Ust. Ja’far Umar Tholib


Sang Ustad  Pejuang

TAK ubahnya seperti Usama Bin Laden yang ‘dibesarkan’ AS karena perintah penangkapan terhadap dirinya, Panglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib juga menikmati hal serupa ketika ia ditangkap awal bulan ini.

Betulkah ia ditangkap karena dipicu oleh pidatonya yang panas di Desa Soya menjelang meletus kerusuhan Ambon? Atau karena tekanan dan permainan politik lain?

Yang jelas, perkembangan politik di Jakarta menyusul penangkapannya di Bandara Juanda Surabaya, Sabtu (4/5) lalu, memunculkan sejumlah teka-teki. Alasan penangkapan sang ustad ini pun terkesan dibuat-buat: melakukan penghinaan terhadap Presiden RI dalam sebuah pidato di Ambon. Padahal Ja’far sendiri dikenal sebagai tokoh anti-RMS dan pendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lalu kenapa ia tetap ditangkap? Jawabannya bisa beragam. Tapi yang jelas, kunjungan Wakil Presiden Hamzah Haz yang juga Ketua Umum PPP untuk menjenguk Ja’far mengapungkan dimensi lain dalam peta politik Jakarta. Anggota DPR dari PDIP terlihat sengit dalam mengomentari kunjungan Hamzah tersebut. Boleh jadi, ini merupakan warming-up menyongsong Pemilu 2004 mendatang.

Ada juga yang mengaitkan penangkapan Ja’far dengan tekanan AS yang sedang gencar memburu teroris.

Namun, Ja’far Umar Thalib memang seorang tokoh dengan perjalanan hidup yang penuh warna. Track record-nya untuk memimpin organisasi sekaliber Laskar Jihad memang meyakinkan: pernah sekolah di Pakistan, bertemu dengan berbagai pemikir Islam, ikut jihad dalam Perang Afganistan; kemudian berkeliling Timur Tengah.

Mungkin lantaran kiprahnya inilah, AS kemudian memasukkan anak bungsu dari delapan bersaudara ini sebagai salah satu yang harus dibidik dalam kampanyenya memerangi terorisme pasca tragedi 11 September 2001.

Semuanya memang bermula dari pendidikan yang ia peroleh dari keluarganya. Ayahnya, Umar Thalib, seorang kiai keturunan Yaman -Madura aktif di Al-Irsyad Malang. Tidak seperti ibunya, Badriyah Saleh yang juga keturunan Arab, ayahnya mendidik Jaf’ar kecil dengan pola militer.

Kebetulan, ayahnya adalah veteran Perang 10 November di Surabaya. Sehingga, sejak kecil pria kelahiran Malang, 29 Desember 1961 itu sudah terbiasa dihukum bahkan dirotani kalau berbuat salah. “Belajar bahasa Arab dari ayah sama dengan naik ring tinju,” kenang alumni Pesantren Persis Bangil itu.

Sikap kritisnya sudah tumbuh sejak muda. Beberapa pilihan-pilihan hidupnya yang bagi sebagian orang dianggap tidak lazim sebetulnya merupakan akibat sikapnya yang selalu merasa tidak puas.

Ayah sembilan anak dari keempat istrinya ini misalnya, lari dari lingkungan pesantren Al-Irsyad milik ayahnya setelah lulus Pendidikan Guru Agama (PGA) tahun 1981 ke Pesantren Persis, Bangil.

Merasa kurang puas di Bangil, tahun 1983 Ja’far hijrah ke Jakarta dan masuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab LIPIA). Selama mahasiswa ia duduk sebagai Ketua DPP Pelajar Al-Irsyad yang menentang Asas Tunggal bersama teman-temannya dari Pelajar Islam Indonesia (PII). Di LIPIA, ia cuma betah tiga tahun. Ia gagal mencapai Sarjana Syariah karena bertengkar dengan salah satu dosen yang dikritiknya habis-habisan.

Kemudian, oleh direktur LIPIA ia disekolahkan ke Maududi Institute di Lahore, Pakistan.

Ia mengaku baru mengenal kegiatan dakwah Salifiah ketika berkunjung ke Peshawar, daerah Pakistan yang berbatasan langsung dengan Afganistan. Di sana ia bergaul dengan tokoh-tokoh pemuda kalangan Salaf dari Suriah.

Saat itu ia berkenalan dengan buku-buku kritik tentang berbagai pemikiran Ikhwanul Muslimin dan tokoh-tokohnya, khususnya Sayyid Quthub. “Saya semula sangat kaget karena sebelumnya saya adalah pengagumnya,” ujar Ja’far dalam perbincangannya dengan Tempo News Room beberapa waktu lalu.

Ia gusar melihat kenyataan itu. Tapi kemudian ia dinasehati oleh teman-temannya yang berasal dari Suriah. Kata mereka, kita membaca sesuatu yang bersifat ilmiah harus bersikap intelek. Akhirnya, Ja’far mulai mengenal aliran pemikiran yang baru itu. “Di situlah akhirnya saya mulai berfikir lebih merdeka dan memang di sinilah sesungguhnya dasar pandangan para Salaf.”

Ia juga tak lama berada di Pakistan. Tak sampai setahun, pada 1987, lagi-lagi ia ribut dengan dosennya yang ia tantang berdebat tentang hadiz.

Akhirnya, ia memutuskan untuk ikut berjihad di Afghanistan, 1987-1989. “Ya itu semata-mata didasari rasa solidaritas ukkuwah Islamiyah.”

Konflik yang terjadi di Afganistan saat itu adalah invasi pasukan Uni Soviet dengan partai Komunisnya. Perlawanan umat Islam di Afgan sangat gigih dan serentak sehingga mengundang simpati besar umat Islam di dunia. “Di antara umat Islam yang simpati terhadap perjuangan mereka ya saya sendiri, dan saya langsung berangkat ke sana.”

Di sana, ia berkenalan dengan sejumlah kelompok radikal Islam. Ia mengambil hal yang positif dari mereka, tidak semuanya. Sebab seperti diakuinya sendiri: “Saya tidak radikal. Saya lebih bersikap intelektual, ilmiah dalam memandang berbagai permasalahan. Artinya prinsip politik yang saya anut itu bisa didiskusikan secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.”

Sekembali dari sana tahun 1989, ia diamanahkan memimpin pesantren Al-Irsyad di Salatiga. Almamaternya itupun dikritiknya habis-habisan hingga ia cuma betah satu setengah tahun.

Tahun 1991 ia terbang lagi keliling Timur Tengah untuk berguru kepada sejumlah ulama Salafy. Salah satu ulama yang menjadi guru utama beliau adalah Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i di Dammaz, Yaman Utara.

Sepulangnya dari Timur Tengah pada tahun 1993, ia mendirikan Pesantren di Yogyakarta yang bernama “Ihya’us Sunnah” dan ia sendiri yang menjadi pemimpinnya. Antara tahun 1994-1999 waktunya dihabiskan untuk belajar dan mengajar melalui dakwah Salafiyah yaitu dakwah yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman para Sahabat nabi.

Kegiatannya di Pesantren Ihya’us Sunnah adalah mengajar kitab-kitab para ulama Salaf seperti Al-utsul tsalasah (3 pedoman dasar), Syarah Kitabut Tauhid (penjelasan tentang kitab Tauhid) karya Imam Muhamamd bin Abdul Wahab kemudian kitab Al-Aqidah Al-Washitiyah karya Imam Ibnu Taimiyah.

Ketika situasi politik dan ekonomi di Indonesia sedang bergejolak di awal 1999, Ja’far memandang perlu untuk ikut berpartisipasi menyelesaikan kemelut bangsa ini. Maka 14 Februari 1999, ia tampil dalam suatu tabligh akbar yang dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah dengan tujuan memperingatkan kepada Umat Islam tentang bahayanya berpecah belah karena akan menghadapi Pemilu.

Berlanjut dengan tabligh akbar di Yogyakarta 30 Januari 2000, untuk menyikapi kondisi pembantaian Umat Islam di Maluku yang sudah berusia satu tahun tapi tidak ada upaya-upaya penyelesaiannya. Akhirnya Ja’far mengeluarkan resolusi Jihad dengan deadline 3 bulan.

Ternyata deadline sudah lewat tapi tetap tidak ada kejelasan mengenai konflik Maluku. Maka pada 6 April 2000 bersama seluruh muridnya ia mendeklarasikan akan berangkat ke Ambon dan meresmikan berdirinya Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kemudian digelarlah Tabligh Akbar di Stadion Senayan, dilanjutkan dengan latihan perang di Bogor yang dinamakan “Latihan Gabungan Nasional Laskar Jihad”. Beberapa bulan kemudian, ia mengutus 29 orang untuk pergi ke Ambon pertama kali.

Ia sendiri tidak begitu peduli dengan adanya tanggapan dari sebagian masyarakat yang menyatakan kedatangan Laskar Jihad di Maluku justru tidak menyelesaikan masalah. Ia sendiri menerima adanya kondisi pro dan kontra soal itu, tapi ia sangat yakin dengan apa yang sedang ia perjuangkan. “Yang terjadi sekarang di Maluku adalah manipulasi peta konflik,” ujarnya.

Menurut Ja’far, manipulasi peta konflik di Maluku yang terjadi adalah bahwa TNI/Polri selalu, sampai sekarang sudah tiga tahun lebih, berpegang teguh bahwa peta konflik di sana adalah kerusuhan SARA, kerusuhan antara umat Islam dan umat Kristen. “Padahal sesungguhnya ini adalah manipulasi. Yang ada di sana bukan pertikaian Islam – Kristen, tetapi yang ada adalah pemberontakan RMS atau Neo RMS terhadap negara kesatuan RI. Yang dilawan oleh umat Islam adalah pemberontakan itu.”

Karenanya, menurutnya lagi, upaya pemerintah untuk mengatasi problem di Maluku, sampai sekarang, tidak berhasil. “Karena dengan adanya manipulasi peta konflik itu, mereka seolah-oleh mengobati orang sakit perut dengan obat sakit kepala – jadi tidak tepat sasaran.”***

disadur dari Majalah Tempo.


One thought on “Ust. Ja’far Umar Tholib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s