Sekilas Tentang Laksamana Zheng He (cheng ho)

22 09 2007

Oleh; *Karnan Baiduri Akbar

Zheng He atau Cheng Ho atau Ma He atau atau Sam Po Tay Jin atau San Bao atau San Po Kong yang kita kenal sebagi komandan armada laut China, dengan mengemban misi pelayaran dari Kaisar Zhu Di dari dinasti Ming demi memajukan persahabatan dan memelihara perdamaian antara Cina dengan negara asing.

Tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa keberangkatan Laksmana Zheng He adalah untuk mengejar Kaisar Jian Wen yang telah digulingkan oleh Kaisar Zhu. Agar tak menjadi duri dalam daging belakang hari.

Laksama Zheng He dilahirkan di Kunyang propinsi Yunan pada tahun 1371 M, ia berasal dari bangsa Hui, salah satu suku bangsa Cina. Sebagai orang Hui (etnis di Cina yang identik dengan Muslim) Cheng Ho sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Kakeknya seorang haji. Ayahnya, Ma Ha Zhi, juga sudah menunaikan rukun Islam kelima itu. Dan kata Ha Zhi sendiri terjemahan dari kata “Haji” atau “Al-Haj”.

Sebagaimana Penulis ketahui bahwasanya nama Ma dalam bahasa China adalah singkatan dari nama Muhammad.

Tahun 1371 Zheng He lahir. Ketika itu, dinasti Yuan sudah terguling. Provinsi Yunan diduduki oleh Raja Liang dan sisa kekuatan dinasti Yuan. Waktu Zheng He berusia 12 tahun, provinsi Yunan direbut oleh Dinasti Ming yang kemudian dari Ming berganti dinasti Yuan. Waktu itu Zheng He dan sejumlah anak muda lainnya dibawa ke istana Beipeng (kini Beijing) di Nanjing, dan kemudian dikebiri oleh tentara Ming. Untuk dijadikan kasim/pelayan/abdi istana.

Tak lama kemudian dia dianugerahi oleh Zhu Yuan Zhang, kaisar pertama Dinasti Ming kepada Zhu Di, putranya yang ke 4 sebagai pesuruh. Sejak berbakti kepada Zhu Di, Zheng He memanfaatkan segala fasilitas untuk banyak membaca dan ikut bertempur. Zheng He tingginya lebih dari 2 meter. Lingkar pinggangnya lebih dari 10 jengkal telunjuk. Dahinya menonjol, telinganya lebar dan berhidung kecil. Giginya putih dan rapih. Sedangkan langkahnya tegap bagai macan. Suaranya lantang laksana lonceng. Beliau berotak tajam dan pintar berdebat. Beliau adalah pemimpin ulung dalam pertempuran. Demikian pelukisan orang terhadap Zheng He.

Pada tahun Hong Wu ke 31 (1398) kaisar Zhu Yuang Zhang mangkat. Karena putra mahkotanya Zhu Biao mati muda, maka Zhu Yun Wen, cucu Zhu Yuan yang naik tahta. Berhubung masih muda, maka dia dibantu oleh menteri utama. Waktu itu raja di daerah-daerah mempunyai angkatan bersenjata yang cukup baik.

Di sini kemudian Zhu Di yang sudah menjadi raja menjadi tidak puas. Akibatnya dia memerangi Nanjing dan berhasil mendapatkannya tahta dari kaisar Zhu Yun Wen hingga kemudian digulingkannya raja Zhu Yun Wen.

Di depan Zhu Di, kasim Zheng He berhasil menunjukkan kehebatan dan keberaniannya. Misalnya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yun Wen (Dinasti Ming). Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini tampak begitu gagah melibas lawan-lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut tahta kaisar.

Zheng He menjadi pendamping utama kaisar Zhu di saat itu. Karenanya jasa yang luar biasa, apakah itu karena keberanian dan kepintarannya. Nama Ma He yang diberikan oleh orang tuanya semenjak kecil berubah menjadi Zheng He, setelah kaisar Zhu Di menganugrahi marga Zheng kepadanya. Dan hal ini sesuatu yang luar biasa. Sebab, jarang dari seorang kasim yang mendapatkan nama dan marga langsung dari kaisar. Dia juga menjadi kasim kesayangan kaisar.

Kemudian Zheng He diangkat sebagai kepala kasim intern, yang ditugasi membangun istana dan peralatan istana lainnya. Hingga pada awal abad ke 15 Kaisar Zhu Di (Yong Le) memerintahkan supaya dilakukan pelayaran-pelayaran ke Samudera Barat (Pada jaman Dinasti Ming, Pulau Kalimantan dijadikan garis pemisah antara Samudra Timur dan Samudra Barat).

