Hadits mendahulukan tangan ketika turun sujud

Oleh : Su’ud Hasanudin

Alhamdulillah, sholawat dan salam kepada Rasulullah saw. Dalam kesempatan kali ini kami akan mencoba membahas hadits mendahulukan tangan ketika turun sujud. Kami memandang bahwa ada sedikit permasalahan yang perlu untuk kami jelaskan berkenaan dengan hadits tersebut, sebab secara dhohir hadits tersebut terdapat keterbalikan.

Para ulama hadits juga ada yang mempermasalahkan hadits tersebut, sebagian ada yang memandangnya sebagai hadits maqlub (terdapat keterbalikan) dalam matan (susunan kalimat). Sebagaian lagi memandang bahwa hadits tersebuta adalah benar dan tidak terdapat keterbalikan dalam susunan teksnya. Sebagian lagi memandang bahwa hadits mendahulukan tangan tatkala turun sujud bertentangan dengan hadits yang lain, yang memerintahkan ntuk mendahulukan dua kaki daripada kedua tangan.

Perbedaan tersebut seiring dengan cara pandang yang berbeda, sebagian melihat pada dhohir kalimat, sebagian lagi menggunakan takwil sehingga hadits tersebut tidak terlihat ada keterbalikan (maqlub). Demikian juga dalam masalah idhtirob dalam susunan teks hadits tersebut dengan hadits yang lain.

Dalam kajian ringan ini kali akan berusaha menjelaskan sedikit tentang permasalahan tersebut, dan kami akan sertakan keterangan-keterangan dan akan kami akhiri dengan sebuah kesimpulan ringan. Semoga bermanfaat bagi kami secara pribadi dan pembaca yang budiman.

Teks Hadits mendahulukan tangan ketika sujud.

وروي عن عبد العزيز الدراوردي ، عن محمد بن عبد الله بن حسن ، عن أبي الزناد ، عن الأعرج ، عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير ، وليضع يديه قبل ركبتيه {أخرجه البيهقي في معرفة السنن والآثر ورواه أيضا أبو داود والنسائي والترمذي وأحمد والدارمي والدارقطني والبغوي في شرح السنة كلهم من طريق محمد بن عبد الله بن حسن عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة.}[1]

Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabada : apabila salah seorang diantara kalian sujud (dalam sholat), maka janganlah kalian turun seperti seperti turunnya onta untuk duduk. Maka hendaklah kalian mendahulukan tangan kedua tangan sebalum kedua kaki.

Imam al Bukhori meriwayatkan hadits tersebut dalam at Tarikh ul Kabir, dan mengatakan dalam sanad hadits tersebut ada ilat (cacat) dari sisi Muhammad bin Abdullah bin al Hasan. Imam at Tirmidzi mengatakan sanad hadits tersebut adalah ghorib. Imam ad Daruquthni berpendapat bahwa Abdul Aziz ad Darowurdi bersendirian dalam meriwayatkan hadits tersebut.

Bisa kita dapatkan teks hadits tersebut dengan beberapa perbedaan kalimatnya. Adapun secara jelasnya teks yang berbeda tersebut adalah sebagai berikut;

1. إذا سجد أحدُكم فَلاَ يَبْرُكْ كما يَبْرُكُ البعيرُ (أحمد ، وأبو داود ، والنسائى ، والبيهقى الدارمى عن أبى هريرة)

2. إذا سجد أحدُكم فَلاَ يَبْرُكْ كما يَبْرُكُ الجملُ (أخرجه البيهقى والدارقطني والنسائى وأحمد عن أبى هريرة)

3. وفي مسند أبي يعلى وابن أبي شيبه عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِرُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ ، وَلا يَبْرُكْ بُرُوكَ الْفَحْلِ

Perbedaan yang pertama adalah terletak penggantian kata ba’ir dan jamal yang berarti onta, yang dapat kita jumpai dalam hadits lain dengan lafadz fakl yang berarti kuda jantan.

Illat (cacat) dalam sanad hadits

Imam al Bukhori, imam at Tirmidzi dan ad Daruqudni berpendapat ada cacat dalam sanad hadits tersebut. Dalam sanad hadits tersebut ada seorang rowi bernama Muhammad bin Abdullah bin al Hasan.

Imam al Bukhori dalam at Tarikh ul Kabir mengatakan tidak mengetahi apakah Muhammad bin Abdulla bin al Hasan mendengarkan hadits dari Abi az Zinad. Pendapat imam al Bukhori tersebut didasarkan pada salah satu syarat yang ditentukanya dalam menerima hadits bahwa seorang rowi benar-benar bertemu gurunya, dan tidak cukup bahwa seorang rowi satu masa dengan gurunya.

