Nasib Pakistan Jelang Pemilu

Oleh; *Adam Bakhtiar

Agenda perang melawan terorisme yang digaungkan Presiden Pervez Musharraf makin tak terkendali. Memicu perang antara pejuang militan versus pemerintah. Para pemimpin tertinggi suku militan telah mengobarkan api peperangan. Pemilu terancam gagal dan berdarah-darah.

16 Januari 2008. Di tengah cuaca malam yang begitu dingin dan gelap gulita, ratusan pejuang militan dilengkapi dengan senjata berat menyerbu benteng Sragora. Serangan mendadak membuat tentara pemerintah Pakistan tak berkutik. Sekitar 42 tentara disergap, kemudian disekap. Pasca kematian Benazir Bhutto, kondisi Pakistan memang terus dihantui peperangan. Setiap saat, bom bisa meledak di mana-mana. Setiap saat pula, serdadu Presiden Pervez Musharraf harus bersiap-siap menghadapi serangan tak terduga.

Benteng Sragora dibangun tentara Pakistan untuk mengawasi gerak-gerik para pejuang militan dan penyusup yang berseliweran untuk menggangu stabilitas keamanan penduduk lokal yang mendiami wilayah tersebut. Sejak huru-hara di Rawalpindi, tentara Pakistan memang terus memperketat kondisi negeri tersebut, terutama di beberapa perbatasan yang menjadi tempat bersarangnya pasukan militan.

Para analis melihat bahwa kejadian runtuhnya benteng Sragora ke tangan pejuang militan di daerah tribal area (daerah kesukuan) yang tak bisa tersentuh hukum Pakistan adalah sebuah indikasi kekalahan telak pertahanan militer Pakistan. Begitu juga dengan disanderanya sekitar 300 tentara Pakistan oleh pejuang lokal pro Taliban pada 30 Agustus 2007. Saat penyerangan, tak sebutir peluru pun keluar dari moncong sejata tentara Pakistan.

Saat masa kampanye dan sebelum kematian Bhutto, Pakistan memang dihujani sesumbar perang melawan kelompok yang disebut sebagai ekstremis. Bahkan, saat hari terakhir kampanye, Bhutto dengan lantang berkata, “Kita akan memerangi para ekstremis. Tidak ada tempat bagi ekstremisme di Pakistan!”

Kampanye Bhutto, makin memanaskan situasi Pakistan. Maklum, sebelumnya, atas nama memerangi kelompok ektsrem, pemerintah Pakistan melakukan penyerangan terhadap Masjid Merah atau Masjid Lal.

Sikap garang para politisi dan pemerintah Pakistan terhadap kelompok yang disebut ekstrem, yang kemudian dilekatkan sebagai bagian dari jaringan Taliban dan al Qaidah, inilah yang membuat kelompok yang dituduhkan gerah. Baitullah Mehsud, komandan kelompok militan yang kerap disebut namanya sebagai biang teror di Pakistan tak surut nyali untuk mengobarkan peperangan terhadap tentara Pakistan. Inilah yang kemudian membuat kondisi keamanan negeri itu semakin tak karuan.

Para politikus senior yang mempunyai peran dalam menjaga stabilitas di tribe area sedang berada dalam tekanan, sejak dikobarkannya perang terhadap teroris oleh pemerintah Pakistan demi mengikuti ambisi kepentingan AS. Kini kondisinya berbalik arah, di mana para pejuang militan dengan gagah berani menguasai satu persatu pos pertahanan militer Pakistan di wilayah itu.

Tehrek Taliban Pakistan (Gerakan Taliban Cabang Pakistan) kini telah bergerak menuju ambang pintu ibu kota negara, Islamabad. Hal ini bukanlah masalah yang luput dari pengamatan media atau pemerintah. Melainkan memang sebuah kesengajaan yang diciptakan oleh presiden Pakistan sendiri, agar citra negara tampak runyam dan tidak stabil. Karena itu, sang presiden bisa menggunakan alasan tersebut untuk mencari dukungan baik moral maupun materi untuk memerangi para ekstremis dengan slogan “war against terrorism”. Musharraf tahu betul, dagangan dengan label “war against terrorism” akan laku keras di hadapan para pemimpin Eropa. Minimal sebagai sebuah daya tarik komitmen Musharraf untuk menciptakan kondisi di Asia Selatan sesuai kemauan AS dan sekutu-sekutunya.
Jika Anda menanyakan opini publik Pakistan terhadap kondisi dalam negerinya saat ini, secara kesuluruhan mereka akan menjawab, sekarang tidak ada hukum dan aturan, yang ada barbarisme. Tidak ada penghormatan terhadap nyawa seseorang, inflasi ekonomi terus merosot, krisis sandang dan pangan sudah menjalar ke pelosok negeri. Harga bahan-bahan pokok hari demi hari kian melambung tinggi dan kurangnya lapangan pekerjaan.
Pakistan mungkin termasuk negara yang booming dalam bursa saham, dengan 50 juta pengguna handphone, jumlah yang cukup mencengangkan untuk ukuran negara yang penuh konfilk. Akan tetapi sangat disayangkan kebanyakan dari 160 juta penduduknya tidak mendapatkan suplai air bersih yang sewajarnya.
Seluruh pelosok negeri sudah menjadi bulan-bulanan pahit getir kehidupan dan industrialisasi sebagai kambing hitamnya. Sangat sedikit anggaran yang dikucurkan untuk kesehatan dan pendidikan, tidak ada investasi publik yang berujung tidak adanya usaha perekonomian yang sehat. Dan fakta yang paling menyedihan dalam rezim saat ini, adalah tidak adanya ruang gerak untuk berkembangnya demokrasi.

Di saat kondisi keamanan Pakistan terus memburuk, Presiden Pervez Musharaf malah asyik melenggangkan kakinya berkunjung ke Eropa selama dua pekan, untuk menghadiri konfrensi ekonomi tingkat dunia di Davos. Di Eropa, Musharraf menjajakan agenda demokrasi dan perang melawan terorisme kepada sekutu-sekutunya.

Kunjungan Musharraf dinilai oleh para pengamat politik Pakistan sebagai aksi tebar pesona demi mencari dukungan politik elit Eropa untuk mempertahankan jabatannya yang kian melemah. Musharraf sendiri mengatakan, kunjungannya kali ini adalah untuk memperbaiki citra buruk Pakistan di mata dunia internasional.

Ketika tulisan ini dibuat, Musharraf masih berada di Davos membicarakan pemilu yang adil dan bersih serta meyakinkan banyak pihak bahwa ia sedang dalam misi memberantas kelompok ekstrem yang sedang menggangu terselenggaranya pemilu yang akan diadakan pada February ini. Di Eropa Musharraf boleh mengumbar janji, di dalam negeri janji itu benar-benar ia tunaikan dengan memberangus peradilan independen, membungkam kebebasan pers, dan memata-matai setiap Lembaga Swadaya Masyarakat.

Inilah gambaran sebuah negeri di mana politik kekerasan menjadi panglima dan demokrasi menjadi gincu penguasa.

* dimuat di Sabili edisi minggu ini, Edisi No 16 9 Februari 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s