Jama’ah Tabligh
Berdakwah dengan cara damai
Oleh: Su’ud Hasanudin
Muqodimah.
India adalah sebuah wilayah yang cukup luas pada masa sebelum berpacahnya menjadi beberapa Negara; India, Pakistan, Bangladesh, Kashmir yang mesih menjadi sengketa. Di negeri ini banyak bermunculan gerakan dan sekte keagamaan dengan macam dan ragamnya, mulai dari gerakan pencerahan keagamaan hingga singkritisasi perpaduan dari beberapa agama. Syiah islmailiyah, Deoband, Nadwatul ulama, Aligart movement, Berelvi, Tabligh, Ahmadiyah, Sikh, dan masih banyak lagi.
India masih dikenal sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas hindu, namun didalam Negara India terdapat sejumlah masyarakat muslim yang jauh lebih besar dari masyarakat Islam di Indonesia yang disebut sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Demikian juga India tidaklah sepanjang masa dikuasai oleh masyarakat hindu, bahkan sebelum masukanya inggris ke dataran India masyarakat muslim pernah memimpin negara tersebut dalam bentang waktu yang cukup lama. Setidaknya dalam beberapa kitab hadits nama India terabadikan didalamnya, seperti dalam shohih al Bukhory[1] nama al hind disebut sebagai sebuah tempat yang pernah didatangkan dari wilayah tersebut sebatang kayu untuk dijadikan bahan atap masjid an Nabawi pada masa kholifah Usman bin Afan. Bahkan dalam sunan an Nasai[2] terdapat satu bab khusus mengenai Ghozwa tul Hind (pengiriman pasukan di India).
Bangsa India telah memiliki kekayaan budaya dan alam dan sudah dikenal oleh masyarakat dunia sejak lama, bahkan lembah mohinyo daro, dalam sejarah dilihat sebagai salah satu peradapan tertua di dunia. Dan dari kekayaan alam itulah bangs eropa tertarik untuk datang ke wilayah ini.
Masyarakat Islam berkembang di wilayah ini pada abad ke-8, setelah masuknya Muhammad bin Qosim, ke wilayah ini sebagai utusan dari pemerintahan Islam di Damaskus pada saat itu [3]. Pemerintahan Islam berdiri untuk pertama kalinya di dataran India pada kisaran tahun 712 M, berkedudukan di wilayah sind.[4]
Datangnya Ingris ke dataran India paling tidak telah merubah wajah dataran India, salah satu diantaranya adalah terpecahnya wilayah dataran tersebut menjadi beberapa Negara; India, Pakistan, Bangladesh, yang dahulu adalah satu wilayah kesatuan dengan sebutan India.
Munculnya multi movement di India
Setelah runtuhnya kekuasaan kerajaan monghul, umat Islam di India membentuk beberapa frond perjuangan, baik yang berbasis gerakan keagaaman, politik, maupun pendidikan.
Gerakan yang dipinpin oleh Shah Waliyullah ad Dahalwi adalah salah satunya sebuah gerakan pembaharuan yang membawa masyarakat Islam India kembali menyadari akan pentingnya karakteristik keIslaman. Laskar perjuangan (Jihat Movement) yang dipimpin oleh Syeh Ahmad (1785) adalah salah satu gerakan perjuangan melawan penjajahan Ingris dan menginginkan kembalinya pemerintahan kekhalifahan sebagaimana yang pernah terjadi pada generasi sahabat [5].
Sir Syed dengan ali garh Movement adalah sebuah gerakan pembaharuan dalam bidang pendidikan di dataran India yang di dirikan pada tahun 1857, dengan landasan ingin memperbaiki dengan mengangkat martabat bangsa muslim India.
Melihat gerakan Sir Syed Ahmad Khan yang cenderung menyimpang [6] para ulama India kemudian mendirikan Dar ul Ulum Deoband pada tahun 1867.
Setelah beberapa kali terjadi konfik dan perseteruan antara gerakan Sir Syed dan Dar ul Ulum, ada beberapa pihak yang mencoba untuk menengahi masalah tersebut, kemudian didirikanlah Nadwat ul Ulama Lacknow. Gerakan ini berkeinginan untuk menyatukan dua fikiran yang dinilai bertolak belakang; yakni extreme modern development yang cenderung ke barat-baratan dan traditional approaches, prinsip utama Nadwat ul Ulama yang didirikan oleh Syed Muhammad Ali Cawnpuri adalah modern tanpa menghilangkan tradisi.
Sementara dibidang politik, Muslim Leage diririkan tahun 1906 untuk memperjuangkan dan mengembalikan citra baik masyarakat muslim India. Pada umumnya orang-orang yang duduk di Muslim luage adalah buah dari gerakan Sir Syed dengan Aligarh College nya.
Dan dalam masa-masa menjelang pemisahan Pakistan dari India Jama’ah Tabligh didirikan.
Sejarah berdiri jama’ah tabligh.
Jama’ah Tabligh secara susunan bahasa diambil dari bahasa Arab: جماعة التبليغ , yang berarti “kelompok penyampai dan penyebar”. Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India.
Ada sejarah yang terpotong dalam melihat jama’ah tabligh, seringkali jama’ah tabligh diidentikan dengan Pakistan. Bukan hanya sebab memandang dari ciri khas meraka berpakaian, rewind yang tidak jauh dari pusat kota Lahor merupakan diantara tempat yang memiliki kedudukan khusus bagi para peminat jama’ah tabligh. Seringkali perhelatan besar diselenggarakan di tampat itu, bahkan ijtima (international conference) tahunan selalu dilaksanakan di kota tersebut.
Lahore sebenarnya bukanlah kota kelahiran asal jama’ah tersebut, melainkan jama’ah tersebut sebenarnya dilahirkan di Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India.
Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H.
Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat[7] (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan memakai nama-nama orang Hindu, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut. Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah
Tujuan utama dari gerakan Tabligh ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jama’ah Tabligh merupakan pergerakan non-politik. Jama’ah Tabligh juga merupakan gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya, Ada dua hal yang tidak boleh diperbincang selama Tabligh, yaitu soal politik dan khilafiah.
Berkenaan dengan nama, mungkin banyak kalangan dalam jama’ah tabligh sendiri terkadang enggan menyebut nama gerakan tersebut dengan nama apapun. Tidak diketahui secara pasti siapakah yang memberi nama jama’ah tersebut dengan sebutan jama’ah Tabligh, namun yang pasti dari jaulah (perjalanan dakwah yang mereka tempuh) mengisyaratkan bahwasanya diambilnya nama tabligh karena keterikatan meraka dengan selalu mengadakan bepergian untuk menyampaikan Islam
Ajaran darsar Jama’ah Tabligh
Jama’ah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat dipegang teguh. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagaimana berikut;
Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah.
Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dia-lah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan.
Sifat ke dua: Shalat khusyu’ dan khudu’. Artinya: Shalat dengan konsentrasi batin dan rendah diri dengan mengikuti cara yang dicontohkan Rasulullah.
Dan memiliki maksud membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah dalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.
Sifat ketiga: Keilmuan yang ditopang dengan dzikir. Ilmu yang berarti semua petunjuk yang datang dari Allah melalui Baginda Rasulullah. Dan dzikir yang berarti mengingat Allah sebagaimana keagung-Nya.
Yang dimaksud Ilmu ma’adz dzikr (ilmu yang di topang dengan dzikir) adalah melaksanakan perintah Allah dalam setiap saat dan keadaan dengan menghadirkan ke-Agungan Allah mengikuti cara Rasulullah.
Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim (Ikramul Muslimin), artinya Memuliakan sesama muslim. Maksudnya: Menunaikan kewajiban pada sesama muslim tanpa menuntut hak dari padanya.[8]
Sifat Kelima: Memperbaiki Niat (Membersihkan niat dalam beramal, semata-mata karena Allah). Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya.
Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di jalan Allah subhanahu wata’ala. Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah) bersama Jama’ah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu di tempat ia tinggal. Dalam perjalanan khuruj mereka selalu meluangkan untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur’an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jama’ah lainya yang sedang lewat dalam rangka khuruj. Dan sebelum melakukan khuruj.
Mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah yang disampaikan oleh salah seorang anggota jama’ah yang berpengalaman dalam hal khuruj atau yang disebut dengan tasykil.[9]
Dilihat secara sepintas, tidak ada indikasi dalam ajaran jama’ah tabligh yang menyimpang dari konsep dasar Islam. Dari ke enam sifat yang dipilih oleh jama’ah tabligh semuanya memiliki dasar dalam agama Islam baik dalam al Quran maupun as Sunnah. Bahkan ke eman sifat tersebut cenderung merupakan sifat yang disepakati oleh semua umat Islam tanpa menuai perbedaan.
