Pesan Moral Sang “Jenderal”

Oleh; Muhammad Thalib Bonto

Muqaddimah

Lebih dari 350 tahun penjajahan bangsa Indonesia oleh imperialis Londo telah dirasakan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Kematian, kelaparan, penyiksaan, perbudakan dan beragam intimidasi menjadi peristiwa harian sepanjang masa itu. Sejarah mencatat berbagai peristiwa yang mengerikan atas bangsa ini, namun rupanya takdir menetukan lain. Ternyata bangsa ini tidak kehilangan semangat, tetap bertahan hidup untuk bangkit berjuang melakukan perlawanan atas nama kemerdekaan. Entah berapa ratus ribu bahkan jutaan pendahulu kita gugur demi kemerdekaan dari cengkraman penjajah. Tepat 62 tahun yang lalu pada tanggal yang sama di hari ini, gema suara Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama, memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan bangsa lain.

Kemerdekaan bangsa Indonesia selama 62 tahun bukan waktu yang singkat untuk dirasakan dan dinikmati. Setiap tahun, perayaan tujuhbelasan semarak dirayakan hampir di seluruh kota di negeri ini oleh seluruh lapisan masyarakat. Kegembiraan, keceriaan dan semangat suka cita dalam beragam perlombaan tampak terlihat di wajah sebagian anak bangsa.

Namun kemerdekaan bangsa ini tidak dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat luas. Perampasan hak-hak indvidu terjadi di semua sektor, seperti di sektor sosial, politik dan ekonomi masyarakat.

Kalau dulu perlawanan kita dengan sosok Londo yang jelas di depan mata, namun sekarang bukan bangsa lain yang menjajah bangsa ini, tapi sesama anak bangsa lah yang saling menjajah dengan nafsu kekuasaan untuk meraup segala keuntungan. Dengan berbagai dalih dan cara, hampir semua sektor menjadi ajang adu kelihaian bagaimana meraup keuntungan pribadi semaksimal mungkin.

Pengorbanan para pejuang di masa lalu hampir terlupa oleh semua lapisan masyarakat. Suara bising peluru, bambu runcing yang berujung merah, ceceran darah para pejuang seakan lenyap dari ingatan bangsa ini. Padahal, apa kata dunia melihat bangsa kita setelah 62 tahun makin keropos dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi?

Film ‘Nagabonar jadi 2’, yang baru saja kita tonton bersama, merupakan bentuk aktualisasi keresahan sosial yang sangat mendalam bagi sang sutradara, Dedi Mizwar. Tidak beda dengan film-film dia sebelumnya seperti ‘Kiamat Sudah Dekat’ dan ‘Ketika’ yang juga merupakan film yang sarat dengan pesan-pesan sosial. Film ini sarat dengan sentilan-sentilan cerdas yang disuguhkan dengan bumbu humor tapi sangat menyentuh kesadaran moral kita akan nasionalisme. Film ini juga menyentuh kalangan muda Indonesia , unsur patriotisme yang terkandung merupakan oase bagi kalangan muda yang saat ini banyak terbius oleh globalisasi. Kecintaan akan leluhur adalah rasa untuk kembali menjadi anak bangsa. Begitu juga penyampaian dari tokoh Nagabonar itu sendiri, baik pesan moral, sosial ataupun patriotik. Film ini juga sarat dengan pesan CINTA; CINTA antara laki-laki dan perempuan, CINTA antara orangtua dan anak, CINTA dalam persahabatan, CINTA tanah air, termasuk CINTA dalam melihat “perbedaan”.

Berikut ini beberapa pesan moral yang ingin disampaikan oleh sang sutradara sekaligus pemeran utama dalam film ‘Nagabonar jadi 2 ‘:

Kasih Sayang Seorang Ayah

Kasih sayang seorang ayah yang luar biasa terhadap anak, dari mengasuh dan mendidik sejak kecil, mensupport untuk maju hingga menyekolahkan ke luar negri.

