Gerakan Tabligh dan Realitas Dakwah

Gerakan Tabligh dan realitas dakwah

Oleh. Thalib Bonto

 

            Membahas gerakan dakwah di anak benua India, hampir tidak pernah ada habisnya. Anak benua ini begitu kaya dengan pergerakan, mulai dari gerakan sempalan yang paling aneh hingga yang mengikut akidah ahlussunnah wal jamaah. Salah satu pergerakan yang cukup di perhitungkan keberadaannya di dunia Islam adalah Jamaah Tabligh ( JT ) yang memiliki pengikut cukup banyak di berbagai belahan dunia. Keberadaannya telah memberikan warna baru dalam dakwah dan pengaruh yang cukup luas di tengah-tengah masyarakat.   

 

Sejarah lahirnya Gerakan Tabligh

            Masuknya Inggris ke benua India tidak hanya bertujuan untuk menjajah negeri ini, namun lebih dari pada itu berbagai misi ikut serta bersama yang telah mereka persiapkan untuk jajahan mereka.  Salah satu misi tersebut penyebaran kristenisasi untuk orang-orang India serta menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.     

Disisi lain kondisi ummat Islam yang jauh dari ajaran Islam serta semangat juang yang lemah mengakibatkan kosongnya masjid di hampir semua tempat. Ummat Islam sudah tidak akrab lagi dengan syiar-syiar keIslaman, kebanggaan beragama telah hilang dari hati mereka, kebaikan telah tercemari dengan keburukan, ajaran ajaran Islam telah tercampur aduk dengan bid’ah, ummat Islam dalam keterpurukan dengan dekadensi moral, hingga hampir-hampir mereka sudah tidak mengenal agamanya. Ummat Islam sedang kelaparan ruhiyah, hati mereka kering kerontang  dari siraman hidayah.

Kondisi yang demikian telah melahirkan sosok seperti syeikh Muhammad Ilyas yang risau akan keberadaan ummat yang makin hari makin tidak menentu arah mereka melangkah. Kemana ia berjalan melihat saudaranya seiman dalam kondisi seperti itu membuat sedih, pikiran tentang keadaan ummat Islam selalu terlintas di benaknya. Di suatu musim haji syeikh ilyas berangkat  ke Saudi untuk menunaikan ibadah haji, selama beliau berada di Saudi. Hati dan pikirannya masih saja risau dan sedih. Di Saudi ia gunakan kesempatan tersebut untuk bertemu dengan beberapa tokoh ummat Islam dan membicarakan kerisauannya kepada mereka, berbagai masukan dari para jamaah dan tokoh-tokoh yang ia temui untuk memulai perbaikan masyarakat. Ketika ia sampai di kota Madinah Al-Munawwarah ia tidur di masjid Nabawi selama tiga hari. Ia gunakan waktunya untuk selalu memohon kepada Allah agar di berikan jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan ummat Islam.

            Sekembali dari tanah suci mulailah ia merenungkan jalan apa yang paling baik untuk mengajak ummat ini kembali ke agamanya. Munculnya gagasan untuk keluar di jalan Allah setelah merenungi makna ayat dalam surah Ali Imran ayat 104 dan 110, yang artinya :

 

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran, merekalah orang orang yang beruntung”

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli klitab beriman, tentulah itu lebih baik dari mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan merek aadalah orang-orang fasik.” 

 

            Sampai akhirnya ia melihat bahwa dakwah ini tidak akan dapat memberikan perubahan yang cukup cepat dan signifikan tanpa ada segolongan ummat yang siap untuk berjuang secara ikhlas dan berkorban dengan apa yang mereka miliki untuk keluar berdakwah dalam rangka mengajak ummat Islam kembali mengenal agamanya.

Berawal dari pemikiran inilah akhirnya mulai dari Saharnapur, syeikh Muhammad Ilyas mengumpulkan beberapa orang dari daerah ini untuk keluar keliling dari satu masjid ke masjid yang lain dan dari satu kampung ke kampung lain mengajak masyarakat setempat masuk masjid kemudian mengajarakan masyarakat untuk mengenal Islam sedikit demi sedikit.

  

 

Pendiri

            Gerakan ini merupakan hasil ijtihad salah seorang ulama di benua India yang bernama Syeikh Muhammad Ilyas al Kandahlawi (1885-1944) yang di lahirkan di desa Kandahlah sebuah desa di Saharnapur, India. Ia lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat kental dengan agama dan keilmuan. Ayahnya seorang sufi yang zahid, hidupnya dipenuhi kesibukan dengan mengajar Al Quran di desanya. Beliau telah menghafal seluruh al-Quran sejak masih kecil. Setelah menyelesaikan hafalan al-Quran di desanya, ia memulai mengaji kitab kepada kakak kandungnya sendiri bernama Syeikh Muhammad Yahya. Lalu ia melanjutkan pendidikannya ke kota Saharnapur. Dari sana kemudian ia pindah dari satu madrasah kemadrasah yang lain hingga akhirnya beliau masuk ke madrasah Deoband, sebuah madrasah terbesar bagi para pengikut madzhab Hanafi di anak benua India.

Di madrasah Deoband ia bertalaqqi hadits Jami’ Shahih Tirmidzi dan Shahih Bukhari, dengan seorang syeikh yang benama Mahmud Hasan. Setelah menyelesaikan talaqqi dengan syeikhnya ia kembali kekampung halamannya dan mendalami kutubussittah di bawah bimbingan kakaknya Syeikh Muhammad Yahya.  

 

Gagasan jamaah

            Mereka memiliki gagasan yang sangat sederhana, namun sangat penting bagi kehidupan ummat Islam, yaitu memindahkan kehidupan agama ke dalam masjid untuk beberapa hari dan kemudian membawa kehidupan tersebut keluar dalam kehidupan nyata. Pencetus gerakan ini, beranggapan bahwa agama ini tidak berhenti pada kehidupan dan keshalehan individu atau pada wacana saja, namun lebih dari itu agama ini lebih menekankan pada penyadaran manusia untuk mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam menjalani dakwah ini Syeikh Muhammad Ilyas menggariskan enam prinsip yang menjadi prioritas dalam berdakwah dan mesti diamalkan bagi Jamaah yang sedang keluar (Khuruj). Enam prinsip tersebut ;

1.   Kalimat thayyibah, Menurut Maulana Ilyas yang dimaksud dengan kalimat thayyibah disini adalah Laailaahaillallah Muhammad Rasulullah. Kalimat ini selalu diucapkan namun tidak berhenti pada pengucapannya saja, tapi lebih dari itu memahami apa arti kalimat yang di ucapkan serta memahami maksud yang terkandung di dalamnnya. Di dalam pengucapannya orang akan mendapat pahala dan terhindarkan dari menyekutukan Allah. Dalam penyampaian dakwah syeikh kurang sekali menyentuh permasalahan syirik tapi lebih menekankan pemahaman syahadatain dan keutamaan berdakwah kepada masyarakat. Namun dilain pihak ia juga tidak melayani permintaan dari beberapa orang untuk di berikan azimat oleh Syeikh.   

2.   Menegakkan shalat, menegakkan shalat adalah hal yang sangat fundamental dalam kehidupan seseorang, kata syeikh keutamaan shalat terlalu banyak jika hendak di sebutkan satu persatu. Kemudian lanjutnya, saking pentingnya shalat ini maka ia menjadi prioritas kedua setelah syahadat. Tidak heran syeikh Muhammad Ilyas begitu menekankan masalah shalat karena berkaitan erat dengan kondisi di zaman itu dimana ummat Islam telah lupa dengan keIslaman mereka apalag kewajiban yang harus mereka kerjakan.     

3.   Ilmu dan dzikir, yang di maksud dengan dengan ilmu ialah ilmu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam atau apa saja yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Maka untuk memahami kewajiban yang di perintahkan oleh Allah salah satunya mengkaji kitab Tabligh Nisab karya Muhammad Zakariya al-Kandahlawi yang menulis tentang beberapa keutamamaan dakwah, shalat, haji, zakat, membaca al Quran, shalawat dan kisah-kisah para sahabat Rasul. Adapun yang di maksudkan dengan dzikir, kapan dan dimana saja kita harus tetap mengingat Allah. Bahkan bagi Syeikh Ilyas melakukan sesuatu dalam rangka mencari keridahaan Allah termasuk dzikir.

4.   Ikramul muslimin (memuliakan kaum muslimin), menghargai orang-orang Islam adalah salah satu hal penting yang di tekakankan oleh Syeikh Ilyas, karena dengan memuliakan orang maka kesulitan yang  kita temui dengan cepat akan mendapat jalan keluar.

5.   Ikhlas, amalan atau perbuatan kita hendaknya senantiasa dibangun diatas pondasi keikhlasan karena tanpa itu akan mengakibatkan hilangnya pahala amalan kita. Semua amalan kita hanya di peruntukkan untuk menggapai ridha Allah semata, karena jika beramal diiringi dengan keinginan duniawi maka tidak ada bedanya dengan orang-orang munafik. 

6.   Khuruj fisabilillah, mengerahkan daya upaya untuk mengajak orang pada kebaikan. Di perlukan semangat berkorban untuk mengusung dakwah ini. Bagi jamaah bahwa tujuan Nabi SALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM diutus ke dunia untuk mengajak manusia pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, para sahabat sangat menyadari akan hal ini, maka tidak heran menurut salah seorang ulama Tabligh dalam ceramahnya bahwa puluhan ribu shahabat nabi yang hidup dan berjuang bersama beliau ternyata meninggal jauh dari kota Madinah karena mereka telah keluar untuk berdakwah kepada manusia. Karena itu kita sebagai ummat Islam sangat dianjurkan untuk keluar berdakwah dan menjadi tanggung jawab kita untuk mengajak manusia agar keluar berdakwah di jalan Allah. 

            Ke enam prinsip ini senantiasa mereka ulangi dalam majlis-majlis yang mereka lakukan ketika sedang keluar khuruj. Namun dari beberepa syeikh di Rewind megatakan bahwa ke enam prinsip yang ada dalam jamaah bukanlah prinsip final, “kami sadar bahwa ajaran Islam begitu luas. Namun kita dalam berdakwah bagaikan sedang belajar pada tingkat tertentu yang memiliki kurikulum di setiap tingkatan. Untuk kondisi seperti yang kita lihat sekarang, enam prinsip tadi menjadi prioritas dakwah kami. Namun kami tidak berhenti sampai disini.”

Besar kemungkinan Maulana Ilyas memulai gerakan dakwah ini dengan menetapkan enam hal sebagai prinsip karena melihat kondisi zamannya. Dimana ke enam prinsip tadi sangat lemah ditengah-tengah masyarakat, hingga beliau menjadikannya sebagai prioritas.    

 

Washilah da’wah JT

1.       Nasehat.

2.      Khuruj  

 

Jamaah Tabligh dan politik

            Para ulama yang ikut bergabung dengan jamaah tabligh memberikan argument kenapa mereka tidak terjun ke gelanggang politik secara langsung. Sebab terjun ke gelanggang politik secara langsung akan membuka peluang kepada ummat Islam untuk berpecah belah lebih jauh. Karena sesungguhnya dalam berpolitik berbagai kepentingan nafsu manusia ikut serta hingga tidak kondusif dalam menjalankan dakwah. Sementara sasaran dakwah tabligh ingin menyatukan ummat agar bersama-sama berada dalam satu atmosfir untuk mengajak manusia kepada kebaikan. Jika tidak perbedaan dalam memandang sesuatu akan menyebabkan berbedanya pandangan dalam dakwah. “Bagi ka mi,” kata Muhammad Muslihuddin, salah seorang tokoh tabligh di Indonesia dalam wawancaranya dengan Suara Hidayatullah, “kami tetap berpolitik, tapi politik kita cara Nabi. Bukan politik yang anda lihat sekarang ini. Politik nabi adalah bagaimana menyelamatkan seluruh ummat manusia darai neraka jahannam. Bahagia dan selamat di dunia akhirat. Bukan politik yang mementingkan pribadi ataupun golongan.”    

Bahkan sering kali dari beberapa anggota tabligh mengatakan, perpolitikan nasional akan menjadi baik jika para politikus bergabung dengan jamaah, karena dengan ikut sertanya mereka akan menyadarkan diri mereka sebagai hamba dan mendapat pencerahan hati. Kalau mereka semua sudah bergabung bersama jamaah ini maka secara otomatis kehidupan mereka juga akan berubah.

Wallohu a’lam bis showab.

 

 

 

 


48 thoughts on “Gerakan Tabligh dan Realitas Dakwah

  1. Assalamu ‘alaikum wr. wb.

    Usaha da’wah dan tabligh ini memberikan pendekatan yang sangat unik bagi kaum muslimin, tetapi sebenarnya bukan hal yang baru jika kita kaum muslimin selalu membaca kisah-kisah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA.

    Saat ini kita sangat berkurangan memberikan perhatian pada inter-komunikasi dan juga inter-koneksi di antara kaum muslimin di mana-mana tempat, sehingga kita sekarang menjadi kurang menjaga kebersamaan dalam ibadah, muamalat, da’wah dan juga membangun kebaikan untuk ummat ini.

    Terimakasih,
    Haitan Rachman
    http://usahadawah.wordpress.com

  2. GERAKAN TABLIGH ADALAH SATU-SATUNYA GERAKAN YANG AKAN MENJAUHKAN UMAT DARI PERPECAHAN, JIKA UMAT MENGINGINKAN KESATUAN UMAT DALAM SEGALA SENDI KEHIDUPAN DAN MENGINGINKAN DIRI DAN KELUARGANYA SELAMAT DUNIA DAN AKHIRAT MAKA PERBAIKI KEIMANAN DENGAN MENDAKWAHKAN AGAMA DENGAN MENGGUNAKAN HARTA, DIRI DAN WAKTU. SELAMAT BERJUANG KEPADA SELURUH UMAT ISLAM YANG SEDANG BERDAKWAH, TINGKATKAN KETAWAJUHAN DAN YAKINKAN ALLAH AKAN BERSAMA KITA SELAMA KITA MAU MEMBANTU AGAMA ALLAH.