Sedangkan imam at Tirmidzi mengatakan sanad hadits tersebut tergolong ghorib dari sisi Muhammad bin Abdullah bin al Hasan.

Pendapat Imam al Bukhori tentang Muhammad bin Abdullah bin al-Hasan bukanlah merupakan jarkh (celaan), sebab beliau sedikitpun tidak memberikan komentar atas kepribadian Muhammad bin Abdullah bin al Hasan. Beliau hanya menyangsikan kebertemuan antara Muhammad bin Abdullah bin al Hasan dengan gurunya – Abu az Zinad.

Keraguan Imam al Bukhori tersebut dapat ditepis dengan melihat riwayat hidup Muhammad bin Abdullah al Hasan.

Imam an Nasai berependapat bahwa Muhammad bin Abdullah bin al Hasan adalah seorang yang tsiqoh. Abu az Zinad wafat pada tahun 130 H, sedangkan Muhammad bin Abdullah al Hasan wafat pada 145 H, dan pada saat itu beliau berusia 45 tahun, jadi sangat memungkinkan sekali Muhammad bin Abdullah bin al Hasan bertemu dengan Abu az Zinat. Dan yang demikian adalah sesuai dengan syarat yang ditentukan oleh imam MuslimMu’ashoroh– (pernah sezaman).

Imam ad Daroqothni berpendapat bahwa rowi yang bernama Abdul Aziz ad Darowurdi bersendirian dalam meriwayatkan hadits tersebut. Imam Ahmad berpendapat tentang Abdul Aziz ad Darowurdi ” jika ia meriwayatkan dengan hafalanya, ada keraguan. Sedangakan Abu Zur’ah berpendapat bahwa ia adalah orang yang termasuk buruk hafalanya. Namun Yahya Ibn Main dan dan Aly al Madini keduanya berpendapat bahwa Abdul Aziz ad Darowurdi adalah seorang yag tsiqoh.

Oleh karena itu riwayat seorang rowi yang memungkinkan ada kesalahan dalam hafalanya dibutuhkan orang lain meriwayatkan hadits serupa sebagai bukti bahwa tidak ada kesalahan dari hadits yang diriwayatkan oleh orang yang kurang baik hafalannya.

Pendapat akan kesendirian Abdul Aziz ad Darowurdi dalam meriwayatkan hadits ini terbantah. Bahwasanya ada orang lain yang meriwayatkan hadits tersebut selain Abdul Aziz ad Darowurdi. Ia adalah Abdullah bin Nafi’ dalam riwayat an Nasai dan Abu Daud.

Wal hasil, pendapat sebagain ulama seperti Imam al Bukhori tentang adanya ilat dalam sanad hadist tersebut karena keberadaan rowi yang bernama Muhammad bin Abdullah bin al Hasan, yang Imam al Bukhori tidak merasa yakin akan kebertemuanya dengan Abu az Zinad, bukanlah sebuah bentuk jarkh terhadap Muhammad bin Abdullah bin al Hasan. Bahka jika dilihat dari kurun waktu masa hidupnya dan masa hidup Abu az Zinad, telah bisa disimpulkana adanya kemungkinan kuat bahwa Muhammad bin Abdullah bin al Hasan bertemu dengan Abu az Zinat, sedangkan yang demikian – Mu’asharoh– telah memenuhi syarat shohih sebuah Hadits dalam pandangan imam Muslim.

Sedangkan kesendirian Abdul Aziz ad Darowurdi, dalam meriwayatkah hadits tersebut sebagaimana yang dinyatakan oleh ad Daruquthni, dijawab oleh ulama yang lain bahwa ada orang lain yang meriwayatkan selain Abdul Aziz ad Darowurdi yakni Abdullah bin Nafi’. Oleh sebab itu maka hadits tersebut dapat dihukumi sebagai hadits shohih sebagaima pendapat al Bani dalam irwa ul gholil, dan atau hadits hasan dikarenakan selamatnya para rowi dari cacat yang mengakibatkan ke dhoifan hadits. Wallahu a’lam bis showab.

