Kehancuran Islamic University..

  Oleh; *Adam Bakhtiar

  Dalam kisaran satu dua tahun ini, universitasku mengalami perombakan besar-besaran dalam hal administrasi dan kebijakan belajar mengajar, hal ini ditengarai setelah terjadinya perpindahan administrasi universitas dari independen di bawah pengawasan OKI, yang berpindah kekuasaan serta pengawasan ke HEC (komisi tertinggi pendidikan pakistan). Atau dalam bahasa kasarnya “Pakistanisasi” International Islamic University of Islamabad, sama halnya indikasi tersebut dengan “Saudisasi” Universitas Islam Madinah.

    Singkat cerita, sejak seleai semester awal kemudian study dimulai pada semsester kedua baru kami merasakan adanya indikasi hal diatas, yaitu ketika salah satu dari Kibar Asatidz (Pembesar Ustad / reowned teacher) dipecat alias tidak dilanjutkan kontrak mengajarnya serta pemutusan kerja yang terkesan dibuat-buat oleh pihak universitas, nah disinilah awal babak baru perombakan tersebut dimulai. Perlu di ketahui bahwa pada saat itu masih belum pindah ke HEC, tetapi gejala dan pergerakannya udah terasa.

Kemudian muncul pertanyaan, kenapa ustadz seperti beliau yang mana dengan keluasan ilmu, wawasan serta penguasaannya yang matang itu bisa dipecat secara tiba-tiba dan tidak diperpanjang lagi kontraknya..???

    Nah berlanjutlah hal ini kemudian dengan dikuranginya hafalan untuk kelayakan lulus s1 (Bachelor) yang semula 10 Juz, kemudian di pangkas menjadi 2,5 juz. Dengan alasan biar tidak memberatkan mahasiswa terutama anak fakultas Ushuluddin. Kemudian yang setekah itu dikuranginya jam belajar kami, dengan alasan terlalu banyak jam belajar sehingga melebihi SKS yang ditetapkan oleh HEC.

Dan yang terakhir dan tragis adalah, berujung pada pemecatan Guru Besar Hadith dan Da’wah Pakistan yaitu al-ustad Prof, DR, Fadl Ilahi Dhohir hafidzahulloh. Keberadaan beliau di Universitas kami layaknya penopang dari dua ahli hadith yang ada di fakultas Usuluddin saat ini. Satunya adalah DR. Suhail Hasan. Kemudian ditambah lagi dengan pemindahan asaramaku dari hostel #5 ke Kuwait Hostel, dikarenakan akan diisi oleh Akhwat ( Mahasiswi Perempuan). Meskipun pihak administrasi jami’ah bilang untuk perempuan yang mutazawwijah ( yang udah menikah) tapi menurut saya ini adalah alasan yang berbau politis untuk mengelabui kami, nanti kita saksikan prakteknya.

    Lantas ada apa sebetulnya di balik semua ini, sebagai seorang pencari ilmu dan salah satu dari mahasiswa yang menimba ilmu di universitas tersebut, izinkan saya mengeluarkan opini serta analisis saya berdasarkan apa yang saya ketahui baik dari yang saya baca maupun saya dengar dari para Asatidz.

    Sebetulnya hal ini ada benang merah yang bisa kita lacak, dari beberapa Jami’ah (Univesitas) lain semisal Islamic University of Madinah. Di Saudy Arabia.

    Lebih jelasnya begini, IIUI ini didirikan oleh OKI ( organisasi negara-negara Islam)

    Untuk mencetak kader-kadernya, terutama ahli dalam bidang ke Islaman dan juga Ilmu keduniaan. Sebagaimana respon untuk pendidikan barat yang sekuler dan anti agama.

    Tapi tidak lama dalam perjalanan keberadaan univeritas-universitas Islam seperti IIU, Universitas Islam Madinah. Mendapat banyak sorotan dan perhatian yang serius dari pihak musuh-musuh Islam. Dikarenakan ketakutan mereka melahirkan kader-kader Islam yang militan dan Fundamentaslis. Padhal ketakutan itu semua tidak ada dasarnya dan hanya upaya Barat untuk mendiskreditkan dan menekan Pendidikan dunia Islam agar supaya banyak meniru dan mengadopsi gaya pendidikan barat yang Sekular, materialis dan anti agama.

    Kita bisa telisik upaya-upaya musuh Islam untuk menghancurkan dunia akademi Muslim, misalnya di Univeritasku ini dahulu, para dosen dan pengajarnya hampir 90% adalah Masayikh dan asatidznya ajnabi (foreigners). Kemudian pada awal-awal taun 2000an dosen-dosen terbaik dan qualified tersebut di pulangkan satu persatu. Terutama setelah kejadian 11 September 2001 (runtuhnya WTC). Jadilah sekarang dosenya hampir keseluruhan Pakistani, Cuma satu-dua aja yang dari Foreigners seperti dosen dari Mesir dan Jordan.

    Masih kurang puas dengan pengusiran dosen-dosen foreigners, pemerintah pakistan mulai campur tangan dengan sedikit demi sedikit ingin merubah kurikulum syllabus pelajaran kami, terutama fakultas ushuluddin dan juga pemecatan dosen-dosen yang dinilai fundamentalis dan keras. Padahal pada asatidz yang mereka curigai dan usir, itu semuanya adalah dosen-dosen kesayangan kami, karena keteguhan ilmu, tawadhu dan keluasan ilmu mereka.

    Dan finally, sekarang Universitasku bukan lagi di bawah OKI, dah sudah diambil alih HEC. Yang cenderung mensekulerkan unviersitas kami sedikit demi sedikit.

Lantas bagaimana dengan universitas lain seperti Universitas Islam Madinah??

Menurut pengamatan saya pribadi berdasarkan source dari sana sini, gejala-gejala diatas hampir sama dengan yang terjadi di Unvieritas Islam Madinah. Cuman mereka tidak segamblang dan terang-terangan seperti di univeritas kami (IIUI).

    Gejalanya hampir mirip, jika dulu yang mengajar kami kebanyakan dosen-dosen ajnabi yang kemudian dipulangkan (diusir). Sama halnya di Saudy atau di Madinah University, yang mana kebanyakan dosen-dosennya dulu dari Mesir. Seperti Dr Assal dll. Kemudian mereka mengusir satu persatu para asatidz yang mulia tersebut, dan digantikan dengan dosen-dosen Saudy ” Saudisasi”.

Hal ini semua tentunya tidak lepas dari lingkaran politik dan kekuasan di antara kedua negara tersebut, di Universitas kami, ketika di demo dan di tentang oleh para mahasiswanya tentang perombakan besar-besaran di tubuh IIUI. Semua menunjuk ke arah atasan ( Dekan ) kemudian dekan menunjuk ke President Universitas ( Mudir Jami’ah). Dan ketika kita datangi President untuk curhat dengan mahasiswa, dia ujung-ujungnya ngeluh bahwa ini semua tekanan dari Aparatur negara (President Paksistan). Dan tentunya seperti Musharraf yaitu presiden Pakistan, tidak lepas dari campur tangan Asing, terutama Amerika yang terus menerus ingin mendikte negara-negara Islam dan ingin memperdalam pengaruhnya dalam Policy Maker di suatu negara.

    Begitu juga di Saudy, yang mana Kerajaan Saud mempunyai hubungan sangat mesra dengan U.S terutama erat kaitannya dengan Minyak. Seperti yang kita ketahui di Univeritas Islam Madinah, di setiap kelas mempunyai satu Spy dari kerajaan Saudy, tugasnya mengontrol dan mengawasi Dosen dan Mahasiswanya yang kritis terutama kepada pemerintahan. Dan seperti kita semua ketahui di Saudy buku-buku yang berbau pergerakan dilarang habis, dikarenakan takut merongrong dan bisa jadi menggulingkan kerajaan sanak family Saud. Asal anda tahu para Asatidz yang di Usir dari jami’ah Madinah tersebut pada asalnya adalah guru-guru harokah (pergerakan).

Lantas sekarang timbul pertanyaan, ada apakah gerangan dengan Gerakan da’wah saudy yang menyebar di beberapa negara, ditahun-tahun ini yang gencar dengan slogan Salafy atau kembali kepada ajaran Salafus Sholih. Yang sangat anti demokrasi barat, dan juga anti dengan pergerakan Ikhwanul Muslimin. Tentunya kita sebagai orang Islam yang dikaruniai Akal fikiran tidak boleh serta merta menutup mata dengan realitas kedua hal diatas. Mari kita fikirkan dari semua problem ummat Islam diatas. Dimakanah akar semua intrik dan fenomena diatas? Tentunya satu sama lain saling berhubungan dan bertautan. mari kita telaah dan renungi.

Wallohu a’lam bi showab.

Al-faqir ila ‘auni Robbihi

Adam Bakhtiar 09.09.2007.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s