Siapapun orangnya, selama dia masih mengaku sebagai muslim pasti mengakui pentingnya dua kalimat syahadat dan merealisasikan dalam bentuk tindak-tanduk nyata, demikian juga dengan shalat. Shalat bukan hanya sekedar kewajiban yang harus ditunaikan, namun shalat adalah salah satu ritual pensucian diri sehingga diharapkan orang-orang yang shalat memiliki jiwa yang fitri dengan mengakui adanya kebenaran dan berusaha melaksanakanya dan mengakui adanya kejelekan dengan berusaha menjahuinya.
Hanya dalam konsep yang ke enam jama’ah tablig menuai kritik penggunaan istilah khuruj. Khuruj dalam istilah yang digunakan oleh para pendahulu adalah keluar untuk menjemput musuh. Namun dalam hal ini Jamah Tabligh menggunakan istilah khuruj dalam rangka keluar berdakwah tanpa membawa senjata atau kesiapan bertempur.
Sangat jelas antara keluar menjemput musuh dan keluar menemui sesama muslim[10] untuk berdakwah adalah dua hal yang berbeda, dari tingkat kesulitan dan resiko.
Tapi bagi saya, istilah khuruj dalam jama’ah tabligh adalah sebuah hasil ijtihat Maulana ilyas yang didahului oleh perenungan yang cukup panjang, dimana umat Islam setelah runtuhnya kekhalifahan ustmaniyah terpencar dalam wilayah-wilayah yang cukup banyak penamaanya. Dan hampir istilah khuruj tidak beredar dalam praktek disebabkan tidak adanya kekhalifahan, terlebih lagi pemerintahann Islam Mungol telah lenyap dari dataran India. sebab dalam (khuruj) harus melalui keputusan khalifah (ta’yin).
Melihat kondisi yang sedemikian, maka patut untuk dilakukan ijtihat mengubah konsep khuruj dalam rangkan menghadapi musuh, kepada khuruj dalam rangka mengembalikan dan membangkitkan rasa keislaman dari pribadi-pribadi yang telah memudar.
Sebagian kalangan menggagap bahwa konsep khuruj adalah bid’ah (atau sesuatu yang diada-adakan) yang sebelumnya tidak ada. Namun dalam ceramah yang pernah penulis dengar konsep khuruj yang mereka kenal khuruj fi sabilillah adalah sebuah usaha penyelamatan meredupnya semangat keislaman dari para pribadi muslim.[11]
Pendidikan dalam jama’ah tabligh
Jama’ah tabligh bukan hanya mengandalkan kegiatan khuruj saja sebagai wahana pendidikan umat, namun jama’ah tabligh juga memiliki madrasah (lembaga pendidikan) untuk menyiapkan kader-kader yang siap berbakti menyebarkan agama Islam.
Madaris (lembaga-lembaga pendidikan) yang dimiliki oleh jama’ah tabligh di Pakistan pada umumnya masih mengikuti system pendidikan yang dimiliki oleh madaris Deoband, dengan mengandalkan masjid sebagai tempat beribadah sekaligus tempat pendidikan. Biasanya dalam satu kelompok memiliki pembimbing khusus, dan dalam periode tertentu mengalami pergantian.
Ada hal yang menarik dalam setiap madaris yang mereka miliki khususnya dalam beberapa masjid besar mereka seperti; Rewind dan Zakaria Masjid di Rawal Pindi, adalah penguasaan beberapa bahasa asing selain urdu sebagai bahasa popular mereka, seperti inggris dan cina.
Dalam beberapa pertemuan besar kemampuan mereka berbahasa biasa terlihat dengan kegiatan mereka dalam menterjemah secara langsung dari bahasa urdu ke dalam bahasa-bahasa yang dibutuhkan oleh kalangan yang datang.
Dalam bidang ini jama’ah tabligh dinilai oleh beberapa kalangan tidak memiliki pendalaman yang memadahi, salah satu gejala yang biasa kami deteksi adalah minimnya buka yang dicetak baik mengenai jama’ah tabligh sendiri atau buku-buku dalam bidang keislaman yang mereka kuasai.
Kitab yang sering dijadikan acuan oleh mereka adalah fadhoil us Shohabah, fadhoil ul Amal, yang cenderung menuai kritik dari beberapa pakar ahli dalam bidangnya. Seperti Fadhoil ul A’mal adalah tergolong kitab yang ditulis dalam bidang hadits, walaupun tidak secara utuh. Namun dalam kitab tersebut terdapat banyak hadits palsu dan cenderung mengada-ada yang tidak mendapatkan penjelasan dan perhatian yang memadahi. Hingga dari banyak kalangan mereka menelan dan mempercayai mentah-mentah apa yang ada dalam kitab tersebut.
Salah satu kesalahan para jama’ah tabligh tatkala ditanya tentang hadits- hadits palsu yang ada dalam kitab tersebut, meraka menjawab bahwa diperbolehkan menggunakan hadits dhoif dalam fadhoil ul A’mal.
Sedangkan para pakar hadits bersepakat bahwa hadits maudhu (palsu) tidak bisa digunakan dasar dalam bidang apapun. Sedangkan diperbolehkanya menggunakan hadits dhoif dalam fadhoil A’mal adalah dalam koridor dan persyaratan tertentu. Seakan dalam hal ini jama’ah tabligh tidak membedakan antara hadits dhoif dan hadits maudhu’.
Jama’ah Tabligh dan Politik
Jama’ah Tabligh adalah jama’ah paling netral dalam masalah polotik, bahkan mereka cenderung untuk tidak turun tangan dalam masalah politik praktis.
Jama’ah tabligh adalah jama’ah yang senantiasa menganjurkan kepada pengikutnya untuk tidak bicara politik dalam perjalanan yang mereka lakukan, sebab masalah politik adalah masalah yang selalu mendatangkan pro dan kontra.
Dan dalam bernegara jama’ah tabligh tergolong tidak melawan penguasa, sekalipun dalam posisi menuai kritik dari banyak kalangan. Oleh sebab itu jama’ah tabligh bisa hidup dimana saja, seperti di Pakistan yang setiap saat berubah. Malaysia yang cenderung monarki, bahkan di Negara-negara minoritas seperti dataran eropa dan amerika.
Jama’ah tabligh juga tergolong yang tidak menusingkan wilayah territorial Negara, walaupun jama’ah tabligh ada di India dan di Pakistan, jama’ah tabligh tidak pernah bermimpi untuk membuat satu dua komunitas tersebut bersatu dalam satu kawasan untuk membentuk masyarakat memiliki pengaruh tawar-menawar terhadap penguasa untuk kepentingan politik tertentu.
Namun pada Negara-negara tertentu jama’ah tabligh tidak bisa melancarkan kegiatan secara maksimal sepeti di Negara Saudi. Jama’ah tabligh di Saudi cenderung dianggap jama’ah yang menyimpang dari beberapa cara pandang, diantaranya dalam masalah aqidah sufistik yang mereka miliki, atau kebanyakan cirita-cerita khurofat yang mereka kembangkan.
wallahu a’lam bis showab.
[1] Lihat Kitab us Shalat, Abwab ul Masajid, bab bibayan il Masjid. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa masjid an Nabawi pada masa khalifah Abu Bakar tidak mengalamai perubahan, kemudian mengalami perbaikan pada masa khalifah Umar bin al Khotob, dan mengalami perbaikan dalam dan luar pada masa khalifah Ustman bin Afan. Dalam perombakan masjid an Nabawi Kholifah Ustman mendatangan batang kayu dari India untuk dijadikan bagian dari atap masjid.
[2] Lihat Kitab ul Jihat, Bab ul Ghozw ul Hind. Dua diantara hadits dalam bab tersebut dinyatakan oleh al Bani sebagai hadits lemah, dan satu yang terakhir memiliki sanat yang cukup dapat dipercaya.
[3] Pakistan studies, Prof. Sh. Muhammad Rafique, hal : 35
[4] Ibid, hal : 37.
[5] Yang dimaksud dengan sahabat adalah orang-orang yang bertemu dengan Rasulullah dan ber-Islam pada zamanya dan meninggal dalam keadaan Islam, demikianlah definisi yang diberikan oleh ulama hadits. Dan yang kami maksud sahabat disini adalah generasi ke dua setelah Rasul, diantara mereka adalah Abu Bakr, Umar, Ustman, dan Ali.
