Merindu Hilal

Merindu Hilal

 

Kebangkitan Islam atau Ash-Shahwah al-Islamiyah, merupakan idaman dan impian kaum Muslimin di seluruh dunia. Mengharap kebangkitan Islam bagai menanti hilal Syawal, yang merupakan simbol kemenangan dan kelahiran kembali kepada fithrah serta pembersihan dari dosa, setelah sebulan penuh berpuasa.

 

Ibarat menentukan tanggal satu Syawal, kebangkitan Islam juga merupakan perdebatan sengit yang selalu menjadi pembicaraan banyak kalangan. Bahkan, jika salah memaknai, acap kali cita-cita mulia ini berubah menjadi suatu momok menakutkan yang memecah belah umat.

 

Perbedaan sudut pandang dan penggunaan tekhnologi yang kurang memadai menjadi kendala dalam menetukan bulan. Begitupula karena kurangnya pengetahuan, pemahaman serta persiapan yang tidak matang dapat menghambat terciptanya  Ash-Shahwah al-Islamiyah. Lagi-lagi penyakit umat ini yang senang berpecah belah semakin menyulitkan terwujudnya hal tersebut. Padahal Allah SWT berfirman, yang artinya; “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

 

Selanjutnya Allah SWT berfirman, yang artinya: “dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (Ali Imran:103). Sama hal-nya dengan hari raya nan fitri, kaum Muslimin saling memaafkan dan melupakan kesalahan serta kekhilafan satu sama lain. Maka, sudah semestinyalah kaum Muslimin saling memahami dan ber-kerjasama bahu-membahu dengan mengenyampingkan ego pribadi maupun golongan, karena sesungguhnya umat ini bersaudara. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, yang artinya: “ Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al Hujuraat: 10)

 

Tapi, yang sangat disayangkan adalah banyak orang yang tidak siap dalam menyambut hari Iedul Fithri, yang merupakan peumpamaan kembali kepada fitrah yang murni, karena mereka tidak begitu memperhatikan dan peduli terhadap bulan Ramadhan dan amalan-amalan yang diutamakan di dalamnya. Bagai menginginkan kembali ke fitrah tapi tidak mau berusaha, ataupun mau tapi segan dan bermalas-malasan. Padahal bulan Ramadhan merupakan barometer kesuksesan seseorang untuk mendapatkan kemenangan yang hakiki di hari raya.

 

Pun demikian dengan kebangkitan Islam, tidaklah datang dengan sendirinya tanpa usaha, cucuran keringat dan airmata, bahkan harta dan jiwa kadang harus dikorbankan untuk menebus semua itu. Allah SWT berfirman, yang artinya: “ Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan (sebab-sebab kemunduran) yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d: 11)

 

Adapun sebagai modal utama untuk mewujudkan Ash-Shahwah al-Islamiyah adalah sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT, yang artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujaadilah:11). Maka, mustahil Allah SWT akan mengangkat derajat kaum Muslimin dan memandu mereka ke jalan menuju kebangkitan Islam tanpa Iman dan Ilmu.  

 

Memang, keimanan merupakan barang langka pada zaman sekarang, zaman dimana materi adalah segalanya, dan uangpun “dipertuhan”. Sangat berat menjaga dan memupuk iman. Tapi dia merupakan syarat yang utama dan pertama dalam segala hal, apalagi dalam menapaki jalan menuju kebangkitan Islam, dan demi tegaknya harga diri Islam dan kaum Muslimin.

 

Rasulullah SAW di dalam perjalanan hidup beliau telah mencontohkan, bagaimana beliau membawa para sahabatnya untuk memimpin dunia, kurang dari satu abad, sepertiga dunia telah menjadi wilayah teritorial Khilafah Islamiyah. Hal ini bukan sekedar isapan jempol atau omong kosong belaka, bahkan para pemikir baratpun mengetahui dan mengakuinya. Ada seorang penulis barat yang menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang paling cepat tersebar dibandingkan agama manapun di dunia. Hal ini membuktikan bahwa iman bukan hanya bekal seseorang untuk masuk surga, lebih dari itu, keimanan yang dalam dapat merubah wajah peradaban dunia.

 

Adapun faktor yang kedua adalah ilmu. Islam mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu harus dilandasi dengan ilmu dan pemahaman yang benar, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan akidah atau keimanan seseorang. Allah SWT berfiman, yang artinya: ” Ketahuilah bahwasanya tiada tuhan selain Allah”. Ayat ini menegaskan bahwa iman itu harus disertai dengan ilmu.

 

Iman dan ilmu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan di dalam Islam. Sebab Iman tanpa Ilmu adalah kesesatan, sedangkan ilmu tanpa iman merupakan kebinasaan. Maka hendaknya setiap kaum Muslimin menbekali dirinya dengan kedua hal yang utama ini, baru kemudian menempuh segala macam cara yang yang tidak menyalahi syari’at demi terwujudnya Ash-Shahwah al-Islamiyah. Baik itu dengan dakwah bil hikmah, dan mentarbiyah umat ini, sambil tak lupa merangkul berbagai golongan dan element dari umat Islam, baru kemudian menyatukan langkah demi terwujudnya kebangkitan Islam di era baru.

 

Alangkah indahnya jika umat ini tidak lagi berselisih dan berbeda pendapat dalam meniti jalan menuju kebangkitan Islam, agar “Hilal” yang dirindukan dapat memberi makna yang lebih berarti demi menuju kemenangan yang hakiki. Semoga…

 

[] Wallahu A’lam bish Shawab

 

Azmi Muhammad Haqqy mengucapkan:

Selamat Iedul Fitri 1 Syawal 1428 H,

Taqaballahu Minna wa Minkum.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s