Shalat ‘Ied di Masjid

 

Sholat ‘Ied di Masjid

oleh ; *Alhafiz Ibnul Qayyim Al-bugizie

MUQADDIMAH

            Segala puji dan syukur hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala semata, shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para Shahabatnya dan siapa saja yang berjalan diatas manhajnya. Kali ini perlu agaknya kami menyampaikan sebuah tulisan mengenai “kedudukan hukum” shalat ‘ied di Masjid yang sempat didiskusikan, sebelumnya diucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada guru kami Syeikh Fadhl Ilahie Zhahir atas ilmu yang telah kami terima dari beliau, serta kepada sahabat dan guru kami, Ustadz ‘Abbas Baco Miro, atas kajian Ilmu ‘Ilalul Hadits-nya di kantor redaksi Al-Wahdah setiap malam Ahad.

            Pembahasan pertama, kami mulai dari kritik terhadap Hadits yang isinya menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘ied di Masjid. Pembahasan kedua, penelitian terhadap pendapat Imam Asy-Syafi’ie dan Imam Ibnu Hazm rahimahumallah yang bersandar kepada riwayat yang menyatakan bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab dan ‘Usman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhuma pernah shalat ‘ied di Masjid serta kritik terhadap kehujjahannya. Pembahasan ketiga, mengenai dalil terhadap kewajiban untuk melaksanakan shalat ‘ied di “Lapangan”, kewajiban yang kami maksud dan bicarakan disini adalah “tempat” untuk shalat ‘ied-nya bukan shalat ‘ied-nya, sebab sama-sama telah kita ketahui bahwa shalat ’ied itu sendiri hukumnya sunnah muakkadah, akan tetapi perlu difahami bahwa sunnahnya shalat ’ied ini tidak dapat merubah ketentuan hukum berupa kewajiban pelaksanaan shalatnya itu di Lapangan, demikian pula sebaliknya.

            Tulisan ini akan kami akhiri dengan kesimpulan dan penutup, namun sebelum saudara-saudari teruskan untuk membaca tulisan ini, kami harap setiap kalimat difahami dengan penuh perhatian agar tidak terjadi kerancuan pemahaman terhadap apa yang kami maksud.  Demi  tidak memperpanjang kata, kami mulai saja dengan Bismillahir rahmanir rahim-

 

PEMBAHASAN PERTAMA

Kelemahan Hadits Tentang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Pernah Shalat ‘Ied Di Masjid Lantaran Hujan

 

1. Hadits:

 

عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال: أصاب الناس مطر في يوم عيد على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلّم  فصلى بهم في المسجد

 

            Artinya: Dari Abi Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: “Orang-orang pernah kehujanan pada hariraya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau shalat bersama mereka di Masjid”.

 

2. Maksud Hadits:

 

            Hadits ini ingin menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘ied di Masjid ketika hujan.

 

3. Takhrij Hadits:

 

            Hadits tersebut di atas diriwayatkan dalam kitab Hadits berikut ini;

Sunan Abi Dawud (I/ 686), Bab “Yushallie bin-nasi (al-‘ied) fiel masjidi idza kana yaum mathar”.

Sunan Ibnu Majah (I/ 416), Bab “Ma ja-a fie shalatil ‘iedi fiel masjidi idza kana mathar”.

Sunan Al-Kubra lil Baihaqie (III/ 31), Bab “Shalatul ‘ied fil masjidi idza kana ‘udzr min matharin aw ghairuhu”.

Al-Mustadrak Al-Hakim (I/ 295), Bab “Shalatul ‘iedain fie yaumi matharin”.

 

4. Sanad Hadits

 

Riwayat Abu Dawud melalui jalur: Hisyam bin ‘Ammar – Ar-Rabie’ bin Sulaiman – Abdullah bin Yusuf – Al-Walied bin Muslim – ‘Iesa bin ‘Abdul A’laa – Abu Yahya ‘Ubaidillah At-Taimiy – Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu – Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam

Riwayat Ibnu Majah melalui jalur: Al-‘Abbas bin ‘Usman Ad-Dimasyqie – Al-Walied bin Muslim – ‘Iesa bin ‘Abdul A’laa – Abu Yahya ‘Ubaidillah At-Taimiy – Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu – Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam

Riwayat Al-Baihaqie melalui jalur: Muhammad bin ‘Abdullah Al-Hafiezh – Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub – Ar-Rabie’ bin Sulaiman – Abdullah bin Yusuf – Al-Walied bin Muslim – ‘Iesa bin ‘Abdul A’laa – Abu Yahya ‘Ubaidillah At-Taimiy – Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu – Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam

Riwayat Al-Hakim melalui jalur: Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub – Ar-Rabie’ bin Sulaiman – Abdullah bin Yusuf – Al-Walied bin Muslim – ‘Iesa bin ‘Abdul A’laa – Abu Yahya ‘Ubaidillah At-Taimiy – Abu Hurairah radhiyallahu ta’ala ‘anhu – Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam

 

5. Kritik Sanad Hadits:

 

            Dalam setiap sanad Hadits tersebut diatas terdapat dua orang  perawie yang majhul (tidak diketahui hal ihwalnya, lihat: Taisir Mushthalah Hadits oleh: Dr. Mahmood Thahhan, hal. 98) yang pertama yaitu ‘Iesa bin Abdul A’laa yang nama lengkapnya adalah ‘Iesa bin Abdul A’laa bin ‘Abdullah bin Abi Farwah Al-Umawie. Imam Ibnul Qaththan berkata: “Laa a’rifuhu fie syae-in minal kutub wa laa fie ghairi hadzal hadits”, Imam Adz-Dzahabie berkata: “Laa yakadu yu’raf” dan berkata pula: “Haditsun mungkarun”  sedang Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalanie berkata: “Majhul” dan dalam kitabnya Bulughul Maram beliau mengomentari Hadits ini dengan: “Wa isnaduhu layyin”  (lihat: Mizanul I’tidal III/ 315 No. 6576, Tahziebut Tahzieb VIII/ 218 No. 403, Al-Kasyif II/ 368 No. 4448, Tahziebul Kamal XXII/ 625, Lisanul Mizan VII/ 331, Bulughul Maram, hal. 149).   

 

Perawie kedua yang majhul pula adalah guru dari ‘Iesa bin Abdul A’laa yaitu  Abu Yahya ‘Ubaidillah At-Taimiy, nama lengkapnya adalah Ubaidillah bin ‘Abdullah bin Mauhib Abu Yahya At-Taimiy Al-Madanie. Imam Ahmad berkata: “La yu’raf”, Imam As-Syafi’ie berkata: “La na’rifuhu”, Imam Ibnul Qaththan berkata: “Majhul hal” (lihat: Badzlul Majhud fi Halli Abi Dawud oleh: Syeikh Khalil Ahmad As-Sahanfurie VI/ 204, lihat pula komentar Syeikh Syu’aib Al-Arnauth dan Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam kitab Zadul Ma’ad min Hadyi Khairil ‘Ibaad oleh: Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah I/ 441).

 

6. Kedudukan Hadits:

 

            Setelah mengadakan penelitian berdasarkan beberapa perkataan ‘ulama Ahlul Jarh wat Ta’diel mengenai kedua perawie tersebut di atas maka dapat diputuskan bahwa sanad Hadits ini Dha’ief  (lemah). Oleh karena demikian maka Hadits ini tidak dapat menunjukkan bahwa Nabi pernah  shalat ‘ied di Masjid ketika hujan ataupun ‘udzur lainnya dan tidak pula dapat dijadikan “hujjah” untuk membenarkan adanya shalat ‘ied di Masjid.

 

 

PEMBAHASAN KEDUA

Pendapat Imam As-Syafi’ie dan Imam Ibnu Hazm Mengenai Adanya Shahabat Yang Pernah Shalat ‘Ied Di Masjid

 

A. PENDAPAT IMAM SYAFI’IE rahimahullah

 

Dalam Kitab Al-Umm, Imam Syafi’ie rahimahullah mendasari pendapatnya dengan perbuatan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang pernah shalat ‘ied di Masjid ketika hujan, sebagaimana Atsar di bawah ini;

 

1. Dasar pertama:

 

ان أبان بن عثمان صلى بالناس في مسجد النبي  صلى الله عليه وسلم  يوم الفطر في يوم مطير ثم قال لعبد الله بن عامر حدثهم فأخذ  يحكي عن عمر بن الخطاب فقال عبد الله:  صلّى عمر بن الخطاب بالناس في المسجد في يوم مطير في يوم الفطر  

 

            Artinya: Sesungguhnya Aban bin ‘Utsman shalat bersama orang-orang di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hariraya ‘iedul fithrie ketika hujan, kemudian ia menceritakannya kepada ‘Abdullah bin ‘Amir, lalu ‘Abdullah bin ‘Amir menceritakan perihal Umar bin Al-Khaththab, beliau berkata: Umar bin Al-Khaththab pernah shalat bersama orang-orang di Masjid ketika hujan pada hariraya ‘iedul fithrie.