[6] Sir Syed Ahmad Khan adalah seorang yang lebih cenderung Scientivic, dan dialah yang pernah mendirikan scientivic society sebagai cikal bakal aligarth university. diantara propaganda yang selalu ia lontarkan adalah penguasaan bahasa inggris, selain keinginan mengadopsi dan menterjemahkan pengetahuan dalam bahasa inggris ke bahasa urdu. Beberapa kalangan memandang bahwa Sir Syed Ahmad Khan telah mewariskan hal-hal yang menyimpang dari agama kepada umat Islam di India, diantaranya adalah gerakan mengingkar us Sunnah, selain dari pada itu Sir Syed juga berhasil menerbitkan seorang murid yang mengklaim dirinya sebagai nabi, bernama Mirza Ghulam Ahmad dengan sekte Ahmadiyah.
[7] Dari tepat tersebutlah inspirasi pendirian jama’ah tabligh. Dan dengan semangat meiwat lah jama’ah tabligh terus bergerak, oleh karena itu tidak jarang jama’ah tabligh memandang siapapun yang ia jumpai dari seorang muslim dianggapnya sebagaimana muslim meiwat yang telah tereduksi identitas keislamanya. Dan dari sudut pandang yang demikian menyebabkan jama’ah tabligh mendapatkan respon yang kurang baik beberapa kalangan dari umat Islam.
[8] Banyak ayat al Qur’an yang menganjurkan untuk berbuat baik sesama muslim hingga pada saat ada yang saling berseteru sekalipun bagi pihak ke tiga berkewajiban untuk mendamaikannya. Demikian juga hadits, sangat banyak menganjurkan untuk berbuat baik sesama muslim, bahkan kepada orang non muslim sekalipum yang tidak dalam posisi memeranggi umat Islam. Demikian jama’ah tabligh mengamalkan ajaran al Qu’ran dan sunnah dengan tanpa memicu perdebatan, sebab semua orang akan sepakat bahwa ikram ul muslimin adalah kebaikan yang diakui oleh sesama pihak. Sikap jama’ah tabligh yang paling menonjol dalam masalah ini adalah ikrom mereka kepada tamu yang sedangan berkunjung ke tempat mereka. Anda akan dilayani bak seorang raja pada saat bertamu kepada mereka.
[9] Tasykil adalah satu proses pembentukan pembekalan jama’ah yang berniat untuk mengadakan perjalanan dakwah tertentu, biasanya pembekalan tersebut dilakukan oleh seorang yang telah lebih dahulu berpengalaman dalam melakukan perjalanan dakwah.
[10] Ini bukan berarti bahwa fokus gerakan jama’ah tabligh khusus ditujukan kepada sesama muslim, namun jama’ah tabligh juga membidik “dengan khurujnya” kepada pemeluk agama lain. Namun secara umum gerakan tabligh lebih sering ditujukan kepada sesama muslim untuk membangkitkan jadi diri keislaman mereka yang sempat terpendam atau juga ternoda. Oleh sebab itu tidak jarang diantara anggota jama’ah tabligh adalah mantan orang bergelimang dosa.
[11] Pada zaman sekarang dimana nilai-nilai keislaman mulai meluntur perlu rasanya upaya mengembalikan nilai-nilai keislaman pada pribadi-pribadi. Dari upaya itulah jamaah tabligh telah dapat mengembalikan pribadi-pribadi muslim, oleh sebab itu tak sedikit orang-orang yang dahulunya para pendosa berhasil disadarkan; para selebriti, pejabat, para preman dan lain sebagainya banyak yang kemudian aktif di Jamaah tersebut karena merasa mendapatkan jatidirinya kembali yang sempat memudar.
Assalamualaikum
Kaifahaluk akhi Suud?
Sdikit Tambahan: Buat saudara Suud untuk mengetahui hakikat jamaah tabligh secara spesifik bisa baca kitab : AL-JAMAA’AT AL-ISLAMIYYAH, syaikh salim bin ied alhilali & AL-QOUL BALIGH,syaikh hamud tuwaijiri.
Apakah Jamaah Tabligh Beraqidah AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH…..???
syukron
Hayyakalloh wa Bayyak…amin ya robb
Oleh: Abu Bisyr Agus Ariyanto Alkhudhoir on Juni 30, 2009
at 11:54 pm
gaya mu nak abu bisyr……. dah nampak didepan mata Masjid tak lagi jadi tempat mengadu bagi Orang-Orang Islam… Masjid dijadikan bermegah-megahan… tak ada yang shalat didalam nya tak ada yang mau memakmurkan nya kecuali sangat-sangatlah Sedikit sekali…. saia ini ikut dengan yang kalian sebut itu jamaah tabligh… apa salah mereka mengamalkan makna ayat hanya orang yang beriman lah yang mampu meramaikan masjid.
jamaah tabligh ga membuat kalian miskin dengan datang ke masjid2 kalian bahkan mereka condong ingin menyelematkan Islam dengan cara mengajak kembali manusia untuk pergi ke Masjid.
Jamaah tabligh dilarang keras khuruj bila melalai kan keluarga.
jamaah tabligh menghormati kalian semua yang punya Ilmu.. ingat kalian yang berilmu akan ditanya tentang ilmu yang kalian dapat.
Jamaah tabligh khuruj tidaklah lain untuk mengajak tetangga2 mesjid untuk memakmurkan masjid2 nya.
dah banyak contoh di belahan dunia mana saja kalo masjid itu sepi dari jamaah nya.
itulah kehancuran Islam karena melupakan cara apa-apa yang pernah dilakukan dan dicontohkan Rasulullah S.a.w. dan para sahabat nya.
mereka dan aku tidak akan berhenti melakukan pengorbanan mengajak manusia untuk meramaikan Masjid2 dimuka Bumi ini walau nyawa taruhan nya karena itu adalah tujuan (Akhirat)
Oleh: Aswin Bahar on Juli 3, 2009
at 5:39 pm
kami beritahukan kepada rekan2 sesama muslim, tolong jangan memojokkan saudara kita sendiri…
mari rekatkan tali persaudaraan kita, dengan kembali ke Al-Qur’an dan Hadits.
Admin-Fospi.
Oleh: fospi on Juli 4, 2009
at 2:13 pm
Masukkan kedalam hatimu kalimat itu ( La ilaha Illallah Muhammad Rasulullah) agar dunia tidak menipu mu..
jangan ketika adzan berkumandang masih saja manusia berkutat pada dunia!!!! melupakan pencipta Dunia itu sendiri.
mereka adalah orang2 yang ingin memperbaiki diri dengan cara belajar bersama mengkaji agama, dengan cara berkorban di jalan Allah.
lupakah kita dengan ayat ini “”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu
perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu)
kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu
mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke
dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan
(memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn.
Itulah keberuntungan yang besar.” QS. Ash Shaff 10-12″
Oleh: Aswin Bahar on Juli 3, 2009
at 5:45 pm
dunia sementara akhirat selama-lamanya…….hanya di akhirat baru tau mana orang-orang yang berjuang karna Allah…kalau masih di dunia boleh2 ngaku paling bener,paling sakhih di kubur belom tetntu…
Oleh: ridho on Juli 7, 2009
at 3:06 pm
bismillah…….
afwan, ana kader PERSIS Rajapolah,TSM.
kebenaran adalah “maa Ana alaihi wa Ashahaabi”
atau Al Jama’ah.
Da’wah terbagi dua :
1) Da’wah Binaan
Membina kaum Muslimien dalam Iman, Taqwa (ImTaq) dan IpTek. untuk mencapai ‘Izul Islam wal muslimien’.
2) Da’wah Difaan
Memperkuat pertahanan dalam upaya menangkis serangan Kafir dan Munafiq, (liberalisme,sekulerisme,plularisme, dan para orientalis La’natuLLah)
kita harus mewaspadai penyusupan manhaj-manhaj da’wah yang penuh dengan KONSPIRASI POLITIK, yang semakin menyudutkan kita (manhaj Quran Sunnah)
waLLahu a’lam….
syukran
Membina dari dalam untuk mencapai ‘Izul Islam wal Muslimien’.
Oleh: abdurrahman shalehuddien on Juli 19, 2009
at 3:52 pm
KOMENTAR UNTUK TULISAN SU‘UD HASANUDDIN
Su‘ud: India masih dikenal sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas hindu, namun didalam Negara India terdapat sejumlah masyarakat muslim yang jauh lebih besar dari masyarakat Islam di Indonesia yang disebut sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Komentar: Apakah antum memiliki data penelitian yang valid mengenai perbandingan jumlah antara muslim India dengan muslim Indonesia? Atau antum mengutip hasil penelitian orang lain lalu tidak menyebutkan sumbernya?
Su‘ud: Jama’ah Tabligh secara susunan bahasa diambil dari bahasa Arab: جماعة التبليغ, yang berarti “kelompok penyampai dan penyebar”. Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India.
Komentar: 1) Jama‘ah Tablig dengan arti kelompok penyampai dan penyebar sepertinya naqish. Kelompok penyampai dan penyebar apa? Sunnah/bid‘ah? Mestinya antum definisikan secara sempurna, bukan hanya dari bentuk susunan bahasanya saja. 2) Apakah memang Muhammad Ilyas al-Kandhalawi “mendirikan Jama‘ah Tablig”? Padahal antum sendiri menukilkan bahwa “berkenaan dengan nama, mungkin banyak kalangan dalam Jama’ah Tablig sendiri terkadang enggan menyebut nama gerakan tersebut dengan nama apapun. Tidak diketahui secara pasti siapakah yang memberi nama jama’ah tersebut dengan sebutan Jama’ah Tablig, …” Kalau tidak diketahui siapa yang memberi nama jama’ah tersebut, antum kok ikut-ikutan latah menyebut Jama‘ah Tablig didirikan … ini tidak logis. “… namun yang pasti dari jawlah (perjalanan dakwah yang mereka tempuh) mengisyaratkan bahwasanya diambilnya nama tablig karena keterikatan meraka dengan selalu mengadakan bepergian untuk menyampaikan Islam.” Pernyataan ini masih mengandung ihtimal (kemungkinan).
Su‘ud: Jama’ah Tabligh juga merupakan gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya, …
Komentar: Makanya seperti “gado-gado” …
Su‘ud: Ada dua hal yang tidak boleh diperbincang selama Tabligh yaitu soal politik dan khilafiah.
Komentar: Kenapa tidak boleh?! Ada apa dengan politik dan khilafiyah?
Su‘ud: Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah. Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dia-lah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan.
Komentar: Menurut saya, tafsir semacam ini juga disepakati oleh Iblis …
Su‘ud: Dilihat secara sepintas, tidak ada indikasi dalam ajaran jama’ah tabligh yang menyimpang dari konsep dasar Islam. Dari ke enam sifat yang dipilih oleh jama’ah tabligh semuanya memiliki dasar dalam agama Islam baik dalam al Quran maupun as Sunnah. Bahkan ke eman sifat tersebut cenderung merupakan sifat yang disepakati oleh semua umat Islam tanpa menuai perbedaan. Siapapun orangnya, selama dia masih mengaku sebagai muslim pasti mengakui pentingnya dua kalimat syahadat dan merealisasikan dalam bentuk tindak-tanduk nyata, demikian juga dengan shalat. Shalat bukan hanya sekedar kewajiban yang harus ditunaikan, namun shalat adalah salah satu ritual pensucian diri sehingga diharapkan orang-orang yang shalat memiliki jiwa yang fitri dengan mengakui adanya kebenaran dan berusaha melaksanakanya dan mengakui adanya kejelekan dengan berusaha menjahuinya. Hanya dalam konsep yang ke enam jama’ah tablig menuai kritik penggunaan istilah khuruj. Khuruj dalam istilah yang digunakan oleh para pendahulu adalah keluar untuk menjemput musuh. Namun dalam hal ini Jamah Tabligh menggunakan istilah khuruj dalam rangka keluar berdakwah tanpa membawa senjata atau kesiapan bertempur.
Komentar: Antum sih hanya melihat secara sepintas, tidak kritis. Alumni Pesantren Persis Bangil kok membuat pernyataan “loyo” begitu, padahal di pesantren tiap hari antum di-“suntik macan”, apa antum minta disuntik lagi? … Bahkan, lanjut antum, ke enam sifat tersebut cenderung merupakan sifat yang disepakati oleh semua umat Islam tanpa menuai perbedaan … Semua umat Islam???????!!! Jangan berlebihan!! Kalau antum yang menyepakatinya, silahkan saja … tapi ingat, semangat kritis jangan sampai lenyap. Antum berkata “Hanya dalam konsep yang ke enam Jama’ah Tablig menuai kritik penggunaan istilah khuruj.” Bukan hanya sekedar penggunaan istilah khuruj lho yang menuai kritik … antum jangan berusaha menutup-nutupi …
Su‘ud: Tapi bagi saya, istilah khuruj dalam Jama’ah Tablig adalah sebuah hasil ijtihad Maulana Ilyas yang didahului oleh perenungan yang cukup panjang, …
Komentar: Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Maulana Ilyas … Setahu saya, khuruj yang antum katakan itu hasil ijtihad merupakan hasil mimpi … dalam mimpi Maulana Ilyas itu ada yang mengatakan kepadanya bahwa tafsir QS. Alu ‘Imran/3: 110 adalah sesungguhnya engkau diperintah untuk keluar kepada manusia seperti para nabi … Kalaupun antum mau paksa bahwa khuruj itu hasil ijtihad, maka saya katakan kepada antum bahwa ijtihad itu terkadang juga keliru lho … jangan tertipu dengan perenungan yang cukup panjang … karena panjang pendeknya suatu renungan tidaklah menentukan bahwa hasil renungan itu benar.
Su‘ud: Sebagian kalangan menggagap bahwa konsep khuruj adalah bid’ah (atau sesuatu yang diada-adakan) yang sebelumnya tidak ada. Namun dalam ceramah yang pernah penulis dengar konsep khuruj yang mereka kenal khuruj fi sabilillah adalah sebuah usaha penyelamatan meredupnya semangat keislaman dari para pribadi muslim.
Komentar: “Sebagian kalangan” antara lain Muhammad Nashir al-Din al-Albani, Abd al-‘Aziz ibn Baz, Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali, Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i, Hamud al-Tuwayjiri, Salim ibn ‘Id al-Hilali, Ali Hasan Abd al-Hamid al-Halabi al-Atsari … mereka telah memberikan keterangan dengan ilmiyah tentang kekeliruan/kesalahan firqah ini cuman antum tidak mengemukakan alasan-alasannya, trus antum dengar dari siapa konsep khuruj fi sabilillah seperti itu? Terlalu mudah kalau hanya dengar begitu langsung antum manut … monggo … silahkan patahkan dulu argumentasi “sebagian kalangan yang menganggap bid’ahnya khuruj” itu, karena nampaknya antum mengajak pembaca khususnya orang-orang Persis agar menerima konsep khuruj …
Su‘ud: Jama’ah Tabligh adalah jama’ah paling netral dalam masalah politik, bahkan mereka cenderung untuk tidak turun tangan dalam masalah politik praktis.
Komentar: “Paling netral dalam masalah politik”? Jangan berlebihan begitu …
Su‘ud: Jama’ah Tabligh di Saudi cenderung dianggap jama’ah yang menyimpang dari beberapa cara pandang, di antaranya dalam masalah aqidah sufistik yang mereka miliki, atau kebanyakan cirita-cerita khurofat yang mereka kembangkan.
Komentar: Apakah aqidah sufistik yang mereka miliki atau cerita-cerita khurofat yang mereka kembangkan juga antum sepakati?! Apa komentar antum? Saya melihat referensi yang antum gunakan dalam penulisan ini secara umum cuma buku Pakistan Studies karya Prof. Sh. Muhammad Rafique. Mestinya antum bandingkan dengan referensi-referensi lain, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Bisyr Agus Hariyanto al-Khudayr itu, dan saya pikir perpustakaan yang ada di Islamabad cukup memenuhi standar untuk kajian ini.
Terakhir, Akh Su‘ud … Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah/2: 42-46, sebagai berikut:
وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (42) وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43) أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ (44) وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ (45) الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاَقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46)
Dalam QS. Al-Anfal/8: 8, Allah berfirman sebagai berikut:
لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ (8)
Mudah-mudahan antum adil dalam masalah ini. Saya cukupkan dulu … ‘afwan. Silahkan umpan bola nanti saya semes balik mumpung akhir-akhir musim panas … grahhhhh
Untuk Aswin Bahar: Belajarlah untuk membela gerakan Tablig secara cerdas.
Untuk Fospi: “Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dengan pemahaman yang benar”. Jangan ikut-ikutan larut …
Oleh: Abdul Wadud on Juli 21, 2009
at 4:10 am
Su’ud: Assalamu’alaikum wa rahmatullah
Kepada Yth saudara Abdul Wadud yang telah melayangkan kritik tentang tulisan saya yang bertema jamaah tabligh
terimakasih saya ucapkan atas tanggapan antum terhadap tulisan saya, saya berterimakasih, paling tidak dengan kritik atau apapun namanya semakin membuat saya lebih bias dewasa.
Sebenaranya dalam tulisan tersebut saya tidak dalam posisi sebagai orang yang harus mengkritik terhadap jerakan jamaah tabligh, namun saya tidak lebih sebagai seorang yang mendiskripsikan jamaah tabligh sebgai gerakan dakwah di Pakistan, yang kemudian memiliki akses gerakan di berbagai belahan dunia, termasuk diantaranya Indonesia.
Saya juga merasa adanya banyak kekurangan referansi dalam tulisan saya tersebut, hal itu tidak lain dan tidak bukan kecuali diakibatkan karena kurangnya buku yang menulis tentang jamaah tabligh dengan lebih terperinci, saya telah membaca bagi kalangan yang pro dan kontra terhadap jamaah tabligh, namun bagi pihak yang kontra saya melihat banyak sisi emosional yang lebih ditonjolkan ketimbang sisi rasional. Sedangkan dari kalangan dalam (jamaah tabligh) tidak banyak membukukan tentang gerakan meraka, mulai dari berdirinya hingga saat ini. Yang saya dapatkan hanya beberapa saja, diantaranya adalah tulisan perjalanan DR. Wahidudin Khan.
Saya memandang jamaah tabligh adalah sebagai sebuah fenomena yang harus diakui keberadaanya, tidak sedikit peran yang dilakukan, namun demikian layaknya sebuah gerakan lainya jamaah tabligh tidak bersih dari kritik dari berbagai pihak, itu semua harus diakui.
Jika dengan tulisan saya tersebut saya dinilai sebagai seorang yang membela jamaah tabligh, maka tafadhol saja dengan anggapan seperti itu, dan jika dengan tulisan tersebut saya dinilai kehilanggan jatidiri kekritisan juga tafadhol. Saya menilai tidak ada seorangpun yang selamat dari kritik, apalagi maksum, karena kemaksuman hanya Allah berikan kepada hamba-hamba pilihaNya.
Sedangkan yang ada sangkut pautnya dengan logo persis, terutama persis bangil, saya melihat bahwa hal yang perlu kita koreksi kembali, belakangan ini saya mereka antara ayat yang dicantumkan sebagai bagian dari logo dan realita dikehidupan nyata kok sama sekali berbeda. Kita menginginkan dengan ayat tersebut umat islam bersatu padu dalam sebuah ikatan dan kekuatan, namun realita dilapangan kok rasanya hal tersebut jauh sejauh api dari pangang.
Bagi saya sebagai orang yang pernah duduk dibangku sekolah persis bangil, saya merasa ada kewajiban moral untuk menjadikan logo itu bagian dari misi masa depan yang diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Kembali kepada jamaah tabligh yang saya tidak bisa mendefinisikan sebagai gerakan penyebar sunnah atau penyebar bid’ah, itu tidak lain dan tidak bukan kecuali, dalam gerakan manapun rasanya ada hal-hal yang sifatnya furu’iyah yang dihasilkan dari ijtihat mereka dengan memperhatiak kondisi setempat. Dan langsung mengkatagorikan sebagai gerakan bid’ah atau sunnah nampaknya bagi saya adalah ketergesa-gesaan, sebab memandang sunnah dan bid’ah perlu kajian yang cukup panjang, yang saya lakukan hanya saya tidak mau cepat memberikan stempel bid’ah kepada siapapun orangnya.
Kembali lagi terhadap jumlah penduduk india pada khususnya adalah Muslim india, anda coba lagi melihat buku-buku tentang aqoliyah islamiyah, jumlah penduduk india labih banyak lo ketimbang Indonesia, demikian juga jumlah muslimnya, dan seandainya Pakistan dan Bangladesh tidak memisahkan diri dari kesatuan india mungkin saja penduduk muslim india bisa 50 persen, dan olah sebab itulah sayyed Maulana Maududi pada memiliki sikap awal menolak memisahkan diri dari india, karena melihat jumlah kwantitas umat islam yang cukup besar tersebut, akan tetapi setalah berbicara empat mata denga DR. Iqbal, maka maududi harus mengatakan ya untuk memisahkan diri dari india dan membentuk Negara Pakistan.
Untuk sementara waktu ini dulu yang bisa saya tulis sebagai ungkapan terimakasih saya terhadap tanggapan antum yang telah sudi membaca tulisan saya sangat dini.
Wassalam.
Oleh: fospi on Juli 25, 2009
at 10:23 pm
Alhamdulillah
Ustad mohon fatwa.
Apa yang akan ustad katakan bila ustad menyaksikan langsung para shahabt rhum tidak mengikuti arahan NabiSAW di peperangan Uhud saat itu sehingga Nabi SAW terluka parah dan kaum muslimin mengalami kekalahan hebat? Ustadz akan katakan mereka mereka yang meninggalkan bukit lalu mengambil ghonimah tsb sebagai kafir, ahlu bid’ah atau radiyallahu’an?
Bagaimana dengan 3 shahabat yang tidak mengikuti perjalanan ke Tabuk yang membuat Nabi marah karena alasan keluarga, panen atau berlambat2 menyambut seruan perjalanan jihad tsb?
Saat itu kaum muslimin dalam ketaatan 100% dan kaum kafir baru tingkat merongrong.
Hari ini umat Islam yang taat berapa %?
Keluarga kita belum taat apalagi tetangga dan orang di belahan kampung, kota atau negara lain. Orang kafirpun sudah banyak yang memurtadkan orang Islam bahkan pembunuhan2 nya.
Di golongan mana kita ini kok masih sempat tidur bersama istri dan toko kita?
Hari ini ini kita pergi jihad tidak, pergi dakwahpun tidak.
Dengan berbagai halangan 3 Shahabt tsb tidak keluar di jalan Allah padahal mereka pernah ikut banyak perjalanan jihad dan dakwah. itupun Nabi marah?
Alasan apa yang kita berikan untuk tidak keluar dijalan Allah menyebarkan agama?
Mohon nasihat
Oleh: arieniya on September 30, 2009
at 3:38 am
untuk arieniya:
sebenarnya saya pribadi tidak berani untuk mempertanyakan soal itu. karena berhubungan dengan para Shahabat Rasul SAW. yang dimana mereka itu hidup di masa Rasul SAW dan saat itu adalah sebaik2 zaman.
mereka radhiyaLLAHU anhum bukanlah dari golongan kafir dan bukanlah dari golongan ahlul bid’ah, karena tidak semudah itu untuk mengatakan kafir atau ahlul bi’ah. semuanya harus ada bukti yang menunjukkan mereka melakukan hal2 yang membatalkan keimanan mereka, atau melakukan suatu perbuatan bid’ah.
untuk pertanyaan kedua berapa persen ketaatan kaum muslimin? hanya Allah SWT yang tahu. kita tidak bisa memukul rata semua orang Islam sedang duduk atau bahkan tidur-tiduran sambil menikmati angin cendela. da’wah tidak selalu pergi keluar rumah, anda pun bisa berda’wah dengan tulisan, infaq untuk para da’i dan lain sebagainya.
sekarang saya tanya kepada anda, saya punya seorang ustadz dia meninggalkan keluarga istri, anak, untuk mengajar di kampus negara orang, apakah beliau sedang berjihad atau tidak….?
sayapun punya kawan, dia tidak bisa berda’wah (dalam arti keluar rumah) tapi dengan harta yang dia punya, dia manfaatkan untuk membantu sesama, dan aktif menulis untuk membela umat ini, pertanyaanya apakah dia sedang berjihad atau tidak…?
melakukan aktifitas da’wah itu menurut kemampuan kita, jika kita punya harta, maka berda’walah dengan hartamu…
jika kita punya tenaga, maka berda’walah dengan tenagamu….
jika kita punya kepandaian, maka berda’walah dengan kepandaianmu….
jika kita punya harta, tenaga, kepandaian, maka berda’walah dengan seluruh kemampuanmu…..
Oleh: fospi on Oktober 1, 2009
at 9:01 am
untuk Abdul Wadud, tolong kalau mau berkata sesuatu di pertimbangkan dulu… jangan sampai ada yang tersinggung dengan perkataan anda… yang seolah2 benar semua… kita ini manusia yang tidak lain akan melakukan suatu kekeliaruan disengaja ataupun tidak……
cara da’wah yang anda lalukan dengan melakukan penyerangan opini secara langsung tidak akan membuat perubahan yang signifikan, bahkan jika anda melakukannya secara kontinyu akan membuat orang berpikir anda memiliki dendam khusus terhadap sesuatu itu dan menguatkan dlm pikiran “yang diserang” opininya penolakan secara mutlak……
jika anda mengatakan FOSPI harus kembali kepada Sunnah, tunjukkan mana yang menyimpang?
jika anda tidak dapat melakukannya, maka anda dianggap menyebarkan FITNAH kepada semua anggota FOSPI.
Catatan:
tulisan yang mengarah kepada perpecahan umat tidak akan ditampilkan lagi.
Oleh: Karnan on Juli 28, 2009
at 4:42 pm
waduuhhhh seru yahhhh, afwan ane yang awam, tapi bener loh jamaah tablih adalah da’wah yang sebenarnya. tapi bagi yang tak setuju ya terserah antum saja. kalau di katakn dalam fadoil amal banyak hadist palsunya penulis hanya mengutip,tentu pengarang kitab2 hadis (kutubus sitat ) lebih paham tentang hadist tsb. maaf yah ane awam, tapi biyar awam ana tetep ikut da’wah, kan kalau cuma ngajak solat ma ke masjid ga perlu ilmu yang tinggi, semua umat islam dari jaman nabi sampai sekarang setuju itu baik dan tidak bid’ah.
Oleh: hamim on Juli 29, 2009
at 10:50 am
Dear All,
Da’wah silaturahmi sekarang ini merupakan perkara yang penting dibangun oleh seluruh bagian kaum muslimin, tanpa banyak memperhatikan pada da’wah silaturahmi ini maka tentunya relasi-relasi kaum muslimin sendiri akan cukup lemah.
Hari ini sebenarnya asbab karena perjalanan da’wah yang panjang dilakukan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan para Shahabat RA, serta dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, maka di nusantara sendiri mayoritas beragama Islam.
Al-Islam datang ke Indonesia melalui proses alamiah, yaitu da’wah silaturahmi. Karena ini adalah menjadi salah satu sarana pokok/utama. Dan hari ini banyak sekali masjid tersebar di berbagai lapisan di dunia ini. Tetapi tentunya kita harus menyadarinya, bahwa isinya masih jauh dari harapan itu sendiri.
Masjid telah tersebar di berbagai lapisan. Bagaimana ini direlasikan dengan baik, hanya dengan da’wah silaturahmi yang dapat melakukannya.
Titik penting pertumbuhan Islam itu adalah waktu hijrah Nabi, maka jelas di sana adalah masjid sebagai titik point utama yang disiapkan oleh Nabi kita yang mulia. Dan untuk bisa mewujudkan kebersamaan di antara yang datang dan yang didatangi, maka tentunya hijrah itu sendiri.
Maka memakmurkan masjid serta membangun hubungan melalui da’wah silaturahmi menjadi satu kemestian di jaman sekarang dan akan datang, jika kita sangat berkeinginan membangun pertumbuhan sendiri kaum muslimin di masa depan.
Silahkan sekali-sekali datang ke situs kami, mudah-mudahan memberikan manfaat http://usahadawah.com.
Bagi yang telah mengambil bagian kerja da’wah ini, maka tetaplah dengan usaha da’wah ini. Ajaklah keluarga dan teman-teman kita untuk belajar kerja ini, karena ini merupakan sangat penting bagi kehidupan kita kaum muslimin.
Insya Allah, dilain waktu kita buka bersama kenapa usaha da’wah (orang menyebutnya sebagai jama’ah tabligh) ini sangat penting bagi seluruh kaum muslimin. Kami sendiri menjadi heran kenapa nama jama’ah tabligh begitu populer, karena ketika kami mengikuti di awal-awal tidak ada nama ini.
Yang kami kenal adalah usaha da’wah, karena memang kerja da’wah ini perlu dikembalikan kembali kepada Ummat Islam sebagai ummat Nabi Muhammad SAW, dan sesuai pesan dari QS Yusuf (12):108, sangat jelas sekali. Dan begitupun juga dengan Ali-Imran (3):110.
Jadi kemajuan itu bukan satu golongan, tetapi seluruh ummat Islam yang merasakan nikmat akan kehadiran usaha da’wah ini setelah sekian lama terpendam.
Oleh: Haitan Rachman on Juli 31, 2009
at 8:10 am
tanggung jawab setiap muslim yang mempunyai kalimat laailaahaillallaah muhammadurrasulullah
1. tanggung jawab diri sendiri.
“jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
( At Tahrim (66) ayat 6)
2. tanggung jawab keluarga
“jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
( At Tahrim (66) ayat 6)
3. tanggung jawab kaum kerabat dan sahabat dekat
“dan peringatilah keluarga dan kaum kerabatmu”
(asyu’ara ayat 214)
4.tanggung jawab sesama muslim di daerah lain
“dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk)’ibu negeri’(makkkah) dan (orang-orang) yang ada diluar lingkungannya”
(al an’aam ayat 92)
5. tanggung jawab seluruh manusia.
“kalian sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah”
(ali imron ayat 110)
sekarang siapa yang memegang amanah ini dan harus menyampaikan
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.”
(Faathir ayat 32)
maka bagaimana mengamalkan ayat-ayat tersebut ?
maka dibuatlah ketentuan sebagaimana hadits yaitu
sahabat ra membatasi waktu
Narrated Abu Wail:
‘Abdullah used to give a religious talk to the people on every Thursday. Once a man said, “O Aba ‘Abdur-Rahman! (By Allah) I wish if you could preach us daily.” He replied, “The only thing which prevents me from doing so, is that I hate to bore you, and no doubt I take care of you in preaching by selecting a suitable time just as the Prophet used to do with us, for fear of making us bored.”
(bukhari buku1 bab 3 nomor 70)
sehingga untuk diri sendiri dan keluarga salah satu usahanya yaitu kita buat ta’lim dirumah dan silahturahmi ke ulama ataupun ikut pengajian para ulama, insya Allah dengan ta’lim dirumah dan datang ke ulama akan menyelesaikan tanggung jawab diri sendiri dan keluarga,
lalu bagaimana dengan kaum kerabat dan tetangga dekat, maka alim ulama memberikan waktu minimal 2,5 jam setiap hari untuk silahturahmi ke kaum kerabat dan tetangga dekat, dan dalam prakteknya memang kelemahan kami belum bisa sampai 2,5 jam padahal sekarang sudah diarahkan kepada 8 jam setiap hari (membagi waktu menjadi 3 bagian, untuk diri sendiri, untuk keluarga dan untuk umat, 24jam/3=8jam),
kemudian bagaimana dengan kampung sekitar atau kota sekitar maka untuk waktunya kami sediakan minimal 3 hari setiap bulan, dan insya Allah sekarang dihimbau untuk berusaha menuju 10 hari setiap bulan, sehingga silahturahmi dengan kampung sekitar tetap terjaga.
kemudian yang terakhir yaitu seluruh manusia ini tentunya sangat berat karena jumlah manusia lebih dari 5 milliar, maka dengan kelemahan kami alim ulama telah ajak keluar dalam waktu yang agak lama yaitu 40 hari, 4 bulan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri, memang seumur hidup belum tentu bisa mendatangi semua tapi insya Allah dengan niat untuk mendatangi seluruh manusia kemudian mengajak orang yang lain buat usaha yang sama maka Allah akan terima niat kita, sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk seluruh umat sampai hari terakhir yang Allah kehendaki namun umur beliau hanya 63 tahun, tapi Allah terima usaha yang dilakukan Rasulullah SAW sehingga usaha ini masih akan berlanjut sampai hari terakhir yang Allah kehendaki. Jadi usaha da’wah rasulullah yang kami lakukan ini bukan hanya 3 hari, 40 hari atau 4 bulan saja, tapi setiap hari lihat keterangan mulai dari atas.
memang dalam usaha da’wah rasulullah (jangan bilang lagi jamaah tabligh lagi ya, karena kami tidak pernah menamakannya, dan usaha ini untuk semua umat muslim) ada sebagian yang masih menganiaya (mendzolimi) diri sendiri yaitu masih ada kemaksiatan dalam diri sendiri, kurang ilmulah, mantan preman, mantan narkoba, mantan koruptor dan sebagainya. Sedangkan batasan untuk berilmu kemudian buat da’wah coba anda lihat di syarah muslim oleh imam nawawi di hadits tentang “barang siapa melihat kemungkaran dihadapannya hendaknya ia ubah dengan tangannya kalau tidak mampu dengan lidahnya, kalau tidak mampu hendaklah ia benci dalam hati dan inilah selemah-lemah iman”. (saya harap yang membaca ini mau mencari sendiri bukunya ya, sekaligus biar menambah ilmu).
Terus satu hal yang paling berbahaya jangan sampai merasa “saya sudah berilmu” baru mulai da’wah. bisa-bisa sifat iblis yang masuk yaitu sombong, dan alim ulama sepakat hal ini bisa terjadi pada siapapun termasuk ulama ahli ilmu sendiri, sebagaimana nabi musa yang mengatakan dirinya paling berilmu kemudian Allah perintahkan untuk keluar dari kampung halamannya untuk jumpa orang sholih yang lain. Dan memang kita harus menuntut ilmu karena ini kewajiban setiap muslim.
jazakallah kepada kritikan dan nasihat semoga Allah pandang pengorbanan yang dilakukan oleh para blogger, namun tinta pena memang tidak bisa menggantikan tapak kaki untuk buat usaha da’wah Rasulullah SAW.