Idhtirob fi al Matn

Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam susunan teks hadits tersebut bertentangan dengan hadits lain (ta’arud) yang memerintahkan untuk mendahulukan kedua kaki tatkala turun untuk sujud. Hadits yang dimaksud adalah sebagai berikut;

حدثنا أبو بكر قال نا ابن فضيل عن عبد الله بن سعيد عن جده عن ابي هريرة يرفعه أنه قال إذا سجد أحدكم فليبتدئ بركبتيه قبل يديه ولا يبرك بروك الفحل {أخرجه ابن أبي شيبة في مصنفه}

Artinya : dari Abu Hurairah ra secara marfuk (bersambung) kepada Rasulullah saw. Sesungguhnya beliau bersabda : “jika dalah seorang diantara kalian sujud, hendaklah mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan. Dan janganlah kalian turun menuju sujud seperti duduknya kuda jantan. (HR. Ibnu Abi Syaibah dari Abu Hurairah ra)

Dalam hadits bersebut ada seorang rowi bernama Abdullah bin Said al Maqburi, ia adalah seorang yang munkarul hadist. Yahya bin Said al Qothon pernah duduk dalam majelisnya, dan beliau berpendapat dari hal tersebut bahwa Abdullah bin Said al Maqburi terlihat kebohonganya. Demikian juga Imam al Bukhori, Ahmad dan ad Daruquthni.

Secara susunan teks hadits ini bertentangan dengan isi hadits sebelumnya yang memerintahkan agar mendahulukan kedua tangan daripada kedua lutut. Oleh karena itu ada yang berpendapat bahwa dalah hadits tersebut terdapat ta’arudz (salang bertentangan), kemudia disimpulkan bahwa hadits mendahulukan kedua tangan ketika sujud adalah muthorib, kerena susunan teksnya bertentangan dengan hadits yang memerintahkan untuk mendahulukan kedua lutut.

Namun untuk menjadikan sebuah hadits diangap sebagai muthorib apabila terdapat dua hal;

  1. adanya pertentangan yang tidak mungkin untuk diambil jalan tengah, dan
  2. kedudukan masing-masing hadits sama-sama memiliki tingkat kekuatan yang sama sehingga tidak menmungkinkan menempuh jalan tarjih.

Namun amat disayangkan pendapat yang demikian dapat disangkal dengan bahwa dalam teks hadits yang memerintahkan untuk lebih mendahulukan kedua lutut tidak memiliki sanad yang bisa dikatagorikan sebagai hadits hasan sekalipun. Oleh karena itu menjadikan hadits mendahulukan kedua tangan sebagai hadits muthorib dengan alasan isinya menentanga hadits perintah lebih mendahulukan kedua lutut adalah kurang tepat. Sebab masih memungkinkan untuk menempuh cara tarjih. Yakni hadits mendahulukan kedua tangan lebih kuat secara sanad dari hadits mendahulukan kedua lutut. Wallahu a’lam bis showab.

Maqlub (keterbalikan) dalam susunan teks hadits.

Cara duduk onta biasanya diawali denga melipat dua kali depannya kemudian diiringi dengan melipat dua kali belakangnya.

Dua kaki yang depan onta ditempatkan sebagia dua tangan manusia (tatkala turun sujud) sedangkan dua kaki belakang menempati kedudukan dua kaki manusia.

Dari hal tersebut terlihat bahwa dalam teks hadits tersebut ada keterbalikan dengan fakta. Perintah yang pertama adalah agar tidak menyamai duduknya onta dengan mendahulukan tangan (dua kaki belakang pada onta) dari pada kaki (dua kaki belakang pada onta). Sedangkan perintah ke dua adalah hendaklan mendahulukan tangan dari pada kaki.

Ibnu ul Qayyim, berpendapat bahwa dalam teks hadits tersebut terdapat keterbalikan susunan dari rowi (orang yang meriwayatkan hadits). Seharusnya teks tersebuta adalah sebagai berikut :

فَلَا يَبْرُكُ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ

Artinya : “Maka janganlah kalian turun dalam sujud seperti duduknya onta, maka hendaklah mendahulukan meletakan kedua kakinya sebelum kedua tanganya”.

Ibnu ul Qoyim berpendapat bahwa yang menjadi patokan dalam teks hadits ini adalah teks yang dimuka (jangan menyamai onta dalam turun sujud). Onta dalam turun untuk duduknya mendahulukan dua kaki depan daripada dua kaki belakangnya. Sedang dua kaki depan onta diibaratkan dengan dua tangan manusia, sedang dua kaki belakang onta diibaratkan dengan dua kaki manusia. Maka terkesan jelas ada keterbalikan dalam teks hadits mendahulukan dua tangan dari pada dua kaki dalam sujud tersebut. Menurut Ibnu ul Qoyyim seharusnya mendahulukan dua kaki dari pada dua tangan sebab duduknya onta lebih didahului dengan kedua kaki belakangnya.