Pelayaran pertama dilakukannya tahun 1405. Ini berarti lebih awal dibanding Columbus yang menemukan Amerika tahun 1492 demikian juga 92 tahun lebih dahulu dibanding pelayaran Vasco Da Gama yang menemukan Calcutta, India dan 114 tahun dibanding pelayaran Ferdinand Magelhaens. Misal ditinjau dari skala armada, Zheng He memiliki armada yang cukup mengagumkan. Dia membawa 62 buah kapal besar, serta awaknya 27.800 orang.

Bisa anda bandingkan kapal layar Colombus, yang diklaim menemukan benua amerika

Kapal yang ditumpangi Zheng He disebut ‘kapal pusaka’ merupakan kapal terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar dari pada kapal Columbus.

Disamping itu, armada Zheng He didukung dengan beberapa jenis kapal. Kapal Pusaka diibarakan sebagai kapal induk. Kemudian ada Kapal Kuda yang difungsikan untuk mengankut barang-barang kuda dan lainnya. Kapal Penempur, Kapal Logistik (makanan) dan kapal duduk sebagai kapal komando disamping kapal-kapal kecil lainnya.

Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Yang perlu diingat perjalanan ekspedisi yang dipimpin oleh admiral Zheng He, bukan dimaksudkan sebagai ekspansi atau agresi, armada raksasa ini tak pernah serakah menduduki tempat-tempat yang disinggahi. Berbeda sama sekali dengan maksud pelayaran beberapa bahariawan Eropa yang terkenal, yang sebenarnya menjadi perintis jalan untuk usaha kolonialisme negerinya.

Armada Zheng He tak pernah menduduki sejengkal tanahpun dari negeri asing. Kunjungan Zheng He dan awak kapalnya senantiasa mendapat sambutan yang hangat di berbagai negeri. Mengingat sering munculnya bajak laut dalam perjalanan pelayaran maka armada Zheng He dilengkapi dengan kapal penempur dan awak bersenjata.

Bukan berarti armada tempurnya tak pernah bertugas sama sekali. Laksamana Zheng He pernah memerintahkan tindakan militer untuk menyingkirkan kekuatan yang menghalangi kegiatan perniagaan. Jadi bukan invasi atau ekspansi. Misalnya menumpas gerombolan bajak laut Chen Zhuji di perairan Palembang, Sumatera (1407).

Sementara dari daerah Semarang ada cerita sendiri mengenai kedatangan armada tersebut. Pada abad ke 15 (pelayaran yang ke-4), Zheng He datang disertai oleh Wang Jing Hong (Ong King Hong) sebagai wakilnya. Ketika armada ini berlayar di muka pantai utara Jawa, Wang Jing Hong mendadak sakit keras. Dan atas perintah dari Zheng He, armada singgah di pelabuhan Simongan (kemudian bernama Mangkang) atau Semarang. Setelah mendarat, Zheng He dan awak kapalnya menemukan suatu gua. Gua itu dijadikan tangsi (markas) untuk sementara. Dan dibuatlah pondok kecil di luar gua sebagai tempat peristirahatan dan pengobatan buat Wang. Konon Zheng He sendiri yang menggodok obat tradisional buat Wang. Wang mulai membaik sakitnya.

Sepuluh hari kemudian Zheng He melanjutkan perjalanannya ke Barat dengan ditinggalkan 10 orang awak kapal untuk menjaga kesehatan Wang. Mereka juga dibekali dengan sebuah kapal dan perbekalan lainnya. Akan tetapi, setelah sembuh ternyata Wang Jing Hong menjadi betah di Semarang. Dipimpinnya 10 awak kapal itu untuk membuka tanah dan membuat rumah. Dimanfaatkannya pula kapal yang disediakan oleh Zheng He buat mereka bila hendak menyusul armada. Ternyata ada pemikiran lain dari Wang Jing Hong. Kapal yang disediakan untuknya tidak dibuat untuk menyusul armada ke Samudera Barat, akan tetapi dipakainya berdagang ke daerah-daerah terdekat di sepanjang pantai.

Wang yang kini dikenal dengan sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di sana.

Awak kapal yang ada ternyata juga tertarik akan daerah setempat, hingga kemudian mengawini penduduk setempat. Akibatnya, kawasan di sekitar gua menjadi ramai dan makmur. Makin hari makin banyak penduduk setempat yang bergabung dan bertempat tinggal serta bercocok tanam di sana. Sebagaimana Zheng He, Wang Jing Hong pun seorang Muslim. Dia giat menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat Cina dan penduduk setempat disamping diajarkannya untuk bercocok tanam dan lain sebagainya.

Zheng He meninggal pada saat pelayarannya yang ke-7 tahun 1430-1433, tetapi tidak diketahui secara jelas dimana makam laksamana dari Tionghoa itu, ada yang menyebutkan berada di Calcuta-India, Semarang-Indonesia

Sedangkan pendapat dari keturunan Zheng He, yaknis Zheng Mian Zhi, keturunan ke 19 dari Zheng He menulis dalam tulisan yang berjudul ”Tentang Makam Zheng He, Kakek Buyut Saya”. Dia menuliskan bahwa bahariawan besar Zheng He adalah kakek buyut saya. Makam almarhum terletak di lereng sebelah selatan bukit Nio Shou diluar pintu Gerbang Zhong Hua (Nanjing). Dan kakek saya Zheng Hou Heng pernah menjaga malam di situ dan diundangnya ulama untuk membacakan Al-Quran setiap musim semi demi memperingati kakek buyut kami.”

TAMBAHAN :

· Umat Islam (diwakili oleh laksama Zheng He) tidak kalah dengan barat pada masa yang sama dalam hal arung laut serta teknologi dan peralatannya.

· Umat Islam yang berada di Indonesia seharusnya lebih memperhatikan sejarah orang-orang Islam terdahulu, jangan sampai apa yang terjadi pada Zheng He terulang terhadap yang lain. Disebabkan orang-orang yang memiliki kepercayaan konghuchu mendirikan kuil untuknya dan dibuatkan patung kemudian disembah. Apakah kita rela sebagai umat Islam yang tinggal di Indonesia akan hal itu???

Atau karena ia berasal dari bangsa lain, sehingga kita tidak meresa memiliki ikatan apapun untuk membelanya?

· Masyarakat Dayak ada yang disebut dengan Bakumpai, hampir semua suku tersebut memeluk agama Islam, namun tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan suku Banjar (yang mengeklaim dirinya perpaduan antara masyarakat Dayak dan Arab). sedangkan masyarakat Dayak secara keseluruhan adalah perpaduan antara suku bangsa Kalimantan dan Cina, besar kemungkinan masyarakat tersebut adalah bagian dari pada hasil da’wah orang Cina di Nusantara.

· Masyarakat Muslim Indonesia hendaknya memperbaruhi paradikma pemikiran dalam rangka hubungan dengan Cina, sebab penduduk Muslim Cina memiliki jumlah yang cukup banyak.

Referensi :

· Prof Dr Hembing Wijaya Kusumah. Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara

· Dari situs Kaskus.

· Dan berbagai sumber.

*disampaikan pada di-ta’lim; FOSPI-KKS yang berlangsung pada hari Rabu 18,09,07. di Balkon hostel #1. New Campus.

About these ads

Aksi

Information

6 tanggapan

26 09 2007
Bunda Athira

Nah…ini salah satu sibling-nya Cheng Ho mampir ke site-nya FOSPI…

Nggak pecaya kan…? Susah emang kalo gue yg ngomong…

Nice article anyway, Nan… :)

16 10 2007
dwi surya

kayaknya perlu di isi gambar tentang makam – makam nieh coz biar jelas. apa lagi, by the way aku gak ngerti ma penjelasan lho……………

1 09 2008
Akbar

Saya Sangat munyukai tulisan tentang Laksamana Zheng He…

4 10 2009
pembaca

katanya dikebiri, kok bisa punya keturunan, taqiyaa loh… hoz banget

13 04 2012
gungho

chengho dibuatkan kuil sebagai bentuk penghormatan sebagai bagian dari budaya kami, bangsa tionghoa yang besar.
tidak ada pihak lain yang bisa melarang bentuk penghormatan kami.
dayak adalah saudara kami senasib sepenanggungan dan beragama asli
kaharingan.

tidak baik mengklaim dan membengkokkan sejarah demi kepentingan penyebaran ideologi anda.
ini menunjukan kepicikan dan rendahnya budi ajaran anda.

30 04 2012
fospi

setiap orang passti punya pendapat masing2, dan mereka punya standar kebenaran yang mereka percayai. kami ummat Islam juga mempunyai standar kebenaran yang memang berbeda dengan kebanyakan masyarakat pada umumnya (yang mengusung ideologi kebebasan).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: