Selamat Jalan Ustadz Shiddiq

7 11 2009

Kepergian (Alm) Shidiq Amien bagi Persis seperti ‘amul-huzni (hari
kesedihan). Mereka kehilangan tokoh-tokoh yang berkonstribusi besar
dalam dakwah

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

Hidayatullah. com–Ribuan
jama’ah berdesak-desakan untuk bisa menshalatkan jenazah Ust. Shiddiq
Amien—Allahu yarham—dari sejak malam Ahad di RS. Al-Islam dan masjid
PP. Persis Viaduct, sampai hari Ahad siang di Pesantren Persis, Benda,
Tasikmalaya. Ribuan jama’ah turut pula berdesak-desakan mengantarkan
Ust. Shiddiq Amien ke tempat peristirahatan terakhir. Allahumma-ghfir
lahu wa-rhamhu wa ‘afihi wa-’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’
madkhalahu.

Ust. Drs. Shiddiq Amienullah, MBA, atau akrab
dipanggil Ust. Shiddiq Amien, Sabtu malam (31/10/2009) wafat di RS.
Al-Islam, Bandung. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada jam 22.15
wib, setelah 22 hari sebelumnya menjalani perawatan di RS yang sama.
Almarhum wafat setelah pada tanggal 9 Oktober terkena serangan stroke
dan mengalami pendarahan di otak..

Jenazah almarhum dimandikan di
RS. Al-Islam pada jam 23.00, untuk selanjutnya dishalatkan oleh
keluarga dan beberapa tokoh Persatuan Islam (Persis). Pada jam 23.30
jenazah almarhum kemudian dibawa ke masjid PP. Persis Viaduct di Jl.
Perintis Kemerdekaan No. 2, Bandung. Sesampainya di sana ratusan
jama’ah telah menunggu untuk menshalatkan.

Sejak malam itu,
ribuan jama’ah tidak henti-hentinya menshalatkan jenazah sampai jam
06.55 wib. Antrian jama’ah yang sangat banyak menyebabkan mereka harus
berdesak-desakan di dua tangga pintu masuk masjid sampai ketika jenazah
sudah diangkat ke dalam mobil ambulance sekalipun.

Menurut H.
Andi Sugandi, Bendahara PP. Persis, mengatakan, “Sampai malam pun,
jika tidak distop, jama’ah yang menshalatkan pasti akan terus
berdatangan. “

Akan tetapi, menurutnya, semua jama’ah diharapkan
pengertiannya, karena jenazah almarhum tidak mungkin berlama-lama
disemayamkan.

Tercatat hadir tokoh-tokoh yang ikut menshalatkan
almarhum adalah para ulama Persis, Ust. Ikin Sodikin (Ketua Majelis
Penasihat PP. Persis), Ust. Usman Sholehudin (Ketua Dewan Hisbah
Persis), Ust. Syuhada Bahri (Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia), KH. Athian Ali M. Da’i, KH. Miftah Farid, Ust.. Aam
Amiruddin, M.Si, Walikota Bandung, Dada Rosada, dan mantan Menhut M..S.
Kaban.

Sementara Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan, tidak sempat
menshalatkan jenazah. Beliau tiba di lokasi tepat jam 06.55 wib saat
jenazah sudah diangkat ke mobil ambulance. Walaupun begitu beliau
sempat menengok almarhum di dalam mobil dan turut mendo’akannya.

Jenazah
almarhum kemudian bertolak ke Tasikmalaya. Panjang antrian kendaraan
terhitung + 10 km. Ketika mobil ambulance sudah sampai di Malangbong,
Garut, antrian kendaraan yang terakhir masih berada di
Cicalengka-Nagreg, Kab. Bandung.. Jenazah kemudian sampai di Pesantren
Persis, Benda, Tasikmalaya, pada jam 10.30 wib.

Kedatangan
jenazah disambut dengan haru oleh seluruh jama’ah dan santri Pesantren
Persis, Benda, yang dari sejak pagi berdesak-desakan mengantri untuk
bisa menshalatkan almarhum. Tercatat hadir waktu itu Walikota
Tasikmalaya, H. Syarief Hidayat.

Selepas shalat zhuhur jenazah
kemudian dibawa ke tempat peristirahatan terakhir. Tampak dengan jelas
di areal sawah puluhan hektar tersebut antrian jama’ah yang berjejal
mengantarkan almarhum. Ketika penguburan selesai, Ust. Usman
Sholehuddin (Ketua Dewan Hisbah Persis) menyeru semua jama’ah untuk
memohonkan istighfar dan ketetapan hati dan surganya karena jenazah
akan dimintai pertangungjawaban saat ini juga: Istaghfiru li akhikum,
wa-s`alu lahut-tatsbita, fa innahul-ana yus`alu.

Sesaat sesudah
itu, Ust. Usman menyerukan, “Cukup. Rangkaian acara pemakaman jenazah
selesai.” Jama’ah pun kemudian kembali ke tempatnya masing-masing, dan
jama’ah yang belum menshalatkan antri untuk menshalatkan di atas
kuburan almarhum.

Penyakit Ustadz

Ust. Shiddiq
Amien dilarikan ke RS. Al-Islam setelah terkena serangan stroke di
sekitar Nagreg, Kab. Bandung. Waktu itu (9/10/2009) beliau sedang
melakukan perjalanan ke Bandung dari Tasikmalaya dengan menyetir
kendaraan sendiri. Ketika beliau merasakan ketegangan di badannya,
segera beliau menepi dan menelepon putra sulungnya, H. Arief Rahman
Hakim di Tasikmalaya, untuk menyusul dan menjemputnya. Karena terjebak
macet, H. Arief pun kemudian menelepon Sekretaris Ust. Shiddiq, H. Aan
Iskandar yang kebetulan waktu itu sedang ada di Cileunyi untuk
menjemput beliau.

Ketika masuk RS. Al-Islam, menurut H. Aan
Iskandar, Ust. Shiddiq masih sempat bertanya, “Saha ieu?” (Siapa ini?),
H. Aan pun lantas menjawabnya. Akan tetapi, sejak itu beliau koma
sampai kemudian diwafatkan oleh Allah swt pada Sabtu malam, 31 Oktober
2009.

Selama di RS. Al-Islam, Ust. Shiddiq tercatat dioperasi
sebanyak tiga kali di sekitar tempurung kepalanya.. Kondisi beliau naik
turun, kadang membaik, sering pula memburuk.

Menurut Jeje
Zaenudin, M.Ag (Ketua Umum PP. Pemuda Persis) yang juga pernah diasuh
Ust. Shiddiq di Pesantren Benda, jauh sebelum itu almarhum dikenal
tidak memiliki gangguan tekanan darah tinggi. Walaupun beberapa tahun
terakhir gangguan tersebut kemudian datang, akan tetapi beliau dikenal
disiplin dalam hal makanan. Salah satunya, beliau tidak pernah bersedia
untuk makan selepas tabligh/pengajian di malam hari. Akan tetapi Allah
swt berkehendak lain. Pada Sabtu malam (31/10/2009) itu beliau
menghembuskan nafas terakhirnya.

‘Amul Huzni Persis

Bagi
jama’ah Persis, tahun 2009 ini bisa dikatakan ‘amul-huzni (tahun
kesedihan). Jika di masa Rasul saw, ‘amul huzni itu ditandai dengan
wafatnya Khadijah ra, istri Nabi saw, dan Abu Thalib, paman Nabi saw,
maka bagi jama’ah Persis, ‘amul huzni ini ditandai dengan wafatnya (1)
Ust. Drs. Endang Sukmana (Kabidgar Perwakafan PP. Persis) pada tanggal
24 Februari 2009, (2) Ust. Drs. H.. Entang Mukhtar, ZA (Ketua PP. Persis
Bidang Jam’iyyah) pada tanggal 21 April 2009, dan terakhir (3) Ust.
Drs. Shiddiq Amien, MBA (Ketua Umum PP. Persis) pemimpin tertinggi di
lingkungan Persatuan Islam.

Ya, ‘amul-huzni, karena mereka semua
adalah tokoh-tokoh yang berkonstribusi besar dalam dakwah Islam.
Kehilangan mereka sedikitnya memberikan efek yang besar dalam hilangnya
peran-peran strategis dakwah yang biasa mereka perankan. Walaupun itu
semua bukan pertanda bahwa dakwah Islam, khususnya Persis, telah
kiamat. Karena selepas Khadijah ra dan Abu Thalib, muncullah Abu Bakar,
‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan sederetan shahabat lainnya yang terbukti
lebih tangguh mengibarkan panji dakwah Islam. Demikian juga, selepas
kepergian Ust. Shiddiq Amien, Ust. Entang Mukhtar, dan Ust. E. Sukmana,
bukan berarti penegak panji-panji dakwah Islam harus hilang ditelan
masa. Generasi berikutnya dalam hal ini tentu wajib berani memikul
amanah yang besar ini. Semoga.

Penulis adalah Ketua II PP Pemuda Persatuan Islam. Tulisan ini dimuat di situs [www.hidayatullah. com]

Source : http://www.hidayatu llah.com/ index.php? option=com_ content&view= article&id= 9708:selamat- jalan-ustadz- shiddiq&catid= 68:opini& Itemid=68


Aksi

Information

2 tanggapan

8 11 2009
mudzakir khalil ali

selamat jalan wahai pejuang dakwah. ustadz, kita tidak berpisah, kita hanya berpisah alam saja.

6 12 2009
erni heryani

i’m very sad ……………………….tokoh islam yang amat dibanggakan oleh umat islam kini telah k rahmatullah. ……………………..i hope mg sgl amal ibdahx mnjdkn beliau brada dalm glngan org sblh kanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: