Menjadi Seorang Muslim Yang Berakhlak

Oleh: Azmiy Muhammad Haqqy

Akhlaq al kariim adalah tujuan yang fundamental dalam risalah Islam, sebagaimana di ibaratkan oleh Rasulullah s.a.w dalam haditsnya: “Sesungguhnya aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad dan selainnya). Dan sebagaimana dikuatkan oleh firman Allah: “(yaitu) orang-orang yang apabila kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS Al Hajj:41), juga termaktub dalam Al Baqarah ayat:177 yang terjemahannya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan itu adalah beriman kepada Allah s.w.t, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya bila berjanji, dan orang-orang yang shabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang yang bertakwa”.

Akhlaq al kariim adalah bukti iman dan buahnya… dan tidak ada iman tanpa Akhlak… sebagaimana yang telah di isyaratkan oleh Rasulullah s.a.w dalam sabdanya: “Tidaklah iman hanya dengan angan-angan, akan tetapi (iman itu adalah) apa yang tertancap di dalam hati dan diaplikasikan oleh perbuatan.” (HR Ad Dailamy dalam Musnadnya).

“Rasulullah s.a.w ditanya tentang apa itu ad diin, maka beliau menjawab: (ad diin itu adalah) Husn al khuluq, dan beliau ditanya tentang apa itu asy syu`m (kecelakaan/kemalangan ), maka beliau berkata: (asy syu’m itu adalah) Suu` al Khuluq” (HR Ahmad).

Akhlaq adalah sesuatu yang paling menunjang timbangan seorang hamba pada hari kiamat… maka barang siapa yang rusak akhlaknya maka akan buruklah seluruh amalannya… Rasulullah s.a.w bersabda: “Tidak ada yang lebih memberatkan timbangan seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlaknya” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Akhlaq al kariim adalah intisari dari ibadah dalam islam, yang tanpanya segala ibadah tidak akan bernilai dan berfaedah… maka sungguh telah berfirman Allah s.w.t tentang subtansi shalat (ibadah yang menjadi asas keberislaman seseorang): “ Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS Al Ankabut:45), dan sabda Rasulullah s.a.w: “Barang siapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, tidak menambah (shalatnya) kecuali (orang tersebut) semakin jauh dari Allah s.w.t” (HR Thabrani). Juga sabda Nabi s.a.w tentang Shaum: “Apabila berpuasa salah seorang diantara kalian, maka janganlah berkata keji, dan membentak. maka apabila ada seseorang yang berkata buruk (terhadapnya) atau mencacinya maka katakanlah (kepada orang tersebut); inni shaa`im (aku berpuasa)” (Muttafaq Alaih). Begitu pula dengan firman Allah s.w.t tentang haji: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, maka barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata keji, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” (QS Al Baqarah: 197), dan sabda Nabi s.a.w (juga tentang haji): “ barangsiapa yang menunaikan ibadah haji dan tidak berkata keji serta berbuat fasik, maka (orang tersebut) akan kembali seperti hari dilahirkan ibunya: (Muttafaq alaih).

Sifat-sifat seorang Muslim:

Di antara sifat-sifat yang selayaknya dimiliki oleh seorang muslim dalam membentuk akhlaknya adalah sebagai berikut:

· Menjauhi Syubuhat: Hendaklah seseorang meninggalkan apa-apa yang diharamkan baginya, dan memelihara (diri) dari syubuhat, karena yang demikian itu telah di ibaratkan oleh sabda Rasulullah s.a.w: “Yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang syubuhat, yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka barangsiapa yang menjaga (dirinya) dari syubuhat, maka selamatlah agamanya dan harga dirinya. Dan barangsiapa yang terjatuh dalam syubuhat, maka telah terjatuh ke dalam hal yang haram, sebagaimana seorang pengembala yang mengembalakan (binatang ternaknya) di padang rumput yang kelilingi jurang, maka ditakutkan terjatuh ke dalamnya, ketahuilah bahwa pada setiap raja ada tempat pelindungnya, ketahuilah bahwasanya batas-batas Allah s.w.t adalah hal-hal yang diharamkannya,. Ketahuilah bahwasanya dalam setiap tubuh itu ada segumpal daging, yang apabila baik (segumpal daging tersebut) maka baiklah seluruh jasad, dan apabula rusak, maka rusaklah jasad tersebut, ketahuilah dia itu adalah ‘hati’.” (Muttafaq Alaih).