  3. SAYA SARANKAN KEPADA SELURUH UMAT ISLAM…JANGAN KITA BERPIKIRAN SEMPIT DAN DENGAN BANGGA MENGUSIR-USIR SAUDARA KITA YANG SEDANG BERGERAK MENDAKWAHKAN AGAMA ALLAH, JANGAN KITA MERASA SUDAH SANGAT BERILMU SEHINGGA MENGANGGAP SESAT GERAKAN DAKWAH.

    KITA HARUS BERCERMIN…JUSTRU
    KITA BELUM SANGGUP SEPERTI MEREKA
    TETAPI SEBAIKNYA KITA BANTU SESUAI KEMAMPUAN KITA.

    GERAKAN DAKWAH ADALAH GERAKAN MURNI UNTUK UMAT TANPA MEMERLUKAN BANTUAN SEDIKITPUN DARI MAKHLUK…JUSTRU MAKHLUK YANG TIDAK MEMBANTU AGAMA ALLAH-LAH YANG AKAN MERUGI

  4. assalamu’alaikum wr wb

    tolong disampaikan kepada saudara-saudara di JT untuk tidak terlalu banyak berdebat dengan ikhwa salafy di indonesia karena mereka itu klo salah akan mutar-mutar, itu karena ustadz mereka belum menyampaikan sehingga mutar-mutar sambil nunggu jawaban dari ustadznya.

    tolong juga ditanyakan, apakah orang-orang yang mempertanyakan keabsahan Fadhilah ‘Amal dari Maulana Zakariyah rah. telah Hafidz dan hafal berapa Hadits dengan sanad, shahih…..
    karena nggak mungkin seorang yang tidak Hafidz mengajari seorang yang Hafidz al-Qur’an dan Hadits.

    tolong di sampaikan juga dimana pernyataan Maulana Ilyas bahwa “saya adalah pendiri Jamaah Tabligh” ???? karena banyak disebutkan bahwa Maulana Ilyas sebagai pendiri Jamaah Tabligh padahal Maulana Ilyas tidak berkeinginan memberikan nama.

    terkait dengan khuruj. khuruj artinya keluar. sebelum terbentuk “Gerakan Iman” Maulana Ilyas telah banyak melakukan khuruj ke Mewat dan beberapa daerah di sekitar Nizamuddin. bagaimana mungkin khuruj terkait dengan mimpi Maulana Ilyas ???!!!!

    Wassalamu’alaikum Wr Wb

    Aqil

  5. KHURUJ FI SABILILLAH SANGAT PENTING UNTUK DILAKSANAKAN, KARENA AJARAN SUNNAH NABI MUHAMMAD SAW DIAMALKAN 100%. OLEH KARENA ITU, MARI KITA MELAKSANAKAN KHURUJ FI SABILILLAH, ALLOHU AKBAR!!!

  6. Bersabarlah dari tiap celaan yang datang dari saudara sesama muslim. Karena mereka adalah orang yang berhati-hati dengan agamanya. Kepahaman atas usaha mulia Tabligh ini akan ada prosesnya. Yakinlah, Alloh akan memeberikan nushrahNya bagi hambanya yang ikhlas istiqomah di jalan dakwah. Janji Alloh pasti BENAR.

  7. llah Subhana Wata’ala mengingatkan Nabinya dg peringatan yg keras, tak ada peringatan yg sekeras ini dalam firman-Nya: “Dan jika Kami tidak menetapkan hatimu , hampir-hampir saja engkau condong sedikit kepada mereka. Jika itu terjadi ,pasti Kami rasakan kepadamu siksaan berlipat ganda di dunia dan begitu pula siksaan berlipat ganda setelah mati dan kamu tidak akan mendapatkan seorang penolongpun terhadap Kami. ” (Al-Isro’74-75)
    Peringatan Robbani diatas seharusnya juga dipahami sebagai peringatan untuk para da’i yg berjuang menegakkan Deenullah . Mereka harus benar-benar konsisten di jalan dakwah dan tidak tergiur oleh rayuan manusia dan bisikan syaitan untuk merobah arah, pemahaman dan metodologi dakwah mereka.
    Peringatan Nabi kepada para sahabatnya disampaikan oleh Abu Sa’id al-Khudri yg menceritakan : “Ketika kami duduk di sekitar mimbar Rasul, beliau bersabda , sesungguhnya yg paling kutakuti menimpa kalian ,adalah jika dunia terbuka lebar didepan kalian , kesenangannya terhampar dihadapan kalian “. (muttafaq alaih)
    Jadi cobaan yg dikhawatirkan bukan cobaan yg datang dari luar ,tetapi cobaan dari dalam diri sendiri ,menganggap diri sudah besar, sudah berpengaruh ,dapat simpati besar, duniapun terbentang dihadapan .
    Inilah awal ketergelinciran ,so siapakah yg mau merenung, Fahal min mudzakir ?
    Jika yg berjuang itu Nabi Allah, yg menetapkan hatinya Allah dan wahyu turun mengingatkannya, bila terjadi pembelokan dalam gerak dakwah.
    Tapi bila yg berjuang itu manusia biasa , wahyu apakah yg turun mengingatkannya?
    Yang mengingatkan hanyalah manusia yg masih ingin memelihara orisinalitas dakwahnya.

  8. Mereka begitu mencintai metode dakwah mereka yang mereka nama khuruj ini, bahkan seolah-olah khuruj ini termasuk dalam bagian tak terpisahkan dari syariat islam yang murni dan suci ini. Mereka telah mengotori manhaj dakwah nabi dengan memasukkan apa-apa yang bukan dari-nya. Mereka begitu mengagung-agungkan metode ini, sampai-sampai jika ada diantara jama’ah yang disuruh memilih antara khuruj dan haji, maka mereka lebih memilih dan menyatakan keutamaan khuruj, sembari menyatakan, jika kita berhaji maka pahalanya dan kebaikannya adalah untuk kita sendiri, namun jika kita melaksanakan khuruj maka pahala dan kebaikannya selain untuk kita, juga untuk manusia lainnya. Bahkan mereka lebih memuliakan khuruj dibandingkan jihad fi sabilillah, sebab menurut mereka khuruj itulah jihad fi sabilillah.

  9. Hendaklah kita bertaqwa kepada Allah, wahai saudaraku. Jangan mengkhianati Allah, Rasulullah, Al-Qur’an dan kaum muslimin. Jangan kita menipu orang awam. Jangan mengukur urusan apapun semata-mata hanya dengan perasaan kita, sebab dienullah sangat terang benderang, malamnya sebagaimana siangnya, tidak akan ada yang menyimpang darinya sepeninggal beliau shalallalahu ‘alaihi wa sallam melainkan orang yang pasti binasa.
    Allah telah menyempurnakan dien-Nya, termasuk dalam hal ini ialah jalan dakwah. Ini merupakan perkara tauqifi, harus atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salafush shalih. Sedangkan apa yang tidak sesuai dengannya, maka ia adalah bid’ah dan kesesatan, sekalipun namanya dipoles dengan apa saja dan biarpun memamerkan berjuta dalih.

  10. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Jalan atau cara berdakwah sangatlah banyak sesuai keadaan dan kemampuan si pendakwah. Yang perlu diketahui dan disadari adalah cara berdakwah haruslah sesuai dengan al-qur’an dan as-sunnah. setahu saya JT telah jauh keluar dari al-qur’an dan as-sunnah dalam tata cara beribadahnya termasuk cara berdakwahnya. bahkan mereka terkadang sampai melupakan keluarganya. bahkan seseorang pernah datang kepada saya menukarkan sesuatu barang (yg tidak ada harganya) dengan uang karena ingin keluar daerah untuk berdakwah..subhanallah. bukankah dia lebih baik bekerja dengan rajin dan juga berdakwah ditempat kerjanya…? sungguh aneh pikiran mereka….perlu dipertanyakan pada mereka…kenapa tujuan utama mereka adalah india pakistan dan bangladesh…aneh dan sungguh aneh….wallahua’lam..

    1. Salafy malu punya anggota seperti Cak Gozali, tanpa ilmu tapi banyak mencela.
      Untuk mengetahui kebenaran bukanlah hanya dengan copas sana sini.
      Celaaan anda ini mirip celaan kaum musyrikin Makah pada para shohabat rhum yang lemah dan miskin2.

    2. Dear All,

      Da’wah itu banyak caranya, dan usaha da’wah (orang menyebutnya JT) merupakan salah satu cara da’wah dan juga proses pembelajaran. Jadi akan sangat aneh, jika ada orang yang menilai bahwa cara da’wah dari kalangan usaha da’wah itu telah banyak keluar dari Al-quran dan As-Sunnah.

      Di sinilah kita perlu banyak bermudzakarah perihal da’wah itu sendiri di antara kaum muslimin, tidak hanya menilai dan menilai tanpa adanya keinginan mendapatkan pandangan yang lebih luas.

  11. Assalamualaiakum wr wb.. Sebaiknya qt umat Islam jgn saling menghina,bersatulah & trslah berdakwah dgn cara Baginda Rasul ,semua butuh hidayahSaw & Sahabat Ra..Klu qt ga sanggup jgn jelek2kan yg sanggup..Jgn merasa sdh hebat trs nunggu umat,datangi umat donk.Kasi tau yg blm tau,kasi ilmu yg blm berilmu.Sombong sifat syetan,ga akn masuk sorga!!!Qt blm mati jd ga tau siapa yg benar.Tp klu cara qt benar pasti akn terlihat dr keadaan diri,istri anak & keluarga qt.Lihat umat di luar sana,pandanglah sbgmn Rasul Saw memandang,bicaralah sbgmn Rasul Saw bicara,mereka butuh hiadayah,qt butuh hidayah,saya butuh hidayah,semua orang butuh hidayah…Wass

  12. Wass…saudaraku m.irwantrias,
    Tolong antum tunjukkan kepada kami cara berdakwah JT yang sesuai dengan cara rasulullah saw sesuai dengan klaim anda beserta dalil-dalil yang kuat. Saya sangat suka untuk mencari kebenaran.

    Seandainya antum bersedia kita bisa lewat japri saja.

    Syukron

    Wassalamualaikum wr. wb.

  13. teruslah berjuang saudara2ku, kita doakan orang2 yg sombong dan anggap dirinya paling hebat agar ambil bagian usaha dakwah kita insyaallah nanti jadi lembut spt para alim, ulama, hafis dan ahli hadist yg sdh ambil bagian

  14. wahai pembantu agama Allah…
    teruskan perjuangan. jgn takut dan jangan gentar. janji Allah adalah pasti….
    biar dicaci, biar dimaki, biar dipuji….
    smue tu just cobaan buat kita…..
    orang setengah mati mau cari kejelekan kita, tp mereka tidak sadar yang kita sudah bergerak menyusur lorong2 para da’i merentas kampung, daerah, negeri, negara bah kan benua, sampai ke hujung2 dunia……
    sedang mereka berusaha mencari kejelekan kita, mereka tidak sadar yang asbab usaha ni lah ramai manusia seluruh dunia datang pada agama…..
    teruskan perjuangan wahai saudara2 ku. janji Allah adalah PASTI……

  15. wahai saudaraku taufik s,

    anda menyerukan untuk berjuang…berjuang untuk apa..sebenarnya andalah yang sombong karena anda tidak mau menimba ilmu agama yang benar dan berasal dari sumber yang benar, anda hanya mengklaim menurut pikiran anda sendiri..anda berdakwah akan sia-sia jika landasan dakwah dan ibadah anda tidak sesuai dengan al-quran dan as-sunnah. kami di persis telah mengkaji apa yang anda amalkan tetapi kami tidak temukan dasar dakwah dan ibadah anda yang kuat. tolong tunjukkan kepada kami alim-ulama anda yang hafis dan ahli hadits beserta karya-karyanya dan bandingkan dengan ulama kami: syech nashiruddin albani, syech bin baz, ustadz a. hassan dan a. qadir hassan dan ulama-ulama lain yang telah memberikan nasehat dan kritik tajam terhadap ajaran JT….kalau anda bersedia marilah kita bersama-sama mencari kebenaran dan jangan hanya taqlid buta…

    1. Sudah jelas dalam sejarah bahwa orang2 dulu sebelum jaman Albani telah menjadi salafus sholeh sejati yang hebat2 dan tidak congkak.
      Sebaiknya sebutkan dalil dalil yang umat Islam diperintah ikut Albani cs supaya umat jelas. Mungkin umat bisa memilih ikut Albani atau salafus sholeh yang awal

  16. Bagi mereka yang cinta dan mengaku sebagai pengikut “Jamaah Pergerakan Iman” atau Jamaah Tabligh atau Jamaah apalah namanya, silahkan membaca beberapa website/blog berikut ini dan jika antum semua merasa benar maka bantahlah website/blog itu menurut ilmu dan bukan dengan hawa nafsu semata. Kirimkan jawaban anda ke email saya: gazali@harmonics-kowagroup.com. Insya Allah kita akan mencari kebenaran sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

    http://abusalma.wordpress.com/2007/01/03/studi-kritis-pemahaman-jama%E2%80%99ah-tabligh/

    http://ghuroba.blogsome.com/2007/05/03/syubhat-jamaah-tabligh/

    http://antosalafy.wordpress.com/2007/06/14/sesatkah-jamaah-tabligh-ya-sesat/

    http://perpustakaan-islam.com/mod/download/download/jamaah_tabligh.zip

  17. Singa-Singa Allah sedang berjalan Di era ini….. gentar kan hati-hati mereka (kuffar). dan hormatilah dan muliakan lah saudara2 kita agar ikut dalam dakwah Rasulullah S.a.w.

  18. Mohon fatwa
    Manakah yang harus saya lakukan antara berusaha mendakwahkan agama dengan kemampuan seadanya atau tetap tinggal dirumah mengkaji kitab, ibadah bersama istri dan serta bekerja mengumpulkan harta ditengah kehancuran umat seperti sekarang ini?
    Apakah ada dalam sejarah para sahabat seumur-umur hidupnya dirumah karena sibuk mengkaji alquran dan hadist nabi.?
    Apa ancaman Allah bagi orang2 yang senang tinggal dirumah padahal banyak manuasia belum kenal Islam dan agama sedang terpuruk seperti sekarang ini?
    Apa pula ancaman bagi yang dakwah tetapi kurang ilmu?
    Apakah betul kaum tabligh itu sesat.?
    Apa syarat untuk bisa berdakwah adalah harus hafiz dan ahli hadist dulu?

    Matur nuwun

    1. kami tidak bisa memberikan fatwa.. karena bukan dalam kapasitas kami untuk itu….

      kami hanya bisa memberi nasehat atau opini
      dalam berda’wah itu ada jenjang tahapannya… tahap pertama kita belajar sebelum menyampaikan sesuatu….
      tahap kedua di amalkan… apa yang telah di dapat…
      tahap ketiga barulah kita menyebarkan da’wah….

      dalam berda’wahpun tidak selalu keluar rumah….
      tapi kita benerin dulu apa yang ada dalam keluarga… lihat siapa diantara kelaurga yang perlu di bimbing dalam beribadah… sebagimana apa yang dilakukan Rasulullah terhadap keluarganya….

      yang anda tanyakan tentang ancaman orang2 yang senang tinggal dirumah padalah banyak manusia belum kenal Islam, itu dibebankan kepada para da’i… kita sebagai orang awam yang tidak terlalu mengenal agama sendir lebih baik mengkaji Islam lebih dalam lagi, sebelum terjun ke dunia da’wah…
      bagaimana mau mengajak orang masuk Islam kalau pemahaman tentang Islam sendiri belum luas….

      mungkin hanya ini yang bisa kita utarakan…
      semua itu butuh proses, kita harus bersabar….

    2. mantap,……. go dakwah… orng yang berjuang akan diberi ilmu tanpa kitab (ilmu tdk hanya yg ada di dalam kitab), diberi kekuatan tanpa tentara, kaya tanpa harta,……

  19. Om Gozali bilang :
    Jalan atau cara berdakwah sangatlah banyak sesuai keadaan dan kemampuan si pendakwah. Yang perlu diketahui dan disadari adalah cara berdakwah haruslah sesuai dengan al-qur’an dan as-sunnah. setahu saya JT telah jauh keluar dari al-qur’an dan as-sunnah dalam tata cara beribadahnya termasuk cara berdakwahnya. bahkan mereka terkadang sampai melupakan keluarganya. bahkan seseorang pernah datang kepada saya menukarkan sesuatu barang (yg tidak ada harganya) dengan uang karena ingin keluar daerah untuk berdakwah..subhanallah. bukankah dia lebih baik bekerja dengan rajin dan juga berdakwah ditempat kerjanya…? sungguh aneh pikiran mereka….perlu dipertanyakan pada mereka…kenapa tujuan utama mereka adalah india pakistan dan bangladesh…aneh dan sungguh aneh….wallahua’lam..

    Info dibawah saya petik dari internet :
    Para Sahabat Keluar Jalan Allah

    Silahkan dikoreksi atau tanyakan pada para ustadznya om bener ga cerita dibawah.
    Jangan lupa catat kitabnya jadi kami bisa belajar

    Para Sahabat Keluar Jalan Allah
    Sebanyak 150 jemaah telah dihantar dari Madinah dalam masa 10 tahun tersebut. Baginda s.a.w. sendiri telah menyertai 25 daripada jemaah-jemaah tersebut. Sebahagian jemaah tersebut terdiri daripada 10,000 orang, ada yang 1,000 orang, 500 orang, 300 orang, 15 orang, 7 orang dan sebagainya. Jemaah-jemaah ini ada yang keluar untuk 3 bulan, 2 bulan, 15 hari, 3 hari dan sebagainya. 125 jemaah lagi sebahagiannya terdiri daripada 1000 orang, 600 orang, 500 orang dan sebagainya dengan masa 6 bulan, 4 bulan dan sebagainya.
    Sekiranya kita menghitung dengan teliti maka akan didapati purata masa yang diberikan oleh setiap sahabat untuk keluar ke jalan Allah dalam masa setahun ialah antara 6 hingga 7 bulan.
    Sahabat keluar 5 tahun
    Pada tahun 627M satu rombongan sahabat-sahabat Nabi S.A.W yang diketuai oleh Wahab bin Abi Qabahah dikatakan telah mengunjungi Riau dan menetap selama 5 tahun di sana (sebelum pulang ke Madinah)
    (dipetik dari kitab ‘Wali Songo dengan perkembangan Islam di Nusantara’, )
    Sahabat keluar 6 bulan
    Bara’ Radiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus Khalid ibne-Walid Radiyallahu ‘anhu kepada penduduk Yamen untuk mengajak mereka masuk Islam. Bara berkata: Aku juga termasuk dalam jamaah itu. Kami tinggal di sana selama 6 bulan. Khalid radiyalaahu anhu selalu mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak ajakannya.
    Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mengutus ‘Ali ibne-Abi Talib Radiyallahu ‘anhu ke sana dan memerintahkan kepada Khalid r.a. untuk kembali dengan seluruh jamaah kecuali salah seorang dari jamaah Khalid r.a. yang mahu menemani Ali r.a, maka ia boleh ikut serta dengan Ali r.a. Bara r.a berkata: Akulah yang menemani Ali r.a. selama di sana. Ketika kami betul-betul dekat dengan penduduk Yaman, maka mereka keluar dan dan dating kehadapan kami. Lalu Ali r.a. mengatur shaf mereka untuk mengerjakan solah dan Ali yang menjadi imam dalam solah kami.
    Selesai solah, Ali r.a membacakan isi surat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Setelah mendengar isi surat Rasulullah sallalaahu alayhi wasalam itu maka seluruh Bani Hamdan masuk Islam. Kemudian Ali r.a. menulis surat kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam yang isinya memberitahukan tentang ke-Islaman mereka kepada baginda. Setelah isi surat tersebut dibacakan kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, maka baginda langsung sujud syukur kepada Allah Swt. Setelah mengangkat kepala, baginda berdoa: Keselamatan bagi Bani Hamadan. Keselamatan bagi Bani Hamadan. (Bukhari, Baihaqi, Bidayah-wan-Nihayah)
    (Dipetik dari kitab Muntakhab Ahadith, bab Dakwah dan Tabligh,)
    Keluar 4 bulan
    Ibn Juraij berkata: “Ada seseorang yang menceritakan kepada saya bahawa pada suatu malam ketika Umar radiyalaahu anhu sedang berkeliling (ghast) di sekitar lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang melantunkan sya’ir:
    ”Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya, Daku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu Andai bukan kerana takut berdosa kepada Allah yang tiada sesuatu pun dapat menyamaiNya Sudah pasti ranjang ini di goyang oleh yang lainnya.”
    Ketika Umar r.a. mendengar sya’irnya itu, maka dia bertanya kepada wanita tersebut, “Apa yang terjadi padamu?” Wanita itu menjawab, “Saya sangat merindukan suami saya yang telah meninggalkan saya selama beberapa bulan.” Umar r.a. betanya, “Apakah kamu bermaksud melakukan hal yang buruk?” Wanita itu menjawab, “Saya berlindung kepada Allah.” Umar r.a. berkata, “Kuasailah dirimu! Sekarang saya akan mengutus orang untuk memanggil suami mu.”
    Setelah itu Umar r.a. bertanya kepada anak perempuannya Hafsah r.anha, “Aku akan bertanya padamu mengenai sesuatu masalah yang membingungkan aku, mudah-mudahan kamu boleh memberi jalan keluar untukku. Berapa lama seorang wanita mampu menahan kerinduan ketika berpisah dari suaminya?” Mendengar pertanyaan itu, Hafsah r.anha menundukkan kepala merena merasa malu. Umar r.a. berkata, “ Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa malu dalam hal kebaikan.” Hafsah menjawab sambil berisyarat dengan jari tangannya, “Tiga sampai empat bulan.” Kemudian Umar r.a. menulis surat kepada setiap amir (pimpinan) pasukan tentera Islam supaya tidak menahan anggota pasukannya lebih dari 4 bulan.”
    (Riwayat Abdur Razzaq dalam kitab Al-Kanz Jilidl VIII, m/s.308).
    Ibnu ‘Umar (Radiallahu’Anhu) mengatakan bahawa pada suatu malam Umar r.a. keluar (untuk melihat ehwal orangramai), tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang bersya’ir:
    “Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya Aku tidak boleh tidur kerana tida yang tersayang yang boleh kuajak bercumbu.”
    Kemudian Umar r.a. bertanya kepada Hafsah r.anha, berapa lama wanita dapat bertahan tidak bertemu dengan suaminya?” Hafsah r.anha menjawab, “Enam atau empat bulan.” Maka Umar r.a. berkata, “Untuk selanjutnya saya tidak akan menahan tentera lebih dari masa itu.”
    (Hr. Baihaqi dalam kitabnya jilid IX m/s 29)
    [seperti yang dipetik dari kitab Hayatus Sahabah, bab Al-Jihad]
    Keluar 40 hari
    “Seorang lelaki telah datang kepada Saiyidina Umar ibnu Khattab r.a. maka Saiyidina Umar r.a. pun bertanya: Di manakah engkau berada? Dijawabnya: Saya berada di Ribat. Saiyidina Umar r.a. bertanya lagi: Berapa hari engkau berada di Ribat itu? Jawabnya tiga puluh hari. Maka berkata Saiyidina Umar r.a.: Mengapa kamu tidak cukupkan empat puluh hari?
    (Kanzul Ummal, Juzuk 2 muka surat 288, dipetik dari kitab ‘Risalah ad Dakwah)
    Keluar 3 hari
    Daripada Ibnu Umar r.a. berkata: Nabi SAW telah memanggil Abdul Rahman bin Auf r.a. lalu bersabda: Siap sedialah kamu, maka sesungguhnya aku akan menghantar engkau bersama satu jama’ah maka menyebut ia akan hadis dan katanya: Maka keluarlah Abdul Rahman hingga berjumpa dengan para sahabatnya, maka berjalanlah mereka sehingga sampai ke suatu tempat pertama bernama Daumatul Jandal, maka manakala ia masuk ke kampung itu ia mendakwah orang-orang kampung itu kepada Islam selama tiga hari. Manakala sampai hari yang ketiga dapat Islamlah Asbagh bin Amru al Kalbi r.a. dan adalah ia dahulunya beragama Nasrani dan ia ketua di kampung itu.
    (Hadith riwayat Darul Qutni, dipetik dari kitab ‘Risalah ad Dakwah)

  20. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Alhamdulillah kita bertemu kembali dalam diskusi ini. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari diskusi ini.

    Dakwah adalah salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah kepada setiap hambanya sesuai dengan kemampuan dan kondisi-nya.

    Metode dakwah/dakwah adalah urusan keduniaan yang Allah dan Rasul-Nya pasrahkan kepada kita dalam hal pelaksanaannya. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengikat satu cara bagi manusia di dalam melaksanakan dakwah. Sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka metode dakwah itu tidaklah di larang.

    1. Seorang karyawan pabrik punya kewajiban untuk berdakwah dikalangan teman-temannya di pabrik sesuai dengan ilmu dan kemampuannya.
    2. Seorang guru punya kewajiban untuk berdakwah dikalangan sejawatnya dan murid-muridnya sesuai ilmu dan kemampuannya.
    3. Seorang ahli hadist/tafsir/fiqih punya kewajiban untuk berdakwah dengan cara menuliskannya dalam sebuah karya tulis sesuai kemampuan dan ilmu yang dilmiikinya.

    Begitulah berlaku untuk setiap dari kita yang sudah akil baligh.

    Tidak didapat perintah wajib keluar secara spesifik (seperti yang dilakukan oleh JT) didalam Al-Qur’an ataupun Al-Hadits. Cara-cara yang dilakukan oleh JT dengan segala amalan-amalannya baru dikenal semenjak tahun 1300-an setelah Maulana Ilyas mengumandangkannya.

    Saya sendiri, sewaktu masih kuliah di Malang Insya Allah pernah mengikuti jama’ah ini walaupun akhirnya harus keluar. Saya melihat banyak yang perlu dibenahi didalam berdakwah dan tidak cukup hanya dengan keluar rumah tuk mengetuk pintu dari rumah ke rumah dengan berbagai amalan yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Saya tidak mengerti kenapa mereka bersikukuh untuk keluar rumah utk berdakwah tanpa dibenahi ilmu agama dan dunia yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadits. Pegangan mereka hanyalah satu kitab yaitu kitab Fadha’ilul Amal yang didalamnya dimuat banyak hadits dha’if dan juga hadits palsu. Saya tidak menemukan satupun ulama ahli hadits/tafsir ataupun fiqih dari kalangan mereka. Sehingga kebanyakan dari mereka tidak mengetahui agama ini kecuali sedikit. Mereka tidak mau untuk menela’ah kitab-kitab hadist dan tafsir yang telah masyhur dengan alasan yang tidak jelas dan saya saat itu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari kalangan mereka.

    Sebenarnya bisa dimaklumi kenapa mereka tidak mau menela’ah kitab-kitab itu. Itu karena kalau mereka menela’ah kitab-kitab yang masyhur itu mereka akan tahu kalau sebenarnya pemahaman mereka tentang dakwah dan amalan ibadah tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    Saya masih menunggu sanggahan dari teman-teman JT atas beberapa blog/website yang telah saya posting sebelumnya. Kirimkan saja lewat e-mail saya dan Insya Allah saya ikhlas untuk berdiskusi guna mencari kebenaran.

    Jika anda mau berdiskusi lewat surat menyurat anda bisa alamatkan di :

    Mohamad Gazali
    d/a
    Syamsul Arifin
    Ketua PERSIS Sumenep – Madura
    Desa Kebunan – Kecamatan Kota Sumenep – Madura

  21. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Alhamdulillah kita bertemu kembali dalam diskusi ini. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari diskusi ini.

    Dakwah adalah salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah kepada setiap hambanya sesuai dengan kemampuan dan kondisi-nya.
    Jawab : 100% setuju

    Metode dakwah/dakwah adalah urusan keduniaan yang Allah dan Rasul-Nya pasrahkan kepada kita dalam hal pelaksanaannya. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mengikat satu cara bagi manusia di dalam melaksanakan dakwah. Sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka metode dakwah itu tidaklah di larang.
    Jawab : 100% setuju

    1. Seorang karyawan pabrik punya kewajiban untuk berdakwah dikalangan teman-temannya di pabrik sesuai dengan ilmu dan kemampuannya.
    2. Seorang guru punya kewajiban untuk berdakwah dikalangan sejawatnya dan murid-muridnya sesuai ilmu dan kemampuannya.
    3. Seorang ahli hadist/tafsir/fiqih punya kewajiban untuk berdakwah dengan cara menuliskannya dalam sebuah karya tulis sesuai kemampuan dan ilmu yang dilmiikinya.

    Jawab : 100% setuju. Apa yang JT belum lakukan diantara 3 diatas?

    Begitulah berlaku untuk setiap dari kita yang sudah akil baligh.

    Tidak didapat perintah wajib keluar secara spesifik (seperti yang dilakukan oleh JT) didalam Al-Qur’an ataupun Al-Hadits.

    Jawab : 100 % JT tidak mewajibkan keluar dengan cara JT (karena bukan syar’i). System tsb adalah sarana tarbiyah untuk kita (terutama saya tentunya) agar ada perhatian dan tanggung jawab yang lebih pada umat dan agama ini. Agar kita bisa menertibkan dunia kita jangan sampai harta dan diri hanya habis untuk urusan pribadi kita. Baca kitab2 ttg orang2 awal islam dulu.

    Cara-cara yang dilakukan oleh JT dengan segala amalan-amalannya baru dikenal semenjak tahun 1300-an setelah Maulana Ilyas mengumandangkannya.

    Jawab : Sebelum itu sudah banyak. Sayang kita belum lahir dan keburu kenal dengan sistem dakwah selebaran dan undangan amplop atau duduk di majelis seminggu sekali. anda bisa bayangkan bagaimana Islam datang ke sumenep kan ? Orang sumenep duduk di pengajian2 setelah ada undangan atau ada para wali yang dengan harta dan dirinya mau dakwah ke sumenep? Jika benar ada rombongan dakwah ke sumenep apakh semua rombongan tsb sekelas ilmunya seperti Sunan Ampel?
    Apakah Sunan ampel dakwah sendirian karena yang lain belum boleh dan tidak syah dakwah atau beliau bersama orang2 yang lain walau tidak selevel beliau.

    Saya sendiri, sewaktu masih kuliah di Malang Insya Allah pernah mengikuti jama’ah ini walaupun akhirnya harus keluar. Saya melihat banyak yang perlu dibenahi didalam berdakwah dan tidak cukup hanya dengan keluar rumah tuk mengetuk pintu dari rumah ke rumah dengan berbagai amalan yang tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Jawab : 100% benar bahwa banyak yang perlu dibenahi karena kami memeng keluar untuk islah diri. jadi kami sanagt berterima kasih pada anda karena banyak sekali memberi masukan. Allah swt akan membalas kebaikan anda itu kok. Kami tak mampu membalasnya.

    Saya tidak mengerti kenapa mereka bersikukuh untuk keluar rumah utk berdakwah tanpa dibenahi ilmu agama dan dunia yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadits.

    Jawab : Kami keluar untuk islah dan belajar dakwah Nabi SAW. Tanya kepada orang alim, apa manfaat keluar islah dan dakwah.
    Standar ilmu seberapa untuk diijinkan dakwah?
    Kenapa Nabi SAW dan para sahabat yang baru masuk Islam juga dakwah. Sebagaimana kata anda bahwa dakwah berbagai cara, demikian juga saat keluar. Saat anda ikut keluar di malng dulu, apakah anda pernah ditanya oleh orang yang anda temui tsb tentang fikih atau dalil dakwah? saya kira tidak bertemu orang yang bertanya seperti itu. Pertnyaan2 tsb hanya datang dari bapak2 Salafi kan? Perkara lain yang didakwahkan kan sederhana dan tidak serumit seperti bapak2 bayangkan karena sebagian besar orang Islam sudah beriman dan berilmu.

    Pegangan mereka hanyalah satu kitab yaitu kitab Fadha’ilul Amal yang didalamnya dimuat banyak hadits dha’if dan juga hadits palsu. Saya tidak menemukan satupun ulama ahli hadits/tafsir ataupun fiqih dari kalangan mereka.
    Jawab : Fadhilah Amal berisi dorongan beramal bukan kitab fiqih jadi kenapa takut memegang. Tinggalkan sebentar kesibukan dunia, anda akan bertemu ahli hadist.

    Sehingga kebanyakan dari mereka tidak mengetahui agama ini kecuali sedikit. Mereka tidak mau untuk menela’ah kitab-kitab hadist dan tafsir yang telah masyhur dengan alasan yang tidak jelas dan saya saat itu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari kalangan mereka.

    Jawab : kami juga mohon maaf atas pengtahuan agama kami yang sedikit. Makanya kami terus belajar. Disamping itu kuliah di Braw atau ITN atau UNMUH tidak ada pelajaran tafsir hadist. Anda menemukan ahli hadist di Malng?

    Sebenarnya bisa dimaklumi kenapa mereka tidak mau menela’ah kitab-kitab itu. Itu karena kalau mereka menela’ah kitab-kitab yang masyhur itu mereka akan tahu kalau sebenarnya pemahaman mereka tentang dakwah dan amalan ibadah tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

    Jawab : Seperti kata anda diawal tadi, berdakwah sesuai kondisi dan kemampuan. Setelah anda tinggalkan JT apa anda langsung menghabiskan waktu untuk banyak duduk di majelisnya ahlu hadist atau anda banyak duduk dengan ahlul kampus?
    Ada hadis yang bisa langsung amal dan ada yang perlu penjelasan. Sebagai anak kampus kami justru banyak bertanya langsung mengenai perkara2 agama yang kami tidak tahu pada ustad2. Agama menjadi mudah dan menyenangkan. Apakah saya harus hafal dan paham dulu baru beramal?

    Saya masih menunggu sanggahan dari teman-teman JT atas beberapa blog/website yang telah saya posting sebelumnya. Kirimkan saja lewat e-mail saya dan Insya Allah saya ikhlas untuk berdiskusi guna mencari kebenaran.
    Jawab :
    blog2 tsb sudah berjawab.

    Sekali lagi saya mohon maaf atas jawaban saya. Ini pribadi saya yang lemah, buka jawaban JT. Saya bersyukur mendapat pencerahan dari anda.
    semoga Allah balas dengan pahala

    Jika anda mau berdiskusi lewat surat menyurat anda bisa alamatkan di :

    Mohamad Gazali
    d/a
    Syamsul Arifin
    Ketua PERSIS Sumenep – Madura
    Desa Kebunan – Kecamatan Kota Sumenep – Madura

  22. Alhamdulillah sebagian saudara2 saya telah membalas postingan saya. Semoga diskusi ini bisa lebih bermanfaat. Saya akan membalas yang penting-penting saja. Mohon maaf Bapak moderator kalo diskusi ini jadi berkepanjangan.

    Jawab : 100% setuju. Apa yang JT belum lakukan diantara 3 diatas?
    Jawab lagi: antum tidak mengerti tujuan kalimat saya itu. Saya tidak tahu apa yang JT tidak lakukan, karena topiknya bukan disitu. 3 contoh diatas saya berikan untuk menunjukkan bahwa cara berdakwah tidak mesti dilakukan dengan keluar berombongan kesuatu daerah apalagi ke luar negeri IPB sehingga harus meninggalkan kewajiban yang lain dan disitu juga ada unsur membuang harta yang tidak pada tempatnya.

    Jawab : 100 % JT tidak mewajibkan keluar dengan cara JT (karena bukan syar’i). System tsb adalah sarana tarbiyah untuk kita (terutama saya tentunya) agar ada perhatian dan tanggung jawab yang lebih pada umat dan agama ini. Agar kita bisa menertibkan dunia kita jangan sampai harta dan diri hanya habis untuk urusan pribadi kita. Baca kitab2 ttg orang2 awal islam dulu.
    Jawab lagi: jika antum membaca kitab-kitab pegangan para pemuka dan pendiri JT maka antum akan tahu bahwa keluar sebagaimana JT lakukan adalah syar’i. Saya enggak tahu apakah antum mempunyai kitab-kitab asli mereka. Antum meminta saya untuk membaca kitab2 ttg orang2 awal islam dulu. Insya Allah jika antum bersedia bertemu dengan saya dirumah saya, ana akan tunjukkan semua kitab-kitab agama yang masyhur dari sejarah, tafsir, hadits ataupun fiqih dan itu masih dalam bahasa dan tulisan aslinya (insya allah kita akan teliti bersama). Sampai saat ini ana belum menemukan dalil keutamaan dan perintah keluar rumah sebagaimana JT lakukan. Apalagi amalan-amalan tambahan yang biasanya JT lakukan.

    Jawab : Fadhilah Amal berisi dorongan beramal bukan kitab fiqih jadi kenapa takut memegang. Tinggalkan sebentar kesibukan dunia, anda akan bertemu ahli hadist.
    Jawab lagi: saya tidak mengatakan kitab fadha’ilul amal sebagai kitab fiqih. Dan bagaimana bisa kitab yang berisi dorongan beramal tetap dipake sementara didalamnya berisi dan memuat cerita-cerita ishra’iliyat, hadist dha’if bahkan palsu? apakah tidak tidak ada kitab2 pegangan yang lain…? hem..hem…

    Jawab : kami juga mohon maaf atas pengtahuan agama kami yang sedikit. Makanya kami terus belajar. Disamping itu kuliah di Braw atau ITN atau UNMUH tidak ada pelajaran tafsir hadist. Anda menemukan ahli hadist di Malng?
    Jawab lagi: antum menanyakan ahli hadits yang ada di malang. jika seandainya antara tahun 1992 – 1995 anda bertemu dengan saya di malang, insya allah saya akan tunjukkan beberapa ‘ulama ahli hadits dan bahkan hafal ribuan hadits dan al-qur’an. Sayang antum terlalu sibuk dengan JT dan kegiatannya sehingga lupa untuk menimba ilmu yang lebih bermanfa’at.

    Jawab :
    blog2 tsb sudah berjawab.
    Jawab lagi: semua jawaban tehadap blog2 itu hanya didasari nafsu belaka tanpa didasari ilmu dan tidak ilmiah. Jika antum mempunyai sanggahan yang ilmiah berdasarkan al-qur’an dan al-hadits yang shahih, insya Allah kita akan diskusikan kembali.

    Wallahua’lam.

  23. assalamualaykum ustad ghozali..

    Boleh saya urun rembug tad?? semoga dengan berbagi informasi ini bermanfaat bagi kita semua.. Khususnya tentang penggunaan kitab-kitab fadhoil amal (fadhoil amal, riyadhush sholihin, targhib wa tarhib, hayatush shohabah, dll)..

    Ustad ghozali yang mulia,
    Sudah menjadi lazim bagi kita, bahwa kekuatan umat muslim bukan pada harta benda, pangkat/derajat, kekuatan senjata atau keduniaan. Namun, kekuatan umat muslim ada pada iman amal sholeh (amal agama)..Berkurang amal agama, akan menjadi melemahnya kekuatan muslim..Perang badar menjadi bukti (ketika umat yakin akan amal agama), perang uhud menjadi bukti (ketika umat berkurang akan amal agama), dan peristiwa2 lain..Berkurangnya amal agama pada umat ini, menjadi berkurang pertolongan Alloh Ta’ala pada umat ini dan menjadi konsekuensinya dengan semakin banyak maksiat yang terjadi pada umat ini akan menjadi berkurang dan melemahnya umat ini..

    Hari demi hari umat ini semakin menjauh dari amal agama..Berapa juta umat muslim yang meninggalkan sholat jamaah, berapa juta umat muslim yang sholat tapi tidak tertib (waktu, tempat atau cara), berapa juta umat muslim yang sholat tapi masih kekurangan dalam kaifiyatnya..Itu baru masalah sholat, belum ke masalah lain..Padahal sholat adalah tiang agama, meninggalkannya berarti sama saja merobohkan tiang agama..Alloh SWT berjanji bahwa sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar..namun kenapa hari ini perbuatan dan keji itu merajalela dikalangan umat muslim..saling bunuh, saling ghibah, menjatuhkan kelompok lain, buka aib, dan perbuatan lainnya…

    Ustad ghozali yang mulia,
    Hari demi hari umat ini semakin menjauh dari umat agama, hari demi hari sangat berkurangan yang memberikan tentang kabar dari ayat Alloh SWT dan Sabda baginda rasulullah tentang kehidupan akherat, kampong asli kita..Sangat sedikit yang memberikan kabar tentang kehidupan tersebut, tentang bekal-bekal yang harus kita bawa..Yang ada adalah bagaimana kebanyakan memberikan kabar tentang keutamaan-keutamaan keduniaan ini, mau hidup enak tidak kena panas dan debu belilah mobil ini keluaran ini dengan harga segini..Mau hidup enak, kerjalah di perusahaan ini, gaji gede dapet tunjangan ini dan itu..Mau hidup enak, cobalah makan produk ini, terbuat dari ini dan itu..Mau hidup enak, cobalah cari suami yang berwibawa (bawa mobil, bawa rumah sendiri, bawa harta yang banyak, bawa emas, berlian dan sebagainya). Mau hidup enak cobalah produk ini, mandi anda jadi lebih praktis. Mau muka anda lebih cakep, pakai krim ini, pakai pembasuh ini, pakai lipstick/gincu ini itu, pakai masker ini, operasi ini dan itu supaya lebih lengkap..Setiap hari, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, bahkan detik demi detik semuanya terus dikabarkan tiada henti..terus menerus..terus menerus..Di rumah, mau berangkat ke kantor, di kantor, di jalan, bahkan sampai di dalam mesjidpun tidak luput dari serangan ini..Kampung akherat dilupakan, iman amal sholeh dilupakan..Yang ada keagungan dunia dibesar-besarkan sehingga tertutup kebesaran akherat, tertutup oleh kecilnya dunia..
    Jadi memang benar sabda baginda rasulullah saw “Aku tidak mengkhawatirkan kalian melakukan kesyirikan kembali sepeninggalku, tetapi aku khawatirkan kalian akan kemegahan dunia yang.”

