Perselisihan Hari Raya Idul Fithri

Surya, 23 September 2007
Tahun ini terbuka kemungkinan terjadi perbedaan hari
raya Idul Fitri. Muhammdiyah telah mengumumkan Idul
Fitri jatuh pada hari Jum’at, 12 Oktober 2007,
sedangkan PBNU masih menunggu pada hari ke-29 Ramadhan
untuk menentukannya. Begitu pula sikap pemerintah.

Selain Muhammdiyah, ormas Persatuan Islam (Persis)
juga akan lebaran pada 12 Oktober 2007. dalam
penetapan hari raya Idul Fitri Persis menetapkannya
dengan berprinsip pada wujudul hilal, yakni
menentukannya sesuai hisab.

Kebetulan sebagian besar ahli hisab menetapkannya
Jum’at, 12 Oktober 2007,”kata ustadz Luthfi Abdullah
Ismail, pengasuh Ma’hadul Persis Bangil.

Dengan penetapan ini, lebaran yang ditentukan Persis
bersamaan dengan yang ditetapkan Muhammadiyah.

Sementara itu, ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)
memastikan akan menggunakan metode rukyat
global.prinsipnya, dimanapun hilal (bulan) terlihat,
saat itulah masuk tanggal 1 Syawal di seluruh dunia.
“Jadi, persoalannya bukan kami mengikuti Timur Tengah
atau tidak. Kami memakai rukyat global, bulan tidak
harus dilihat oleh orang Indonesia. Bulan itu dilihat
kaum Muslimin dimanapun,” ujar juru bicara HTI Ismail
yusanto kepada Surya

Ia menjelaskan, sidat dari peredaran bulan akan
terlihat ketika matahari tenggelam. Indonesia yang
berada di Timur, mataharinya tenggelam lebih dulu
daripada di daerah Barat seperti Timur engah. “Itu
yang memungkinkan bulan akan terlihat disana (Timur
Tengah) ketika disini tidak melihat.

Menurut dia, rukyat juga dilakukan di Indonesia. “Tapi
kalau di Indenesia tidak terlihat, jangan lantas
mengatakan belum 1 syawal, karena boleh jadi bulan
sudah terlihat di daerah Barat,” paparnya. Ismail
menambahkan bahwa berdasarkan hisab 1 Syawal memang
jatuh pada 12 Oktober 2007.

Seperti diketahui, PP Muhammadiyah telah menetapkan 1
Syawal 1428 H jatuh pada Jum’at 12 Oktober 2007.
pemerintah meski masih menunggu hasil rukyat, dalam
kalender 2007 telah mencantumkan Idul Fitri 13
Oktober 2007.

Ikuti mayoritas
Ketua Wilayah Jatim dan Bali DPP PKS Sigit Sosiantomo
mengatakan, pihaknya tidak mengutamakan metode rukyat
atau hisab. “Kami akan mengikuti masyarakat mayoritas
ditiap daerah, katanya.

Ia mencontohkan, mayoritas masyarakat Jatim adalah NU,
sedangkan di Jakarta adalah Muhammadiyah. Jadi bisa
saja, nati PKS Jakarta dan di Jawa Timur berbeda,
sesuai dengan mayoritas daerah masing-masing,”
ujarnya.

Sigit menyebutkan, perbedaan penentuan 1 Syawal
merupakan khazanah, sehingga tidak perlu dipertajam.

Hal yang sama dikatakan Ketua Dewan Syarriah DPD PKS
Jember, Khoirul hadi, bahwa PKS mengedepakan toleransi
dan mengikuti pihak mayoritas. “Sesuai dengan
instruksi DPP, kami mengikuti yang mayoritas, begitu
juga tingkat lokal kami juga akan mengikuti mayoritas.
Jika mayoritas emngikuti pemerintah, maka kita juga
ikut, ini bentuk toleransi PKS, kata ustadz Khoirul.

sumber; http://www.surya.co. id


2 thoughts on “Perselisihan Hari Raya Idul Fithri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s