· Wara’: Adapun paling tingginya derajat wara’ adalah apa yang disebutkan Rasulullah s.a.w dalam haditsnya: “Seorang hamba itu tidak akan termasuk muttaqiin hingga dia meninggalkan sesuatu yang dibolehkan sebagai bentuk kewaspadaannya terhadap sesuatu yang bahaya” (HR Tirmidzi)

· Menundukkan Pandangan (Ghadl al Bashr): Hendaklah seseorang menundukkan pandangannya dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah s.w.t, karena sesungguhnya pandangan itu mewariskan syahwat dan membuat pelakunya terjatuh ke dalam dosa dan maksiat… maka sehubungan dengan ini Al Quraan Al Kariim memberi peringatan terhadap pandangan yang berlebihan, firman Allah s.w.t: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya…” (An Nuur:30). Dan sabda Rasulullah s.a.w: “Pandangan itu satu panah dari panah-panah iblis”, juga sabdanya: “hendaklah kalian menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan, atau Allah akan memburukkan wajah-wajah kalian” (HR Thabrani)

· Menjaga Lisan: Hendaklah menjaga lisan dari banyak bicara, berkata keji dan kotor, serta mengada-ngada. Dan secara umum mejauhi perkataan yang laghaw, ghibah dan namimah (mengadu domba)… Berkata Imam Nawawi: “Ketahuilah, selayaknya bagi setiap mukallaf untuk menjaga lisannya dari tiap-tiap perkataan, kecuali perkataan yang telah jelas kemaslahatannya.

· Memiliki sifat Malu: Hendaklah memiliki sifat malu dalam setiap keadaan, tanpa menghalanginya untuk tetap berani membela kebenaran… dan termasuk sifat malu adalah tidak ikut campur dengan urusan orang lain, menundukkan pandangan, rendah hati, tidak meninggikan suara, qanaa’ah dan yang serupa dengannya… Sungguh telah diriwayatkan dari Rasulullah s.a.w bahwasanya beliau lebih malu dibandingkan dengan perawan dalam pingitan… Dan sabda beliau s.a.w: “Iman itu lebih dari 70 cabang atau lebih dari 60 cabang, yang paling utama adalah qaul Laa ilaha illa Allah, dan yang paling ringan adalah menyingkirkan rintangan di jalan, dan malu itu termasuk cabang dari iman” (Muttafaq Alaih), dan sungguh telah berkata para ulama: “Hakikat malu itu adalah akhlaq yang ditimbulkan dari meninggalkan keburukan, dan menahan diri dari mengurangi hak orang lain”

· Al Hilm Wa Ash Shabr: Sesungguhnya sifat yang paling patut untuk ditanamkan setiap muslim pada dirinya adalah sifat sabar dan halim, karena perjuangan menegakkan islam dipenuhi dengan hal-hal yang dibenci, jalan da’wah penuh dengan onak dan duri. Dan sehubungan dengan ini telah banyak Taujihaat Quraaniyah yang menggemarkan kita untuk memiliki sifat shabar, tabah dan tegar, sebagaimana tersebut dibawah ini:

Taujih-taujih Quraaniyah:

1. “Akan tetapi orang yang bershabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (Asy Syuura: 43).

2. “… sesungguhnya hanya orang-orang yang bershabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az Zumar: 10).

3. “… dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?…” (An Nuur: 22).

4. “… dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (Al Furqan: 63).

· Bersifat jujur: Hendaklah berlaku jujur dan tidak berbuat dusta. Berkata benar walau terhadap dirinya sendiri tanpa takut celaan orang yang suka mencela…

· Tawaadhu: Hendaklah bersikap tawadhu khususnya terhadap saudara-saudara se muslim dan tidak membedakan antara yang kaya dan yang miskin… Rasulullah s.a.w pun minta perlindungan kepada Allah s.w.t dari sifat sombong, sabdanya: “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada secercah kesombongan” (HR Muslim).

· Menjauhi zhan (prasangka), ghibah, dan menutupi aib kaum Muslimin: dalam hal ini Allah s.w.t telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maka Penyayang” (Al Hujuraat:12), juga firmanNya: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Al Ahzab: 58).

Dan terakhir… Tidak lain hendaklah menjadi qudwah hasanah di antara manusia dan mengejawantahkan perbuatan-perbuatannya sesuai dengan prinsip-prinsip islam, baik dalam berprilaku, cara makan, minum, berpakaian, berkata, bepergian, kehadiran, dan dalam setiap gerakan dan diamnya.

Wallahu A’lam bish Shawab.

(Disarikan dari buku Maadzaa Ya’niy Intimaa’iy lil Islam karya al Ustadz Fathi Yakan)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s