Oleh: rkn2003 on September 9, 2009
at 11:32 am
inti ajaran jamaah tablig menurut saya adalah melatih dan membiasakan mencari ilmu dan mengamalkan langsung dan amal ibadah itu dibawa kekehidupan sehari-hari, sehingga Iman dan Islam benar2 dirasakan manisnya baik untuk diri sendiri, keluarga, dunia dan seluruh alam.
misal: dalam shalat takbiratul ihram kita keluarkan kebesaran makhluk yang mungkin ada dalam hati kita kemudian kita besarkan Allah yang memang Maha Besar. kita manifestasikan dikehidupan sehari-hari. kalau kita masih saja menganggap duit itu besar, dokter itu besar presiden itu besar, maka coba saja keluar bersama jamaah tablig untuk sama-sama belajar, sehingga aqidah kita mantap. dan itu hanya secuil contoh. Iblis itu makhluk paling berilmu tapi ilmunya tidak bisa menyelamatkan dari laknat Allah SWT sebab ia SOMBONG.
Oleh: fauzaelshoufi on September 10, 2009
at 4:01 am
menurut saya sekarang kita banga akan pirkoh dari pada persodaraan,lebih bangga pada dalil dari pada amal.yg jelas alloh maha mengetahui amal dan perbuatan kita.lebih baik kita berbuat kebaikan dari pada memperebutkan dalil yg tak di amalkan.malu umat islam hanya saling mejelekan sesama muslim dan lupa akan ilmu yg di dapat tampa di amalkan.apakah islam megajarkan untuk saling menyalahkan.dedeh teing ko islam kayak gitu ya jd bingung aku
Oleh: jubed on September 25, 2009
at 4:39 pm
Lebih dari 5 th ana mengikuti Jamaah Tabligh, mengikuti musyawarah dan khuruj mereka. sampai akhirnya ana menyatakan diri keluar dari firqoh ini.
Alasannya, ana cuma mendapatkan Bid’ah, Khurafat dan sejenisnya di kalangan mereka.
Oleh: abu zulfa on September 27, 2009
at 3:11 am
Sdr. Abu Zulfa,
Cukup menarik bagi kami pribadi adalah Sdr. sudah mengikuti selama 5 tahun dalam usaha da’wah, dan cuma mendapatkan bid’ah, khurafat dan sejenisnya.
Apa saja bid’ah, khurafat dan sejenisnya yang dimaksud? Karena kami sendiri mendapatkan teori bermanfaat dan kami berinama “4M for Never Ending Improvement”
Dalam mudzakarah yang bermanfaat, tentunya kita perlu terbiasa dengan mudzakarah yang dapat mendidik diri kita lebih HIKMAH dan ILMIYYAH
Kami telah bermudzakarah di myquran dan sidogiri cukup lama perihal usaha da’wah. Tentunya hal ini akhirnya harus bersedia membongkar pandangan/fatwa yang dijadikan landasan sendiri. dan tentunya kita perlu ILMIYYAH dan HIKMAH.
Dan kemudian mundur satu-per-satu, karena merasakan pembongkaran itu akan lebih menyudutkan dan melemahkan dari pandangan ataupun fatwa yang dipegang, dan secara tidak langsung mereka merasakan seperti menyudutkan alim-ulama yang dijadikan rujukannya. Sehingga keluar kata-kata yang tidak tepat/pantas disampaikan kalangan penuntut ilmu.
Padahal tujuan kami bukan untuk menyudutkan ulama, tetapi membuka wacana secara berimbang agar lebih ILMIYYAH dan HIKMAH. Dengan hal ini diharapkan kaum muslimin ini lebih dewasa dan berimbang mendapatkan ilmu, tidak hanya berada dalam berpikir yang mengalami “kerdilisasi”
Silahkan kita dapat bermudzakarah secara lebih dewasa dan berimbang, tidak dalam bentuk doktrin-doktrin semata. Di Myquran akan lebih bebas dan terbuka daripada dalam bloq …
Oleh: Haitan Rachman on September 27, 2009
at 9:24 pm
AsWrWb.
Afwan sebelumnya, untuk sdr Karnan sebaiknya antum bersifat netral aja ketimbang menganggap tulisan Abdul Wadud “menyerang” Sdr Su’ud. Yang namanya tulisan pro-kontra itu biasa, majalah al-Muslimun contohnya, tidak terlalu mempermasalahkan apalagi menganggap ada yang dipojokkan tapi tetap melakukan “perlawanan” dan pada akhirnya”berada pada pihak yang “benar”. A. Hassan juga demikian, penggunaan kalimat dan bahasa “frontal” tidak jadi soal termasuk isi dari tulisan yang terkadang “nyakitin”. Sanggahan atau tanggapan dari siapa saja perlu dimuat, bukan dipilah-pilih, toh site ini tidak bakal di bumi hanguskan ama hacker. untuk Haitan Rahman, site myQur’an juga agak “tertutup”dan bersifat internal, ana punya pengalaman tidak enak dengan operatornya, beberapa tulisan ana yang bersifat “menggugat” sering kali tidak ditampilkan, bahkan ana dianggap “virus” dunia maya yang pada akhirnya “dimusnahkan” sehingga ana berulang kali masuk dengan nick namae yang berbeda. terakhir, harapan saya mari dalam meningkat wawasan kelilmuan kita harus selalu bersifat terbuka dan berani “bertarung”.
Afwan, wajazaakumullaah khaer el-jazaa.
Oleh: Abu Daffa on September 30, 2009
at 2:19 am
masukan abu Daffa kami terima… tapi disni saya punya prioritas sendiri, untuk kemaslahatan kita bersama.
kenapa tidak meniru cara da’wah Nabi Muhammad SAW yang menggunakan cara yang bijak dalam menangani sesuatu.. kita semua lagi belajar.. belajar meniru akhlak seperti Nabi kita semua….
jadi segala hal yang bisa menimbulkan perpecahan umat, sebisa mungkin dihindari dengan mencari jalan yang lain untuk mengembalikan apa yang melenceng dari Sunnah.
Oleh: fospi on Oktober 1, 2009
at 8:32 am
asslmkm..wt ikhwan smua ana skdar berharap, bahwasannya QT adlh sdra SE IMAN & SE PERJUANGAN,mk persatuan&kebersama’an lh yg mestinya d kedepankan,bukan sbaliknya ‘wasalamualaikuam
Oleh: irfan siddiq on Oktober 3, 2009
at 5:33 pm
untuk arieniya:
sebenarnya saya pribadi tidak berani untuk mempertanyakan soal itu. karena berhubungan dengan para Shahabat Rasul SAW. yang dimana mereka itu hidup di masa Rasul SAW dan saat itu adalah sebaik2 zaman.
mereka radhiyaLLAHU anhum bukanlah dari golongan kafir dan bukanlah dari golongan ahlul bid’ah, karena tidak semudah itu untuk mengatakan kafir atau ahlul bi’ah. semuanya harus ada bukti yang menunjukkan mereka melakukan hal2 yang membatalkan keimanan mereka, atau melakukan suatu perbuatan bid’ah.
Dari Arieniya :
Terima kasih ustad.
Sebuah jawaban yang sangat bijaksana sekali. Maka saya pun jadi lega.
Seandainya Allah swt saja memaafkan kejadian Uhud yang berakibat hampir terbunuhnya Nabi SAW dan kekalahan orang Islam saat itu kenapa begitu mudahnya sebagian dari orang2 Islam yang berilmu tsb begitu kuat menkafirkan, mencaci, membuka borok2, dan mengusir kaum yang sedang islah dan menyebarkan agama hanya karena hasil kajian kelompok tsb menemukan dalil2 lalu membuat satu kesimpulan dari guru2 mereka lalu dicopy paste oleh pengikutnya diseluruh dunia dengan satu ucapan bahwa Tabligh adalah kaum ahli bidah, hisbi, kurofat dsb bahkan lebih buruk daripada itu?
Mohon maaf sebelumnya?
Apakah orang2 tabligh melukai Nabi SAW? Bukankah setelah ikut program khuruj misalnya mereka jadi tahu banyak sekali sunnah2 seperti sholat berjamaah atau bersiwak (sebagai contoh) ,kuat untuk mengamalkan dan bahkan mendakwahkanya.
Apakah orang2 Tabligh meruntuhkan Islam seperti tuduhan2 mereka bahwa tabligh merusak Islam. Padahal setelah dakwah dibuat banyak orang2 Islam kembali jalankan sholat, baca Qur,an, puasa kembali dsb.
