Menelusuri Hikmah di-Syari’atkannya Puasa

Azmi Muhammad Haqqy

Tidak diragukan lagi bahwa puasa memiliki berbagai macam faidah yang agung, akan tetapi banyak dilupakan oleh orang-orang yang jahil. Mereka menganggap bahwa puasa hanya mendatangkan rasa lapar, meletihkan jasmani dan hanya membelenggu kebebasan, serta dapat menggangu kesehatan. Mereka menganggap bahwa puasa sebenarnya tidak perlu di-syari’atkan, karena hanya akan menyiksa tubuh tanpa memiliki faidah.

Akan tetapi setiap orang yang berakal dan para Ulama sangat mengetahui rahasia dan hikmah yang terpendam dalam ibadah yang satu ini. Para Ahli kesehatan-pun menguatkan akan hal itu. Mereka menganggap bahwa puasa merupakan pengobatan dan terapi yang paling efektif, serta sebaik-baik pencegahan terhadap penyakit, dan juga merupakan obat yang paling mujarab bagi segala macam penyakit jasmani (karena, pelbagai macam obat tidak akan bermanfaat tanpa perawatan intensif dan penghentian sementara dari makan dan minum).

Namun, bukanlah tujuan utama kita untuk mengetahui segala macam manfaat puasa dari segi kesehatan, karena yang demikian merupakan tugas para Tabib dan Dokter. Akan tetapi, kita dihadapkan pada pengenalan terhadap hikmah ruhiyah yang menjadi asas di-syari’atkannya puasa. Karena, Allah SWT tidaklah mensyari’atkan suatu ibadah kecuali untuk membimbing manusia untuk memiliki ketakwaan dan kembali kepada penyembahan dan ketundukan terhadap perintah-perintah Allah SWT yang Maha Tinggi.

Adapun beberapa hikmah pensyari’atan puasa adalah sebagai berikut:

Pertama; Puasa merupakan penghambaan kepada Allah SWT, kepatuhan akan segala perintah-Nya, dan penjauhan terhadap apa-apa yang dilarang-Nya. Sebagaimana yang terdapat di dalam Hadits Qudsi; Allah SWT berfirman lewat lisan Nabi-Nya:

كل عمل بني آدم له إلاّ الصوم، فإنّه لي وأنا أجزي به، يدع طعامه وشرابه وشهوته من أجلي (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku (Allah SWT) dan Aku yang akan membalasnya, (karena) dia (Hamba-Ku) meninggalkan makan, minum dan syahwatnya untuk Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka, rasa penghambaan dan ketundukan manusia kepada Allah SWT atas segala perintahnya merupakan tujuan utama dari ibadah dan penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah SWT:

وأمرنا لنسلم لربّ العالمين (الأية)

“Dan Aku telah diperintah untuk menyerahkan diri pada Tuhan semesta alam.”

Kedua; Puasa merupakan tarbiyah bagi jiwa, dan pembiasaan untuk bersikap sabar dan teguh di jalan Allah SWT. Karena puasa memicu kekuataan semangat dan kemauan keras, serta menjadikan manusia pengontrol bagi hawa nafsunya. Maka manusia tidak akan menjadi hamba bagi jasadnya dan tawanan bagi syahwatnya, akan tetapi dia berjalan dengan petunjuk syari’at, cahaya nurani, serta akal sehatnya. Jauh berbeda dengan manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu dan syahwatnya, mereka hidup seperti hewan yang hanya memikirkan perut dan syahwatnya (bahkan lebih hina), sebagaimana firman Allah SWT:

ويأكلون كما تأكل الأنعام، والنار مثوى لّهم (الأية)

“Dan mereka (orang kafir) makan seperti makannya binatang ternak, dan neraka sebagai tempat kembali mereka.”

Ketiga; bahwa puasa mendidik manusia untuk memiliki rasa cinta dan menjadikannya untuk berhati lembut, baik perangai, serta mampu menggerakkan potensi imannya. Maka, puasa bukanlah sekedar penghalang manusia untuk makan dan minum saja, bahkan merupakan gelombang kekuatan rohani di dalam jiwanya. Karena puasa membuat seseorang merasakan apa yang dirasakan saudara, maka dia akan mengulurkan tangannya untuk menolong sesama, membasuh airmata orang yang tidak bahagia, dan menghilangkan kepedihan orang yang mendapat musibah, dengan kedermawanan hatinya yang telah dibina selama bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dari Nabi Yusuf AS, bahwa beliau ditanya: “Mengapa anda membiasakan diri untuk merasa lapar, padahal anda memiliki perbendaharaan bumi” (karena pada saat itu jabatan beliau adalah sebagai Menteri Pangan di Mesir, pen), Nabi Yusuf AS menjawab: “Aku khawatir jika telah kenyang akan merupakan orang-orang yang kelaparan.”

Keempat; Bahwa puasa mendidik jiwa manusia untuk takut kepada Allah SWT, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya (baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan), dan menjadikan seseorang untuk selalu bertakwa, mensucikan diri, dan menjauhi segala perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Maka, rahasia di dalam puasa adalah untuk mencapai derajat takwa, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT ketika menyebutkan hikmah di syari’atkannya puasa:

000 لعلكم تتّقون (الأية)

“Semoga kalian bertakwa.”

Dan Allah tidak berkata:

لعلكم تتألمون، (أو) لعلكم تجوعون.

“Semoga kalian merasakan kesakitan,” atau “semoga kalian merasa lapar.”

Sedangkan takwa adalah buah yang dipetik oleh orang yang berpuasa dari ibadah ini, dan dia adalah persiapan diri orang yang berpuasa untuk berhenti di dalam batasan-batasan Allah SWT dengan meninggalkan syahwatnya, dan ketundukan terhadap perintah-Nya dengan mengharap balasan dari-Nya.

Inilah rahasia dan ruhnya puasa, serta tujuannya yang tertinggi, yang di-syari’atkan oleh Allah SWT karenanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam Kitab-Nya yang mulia. Sungguh mulia hikmah Allah di dalam pensyari’atannya yang adil dan bijaksana.

[] Wallahu A’lam bish Showab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s