 

2. Dasar kedua:

 

ان عمر بن الخطاب صلى بالناس في يوم مطير في المسجد،  مسجد النبي  صلى الله عليه وسلم

 

            Artinya: Sesungguhnya ‘Umar bin Al-Khaththab pernah shalat bersama orang-orang ketika hujan di Masjid (yaitu di) Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

3. Sanad Atsar:

 

            Sanad Atsar ini dapat dilihat langsung dalam Kitab Al-Umm I/ 234, sebagaimana di bawah ini;

Atsar pertama diriwayatkan melalui jalur: Ar-Rabie’ – As-Syafi’ie – Ibrahim bin Muhammad Al-Fazarie – Ja’far bin Muhammad – ‘An Rajulin (dari seseorang) langsung bercerita bahwa Aban bin ‘Utsman pernah … dst.

Atsar kedua diriwayatkan melalui jalur: Ar-Rabie’ – As-Syafi’ie – Ibrahim bin Muhammad Al-Fazarie – Shalih bin Muhammad bin Zaidah langsung bercerita bahwa Umar bin Al-Khaththab pernah … dst.

 

4. Kritik Sanad:

 

Kritik untuk sanad yang pertama: di dalam sanadnya terdapat seorang rawie yang “namanya tidak jelas”. Ja’far bin Muhammad mendapat cerita ini “dari”  seseorang, siapa?? Oleh karena orangnya tidak jelas maka kita tidak dapat mengetahui kredebilatas dan intelektualitas rawie tersebut, tsiqah kah? pembohong kah? penipu kah? Nah, untuk kasus semacam ini biasa dalam ilmu Hadits disebut Mubham. Riwayat yang Mubham tidak dapat diterima hingga ada jalur atau perawie lain yang menerangkan siapa dan bagaimana sih keadaan “seseorang” itu. (Tadriebur Rawie fie Syarh At-Taqrieb An-Nawawie oleh Imam Abu Bakar As-Suyuthie, hal. 596, Syarah Nukhbatul Fikar fie Mushthalahi Ahlil Atsar oleh: Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalanie, hal. 98)

 

Kritik untuk sanad yang kedua: di dalam sanadnya terdapat seorang perawie bernama Shalih bin Muhammad bin Zaidah yang nama lengkapnya Shalih bin Muhammad bin Zaidah Al-Madanie Abu Waqid Al-Laitsie. Para Aimmatul Muhadditsin me-“naqd” (kritik) orang ini. Imam Ad-Daraquthnie berkata: “Dha’ief”, Imam Yahya bin Ma’ien berkata: “Dha’ieful Hadits”, Imam Abu Dawud berkata: “Lam yakun bil qawiyy fil Hadits”, Imam An-Nasa-ie berkata: “Laisa bil qawiyy”, Imam Al-Bukharie berkata: “Munkarul Hadits”. (lihat: Tahziebul Kamal XIII/ 84, Al-Mughnie fidh Dhu’afaa I/ 304, Adh-Dhu’afaa wal Matrukien II/ 50).

 

B. PENDAPAT IMAM IBNU HAZM rahimahullah

 

Adapun dalam Kitab Al-Muhalla, Imam Ibnu Hazm rahimahullah berpendapat hampir sama dengan Imam As-Syafi’ie mengenai riwayat ‘Umar bin Al-Khaththab bahkan Utsman bin ‘Affan pernah shalat ‘ied di Mesjid lantaran hujan;

 

1. Beliau berkata:

 

و قد روينا عن عمر، وعثمان رضي الله عنهما: أنّهما صليا العيد في المسجد لمطر وقع يوم العيد

 

            Artinya: Dan sungguh kami telah (terima) riwayat tentang ‘Umar (bin Al-Khaththab) dan ‘Utsman (bin ’Affan) radhiyallahu ‘anhuma: bahwa keduanya pernah shalat ‘ied di Masjid karena hujan yang turun pada hariraya itu.

 

2. Sanad Atsar:

 

Sanad dari Atsar yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hazm tersebut tidak kami dapati dalam kitabnya tersebut (lihat: Al-Muhalla V/ 87).

 

3. Kritik Sanad:

 

Untuk Atsar yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hazm tersebut juga terdapat kelemahan karena beliau hanya langsung menyampaikan dengan kalimat “Wa qad rawainaa” (Dan sungguh kami telah (terima) riwayat) tanpa menyebutkan dari mana beliau terima atau ambil Atsar tersebut.

 

Bagi saudara-saudari yang berkecimpung di Jurusan Hadits, hal semacam ini tidaklah terlalu rumit untuk difahami. Oleh karena demikian Atsar yang seperti ini tidak perlu dianggap Tsabit, sebab tsabit tidaknya sebuah khabaran karena adanya sanad, itupun sesudah diadakan penelitian tentang shah tidaknya sanad itu.

 

4. Kedudukan Atsar:

 

Sebagaimana yang telah kami kemukakan dalam kritik sanad di pembahasan kedua ini, tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada Imam Asy-Syafi’ie dan Imam Ibnu Hazm rahimahumallah, maka dapat diputuskan bahwa semua Atsar tersebut lemah dan tidak dapat dijadikan alasan untuk menetapkan bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab dan ‘Usman bin ‘Affan pernah shalat ‘ied di Masjid.

 

PEMBAHASAN KETIGA

Kewajiban Mendirikan Shalat ‘Ied di Lapangan

 

1. Hadits:

 

عن أبي عمير بن أنس، عن عمومة له من الصحابة، أنّ ركبا جاءوا، فشهدوا أنّهم رأوُا الهلال بالأمس، فأمرهم النيّ صلى الله عليه و سلّم أن يفطروا وإذا أصبحوا أن يغدوا إلى مصلاهم  (رواه أحمد وأبو داود، وهذا لفظه، وإسناده صحيح)

 

            Artinya: Dari Abi ‘Umair bin Anas, dari bibinya (yang merupakan salah seorang Shahabiah), bahwa sebagian kafilah telah datang, lalu merekapun memberi kesaksian bahwa tadi malam melihat hilal, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka (para sahabat) untuk berbuka dan ketika pagi hendaklah mereka pergi ke Mushalla (tanah lapang). (H.R. Ahmad dan Abu Dawud, lafazh hadits ini  riwayat Abu Dawud serta Sanadnya Shahih), lihat: ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud oleh: Al-‘Allamah Syamsul Haq Al-‘Azhiem Abadie IV/ 17, Subulus Salam Syarh Bulugh Al-Maram min Jam’ie Adillatil Ahkam oleh: Imam As-Shan’anie I/ 490.

 

2. Penjelasan:

 

            Sebelum kita memasuki pembahasan selanjutnya ada baiknya kita fahami dulu ma’na  “mushalla” itu sendiri, secara bahasa biasa difahami sebagai tempat shalat, namun secara terminology, ’Umar bin Abi Syaibah berkata: “Mushalla dengan men-dhammah-kan “mim” adalah sebuah tempat yang luas berada di luar pintu masuk kota Madinah (sebelah timur), kira-kira jaraknya seribu hasta dari pintu Masjid Nabi. (lihat: Umdatul Qari’ oleh: ‘Al-Allamah Al-‘Ainie V/ 279, ‘Aunul Barie li Halli Adillati Shahihil Bukharie oleh: Al-‘Allamah Sayyid Shiddieq Hasan Khan II/ 364, tambahan kata (sebelah timur), lihat: Zadul Ma’ad fie Hadyi Khairil ‘Ibaad oleh: Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah I/ 441), dari sini difahami bahwa Mushalla yang dimaksud adalah tanah lapang sebagaimana yang kita kenal di negeri kita dengan istilah Lapangan.

 

             Harap direnungkan baik-baik! Dalam Hadits tersebut diatas terdapat dua perintah sekaligus; Perintah pertama hendaknya berbuka. Perintah kedua hendaknya melaksanakan shalat ‘ied di Mushalla (Lapangan).

 

Kedua perintah tersebut kita fahami perintah wajib untuk dilaksanakan menurut zhahir nashnya, sebab dalam ilmu Ushul Fiqh terdapat qaidah “Innal amra yadullu ‘alaa wujubil ma’muri bihi wa laa yashrif ‘anil wujubi ilaa ghairihi illa bi qarinatin minal qaraa-ini tadullu ‘ala dzalik”, artinya: Sesungguhnya setiap perintah itu menunjukkan atas wajibnya (melaksanakan) apa saja yang diperintahkan dan tidak dapat berubah (hukum) wajib itu kepada (hukum) lainnya kecuali (terdapat) satu qarinah dari qarinah-qarinah (yang ada) yang menunjukkan terhadap (perubahan) itu. (lihat: Ushulul Fiqh Al-Islamie oleh: Dr. Wahbah Az-Zuhailie, I/ 219, Al-Wajiez fie Ushulil Fiqh oleh: Dr. Abdul Kariem Zaidan, hal. 295, Ushul Fiqh oleh: Dr. Hosein Hameed Hassan, hal. 451).

