwayat tersebut adalah sebagai berikut:

 

وَجُعِلَتْ لَنَا الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ (رواه مسلم في صحيحه وأحمد والبيهقي ووالدارقطني وابن عبد البر والنسائي في سنن الكبرى والطيالسي وابن ابي شيبة ، وفي لفظ عند أحمد والبيهقي ترابها)

Artinya : …. dijadikan kepada kami bumi semuanya sebagai tempat sujud (sholat) dan debunya suci. (HR. Imam Muslim, Ibn Abi Syaibah, at Thoyalishosi, an Nasa’i fi sunnan al Kubro, Ibn Abdul al Bar, ad Daruquthni, al Baihaqi)[6]

Tambahan lafadz turob atau turbah (debu), telah sedikit banyak merubah makna hadits yang diriwayatkan sebelumnya, yang tidak mengkhuskan debu sebagai bagian dari bumi yang Allah bolehkan sebagai alat bersuci jika seseorang tayamum.

Sebagaian ulama khususnya madzhab Syafi’i menerima tambahan teks tersebut dan menganggap bagian dari teks yang tidak terpisah demikian juga madzhab Hanbali. Sedangkan madzhab Abu Hanifah tidak menerima tembahan teks tersebut dan menganggapnya sebagai riwayat Syadz (riwayat yang bertentangan dengan riwayat lain yang lebih shohih)

Oleh sebab itu para ahli fiqh berbeda pendapat tentang penggunaan bumi secara umum sebagai alat bersuci tatkala tayamum.

Madzbah Syafi’i secara umum mengkhususkan debu sebagai alat bersuci tatkala tawamum. Sedengkan madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah secara umum memandang semua yang ada dibumi disa diguakan untuk bersuci tatkala tayamum.

  

Kesimpulan:

 

  1. Ilmu hadits (riwayat dan diroyah) adalah salah satu ilmu wasilah yang perlu mendapat perhatian sebelum mengambil kesimpulan hukum.
  2. Pengetahuan tentang ilmu hadits akan memberikan bantuan pengetahuan tentang usul istinbath ulama fiqh. Wallohu a’lam bis showab.

 



[1] Lafadz yang bernilai dan digunakan dalam ibadah

[2] Dr. Nuruddin Utar Manhaj an Naqd fi Ulum al Hadits : 227, Dr. Abdullah Hasan al Haditsi , Atsar al Hadits an Nabawi as Syarif fi al Ikhtilaf al Fuqoha  : 193

[3] Beberapa ulama seperti ibn al jauzi menjelaskan bahwa sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam tersebut bermakna sesungguhnya surga dicapai dengan jihad.

[4]Dr. Nuruddin Utar Manhaj an Naqd fi Ulum al Hadits : 215 Diambil dari Muqodimah ibn as Sholah hal:77 dan Tadrib ar Rawi I : 245-247. 

[5] Lihat al Mukharor fi al Hadits hal : 150

[6]  Lihat Talkhis al Khabir, Ibnu Hajar al Asqolani : I hal  : 398


One thought on “Az-Ziyadah Tsiqoh fi al Matn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s