Dalam hal ini Imam At Thokhawi berbeda pendapat dengan Ibnu ul Qoyyim. Beliau berpendapat bahwa menyamakan dua kaki depan onta dengan dua tangan manusia adalah satu kesalahan. Sebab antara tangan dan kaki semua jenis hewan dan manusia tidak bisa disamakan. Imam At Thokhawi selanjutnya mengatakan bahwa dua kaki belang yang dimiliki oleh hewan adalah seperti dua tangan pada manusia. Oleh sebab itu menurut Imam At Thokhawi bahwa dalam hadits turun sujud tersebut tidak ada keterbalikan sebagaimana pendapat Ibnu ul Qoyyim.

Nasakh

Ibnu Hajar al Asqolani berkata: bahwa Ibnu Khuzaimah menganggap hadits Abu Hurairah yang mendahulukan kedua tangan adalah mansuh dengan hadist dari Mus’ab bin Sa’ad, sebagaimana berikut;

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ حَدَّثَنَا أَبِى عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدٍ قَالَ : كُنَّا نَضَعُ الْيَدَيْنِ قَبْلَ الرُّكْبَتَيْنِ ، فَأُمِرْنَا بِالرُّكْبَتَيْنِ قَبْلَ الْيَدَيْنِ {رواه ابن خزيمة في صحيحه والبيهقي}

Artinya : dari Mus’ab bin Sa’ad, dari Sa’ad. Ia berkata : kami dahulunya meletakan tangan sebelum lutut (dalam sujud), kemudian kami diperintahkan untuk mendahulukan kedua lutut daripada kedua tangan. (HR. Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).

Kalaulah hadits diatas shohih maka akan menjadi bukti kuat akabn adanya mansuh terhadap riwayat sebelumnya. Namun sangat disayangkan hadits diatas tidak selamat dari kelemahan dari rowi yang meriwayatkan hadits. Dalam sanad tersebut ada dua rowi yang para ulama melemahkannya. Dua rowi tersebut adalah Ibrahim bin Ismail bin Yahya bin Salamah bin Kuhail, dan bapaknya -Ismail bin Yahya bin Salamah bin Kuhail-.Dua orang tersebut adalah dhoif.

Kesimpulan;

  1. Hadits mendahulukan ketika turun sujud adalah hadits ghorib (ahad).
  2. Para ulama berbeda pendapat tentang hadits tersebut.
  3. Para ulama ahli fiqh berbeda pendapat dalam masalah mendahulukan tangan ketika turun untuk sujud.
  4. Madzhab Maliki dan al Auzai, demikian pula Ibn Hazm berpegang mendahulukan tangan ketika sujud.
  5. Sedangkan madzhab iman Abu Hanifah, at Tsauri, Ibn Sirin , as Syafii, Ahmad, Ishaq ibn Rohawaih, memilih lebih mendahulukan lutut, dan imam Ahmad dalam sebuah riwayat cara turun sujut tersebut adalah mukhoyar. (umdah)

والله أعلم بالصواب


[1] Lihat Takhrij hadits tersebut dalam al Muharor fi al hadist oleh ibn Qudamah al Maqdisie yang telah ditakhirj haditsnya dalam ad Durar fi takhrij al Mukharor no hadits 239


9 thoughts on “Hadits mendahulukan tangan ketika turun sujud

  1. assalamualaikum…
    kaifahaluk akhi suud?
    artikel nya insya allah ilmiah, saya setuju dgn akhi suud dgn kesimpulan bhw hadits mendahulukan tangan ktka turun sujud haditsnya ahad(shohih). dan saya tdk setuju yang mendhoifkan hadits tsb.syukron.
    wassalam.

  2. salam…ana rase eloklah mengikut mazhab syafie..sujud mendahulukan lutut..kemudian, baharulah tangan…seperti maan yg kita tahu, agama islam adalah mudah dan tidah pernah menyusahkan penganutnya,,syukron….

  3. Assalamu’alaikum..
    saya pernah membaca dala buku “Koreksi total shalat kita, 400 kesalahan dalam ibadah shalat”, karya MAHMUD AL-MISHRI
    penerbit INSAN KAMIL, cetakan 2008
    dalam suatu poin pembahasanya disebutkan tentang beberapa hadist yang menyatak bahwa turun untuk sujud mendahulukan tangan dari pada lutut,,
    beberapa hadist tersebut adalah,
    1. “Beliau meletakkan kedua tangannya ke tanah sebelum kedua lututnya” ( Ibnu Khuzaimah al hakim menshahihkanya dan disetujui adz-dzahabi)
    2. “bila salah seorang kalian bersujud maka janganlah turun seperti turunnya unta, tetapi hendaklah meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya” ( Abu Dawud lengkapannya dalam al-fawaid an – nasa’i dengan sanad yang shahih.
    3. “sesungguhnya kedua tangan bersujud seperti sujudnya wajah. Bila salah seorang dari kalian meletakkan wajahnya (ke tempat sujud) hendaklah meletakkan kedua tangannya lebih dahulu. Bila mengangkat (wajahnya) hendaklah mengangkat keduanya. ( Ibnu Khuzaimah Ahmad dan dishahihkan Al – Hakim dan disetujui adz – dzahabi.
    bagaimana mengenai pendapat ini menurut bapak?
    saya sedang bimbang dalam masalah ini,karena pengetahuan saya yang masih sangat sedikit,
    mohon balasannya,,terima kasih
    wassalamu’alaikum

    1. memperhatikan youtabe dimaksud yang duluan menyentuh tanah adalah lutut, jadi menurut saya yang awam ini
      ” pengertian jangan menderum seperti unta sebagaimana hadist diatas” jelas agar tidak terjadi penafsiran lain. bahwa Lutut adalah lutut, jangan diartikan bahwa lutut depannya unta ibarat tangannya manusia.

  4. Assalamu’alaikum
    Ustadz, bisa gak ya kalau kita mengambil contoh dengan melihat model / bentuk turunnya unta,karena kalau kita lihat di youtube unta turun dengan depan lebih dulu baru kemudian belakang, karena perintahnya adalah jangan seperti unta, maka kita turun sujud belakang dulu baru depan (karena unta turun depan dulu),
    kalau seperti ini benar atau salah ustadz ?
    bolehkah kalau saya ambil pelajaran dari bentuk atau model turunnya unta seperti itu ustadz?
    maaf ustadz
    Wassalam

  5. Assalamu’alaikum ..
    Dulu sebelum ada salafi.. Lutut duluan baru tangan..
    Kemudian robah , tangan duluan baru lutut…
    Jadi diketawain teman..
    “Coba tangan anda duluan kelantai ( tempat sujud), lututnya jangan ditekuk dulu. Nah itu seperti binatang berkaki empat. Sekarang duduk ” katanya lagi. Maka lutu saya saya tekuk. ” Nah seperti itulah unta duduk ! Padahal kita dilarang seperti unta (binatang) duduk”
    “Sekarang coba berdiri/ bangkit” Katanya lagi.” Lalu saya angkat ekor saya lebih dulu (maksudnya lutut diluruskan lebih dahulu) ” Nah kamu seperti binatang lagi. berkaki empat, baru kamu mengangkat tangan, begitukah ?

    Akhirnya saya balik lagi lutut duluan baru tangan saat akan sujud. Saat bangkit tangan duluan baru lutut. Tak ada seperti binatang apapun.

    Memang ada ada saja bikin kacau.
    Berjenggot tak berpeci, lebi jelek dari kambing.
    Kambing masih ada mahkota dikepalanya, tanduk
    Manusia seharusnya berjenggot dan berpeci, itulah yang benar, tidak lebih rendah dari binatang (Kambing).

    Mudah mudahan bermanfaat , walau sedikit keras. Yang benar itu datangnya dari Allah swt, manusia bisa sumber kesalahn.
    Afala tagkilun….

  6. onta kalau turun maka duluan bagian kepalanya dari punggung maka agar tidak seperti itu sepertinya kita harus mengusahakan agar bagian punggung dulu yang turun baru bagian kepala, hadisnya ada pertentangan tetapi sepakat bahwa asal tidak seperti turunnya onta…sekarang tinggal praktekkan,,pertama tangan turun duluan baru lutut tapi jangan sampai punggung lebih tinggi dari kepala (biar gk seperti onta),,yg kedua pakai lutut dulu baru tangan & jaga agar punggung lebih rendah dari kepala..

  7. tangan adalah tangan
    kaki adalah kaki…
    tangan dan kaki tidak bisa disamakan…
    unta mempunyai 4 kaki,dua di depan dan dua di belakang
    dua di depan adalah kaki dan tidak bisa diartikan tangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s