    Kemudian bagaimana mengcounter hal ini pak ustad, bagaimana caranya yang kongkret yang bisa kita lakukan…Dan yang menjadi kenyataan bahwa umat muslim tidak hanya ada di Indonesia saja, tapi diseluruh alam, ada di Arab, afrika, Australia, soviet, asia, amerika, Alaska, dll..Dan wabah itu merajalela di kehidupan kaum muslimin seluruh dunia..

    Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian yang nyata.. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (al ‘ashr 1-3)

    Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104).

    Ustad yang saya muliakan,
    Untuk itulah diperlukan untuk menghidupkan kembali kepada umat ini untuk mendorong mereka untuk jangan melupakan akherat, jangan melupakan ayat2 Alquranul karim, sabda-sabda baginda rasulullah saw, iman amal sholeh..Terus didorong setiap hari, tidak hanya perminggu, tapi setiap hari, karena berita tentang keutamaan-keutamaan dunia ini juga tidak mengenal waktu pagi, siang, sore malam, terus diberitakan..Oleh karena itu diperlukan program kerja yang bisa dijalankan oleh seluruh kaum muslimin baik itu awam maupun alim, baik itu di rumah bersama keluarganya, di masjid bersama masyarakat, di tempat kerja bersama teman-teman kerja, maupun ketika khuruj. Program untuk memperkenalkan kembali tentang keutamaan amal-amal agama, tentang kampong akherat lewat ayat-ayat Alquran dan sabda baginda rasulullah saw..

    Dan dalam program tersebut dipergunakanlah kitab-kitab yang berhubungan dengan fadhoil-fadhoil amal (kitab fadhoil amal, kitab riyadhush sholihih, kitab targhib wa tarhib). Penggunaan kitab-kitab tersebut berdasarkan hasil musyawarah, sudah menjadi umum, bahwa di arab menggunakan kitab riyadhush sholihin. Itu tidak masalah, yang penting adalah TUJUAN MAKSUD penggunaan kitab-kitab tersebut..Yaitu, program pengenalan tentang amal-amal sholeh, tentang akherat sehingga terdorong umat ini untuk beriman dan beramal sholeh…

    Apakah penggunaan kitab fadhoil amal maulana zakariya itu wajib menjadi pegangan???
    Ini berita dari mana, tidak ada yang mewajibkan, semuanya hasil musyawarah, bahkan kenyataannya di arab bisa diganti sesuai dengan hasil musyawarah..

    Kemudian bagaimana dengan penggunaan hadits dhoif dalam kitab fadhoil amal tersebut..??
    Sudah banyak kajian dalam hal ini..Bahkan imam nawawi rah memberitahukan bahwa ulama sudah sepakat diperbolehkannya penggunaan hadits dhoif dalam mendorong untuk beramal (kitab al adzkar)..Sebagai bahan informasi bagi ustad ini ada salah satu artikel:

    Didalam kitab al adzkar imam nawawi rah (bab perintah dalam mengkhlaskan dan memperbagus niat di dalam keselruhan amal baik yang nampak maupun tersembunyi) disebutkan oleh beliau rah, bahwa para ulama, muhadditsin, fuqoha, atau selainnya memperbolehkan penggunanan hadits dhoif dalam fadhilah/keutamaan2 amal, targhib wa tarhib.

    Beliau juga mengatakan hal tersebut dalam muqodimahnya dalam kitab arbain an nawawiyah. Bahkan dalam muqodimahnya tersebut imam nawawi rah menyatakan bahwa semua ulama telah sepakat membolehkan pengamalan hadits dhaif dalam keutamaan amal-amal..

    Ada sebuah kitab dimana imam bukhari mengumpulkan dalam kitab tersebut hadits-hadits tentang targhib wa tr tarhib, adab dan fadhail. Kitab itu bernama Al Adab Al Mufrad. Pernah tidak mbaca adab mufrad? tidak hanya periwayatan hadits di situ, tapi Imam bukhari Berhujah dengan hadits itu, yaitu dengan menjelaskan bab -bab mustahab amalan- amalan tertentu, lalu beliau sebutkan hadits-hadits yang sesuai untuk dijadikah hujah, sesuai bab itu, dan haditsnya ada yang sahih ada yang dhaif.
    Dalam kitab itu bercampuran antara hadits shohih, hasan dan dhoif. Al Albani sendiri telah “memecah” kitab ini menjadi shohih adab al mufrad dan dhoif adab al mufrad, sebagaimana yang ia lakukan terhadap kitab-kitab hadist yang lain, seperti riyadh as salihin (imam nawawi), kalim thayib (ibnu Taimiyah) juga tarhib wa targhib (hafidz al mundziri, guru hafidz dimyathi yang merupakan guru dari imam dzahabi), mereka itu juga membolehkan hadits dhoif dalam targhib dan adab.

    Ok, supaya lebih yakin kita lihat takhrij adab almufrad milik imam bukhari.
    Atsar ke 12, juga hadits ke 40, 56, 64, 80, 84 dalam sanandnya ada Abdullah bin Shalih Al Juhani yang dhoif. Atsar 14, 45 terdapat Abdurrahman bin Shabih yang dhoif. Atsar 23 terdapat Ali bin Al usain Waqid Al Maruzi, dhoifl hadits. Hadits 30 terdapat Al Hasan bin Bishri Al Hamdani dan Hakam bin Malik, kedua-duanta majruh.
    Hadits 43 terdapat Muhammad bin Fulan bin Thalhah, majhul. matruk, dhoif. Atsar 45 ada ubaidillah bin mauhab, Ahmad mengatakan la yu’raf (tidak dikatahui). Atsar 51 ada Abu Sa’ad Sa’id bin Matzaban Al Baqqal Al A’war, dhoif. Hadits 61 ada Hadzrad bin Utsman Abu Al Khitab As sa’di, dhoif. Hadits 63 ada Sulaiman bin Adam, dhoif, tidak tsiqah, matruk dan kadzab. Hadits 65 ada Muhamamd bin Abdul Jabar, majhul. Atsar 94 Al Washafi Ubaidillah Al Walid, dhoif. Hadits 111 ada Laits bin Abi Sulaim Al Qursyi Abu Bakar, dhoif. Hadits 112ada Abdullah bin Mushawir, majhul. Hadits 120 ada Abdullah bin Ziyad bin An’um Al Afriqi, ada yang mentsiqahkan dan ada yang mendhoifkan. Hadits 125 ada Abu Umar Al Manbahi An Nakha’i, majhul. Hadits 137 ada Yahya bin Sulaiman, mungkarul hadits.

    Ini berdasarkan kitab Fadhlullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Am Mufrad, oleh Al Muhadits Fadhlullah Haidar Al Abadi Al Hindi.

    Dengan demikian maka sudah jelas bahwa Imam Bukhari memakai hadits dhoif dalam fadhoil A’mal, targhib wa tarhib serta adab. Karena beliau mustahil tidak bisa bedakan shahih dan dhoif. Barang siapa mengatakan bahwa Imam Bukhari menolak hadits dhoif mutlak, maka hal itu bertentangan dengan fakta.

    Masalah bukhari ini dibahas cukup banyak dalam kitab musthalah Dhafar Al Amani, Imam Laknawi.
    Ibnu Hajar juga menilai bahwa bukhari tasahul terhadap periwayatan hadits dalam fadhoil, walau dalam shahih beliau. Dalam Hadyu As Sari beliau ketika menyebutkan perowi At Thufawi yang dihukumi Abu Zur’ah sebagai mungkarul hadits, ibnu hajar menyebutkan ada tiga hadits dalam shohih bukhari yang terdapat perawi itu, salah satunya adalah “kun fi addunya ka’anaka ghorib”,di hadits ini At Thufawi sendirian, hingga ibnu hajar mengatakan,”sepertinya bukhari tidak memperketat periwayatan hadits ini, karena ia termasuk hadits targhib wa tarhib.

    Memakai hadits dhoif bukan dusta atas nama Rasulullah, baru dikatakan dusta kalau itu maudhu’. Ibnu Al Madini melarang penyamaan antara hadits dhoif dan maudhu’, karena, dhoif masih ada kemungkinan sbda rasulullah. Ini dinukil dalam At Ta’rif.

    Penguatan dibutuhkan untuk menguatkan, Hadits shahih tidak perlu penguatan karena sudah kuat dengan sendirinya, apalagi dengan hadits dhoif. Yang ada justru kebaliknya, hadits dhoif dikuatkan oleh hadits shahih, hingga derajatnya terangkat.

    Ok, supaya lebih mudah, ana nukilkan salah satu contoh dalam adab mufrad yang “dipecah” al albani.
    Imam bukhari menulis: 10. Bab wujub Shilah Ar Rahim (Bab, kewajiban silaturrahim). Dari Kulaib bin Manfa’ah ia berkata……Al Albani mengatakan :”Dhoif”.
    Lihat, di judul Bukhari mengatakan wajibnya silaturrahim, lalu nyantumkan hadits. Kalau memang ga boleh dijadikan hujah, kenapa bukhari mengatakan wajib?
    Dan Bukhari juga tidak menjelaskan hadits ini dhoif. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan Suyuthi, yaitu dengan tanpa menjelaskan kedhoifannya (tadrib rowi). Kalau Bukhari menyeru untuk meninggalkan hadits-hadits dhoif mutlak. Kenapa bisa begini??? cara Imam bukhari ini sama dengan Imam Ahamd dan Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhud beliau berdua.
    Dan Al Albani tidak mentolelir sama sekali seperti ini, makanya “memecah” jadi dua.Yang jadi tanda tanya, bagaimana al albani mengaku ikut madzhab bukhari?

    Untuk bab ini Bukhari berhujjah satu amalan dengan hadits shahih dan dhoif, nah cara ini juga tidak disetujui mereka yang mengaku-ngaku ikut madzhab bukhari, kata mereka:”Kalau ada yang shahih, mengapa pakai dhoif?” Makanya, Adab Mufrad perlu “dipecah” menurut mereka.
    Tapi di Bab:La tanzilu arrahmah ala qoum qathi’u arrahim, Bukhari hanya menampilkan satu hadits dhoif. Makanya Bab ini tidak ditemukan dalam Shahih Adab Mufrad Al Albani.

    Ok, ana juga tunjukkkan bahwa para muhadits awal membolehkan amal dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib.
    Hafidz Ibnu Al Arabi dalam Al ‘Aridhah, syarh Tirmidzi mengatakan:” Abu ‘Isa telah meriwayatkan sebuah hadits majhul “In Syi’ta Syamithu, wa In syi’ta fa la”. Walau hadits itu majhul, tapi mustahab untuk diamalkan, karena menyeru kepada hal yang baik dan berbaik kepada teman serta berkasih sayang kepadanya”. Ini sekaligus sanggahan terhadap Al Qasimi yang mengatakan bahwa Abu Bakar bin Al Arabi menolak hadits dhoif dalam fadhail amal
    Syaikh Sakhawi mengatakan dalam Fathu Al Mughits, bab man tuqbalu riwayatuhu wa man turaddu, bahwa kebolehan amala dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib telah dinukil dari lebih dari satu imam, seperti Ibnu Muhdi, Ahamd bin Hanbal, Ibnu Ma’in (Ini sekaligus menggugurkan mereka yang mengatakan bahwa Ibnu Ma’in melarang amal dengan hadits dhoif mutlak), Ibnu Mubarak, As Sufyanaini (dua sufyan, sufyan bin uyainah dan sufyan atsauri).

    Dalam kitab Tadrib Rowi, syarh Takrib Nawawi punya hafidz Suyuthi: Boleh menurut ahlul hadits (para pengklaim madzhab ahlul hadits) dan lainnya, tasahul (bermudah-mudah) dalam sanad-sanad dhoif dan meriwayatkannya, selain maudhu’ dan mengamalkannya tanpa menjelaskan kedhoifannya, selain sifat-sifat Allah. Dan itu adalah hal-hal yang berkenaan dengan kisah-kisah, fadail, dan nasehat serta lainnya, selain hukum dan aqa’id.

    Tidak hanya Tadrib Ar Rawi yang menjelaskan, Hafidz Al Iraqi (guru Ibnu Hajar) pun menjelaskan dalam Alfiyah Hadits. Wa sahalu fi ghiri maudhu’ rawu (dan mereka mempermudah periwayatan selain maudhu’) Min ghoiri tabyini li dha’fihi wa ra’u (tanpa penjelasan terhadap dhoifnya…)

    Begitu juga Hafidz Ibnu sholah dalam almuqodimah: “min ghoiri ihtimam bayan dho’fiha (tanpa memperhatikan penjelasan dhoifnya)

    Pensyarah Alfiyah seperti Hafids Sakhawi pun bersepakat dengan pendapat al Iraqi, itu bisa dilihat di Fathul Mughuts Syarh Alfiatul Hadits..
    Ibnu Taimiyah juga membolehkan amal dengan hadits dhoif selain Aqidah dan Hukum. Sebagai bukti, lihat buku beliau Al Kalim Atthayiib. yang telah dirubah oleh Al Albani menjadi Shahih Kalim Atthayib.

    Mereka yang melarang hadits dhoif mutlak terkadang juga berargumen dengan dengan Al Fawaid Al Majmu’ah, dimana Syaukani melarang pengamalan hadits dhoif. Tapi itu gugur dengan perkataan dan prektek Imam Syaukani. Dalam Nail Al Authar, ketika bicara tentang disyariatkannya banyak shalat antara magrib dan isya, beliau mengatakan: Dan hadits-hadits ini, walau kebanyakan dhoif, akan tetapi bisa menguat jika digabungkan. Apalagi dalam masalah fadhail amal.

    Dalam prakteknya, beliau juga punya Tuhfatu AdDzakirin, yang mirip Al Adzkar An Nawawi. Dimana didalamnya banyak juga hadits dhoif.
    Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkii dalam fathul mubin syarh al arbain juga jelas-jelas mengatakan bahwa amal dengan hadits dhoif dalam fadhail tidak termasuk perkarah bid’ah.

    Salah satu dari syarat amal hadhits dhoif adalah mundarijan tahta ashli ‘am (sejalan dengan dalil umum. Imam Laknawi menerangkan maksud kalimat Ibnu Hajar yang dinukil oleh Sakhawi ini. Beliau mengatakan dalam Dhafar Al Amani: YAitu kandungannya termasuk hal-hal yang memiliki asal dalam keumuman syari’at, dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidan diniyah.
    Ada lagi syarat pengamalan ahdits dhoif, yaitu dhoifnya tidak parah. So kalau dhoif parah tidak dipakai. Syarat ini juga disampaikan oleh Ibnu Hajar

    Bagaimana dengan cerita-cerita yang dianggap khurafat???
    Cobalah untuk membuka wawasan lebih luas..Sebenarnya kitab fadhoil amal ini sudah ada yang mentahqiqnya, bahkan sudah lama kitab tahqiqkan ini beredar di arab Saudi, mungkin sekitar tahun 2004an, diperpustakan king fahd national library sendiri sudah menyimpan kitab tahqiqan ini..
    ini judul kitabnya
    تحقيق المقال
    في تخريج احاديث
    فضاءل الاعمال
    للمحدث لطيف الرحمن القاسمي

    Tahqiqul Maqal Fi Takhrij Ahadits Fadhail Al- A’mal karya Syaikh Latifurrahman Al-Bahjai Al-Qasmi yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Abdul Hafiz Makki (salah satu pengajar di Masjidil Haram dalam B.Urdu)…Kitab ini sudah beredar di Arab Saudi, malah kitab ini dibuat di Arab Saudi…

    Sebagai contoh satu saja yang dianggap khurafat, sebenarnya tidak pada kitab fadhoil amal (bundel kitab fadhilah2 sholat, hikayatush shohabat, dzikir, ramadhon, tabligh, keruntuhan umat), namun di kitab fadhilah lainnya seperti kitab fadhoil haji..yang ternyata cerita itu ada di kitab ulama hanabilah:
    “Hazrat Ibn Jalaa relates, “While in Medina I once suffered tremendous hunger. It became so unbearable that I presented myself at the grave of Rasoolullah and said, “O Rasoolullah, I suffer great hunger. I am now your guest.” Thereafter, sleep overtook me and in a vision, I saw Rasoolullah give me a piece of bread. I ate half of it, and when I woke up, I found myself with the other half of that piece of bread still in my hands.”
    [Fazaail-e-Aamaal, (Eng. Trans.), Virtues of Hajj, Chapter.9, story no.23, p.178, (New Edition 1982, Published by Dini Book Depot –Delhi)]
    Yet in another story, three men fasted for days on end since they could not find food. One of them went to the grave of Rasoolullah and said: “O Rasoolullah hunger has overtaken us.” Soon afterwards … “a man from Alawi family knocked at the door. We opened the door and found a man with two servants, each one carrying a large basket with many delicious foods.” The man from the Alawi family said before leaving, “You have complained about hunger to Rasoolullah. I have seen Rasoolullah in a dream and he commanded me to bring food to you.”
    [Fazaail-e-Aamaal, (Eng. Trans.), Virtues of Hajj, Chapter.9, p.177, story no.22, (New Edition 1982. Published by Dini Book Depot – Delhi). Similar stories have been mentioned on p.179 (story no.27) and p.181 (story no.29)]
    I found out that these stories are also related by other accepted Imams and Ulama. In this case these incidents were related by Ibn Jawzi (RA)
    Abu al-Khayr al-Aqta` said: “I entered the city of Allah’s Messenger and I was in material need. I stayed five days without eating anything. I came toward the grave and said Salam to the Prophet and to Abu Bakr and `Umar then said: “I am your guest tonight, O Allah’s Messenger!” I then stepped aside and slept behind the Minbar. I saw the Prophet in my dream, with Abu Bakr to his Right, `Umar to his left, and `Ali in front of him. `Ali shook me and said, “Get up, Rasullullah is coming.” I got up and kissed him between his eyes; he gave me a loaf of bread, I ate half of it; when I woke up I found half a loaf in my hand.”
    (Ibn al-Jawzi Muthir Al-Gharam Al-Sakin Ila Ashraf Al-Amakin)
    (al-hafiz) Abu Bakr al-Minqari said: I was with (al-hafiz) al-Tabarani and (al-hafiz) Abu al-Shaykh in the Prophet’s Mosque, in some difficulty. We became very hungry. That day and the next we didn’t eat. When it was time for `isha, I came to the Prophet’s grave and I said: “O Messenger of Allah, we are hungry, we are hungry” (ya rasullallah al-ju` al-ju`)! Then I left. Abu al-Shaykh said to me: Sit. Either there will be food for us, or death. I slept and Abu al-Shaykh slept. al-Tabarani stayed awake, researching something. Then an `Alawi (a descendant of `Ali) came knocking at the door with two boys, each one carrying a palm-leaf basket filled with food. We sat up and ate. We thought that the children would take back the remainder but they left everything behind. When we finished, the `Alawi said: O people, did you complain to the Prophet? I saw him in my sleep and he ordered me to bring something to you.
    Ibn al-Jawzi Kitab al-Wafa (p. 818 #1536)

    Sebenarnya kalo mau bener-bener sungguh-sungguh untuk mengkritik kitab fadhoil amal, coba juga kritik juga maraji’ dari kitab fadhoil amal tersebut, karenanya semuanya bersumber dari 84 sumber tersebut..berikut maraji’nya, saya rasa itu ilmiah:

    KITAB-KITAB RUJUKAN KITAB FADHILAH AMAL
    1. Ahkaamul Qur’an, Abu Bakar Ahmad bin Ali Razi Al Jashshosh
    2. Aini Syarah Bukhari, Badruddin Abu Muhammad bin Ahmad ‘Aini
    3. Al Kamil, Izuddin Ali bin Muhammad Ibnu Atsir Jazuri
    4. Al Qaulil Badi fis Shalati ‘Alal Habibi, Syamsuddin Muhammad As Sakhowi
    5. Az Zawajir, Imam Ibnu Hajar Al Haitami
    6. Al Ishobah, Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i
    7. Al Muwaththa’, Abu Abdullah Maliki bin Anas bin Maliki
    8. Asyhur Masyahir Islam, Rafiq Baki Al Azhim
    9. Asy Syifa, Qadhi ‘Iyadh bin Musa Al Husaini
    10. At Targhib wat Tarhib, Abdul Azhim bin Abdul Qawiy Al Mundziri
    11. Ath Thobaqot, Muhammad bin Sa’id Katibi Al Waqidi
    12. ‘Aunul Ma’bud, Abu Abdurrahman Syarif
    13. Awjazul Masaliki, Maulana Muhammad Zakariyya
    14. Baihaqi, Abu Bakar bin Husain bin Ali Al Baihaqi
    15. Bayanul Qur’an, Maulana Asyraf Ali Thanwi
    16. Badzlul Majhud, Maulana Kholil Ahmad Muhajir Madani
    17. Bukhari Syarif, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail
    18. Diroyah, Ibnu Hajar Alaihir Rahmah
    19. Durrul Mantsur, Allamah Jalaluddin Suyuti
    20. Fatawa Alamghiri, Hadzrat Alamghiri
    21. Fathul Bari Abu Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar Asqolani
    22. Harzuts Tsamin Fii Mubasyiratin Syah Waliyullah Dahlawi
    Nabiyyil Amiin
    23. Hishni Hashin Syamsuddin bin Muhammad Al Jazuri
    24. Hilyatul Aulia’ Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Asbahani
    25. Hujjatullah Al Balighah Syah Waliyullah
    26. Ibnu Hibban Muhammad bin Hibban bin Ahmad
    27. Ihya’ Ulumuddin Imam Ghazali
    28. Iqamatul Hujjah Maulana Abdul Hayyi Lakhnawi
    29. Irwahi Tsalatsah Tartib, Maulana Zhuhri Al Hasan
    30. Isti’ab Hafidz Ibnu Abdul Bar Maliki
    31. Ithaf Sadatul Mutaqin Muhammad bin Muhammad Az Zubaidi
    32. Jam’ul Fawaid Muhammad bin Muhammad Sulaiman
    33. Jamal Syaikh Sulaiman Al Jamal
    34. Jami’ush Shoghir Abdurrahman Jalaluddin Suyuti
    35. Kanzul ‘Ummal Allamah Ali Burhan Puri
    36. Kaukabud Durri Syaikh Zadu Majdah
    37. Khoshoish Kubra Allamah Suyuti
    38. Kitabul Amwal Imam Abu Abid Al Qasim bin Salam
    39. Kitabul Ummah was Siyasat Abdullah bin Muslim
    40. Majma’uz Zawaid Hafidz Nuruddin Al Haitsami
    41. Maqosid Hasanah Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman
    42. Masyirul ‘Azam Jamaluddin Abdurrahman bin Al Jauzi
    43. Mazhahirul Haq Nawab Qatbuddin Khan Bahadur
    44. Mirqatu Syarah Misykat Nuruddin Abi bin Sulthan Muhammad Harwi
    45. Misykat Syarif Waliyuddin Muhammad bin Abdullah
    46. Musamirat Syaikh Akbar Ibnu Arabi
    47. Mushonnif Abdullah bin Muhammad Ibnu Abi Syaibah
    48. Musnad Abu Awanah Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim Naisaburi
    49. Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin Al Natsna Al Muwashol
    50. Musnad Ahmad Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
    51. Musnad Al Firdaus Abu Mansur Ad Dailami
    52. Musnad Bazzar Abu Bakar Ahmad bin Umar Al Bazari
    53. Musnad Hakim Muhammad bin Abdullah bin Muhammad
    54. Musnad Ibnu Khuzaimah Muhammad bin Ishaq Ibnu Khuzaimah
    55. Mustadrak Hakim Muhammad bin Abdullah Naisaburi
    56. Nazhatul Basatin Abdullah bin As’ad Yamini Yafi’i
    57. Qashoidu Qasimi Maulana Muhammad Qasim Nanatwi
    58. Qiyamul Lail Muhammad bin Ahmad bin Ali Marwazi
    59. Qurratul ‘Uyun Syaikh Abu Laits Samarqandhi
    60. Rahmatul Muhtadah Abul Khairi Nurul Hasan wal Husaini
    61. Raudhul Faiq Syaikh Syu’aib Al Harifaisyi
    62. Raudhur Riyahin Abdullah bin As’ad Yamani Yafi’i
    63. Shahih Muslim Abul Hasan Muslin bin Al Hajjaj
    64. Sunan Abu Dawud Abu Dawud sulaiman bin Asy’ats Sajastani
    65. Sunan Darami Abdullah bin Abdurrahman Darami
    66. Sunan Daroquthni Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad
    67. Sunan Ibnu Majah Muhammad bin Yazid Al Qardini
    68. Sunan Nasai Ahmad bin Syu’aib bin Ali
    69. Sunan Thabrani Abdul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin ayyub
    70. Sunan Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Surah At Tirmidzi
    71. Syamail Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Surah At Tirmidzi
    72. Syarhus Sunnah Husain bin Ma’ud Al Farail
    73. Tadzkiratul Huffadz Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Zaibi
    74. Tafsir Kabir Imaduddin Abdul Fadai Ismail bin Umar bin Katsir
    75. Tafsir Khozin Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim
    76. Tafsir ‘Azizi Syah Abdul Aziz Dahlawi
    77. Tahdzibul Mustadzib Ahmad bin Ali bin Hajar Asqolani
    78. Talqihu Fuhumil Atsir Jamaluddin Abdurrahman bin Al Jawazi
    79. Tanbihul Ghafiliin Syaikh Abu Laits Samarqandi
    80. Tarikh Khomis Syaikh Husain Muhammad Ibnu Al Hasan
    81. Tarikhul Khulafa Allamah Jalaluddin Abdurrahman Suyuthi
    82. Usudul Ghobah Allamah Ibnu Atsir Jazuri
    83. Yusuf Zulaikha Maulana Abdurrahman Jami’
    84. Zadu Sa’id fi Dzikrin Nabiyyil Habib Hadzrat Aqdas Tsanwi

    Atau sebagai bahan bacaan saya tambahkan juga thesis seorang pelajar Malaysia tentang kitab fadhoil amal bab sholat..berikut linknya http://www.mediafire.com/file/1imthn5ymtc/TESIS-Hadith-Daif.doc

    Semoga bermanfaat bagi saya, bagi ustad, dan kaum muslimin lainnya…

    Semoga Alloh Ta’ala mengampuni dosa-dosa saya, keluarga saya..aminn

    Abdul fatah
    Wallahu alam

  24. Dear All,

    Tetaplah menjaga MUDZAKARAH dengan ADAB dan TERTIB, karena banyak sekali penjelasan Al-quran dan As-sunnah untuk menjaga ADAB dan TERTIB termasuk dalam MUDZAKARAH.