 

Sekarang, Nabi perintahkan kepada para Shahabat untuk berbuka, maka pada masa itu para Shahabat semua  “wajib” berbuka puasa, perintah untuk berbuka puasa itu tidak bisa difahami “sunnah”, karena setiap perintah pada asalnya wajib, boleh berubah hukumnya kalau ada qarinah atau dalil yang merubah hukumnya dari wajib menjadi sunnah. Sebuah pertanyaan akan muncul, adakah qarinah atau dalil lain yang dapat merubah kewajiban untuk berbuka tersebut? Artinya adakah dalil yang membenarkan kita  ‘tetap berpuasa’ pada hari itu?! Jawabnya: “Tidak ada”. Oleh karena demikian selama tidak ditemukan dalil yang merubah hukumnya maka kewajiban itu “tetap” mesti dilaksanakan menurut hukum asalnya.

           

Begitupula dengan perintah Nabi untuk melaksanakan shalat ‘ied di Lapangan. Adapun cara memahami kedua perintah tersebut itu begini; perintah pertama, fa amarahumun nabiyy an yufthiruu artinya maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada mereka (para sahabat) untuk berbuka, maka perintah untuk berbuka disini adalah perintah “wajib” sebagaimana yang telah kami terangkan dimuka; perintah kedua, wa idza ashbahuu an yaghduu ilaa mushallahum artinya “dan” ketika pagi hendaklah mereka pergi ke Mushalla, kalimat ini juga masih termasuk kedalam perintah tersebut karena adanya “waw ‘athaf”  yang taqdirnya “wa amarahumun Nabiy idza ashbahuu an yaghduu ilaa mushallahum”, berarti perintah pertama dengan perintah yang kedua kedudukannya sama, berma’na perintah wajib, artinya shalat ‘ied  itu pada ashalnya “wajib” didirikan di Lapangan bukan “sunnah” dilaksanakan di Lapangan, jadi harap saudara-saudari fahami kembali “perbedaan” hukum wajib dengan hukum sunnah. Ketentuan hukum seperti ini tetap berlaku selama tidak ada dalil yang tegas merubahnya.

           

Timbul lagi sebuah pertanyaan, adakah qarinah atau dalil yang tegas yang dapat merubah kewajiban mendirikan shalat ‘ied di Lapangan ini kepada hukum lain? Jawabnya: “Belum ada, karena sebagaimana yang telah kita ketahui pada pembahasan pertama dan kedua semua riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi atau Shahabat-shahabatnya pernah shalat ’ied di Masjid adalah lemah oleh karena demikian kitapun mesti kembali kepada hukum asal, yaitu untuk pelaksanaan shalat ‘ied wajib di Lapangan”, terus bagaimana kedudukan shalat orang yang shalat ‘ied di Masjid? Jawabnya: “shalat ‘ied-nya shah kalau memenuhi rukun dan syaratnya tapi berdosa karena meninggalkan kewajiban yaitu shalat ‘ied di Lapangan”.

 

KESIMPULAN DAN PENUTUP

 

            Dari seluruh pembahasan kita dari mulai pembahasan pertama, kedua dan ketiga, maka sampailah kita pada sebuah kesimpulan, bahwa;

 

Riwayat yang menerangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘ied di Masjid adalah lemah.

Riwayat yang menerangkan bahwa ‘Umar dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhuma pernah shalat ‘ied di Masjid juga lemah

Mendirikan shalat ‘ied di Lapangan hukumnya wajib. 

 

            Mudah-mudahan seluruh amalan ‘ibadah kita diterima disisi Allah subhanahu wa ta’ala, kami mengakhiri tulisan ini dengan memohon keampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala atas segala kekurangan dan kekeliruan kami.

           

Bila diantara saudara-saudari ada yang memiliki argument berdasarkan dalil yang sharih dan shahih, maka kami bersedia untuk ruju’ kepada kebenaran itu.  Wallahu A’lamu bish Shawab.

 

——————————————

 

* Alumnus Da’wah Academy, International Islamic University Islamabad, Pakistan.  S1 Jami’ah Salafiyah Faisalaabad.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s