Kesibukan seorang ayah yang jauh dan jarang berkomunikasi dengan anak, mengakibatkan terputusnya perhatian dari orangtua ke anak. Akhirnya generasi-generasi tanpa perhatian bermunculan mengekspresikan kekecewaan terhadap keluarga, padahal mereka adalah pejuang masa depan untuk membangun negri ini. Sosok ayah teladan dibutuhkan dalam pertumbuhan generasi yang memiliki visi dan misi jelas berhadapan dengan masa depan yang kian tak menentu.

Kehidupan hedonis, materialis, individualis memunculkan bahasa maskulin di tengah-tengah keluarga. Ayah yang gengsi untuk menyatakan kepada anaknya ‘ayah sayang kamu’, mengekspresikan kalimat tersebut dengan materi berlimpah.

Kasih sayang seorang jendral dalam film ini tidak hanya berupa materi dan pendidikan, bahkan lebih dari itu, hingga pencarian jodoh. Seluruh kasih sayang Sang Jenderal ditumpahkan dalam bentuk perhatian seorang Nagabonar.

“Bapak tidak akan mati, bapak akan terus hidup di hatiku…”, kata Bonaga.

Kalimat ini menunjukkan bahwa, ternyata, nurani seorang anak sematawayangnya itu tetap hidup walau sempat kabur dengan kehidupan duniawi.

Lapangan Bola

Bukan dialog menggurui, bukan juga ceramah berapi-api dengan seribu janji. Dialog itu dibangun ketika anak Nagabonar, Bonaga, berkongsi dengan rekan-rekannya bermaksud mendirikan perusahaan di kebun sawit milik Nagabonar di Medan. Rekan Bonaga memaparkan detail perusahaan, termasuk mess untuk karyawan. Tanpa diduga, Nagabonar menanyakan “di mana lapangan bolanya?” Tentu saja, eksekutif muda ini kaget. Lapangan bola? Tanya mereka. Mendengar pertanyaan tersebut, Nagabonar langsung meradang, “Kau tidak ingin bangsa kita menang main sepak bola. Sudah, rubuhkan saja salah satu gedung untuk bikin lapangan bola,” ungkap Nagabonar.

Pernyataan sederhana ini satir, begitu mengena dan telah mewakili pernyataan jutaan pecinta bola di negeri ini. Kadang, masyarakat kita memang melupakan persoalan sepele. Maksudnya, saya ingin mengatakan, bahwa jika ingin meraih hal-hal besar, jangan pernah melupakan persoalan kecil. Sebab sekecil apa pun masalah adalah batu sandungan untuk meraih hal besar.

Contohnya lapangan bola. Boleh jadi kita tidak memiliki kendala soal lapangan. Tapi persoalannya, seberapa layak lapangan tersebut memenuhi standar internasional. Hampir 90% lapangan sepak bola di negeri ini tak memenuhi syarat. Akibatnya, pemain Indonesia kerepotan saat tampil di lapangan mulus.

KKN dalam Penempatan Pejabat

Jaman sekarang, untuk mendapatkan posisi strategis pada jabatan dan mendapatkan fasilitas adalah dengan masuk ke partai politik. Mengejar karir dari bawah akan membutuhkan waktu yang panjang, juga perjuangan yang melelahkan. Ini anggapan kebanyakan orang. Tidak heran, banyak staff ahli tapi sangat jarang sosok yang benar-benar ahli menjadi staff.

Pertemuan Nagabonar dan Maryam yang sama-sama mantan pencopet dan pejuang, sangat mengherankan bagi keduanya. Seorang Maryam yang telah menjadi staff ahli menteri sementara Nagabonar masih saja hidup di tengah kebun kelapa sawit namun anaknya telah menjadi seorang pengusaha sukses di Jakarta .

Dari pengakuan Maryam yang ternyata diangkat menjadi staff menteri karena satu partai dengan menteri tersebut, merupakan pesan yang juga telah menjadi rahasia umum hampir di semua partai. Bagi-bagi kekuasaan setelah kemenangan pemilu adalah hal yang biasa, kepentingan masyarakat yang memilih mereka adalah nomor sekian. Kemenangan adalah “berapa dan mana jatah kami”. Akhirnya penempatan seseorang pada posisi tertentu tidak lagi dilihat kemampuan dan keahlian. Yang penting kekuasaan di tangan, kehormatan karena jabatan, kenikmatan dengan fasilitas akan menjadi ladang gengsi bagi setiap pemenang pemilu.

Harapan Bagi Para Pemuda

Bonaga bersama tiga sahabatnya merupakan cermin anak muda modern: metroseksual, pintar, cerdas, dan dinamis.

“Tidak sia-sia kau kusekolahkan ke luar negri,” kata Jenderal.

“Bapak mau dan rekan-rekanku ini maju kan ?” timpal Bonaga.

“Kalau bukan kalian yang muda-muda ini siapa lagi…?” pesan Nagabonar.

Setiap orang tua akan menaruh harapan besar di pundak para pemuda. Bagaimana tidak, pemuda adalah simbol terkumpulnya semua kekuatan, mulai dari kemampuan akal, cara berfikir, energi dalam berkreativitas dan juga kaya inovasi.

Apalagi dengan anak-anak bangsa yang sekolah keluar negeri, harapan itu makin besar karena makin bertambahnya pengalaman mereka dalam berinteraksi dengan bangsa lain. Namun sangat disayangkan banyak potensi seperti ini terkubur dengan hidup santai, malas, yang mengakibatkan matinya potensi pada diri mereka.

Pengembangan potensi pada diri pemuda tidak lepas dari para orang tua yang memberikan dorongan yang kuat dan besar untuk mereka, baik dalam bentuk materil maupun immateril. Sosok Nagabonar, seorang jendral yang tidak bisa membaca tapi tetap berkeinginan untuk mendorong anaknya sekolah setinggi mungkin.

Tapi sangat di sayangkan sering kali pemuda yang tumbuh di jaman sekarang begitu kehilangan rasa akan perjuangan orangtua mereka. Akhirnya perselisihan, dan ketidaksepahaman yang lebih sering muncul dan buntu dalam mencari jalan keluar.

“Jaman yang sangat sulit ku mengerti, tapi berupaya kupahami karena aku mencintaimu, Bonaga…”

Demikianlah sosok orang tua ideal yang lebih mau mengerti akan kreativitas dan inovasi sang anak. Begitu juga dalam konsepsi membangun konflik antara “yang tua” dan “yang muda” dilanjutkan dengan konflik “yang lama” dan “yang baru”, agar titik temu mudah tercapai. Si-anak dan Si-Bapak melakukannya dengan cara yang berbeda dengan tujuan yang sama, berusaha saling memahami.

Orientasi Pembangunan yang Tidak Ramah

Pembangunan yang pesat menunjukkan kemajuan sebuah bangsa. Maka tidak heran, di Jakarta terdapat banyak gedung-gedung yang dapat mendongakkan kepala kita semaksimal mungkin. Kepenatan para eksekutif dalam beraktivitas membutuhkan berbagai sarana untuk melenturkan urat-urat yang tegang karena aktivitas yang menggila. Oleh karena itu dibutuhkan semacam resort dan pemandangan alam yang indah di sekitarnya untuk mengurangi beban stress mereka.

Bonaga bersama rekan rekannya mendapat tawaran untuk membangun sebuah resort mewah. Bonaga bingung karena tanah leluhurnya yang akan dijadikan resort. Maka ia mengundang ayahnya ke Jakarta untuk memperlihatkan aktivitasnya sebagai pengusaha sukses dan sekaligus membujuk ayahnya supaya mau melepaskan tanah leluhurnya.

Pola pikir Bonaga pada awalnya lebih cenderung kapitalis radikal, dengan mengesampingkan nurani dalam berbisnis property. Tanah leluhur, dimana terdapat makam ibu, nenek dan sahabat ayahnya, Si Bujang, tidak dipedulikan. Karena yang ada di pikiran Bonaga dan teman-temannya hanya keuntungan semata, bahwa orang sudah mati tidak ada lagi hubungan dengan orang yang masih hidup, maka kuburan tidak lagi menjadi hal yang patut disakralkan apalagi dijadikan pengingat kematian.

Padahal sebagai manusia dari agama manapun, masih banyak yang menjunjung tinggi keberadaan kuburan bagi mereka yang telah mati, selain sebagai pengingat akan kematian manusia, bahkan menjadi ajang silaturrahmi antara mereka yang masih hidup di dunia dan mereka yang telah beristirahat dalam kubur, seperti ayah Bonaga dengan orang-orang terkasihnya.

Namun, kebutuhan akan tanah untuk pembangunan menjadikan para property akan berkonsep lain. Yang terpikir bagi para pengembang bagaimana berinvestasi dan mengeruk keuntungan dengan cepat, tanpa melihat perkembangan lingkungan sekitar.

Bangsa yang “Ramah”

Kita bisa bangga dengan bangsa kita yang terkenal santun dan ramah. Namun keramahan sering kali kebablasan, dengan alasan menghormati tamu. Tidak jarang dari kita yang melukai keramahan ini. Dalam dunia usaha dan politik “keramahan” bangsa kita juga sangat terkenal, yaitu untuk meloloskan berbagai proyek dari para investor atau untuk memuluskan kenaikan pangkat atau jabatan. Tidak jarang pula dari kita menyuguhkan hadiah atas nama “keramahan”

“Upeti buat tamu kita…”

“Kita ini bangsa yang ramah…”

“Ramah apa kita…? Itu sama saja kau menghinakan anak dan istri kau…!”

Patriotisme dan Nasionalisme

Baru kemarin rasanya aku mendengar suara beliau menggelegar di radio mengajak anak-anak muda melawan penjajah. Seorang pencopet, perampok pun akan tergetar hatinya kalau dia bicara…” cerita Nagabonar.

Hanya segelintir orang saja yang masih memutar rekaman suara Bapak Proklamator kita saat membacakan teks Proklamasi, itu pun hanya pada saat tujuhbelasan saja. Masyarakat lebih senang dengan sinetron dan film percintaan ala cinderella, yang menjadikan mereka larut dalam khayalan hidup.

“Kalau kau hidup di zaman itu dan hari ini kau bediri di hadapan beliau berdua walaupun cuman patungnya saja, jantungmu akan berdegup deras..tidak bisa tidak kau akan hormat pada beliau…” tutur Sang Jenderal.

Puluhan patung dibangun dengan nilai milyaran rupiah, ratusan gambar yang menggantung di dinding dengan nilai puluhan juta rupiah. Namun, bukan semangat patriotisme yang mampu terbangun dari generasi sekarang dari patung dan hiasan dinding itu, malah keahlian Nagabonar “mencopet” yang makin jadi trend di negeri ini.

“Jenderal, turunkan tanganmu…! Apa yang kau hormati siang dan malam itu? Apa karena di depanmu memakai roda empat? Tidak semua dari mereka pantas kau hormati…”

Sosok patung Jenderal Sudirman yang sedang hormat, sangat tidak layak lagi di bangun di jaman sekarang, karena seakan-akan beliau menghormati jiwa-jiwa yang tidak semuanya mengikuti langkahnya untuk berjuang. Bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa yang ingin berjuang, namun hanya ingin menjadi bangsa yang menikmati kemewahan dengan berbagai cara.

“Sampai dia meninggal dia tetap tutup mulut, dia nggak mau tuh jasanya di sebut-sebut…”

“Biar Allah saja yang mencatat”..

Kalimat yang diucapkan seorang supir bajaj berayahkan pahlawan kemerdekaan dalam film ini merupakan pesan supaya kita menjadi manusia yang ikhlas berjuang, yang untuk jaman sekarang ini makin jarang kita temui. Yang sering kali kita temukan justru “sedikit bekerja, banyak bicara”. Menonjolkan apa yang telah dilakukan agar manusia melihat. Tidak heran sering kita dengar “kalau bukan saya tidak akan ada itu dan ini” atau kalimat “itu karena saya…”

Banyak pahlawan kita yang gugur dan tidak pernah diketahui perjuangan mereka, karena apa yang mereka lakukan semata-mata berjuang bagi kemerdekaan dan kedaulatan negeri ini, bukan supaya namanya tergores oleh tinta sejarah.

Cerita patriotisme sudah dilupakan banyak orang. Masyarakat lebih tertarik dengan pahlawan animasi dan pangeran cinta. Banyak di antara kita sudah tidak lagi tertarik membaca sejarah kepahlawanan bangsa ini.

“Yakin kau, semua yang di kubur di sini pahlawan…?

Bagaimana tidak? Kuburan pahlawan sekarang telah tercampur-aduk dengan kuburan orang-orang yang mati karena dianggap pahlawan. Maka saat Nagabonar memberikan penghormatan di salah satu taman makam pahlawan, dia sempat mencium bau tidak sedap dan ragu untuk memberikan penghormatan pada seluruh kuburan yang ada di makam itu.

Sepertinya “Jenderal” Dedy Mizwar tidak mau terlalu serius menyuguhkan konsep nasionalismenya. Wajar, jika ada kekhawatiran dianggap sok nasionalis jika film ini digarap terlalu logis. Sepertinya dia juga menyadari bahwa masyarakat bangsa ini sudah sangat terkontaminasi cerita-cerita sinetron, jadi mungkin itu salah satu strategi yang dipakai dengan harapan supaya konsep nasionalisme ini bisa lebih diterima oleh masyarakat yang notabene otaknya telah terbrainwashing dengan sinetron.

Takut dan Hormat Karena Jabatan

Ada budaya yang telah mendarah-daging dalam kehidupan sosial masyarakat kita, bahwa orang-orang akan ditakuti saat menjadi pemimpin atau memiliki jabatan, pangkat dan tahta. Masyarakat yang takut dengan orang-orang yang di depan namanya menyandang jendral, presiden, menteri, dubes, guberneur, bupati atau yang lainnya. Padahal “itu tidak penting” kata Nagabonar.

Sangat gamblang di sini bahwa peraturan akan mudah diketebelece jika jenderal, presiden atau pejabat apa saja yang melakukan tanpa ada sangsi bagi mereka. Seorang polisi yang melarang bajaj masuk ke jalan protokol sangat ketakutan setelah mengetahui bahwa adalah seorang jenderal yang berada di hadapannya. Ini realita birokrasi dalam masyarakat kita.

Ngakalin Pajak

Telah menjadi kewajiban kita dalam dunia usaha untuk membayar pajak pada pemerintah. Namun hal yang sangat lumrah dalam bisnis di negara kita bahwa pajak bisa dimainkan oleh siapa saja. Mulai dari birokrasinya hingga pengusahanya. Tidak heran jika pajak yang selama ini menjadi salah satu tumpuan income pemerintah ternyata sering kali tidak bisa mendapatkan target yang diinginkan. Bonaga sebagai pengusaha ingin membayar penuh pajak tersebut, namun staffnya tetap bermain di belakang. Tapi juga sangat disayangkan, bahwa dalam film ini kita tidak melihat Bonaga menyadarkan dan mengambil tindakan tegas pada staffnya, namun hanya mengingatkan bahwa “itu kewajiban kita dan apa kata dunia”.

Beban Hidup di Ibukota

Begitu jelas gaya hidup warga ibukota yang kian hari makin tidak bersahabat. Hidup di ibukota tidak lagi menjanjikan bagi orang miskin, ternyata justru makin banyak orang memilih jalan hidup stress di ibukota.

Adegan kemacetan lalu-lintas dalam film ini, yang menjadi santapan sehari-hari bagi pengendara ibukota, hanya karena angkutan umum yang ngetem sedangkan di antrian kemacetan tersebut ada kendaraan yang membawa nenek yang mau meninggal, tidak dihiraukan oleh siapapun. Kehidupan sosial ibukota yang makin kejam.

Diskriminasi antara si-kaya dan si-miskin makin terlihat jelas. Berbagai peraturan yang mengharuskan warga miskin harus segera meninggalkan ibukota.

“Kita sudah lama merdeka tapi masih ada aturan macam itu…Kalau Belanda yang buat memang mengerti aku, karena Belanda suka cari perkara.”

Banyak peraturan yang mendiskriminasikan warga kelas bawah, dengan alasan modern, bersih dan macet, yang akhirnya pengusiran rakyat miskin dari ibukota.

Representasi Generasi Masa Kini

Bonaga, sebagai salah satu representasi generasi sekarang yang beruntung, dalam bangunan wacana kebangsaan ini memang tidak selalu ditempatkan dalam posisi yang salah. Ia digambarkan sebagai anak muda yang semangat, cerdas, berbakti pada orang tua, dan taat beragama. Meskipun dalam beberapa hal, dan ini penting, memperlihatkan suatu praktek ideologi yang berbeda. Identitas keindonesiaan Bonaga yang hidup di era kontemporer digambarkan dengan tetap memegang moral umum untuk ukuran jaman kontemporer dibanding tiga teman-temannya.


Begitu juga Umar, sebagai representasi generasi muda kelas bawah. Umar digambarkan sebagai sosok yang ulet, terus bertahan hidup, dan punya pengabdian sosial terhadap lingkungannya.

Perbedaan rentang waktu menjadikan hegemoni wacana kebangsaan berbeda, dan adanya jarak emosi antara mereka dan peristiwa pembentukan negara ini. Bonaga mengalami hidupnya di masa pembangunan.

Mengingat Mati

“Kau ajari aku ngaji, Umar. Aku ini sudah tua, kalau aku mati bagaimana ketemu Mak ku di alam sana ? Dan taunya dia, aku belum bisa ngaji..habis aku di makinya. Kalau aku masuk surga tak apalah, tapi kalo masuk neraka sudah panas gatal pula…”

Kematian akan datang kapan dan di mana saja, kesadaran beragama dan tanggung jawab atas semua perbuatan kita pada pertemuan Hari Kelak nanti tetap menjadi perhatian yang serius bagi Sang Jenderal. Dia tidak malu belajar mengaji dengan anak-anak di sebuah mushallah mungil di tengah perumahan kumuh.

Ajaran Islam sering kali disalahartikan oleh sebahagian orang, sehingga tidak mampu membedakan mana yang salah dan benar.

“Makmu dan nenekmu juga Islam, tapi tak pernah aku lihat mereka sehabis sembahyang menari macam itu…”

Penutup

Film ini bisa dikatakan cukup berhasil menyampaikan beragam ide dan dikemas dengan format yang santai, sehingga siapapun tetap akan berkeinginan untuk menonton film ini.

Film ini adalah tahap paling dasar (conditioning) dan hanya ingin mencapai target attention dan interest saja, sehingga film ini dikemas dengan sangat casual dan menggunakan pendekatan- pendekatan yang bagi sebagian orang terkesan cheesy dan tidak masuk akal. Mungkin hanya dengan cara seperti itulah masyarakat Indonesia dapat lebih mudah menyerap dan mencerna konsep yang ingin disampaikan. Apalagi jika film yang ingin menjangkau seluruh lapisan masyarakat, mau tidak mau akan menggunakan gaya pendekatannya sutradara sinetron kondang Raam Punjabi, jika masyarakat sudah cukup attention dan interest, berikutnya masuk ke tahapan yg lebih SMART.

Wallahu’alam


2 thoughts on “Pesan Moral Sang “Jenderal”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s