    Siapapun boleh memberikan pandangan kritis terhadap usaha da’wah termasuk kawan-kawan yang ada mudzakarah ini apakah hanya mengkopikan dari pandangan ulama ataupun pandangan analisa dan sintesa sendiri.

    Maulana Yusuf Rah sebagai Ulama dan masyaikh dalam usaha da’wah ini tidak menuliskan kitab “Hayatush Shahabat”, yang merupakan himpunan hadits dan atsar shahabat. Sehingga siapapun yang berkeinginan mendalami usaha da’wah, termasuk kalangan ahli da’wah sendiri, maka silahkan untuk banyak mempelajari kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tersebut. Dan banyak lagi kitab sejarah itu.

    Jadi akan sulit memahami usaha da’wah ini dari kitab fadhoil amal dan bahkan keliru besar jika mau memahami usaha da’wah ini dari kitab fadhoil amal, karena kitab itu bukan merupakan bentukan proses atau kerja terhadap usaha da’wah, meskipun ada ta’limnya menggunakan kitab ini.

    Usaha da’wah ini merupakan cara MENIRUKAN KERJA YANG MENJADIKAN SUKSES ORANG AWALLUN. Dan orang sukses itu adalah para Shahabat yang dibina Rasulullah SAW. Oleh karena itu, ingin mengetahui usaha da’wah ini maka marilah kita pelajari kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA.

    Alhasil ahli usaha da’wah (orang menyebutnya dengan JT) yang mendapatkan pandangan kritis TERDORONG untuk dapat menelaah lebih dalam terhadap usaha da’wah yang digelutinya. Dan orang yang memberikan pandangan kritis juga tentunya akan mendapatkan PANDANGAN BERIMBANG.

    Jangan menjadi orang yang berpikiran kerdil dikarenakan mendapatkan informasi secara KERDILISASI. Tetapi terbiasa dengan berpikiran yang mempunyai PANDANGAN BERIMBANG, sehingga akan meningkat ILMIYYAH dan HIKMAH dari diri kita.

    Sehingga tentunya orang yang memberikan kritis-kritis terhadap usaha da’wah dan juga orang da’wah yang mendapatkan kritis-kritis perihal usaha da’wah dapat dalam suasana PANDANGAN BERIMBANG, bukan DOKTRIN KERDILISASI yang cukup banyak berkembang dalam kehidupan kaum muslimin.

  25. EDITING:

    Maulana Yusuf Rah sebagai Ulama dan masyaikh dalam usaha da’wah ini tidak menuliskan kitab “Hayatush Shahabat”, yang merupakan himpunan hadits dan atsar shahabat.

    SEHARUSNYA:

    Maulana Yusuf Rah sebagai Ulama dan masyaikh dalam usaha da’wah ini TELAH menuliskan kitab “Hayatush Shahabat”, yang merupakan himpunan hadits dan atsar shahabat.

  26. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Ma’af saudaraku akhi Saripin….saya memang tidak mau memperpanjang masalah ini. Saya tidak mau terjerumus dalam perbincangan yang tanpa ujung. Setelah saya baca kiriman terakhir dari saudara “BARU BELAJAR” ternyata terlalu banyak kaidah-kaidah dan tafsiran yang tidak pada tempatnya dan keliru. Apalagi saudara “BARU BELAJAR” hanyalah menukil dari karangan orang lain. Dan selayaknya tidak bisa saya sanggah pada forum ini karena akan memakan banyak tempat. Biarlah pemirsa yang arif akan berpikir dan menilai sendiri mana yang benar dan mana yang salah. Bukankah kita mencari kebenaran..bukan semata-mata mencari kemenangan?… Jikan antum masih ingin berkorespondensi dengan saya dan berbicara banyak hal…termasuk masalah “JAMA’AH TABLIGH” antum bisa kirimkannya ke alamat gazali@harmonics-kowagroup.com. ma’af..antum keliru men-cap saya sebagai seorang salafy. Yang sebenarnya saya bukanlah seorang anggota salafy, kalo salafy dianggap sebagai sebuah organisasi atau jama’ah. Saya dilahirkan dan dibesarkan di kalangan PERSIS dan saya seorang ISLAM. ISLAM yang bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi. Wallahua’lam

  27. Assalamualaikum wr wb.
    Saya gak terlalu paham dengan JT, tapi dengan adanya JT di tempat saya masjid, mushola bertambah ramai dengan sholat jamaah dan taklim oleh polisi brimob kelapa dua depok. Dan dengan adanya JT, istri mereka/brimob juga mendukung, krn setelah mengenal JT akhlak mereka menjadi baik dengan anak, istri, orang tua, tetangga, kantor.
    Menurut saya masih bayk orang yg butuh perhatian dan siraman rohani, kalau kita melihat kekurangan orang lain sangat mudah. Alamat JT disetiap kota hampir ada, bapak/ibu yang tidak paham/suka dengan JT bisa bertanya kepada mereka.

    wassalam wr wb

  28. Masjid merupakan tempat yang sangat fundamental bagi kaum muslimin dari jaman ke jaman, dan Nabi kita Nabi Muhammad SAW ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah (yastrib saat itu) yang dibangun pertama kali adalah Masjid.

    Coba sekali-sekali kita berpikir kenapa beliau membangun masjid terlebih dahulu? Kenapa beliau tidak mendirikan madrasah Islam saja seperti yang kita kenal sekarang? Tetapi kenapa dibangun masjid? Bahkan rumah beliau diakhirkan artinya setelah masjid disiapkan.

    Seorang pemimpin tentunya mempunyai visi yang jauh ke depan, tetapi juga memberikan kerangka berpikir yang mendalam bagi ummat Islam dari masa ke masa. Tentunya kita sendiri perlu memberikan perhatian pada visi ini dengan baik pula.

    Seorang pemimpin tentunya akan menyampaikan visi ini baik kepada ummatnya sendiri, apakah melalui dari perilakunya sendiri ataupun dengan penjelasan-penjelasan yang berulang-ulang.

    Dan jika meninggalkan visi ini tentunya kaum muslimin ini akan secara bertahap dan perlahan-lahan mengalami kemunduran. Dan tentunya untuk mengalami kemajuan itu sendiri, maka kaum muslimin perlu mengambil dari VISI KEBANGKITAN itu sendiri dari pemimpinnya.

    Kita boleh berkeinginan mendapatkan VISI KEBANGKITAN dan bahkan sering kita mendengarkan perihal kebangkitan itu, tetapi kita sendiri meninggalkan visi kebangkitan dari pemimpinnya. Maka jelas visi kita hanya sebuah mimpi saja, dan tidak jelas arah kebangkitan itu.

    Pertumbuhan dan kebangkitan kaum muslimin itu yang sangat signifikan di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA adalah HIJRAH, dan ditandai dengan MASJID.

    Di jaman itu ketika HIJRAH, merupakan 1/2 perjalanan dari Nabi kita Nabi Muhammad SAW. Artinya ajaran Islam sendiri belum SEMPURNA atau selesai diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi kita di saat itu.

    Al-Islam sekarang ini sudah sempurna artinya tidak ada lagi ayat yang diturunkan, tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Jadi jika ada beranggapan ada Nabi setalah Nabi Muhammad SAW, maka jelas hal itu sesat dan menyesatkan.

    Tetapi kenapa Al-Islam sudah sempurna, TETAPI kaum musliminnya sendiri terpinggirkan di jaman sekarang ini. Kenapa? Inilah yang perlu dipikirkan terus-menerus, Universitas Islam banyak yang menghasilkan Ulama dan ustadz juga. Bahkan ditataran Arab sendiri. Tetapi kenapa masih terpinggirkan? Kenapa?

    Kenapa Ummat ini tidak KHAIRO UMMAT? Kenapa? Coba kita pikirkan berulang-ulang dengan hal ini?

    Bahkan jika dibandingkan dengan di Jaman Rasulullah SAW, kita di jaman sekarang sangat luar biasa. Kitab-kitab yang ditulis saja sangat banyak, tetapi kenapa masih lemah saja?

    Inilah yang perlu dijawab bersama kaum muslimin.

  29. Yth.Temen2 PERSIS,

    Keluarga kami punya kebiasaan yang sudah turun menurun sejak nenek moyang kami dulu sbb:
    – Kami sholat tahajud 4+ 3 witir
    – Sholat duha 4 rakaat
    – 1 jus quran bada subuh
    dll .
    Kami tidak menambah atau menguranginya. yang semua ini kami lakukan karena kelemahan iman kami untuk membuat lebih dari itu dan kami ingin menjaga istiqomahnya. Kami lakukan semuanya atas dasar belajar taat dan menanamkan kecintaan kami pada agama ditengah kesibukan dunia kami. kamipun ajarkan perkara ini pada keluarga kami secara ketat agar perkara yang demikian bisa mereka buat.
    Masalahnya adalah ada yang mengatakan bahwa apa ynag kami lakukan tsb bidah karena membatasi jumlah amalan dan juga suka menentukan waktu2nya. Padahal tidak ada dasar dan contoh yang demikian.

    1. Yth Kenan.
      Saya rasa pertanyaan anda terlontar karena ada sedikit masalah dengan Alumni Persis, entah orang tersebut dari mana, tetapi yang saya tahu tidak ada dari alumni kita yang disini (anggota FOSPI) mengatakan bahwa pembatasan itu adalah bid’ah, jikapun ada tolong tunjukkan siapa dia, nanti akan kita introgasi apakah dia benar mengatakan perkataan tersebut atau tidak?

      terima kasih.
      Admin-Karnan

  30. Dear All,

    Kami cukup lama berhubungan dengan usaha da’wah dan tabligh, setelah sekian lama kami belajar, mempelajari dan mentadaburinya.

    Kami mendapatkan satu kerangka (framework) model tiruan / jiplakan terhadap kehidupan-kehidupan yang ada di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA yang telah menjadi sumber sejarah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kaum muslimin, dan juga ummat manusia umumnya.

    Silahkan kepada kawan-kawan untuk melihatnya, mempelajarinya dan sampai melakukan kajian mendalam dengan baik. Hal ini cukup menarik.

    Kami telah belajar satu bidang ilmu modern, yaitu System Thinking View. Sebuah pendekatan modern yang dibangun untuk dapat menganalisa secara kesisteman (menyeluruh) dari proses yang nampak ataupun aktifitasnya dan selanjutnya membangun ulang untuk mendapatkan bentukan model dari hasil analisa. Bidang ilmu inilah yang telah banyak menghasilkan berbagai karya-karya kratifitas dan inovasi di dunia saat ini.

    Ilmu “system thingking view” bisa juga dipelajari untuk bidang sosial, pendidikan, keuangan dan lainnya.

    Dan kami melihat bahwa aktifitas kerja usaha da’wah dan tabligh ini merupakan khazanah, model kecil, yang wujud dari kajian-kajian mendalam dari perjalanan kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA yang sudah menjadi sejarah penting bagi kaum muslimin.

    Silahkan pelajari dan dalami khazanah, model kecil, yang diwujudkan kembali dalam kehidupan kaum muslimin melalui kajian-kajian mendalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.

    Apakah mungkin kita sendiri membangun pola-pola tiruan atau model itu untuk diwujudkan ke dalam kehidupan kaum muslimin dari sumber-sumber kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Itu sangat mungkin sekali.

    Hanya saja perlu dituntut secara istiqomah dan konsisten dengan pola-pola tiruan atau model itu. Ini sangat menarik, kami tulis ini bukan karena kami berhubungan dengan usaha da’wah.

    Tetapi usaha da’wah dan tabligh telah memberikan inspirasi kepada kami satu model yang dihasilkan dari pendekatan kajian-kajian perjalanan, dan hal itu dalam ilmu yang kami dalami “System Thinking View”.

    Kami mendapatkan inspirasi pola 4M (Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah, MUjahadah) satu proses kecil yang kami ambil dari perjalanan, analisa, dan sintesa kami berhubungan dengan usaha da’wah dan tabligh.

    Silahkan bangun dan terapkan pola 4M itu, serta dalami dan kembangkan. Kami belum sempat mendalami secara serius, padahal hal ini bisa dikelola secara maju 4M tersebut. Jika ada yang berminat kita bisa membangunnya bersama, kita jangan kalah dengan 8 Kebiasaan yang sangat populer di dunia saat ini.

    Oleh karena itu, coba terjuni usaha da’wah dan tabligh ini, perhatikan, pelajari, dan dalami secara serius. Bagi kalangan penuntut ilmu, kami sarankan untuk selalu membaca kitab-kitab sejarah, kitab-kitab tafsir, dan hadist.

    Sekarang kami sedang mempelajari kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah. Semakin lama di dalami, kami merasakan latihan-latihan itu ada ketika menjalankan KHURUJ.

    Silahkan buktikan, dan kami sudah mendapatkan “VIEW” yang cukup unik antara kitab itu dan aktifitas-aktifitas usaha da’wah …

  31. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Membaca uraian sinkat dari sdr. Haitan, saya jadi tersenyum-senyum sendiri. Sdr. Haitan seolah-olah telah menemukan satu kesamaan praktek kehidupan antara JT dengan kehidupan Rasulullah SAW dengan menggunakan konsep/ilmu “SYSTEM THINKING VIEW” yang katanya merupakan konsep/ilmu “MODERN”. Terus terang saya terkaget-kaget mebacanya. Mengingat telah lama saya berkecimpung dalam area “BADAN SERTIFIKASI” dan “MANAGEMENT SYSTEM CONSULTANT” tapi tidak menemukan apa yang disebut “SYSSTEM THINKING VIEW”

    Ada beberapa pertanyaan yang mungkin Sdr. Haitan bisa jawab:
    1. Literatur mana yang sdr. pakai dalam mempelajari apa yang sdr. sebut “SYSTEM THINKING VIEW”.
    2. Kenapa sdr. menyebut ilmu ini sebagai ilmu modern. Sejauh mana kemoderenannya.
    3. Bagaimana sdr. bisa menunjukkan kepada kami bahwa ilmu “SYTEM THINKING VIEW” bisa membuktikan kesamaan praktek kehidupan JT dengan praktek kehidupan Rasulullah SAW.

    Mungkin ini saja dulu..nanti bisa kita lanjutkan setelah anda memberi penjelasan. Saya yakin jawabannya tidak perlu terlalu panjang karena pertanyaanya memang gampang.

    Syukron.

    Indah Nur Aini.

  32. Wa’alaikumussalam wr. wb.
    Dear Indah Nur Aini dan Kawan-Kawan,

    1. Bidang “System Thinking View” biasanya dilaksanakan untuk kalangan pakar yang mendalami satu kejadian melalui pendekatan kesisteman untuk menganalisa dan selanjutnya melakukan tiruan melalui simulasi. Salah satu referensinya adalah “Business Dynamics: System Thinking for Complex World”, John D. Steman, MIT, Irwin-McGraw-Hill, 2000. Bidang ini sangat penting untuk memahami kejadian/proses/prosedur secara menyeluruh, sehingga akan mudah untuk menyusun skenario-skenarionya. Mungkin boleh juga kawan-kawan mendalami bidang “Socio-Technical Thinking” yang merupakan integrasi antara pendekatan sosial dengan teknik untuk menerapkan satu proses ke dalam sistem yang dibangun. Wikipedia memasukan “System Thinking” pada alamatnya http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking, silahkan pelajari dengan baik untuk menambah wacana dan pendalaman ilmu.

    2. Ilmu ini dipandang sebagai ilmu modern. Apakah itu modern? Untuk mengetahui definisi Modern, maka silahkan masuk ke http://www.thefreedictionary.com/modern. Sekarang ini atau di jaman sekarang ini, selalu kita berhubungan dengan kata “sistem”, misalkan sistem komputer, sistem operasi, sistem database, sistem jaringan, content management system, sistem manajemen, sistem informasi, dsb. Artinya seorang berusaha membangun tiruan melalui pendekatan sistem untuk bisa menjelaskannya. Dan jelas dari waktu ke waktu, konsep “System Thinking” ini akan terus masuk ke dalam kehidupan manusia nantinya.

    3. Maulana Ilyas Rah Ulama yang membangkitkan kembali pola da’wah dengan silaturahmi dan masjid. Apakah hal ini begitu saja pola usaha da’wah dan tabligh diperolehnya? Itu tidak mungkin, TETAPI melalui proses kajian dan analisa yang dalam terhadap berbagai sumber-sumber Islam, dan bahkan beliau harus langsung ke lapangan untuk melakukan riset ke tataran arab. Coba perhatikan dengan ayat di bawah ini yang sangat makhsyur At-Taubah (9): 100.

    “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

    Setiap orang, bahkan Ulama, akan mempunyai pendalaman yang berbeda dengan ayat tersebut. Bahkan di kalangan para Shahabat RA sendiri akan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap satu kejadian, mungkin kisah Ummar Bin Khatab RA ketika mengajukan pengumpulan dan penulisan Al-quran kepada Abu Bakar RA. Bagaimana Ummar RA bisa menganalisa dan akhirnya mengambil satu keputusan dalam hal itu. Apakah semua para Shahabat RA mempunyai pikiran seperti Ummar RA? Bahkan perhatikan kata-kata yang disampaikan Abu Bakar RA di kala itu?

    Mungkin bagi sebagian kalangan ayat itu hal biasa, TETAPI untuk sebagian kalangan ULAMA itu hal yang sangat memberikan kerangka untuk membangun analisa (menguraikan) dan sintesa (membangun ulang melalui peniruan). TETAPI kita TIDAK BOLEH merendahkan Ulama-Ulama lainnya ketika berbeda pandangan, karena hal itu JELAS BERTENTANGAN dengan ayat At-Taubah (9): 100 sendiri.

    4. Banyak sekarang ini sebagian kalangan kaum muslimin (kebanyakannya baca: salafi) selalu memberikan pandangan terhadap usaha da’wah dan tabligh ini. Dan kami sendiri hanya menyayangkan, karena penilaian itu terlalu sederhana dan tanpa analisa dan sintesa yang sangat dalam dan teliti. Kami sebutkan beberapa aktifitas dalam usaha da’wah dan tabligh ketika khuruj:

    a. Sebelum Khuruj selalu terdapat Bayan Hidayah (penjelasan petunjuk) bagaimana da’wah dan mengisi waktu dengan baik ketika khuruj. Apakah melakukan aktifitas “Bayan Hidayah” ini ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Kami berikan salah satu kisah yang sangat makhsyur perihal pesan dan nasehat Rasulullah SAW kepada Muadz Bin Jabal RA ketika akan dikirim ke Yaman. Ini salah satu bentuk “Bayan Hidayah” yang biasa Rasulullah SAW memberikan pesan kepada para Shahabat RA ketika akan menjalankan aktifitas da’wah dan pengajaran di daerah lain, kisah-kisah ini sangat banyak.

    b. Sebelum pulang ke rumah dari aktifitas Khuruj, maka selalu diberikan Bayan Tangguh (penjelasan dan nasehat, dan juga meminta karguzari atau aktifitas ketika Khuruj di daerah tertentu). Apakah aktifitas “bayan tangguh” ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Orang yang tidak pernah membaca kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tidak terbiasa dengan kisah-kisah bagaimana para Shahabat RA biasa menyampaikan Karguzari atau mengisahkan pengalamannya.

    5. Dan masih banyak lagi aktifitas ketika KHURUJ berusah MENIRU-NIRU dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Itulah yang dilakukan dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan kami menemukan hal itu dengan baik, jika mempelajari kitab-kitab para Ulama dulu. Banyak orang menilai, tetapi terlalu sederhana dan ringkas. Kami untuk memahami usaha da’wah dan tabligh akhirnya kami menggunakan “SYSTEM THINKING” agar lebih bisa memahaminya, karena usaha da’wah dan tabligh merupakan tiruan-tiruan kehidupan dari sekian banyak kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.

    6. Caranya adalah IKUT, MELIBATKAN DIRI ke dalam aktifitas dan musyawarah, dan KAMI pelajari beberapa kitab ulama dulu untuk memberikan gambarannya karena kebetulan kami mempunyai cukup banyak kitab. Dan ternyata itu memberikan gambaran yang menarik, itulah kami selalu dorong kaum muslimin untuk mengikuti usaha da’wah dan juga kawan-kawan yang telah tejun dalam usaha da’wah untuk selalu berusaha memegangnya dengan baik. Salah satu hasilnya yang kami peroleh itu, adalah 4M. Silahkan kembangkan dan dalami dengan baik.

    7. Salah satu yang selalu ditekankan adalah MUSYAWARAH dalam usaha da’wah ini. Dan kita bisa mendapatkan banyak keterangan dalam al-quran dan as-sunnah perihal MUSYAWARAH. Bahkan kalangsan yang selalu menilai usaha da’wah saat ini (baca: salafi) banyak menimbulkan kontra-produktif di dalam kalangannya sendiri, karena TIDAK MENGHIDUPKAN MUSYAWARAH. Padahal hal itu merupakan sunnah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.

    8. Kami menganjurkan kepada kaum muslimin termasuk kalangan ahli da’wah dan tabligh untuk mendalami kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah. Karena setelah lama kami perhatikan dengan baik kitab itu, maka kami mendapatkan gambaran yang sangat baik terhadap aktifitas-aktifitas ketika khuruj. Dan itulah usaha da’wah dan tabligh ini menjadi merupakan latihan amal-amal sholeh untuk meningkatkan iman itu sendiri. Dan sangat cocok dengan judul itu “Riyadhush Sholihin” dengan hal yang selalu ditanamkan yaitu “memperbaiki diri”. Kapan kami mendapatkan gambaran itu? Guru kami menasehati untuk selalu membaca kitab itu, dan setelah dibaca bolak-balik dan berkali, akhirnya SEDIKIT ada gambaran terhadap usaha da’wah ini. Itulah kami sangat senang dengan tulisan-tulisan dari Imam Nawawi Rah ini. Mudah-mudahan beliau dilapangkan kuburnya dan juga mendapatkan rahmat Allah swt.

    9. “SYSTEM THINKING” sudah kami pergunakan dalam berbagai hal termasuk dalam R&D bidang kami sendiri, silahkan perhatikan http://haitanrachman.wordpress.com. Dan kami dengan adanya pendekatan ini, kami mendapatkan satu proses 4M (Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah, dan Mujahadah) melalui usaha da’wah ini setelah sekian lama dalami. Silahkan kaji dengan ilmu yang kawan-kawan pelajari, apakah teori kami 4M itu keliru dan tidak ada landasannya.

  33. Assalamu’alaikum wr. wb.

    Terima kasih atas jawaban sdr. Haitan.

    Sebenarnya saya ingin jawaban yang simple saja tapi jawabannya ternyata cukup panjang dan meliuk-liuk.

    Saya tidak ingin mengomentari panjang dan lebar jawaban dari sudara Haitan. Saya hanya menyimpulkan sedikit saja apa yang saya baca dari jawaban saudara Haitan:

    1. SYSTEM THINKING VIEW tidak dikenal dalam literatur keilmuan yang membahas tentangnya..yang ada dan dikenal adalah “SYSTEM THINKING” dan “SYSTEM VIEW”. SYSTEM THINKING VIEW adalah kata2 yang disusun oleh sdr. Haitan sendiri dan itu tidak ada dalam literatur dan sudah pasti akan memberikan makna yang berbeda.

    2. SYSTEM THINKING dan SYSTEM VIEW sejatinya bukanlah ilmu modern walaupun masih dipakai sampai sekarang. SYSTEM THINKING dan SYSTEM VIEW sudah dikenal semenjak sebelum masehi walaupun penkajian yang lebih mendalam dan pembukuannya baru diintesifkan setelah perang dunia II.

    3. Menghidupkan/melaksanakan kehidupan/kebiasaan/sunnah Rasulullah tidak perlu dengan ilmu SYSTEM THINKING dan SYSTEM VIEW. Dengan membaca dan melaksanakan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang shahih kita bisa menirunya. Dalam kenyataannya justru amalan2 ibadah dan pola dakwah dari JT ada yang tidak sama dan menyimpang dari sunnah Rasulullah SAW.

    Note : Tidak selamanya penentangan terhadap JT berasal dari SALAFY. SALAFY hanya sebagian kecil dari keseluruhan jama’ah/organisasi yang sering mengkritik/menasehati JT. Dari pengalaman suami saya selama mengikuti khuruj bersama JT banyak dari mesjid yang dikelola Muhammadiyah, PERSIS dan Al-Irsyad menolak kegiatan yang dilakukan JT. Bahkan beberapa dari pengelola mesjid tersebut mengajak berdiskusi dengan cara baik-baik dengan mereka tetapi mereka biasanya langsung kabur dan tidak datang lagi ke Mesjid lagi.

    Wallahua’lam.

    Syukron

    Indah Nur Aini

  34. Dear All,

    1. Untuk melihat susunan kata “SYSTEM THINKING VIEW” silahkan masuk ke http://www.iseesystems.com/community/connector/Zine/MarApr04/deveau.html. Dalam kalangan pakar sudah biasa mengajukan susunan kata untuk menunjukan pola kerangka berpikir yang sedang dibangunnya.

    a. Jadi sangat tidak tepat kalau istilah itu hanya merupakan pandangan kami semata. Google dapat dipergunakan untuk mencari susunan itu.

    b. Kalau sdr. tidak setuju dengan istilah yang dibangun kami, itu tidak jadi masalah. Tetapi yang perlu diketahui adalah pakar lain juga mengajukan susunan atau istilah itu. Ini sudah lumrah dalam bidang ilmu.

    2. Apakah sdr. memperhatikan 4M (Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah, dan Mujahadah) yang kami dapatkan dalam proses usaha da’wah dan tabligh?

    a. Kira-kira bagaimana kami bisa mendapatkan konsep 4M itu?

    b. Adakah susunan model 4M secara TEKSTUAL dalam al-quran dan as-sunnah yang shohih?

    c. Kemudian kita tanya lagi apakah kerangka 4M ini BERTENTANGAN dengan al-quran dan as-sunnah shohih?

    d. DAN KALAU perlu silahkan bawa ke kalangan Ulama ataupun penuntut Ilmu yang sdr. anggap mempunyai Ilmu yang baik dalam Al-islam Perihal kerangka 4M (muhasabah, mudzakarah, musyawarah, mujahadah). Dan kami berinama atau istilah “4M for never ending improvement”.

    Silahkan dicerna dengan baik, dan gunakan macam-macam sumber yang dipelajari. Kalau tidak mampu, maka bertanyalah kepada yang mengetahuinya.

    3. Coba tunjukan untuk membuktikan kalimat sdr. itu “Dalam kenyataannya justru amalan2 ibadah dan pola dakwah dari JT ada yang tidak sama dan menyimpang dari sunnah Rasulullah SAW.”

    a. Jangan kita ini bisanya MENILAI yang akhirnya KERDIL dan MENGKERDILKAN pola berpikir kaum muslimin.

    b. Kami sudah tunjukan dua hal dalam proses da’wah yaitu Bayan Hidayah dan Bayan Tangguh. Silahkan berikan komentar apakah itu KELIRU dan bertentangan sunnah Nabi?

    4. Itu saja dulu, karena biasanya di mana-mana ketika kami bermudzakarah, selalu muncul kalimat atau kata-kata “MELIUK-LIUK” atau “MUTER-MUTER”.

    Karena selalu ingin ringan dan sederhana dalam berpikir. Maka kami cukup sedikit-sedikit dahulu.

  35. Dear All,

    Kami akan kopikan jawaban dari sdr. Indah Nur Aini, ke myquran yang kami buatkan forumnya dan juga di situs kami.

    Agar semua orang dapat mengikuti juga perihal mudzakarah ini dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s