Bukankah ada jutaan anak telah menjadi hafidz dan alim setelah orang tuanya sadar akan Islam?
Bukankah kami dan banyak wanita2 yang suaminya ikut dakwah istrinya ikut tutup aurot dan tahu pentingnya agama dan siap membantu agama?
Bukankan jadi banyak pondok dan masjid berdiri lagi?
Bukankan banyak sekali orang2 kafir yang menjadi Islam dan masjid2 dinegeri kafir didirikan?
untuk pertanyaan kedua berapa persen ketaatan kaum muslimin? hanya Allah SWT yang tahu. kita tidak bisa memukul rata semua orang Islam sedang duduk atau bahkan tidur-tiduran sambil menikmati angin cendela.
Mohon maaf islustrasi saya diatas mungkin terlalu kasar. Maksud saya adalah sebagai bahan fikir saya untuk selalu melihat sekitar
da’wah tidak selalu pergi keluar rumah, anda pun bisa berda’wah dengan tulisan, infaq untuk para da’i dan lain sebagainya.
Dari Arieniya :
Betul sekali ustad. mohon maaf.
Ada jutaan cara dakwah dan jutaan pula cara Allah memberi hidayah tetapi kenapa Khuruj yang selalu jadi bahan cacian? Dan belum pernah suami atau anak2 lelaki kami mengajarkan atau membicarakan bahwa dakwah tulisan2, infaq, atau diruamh sebagai dakwah yang salah. karena kamipun membuat hal2 tsb disela2 keseharian kami
sekarang saya tanya kepada anda, saya punya seorang ustadz dia meninggalkan keluarga istri, anak, untuk mengajar di kampus negara orang, apakah beliau sedang berjihad atau tidak….?
sayapun punya kawan, dia tidak bisa berda’wah (dalam arti keluar rumah) tapi dengan harta yang dia punya, dia manfaatkan untuk membantu sesama, dan aktif menulis untuk membela umat ini, pertanyaanya apakah dia sedang berjihad atau tidak…?
dari Arieniya : Jawaban pertanyaan diatas jg sudah diuaraikan dibawah.Mohon maaf, justru jika berkenan kami yang bertanya bolehkan dakwah suami dan anak2 kami dengan khuruj dilanjutkan? Karena ulama2 Saudi sudah fatwa yang demikian itu pada kaum Tabligh.
melakukan aktifitas da’wah itu menurut kemampuan kita, jika kita punya harta, maka berda’walah dengan hartamu…
jika kita punya tenaga, maka berda’walah dengan tenagamu….
jika kita punya kepandaian, maka berda’walah dengan kepandaianmu….
jika kita punya harta, tenaga, kepandaian, maka berda’walah dengan seluruh kemampuanmu….
dari Arieniya :
Betul semua ustad, jika ada kesimpulan mengenai dakwah seperti ustad uraikan diatas.
Justru itulah ustad saya jadi heran mengapa orang2 sangat benci pada apa2 yang dilakukan orang tabligh.
Kasihan saudara2 dan tetangga2 saya yang aktif di tabligh. Mereka sudah korbankan waktu, tenaga, harta, fikiran untuk agama kok masih salah juga. Bukan seminggu sekali ustad, tetapi tiap hari dan bahkan mereka siap berangkat untuk urusan agama walaupun tengah malam sekalipun. Mereka rela makan berdikit-dikit agar agama kebagian, mereka rela memakai pakaian bertambal agar agama kebagian, mereka rela pakai jam yang Rp.15 ribu dibanding jam jutaan agar agama kebagian, mereka rela tidak istrahat setelah pulang kantor agar umat kebagian mereka rela rumah dan mmobil sederhana agar biaya dakwah ke tempat2 yang jauh kebagian.
Kami mohon doa agar kami istiqomah dan selau Allah ta’ala bimbing
Oleh: arieniya on Oktober 7, 2009
at 3:25 am
untuk arieniya:
bagi mereka yang tidak setuju untuk khuruj ala tabligh, mungkin mereka lebih berhak untuk menjawabnya.
silahkan dengan da’wah yang anda jalani sekarang ini, tapi jangan lupa untuk menghadiri kajian tafsir dan hadits disetiap tempat yang anda temui. Insya Allah ilmu kita akan bertambah.
Oleh: fospi on Oktober 7, 2009
at 4:09 pm
sy dah 8 kali keluar selama 3 hari bersama jamaah ini. dan isinya adalah mainan aja, dan itu2 aja. bahkan membaca quran cuma 10 surat pendek terahir juz amma. dan selebihnya cuma india pakistan banglades india banglades pakistan 40 hari, 4 bulan 3 hari ituuu aja yg diulang2. serta enam sifat sahabat yg sangat diagung2 kan( kenapa ngak sifat rosulullah saja?)
dan banyak sekali anggota(senior) yang mendapat predikat HAJI, padahal mereka hajinya ke IPB alias india pakistan banglades.
dan tdk ada seorangpun yg pernah berhaji ke MAKKAH.( kecuali ) sebelum bergabung ke jamaah ini telah berhaji.
boleh dibuktikan 100% benar….!
Oleh: dennis on Oktober 14, 2009
at 2:40 pm
Dear All dan Sdr. Dennis,
Pengajaran dan pendidikan itu dalam bidang apa saja mempunyai kurikulum dan silabus, termasuk dalam pengajaran dan pendidikan Al-Islam secara umum dan juga usaha da’wah (orang menyebutnya JT).
Kurikulum dan silabus dalam bidang yang sama bisa saja mempunyai kesamaan dan juga perbedaannya. Dan hal itu tentunya ditetapkan oleh yang mengerti betul dengan proses pengajaran tersebut. Tidak semua orang mengerti perihal kurikulum dan silabus, dan juga bagaimana menyusunnya.
Usaha da’wah ini mempunyai kurikulum dan silabus, dan dirancang adalah generik. Apa artinya? Semua lapisan bisa mengikuti dengan baik. Apakah itu pejabat, apakah itu tukang bangunan, apakah itu pemuda, apakah itu anak-anak, apakah itu ulama hafidz sekalipun, apakah itu ahli hadist.
Kami pernah bertemu dengan Professor dalam bidang eksak, dan beberapa orangnya hafidz quran. Mungkin kita di Indonesia akan sulit mencarinya, seorang profesor eksak tetapi hafidz quran.
Apakah mereka akan membaca 10 surat, jelas ketika ada orang yang mengikutinya tentunya 10 surat adalah yang paling tepat, karena akan bisa diikutinya dengan baik pula. Tidak akan merasa minder, segan, dsb.
Kami pernah keluar dengan santri-santri hafidz di malaysia ketika kami mengambil program riset untuk S3 dalam bidang teknologi dan manajemen, dikira kami ini banyak hafalan Quran, dan ketika kami dengarkan ternyata mereka membaca bukan 10 surat itu, tetapi yang panjang-panjang.
Kami senang sdr. sudah pernah keluar/khuruj, tetaplah untuk terus keluar/khuruj dan juga tetaplah untuk selalu belajar dari ulama dalam ilmu Al-Islam.
Banyak orang bertanya kenapa hanya fadhoil saja? TETAPI kenapa banyak juga yang lahir menjadi alim dari anak-anak mereka? Banyak orang bertanya kenapa harus khuruj dari masjid ke masjid? Banyak orang bertanya kenapa harus 10 surat? TETAPI banyak juga hafidz quran dari anak-anak mereka yang dulunya sama sekali awam dengan Al-Islam. Dan masih banyak lagi …
Di sinilah kita harus berpikir, dan untuk dapat memahami ini kita harus menggunakan kerangka ANALISA dan SINTESA, tidak mungkin hanya mengandalkan ANALISA SAJA.
Kita dapat bermudzakarah dengan baik untuk membuka wacana, tetapi kita harus mempunyai niat untuk mendapatkan kebaikan dan keluasan wacana tersebut.
Hari ini dan mungkin hari esok banyak sekali orang mengomentari usaha da’wah ini, apakah yang tidak senang, apakah yang ragu-ragu, apakah yang tidak memahaminya. Tetapi jika kita mempunyai niat untuk mendapatkan kebaikan dan keluasan wacana, maka tentunya kita akan mendapatkan kebaikan itu sendiri.
Dan biasakanlah untuk berpikir dan berpikir, sebelum memberikan pandangan negatif. Karena jika terbiasa memberikan pandangan negatif terlebih dahulu, maka akan sulit kita kaum muslimin terbiasa untuk berpikir dan melakukan perbaikan kepada kaum muslimin sendiri termasuk diri kita. Dalam al-quran banyak sekali penjelasan ini. Silahkan dipelajari dengan baik.
Oleh: Haitan Rachman on Oktober 16, 2009
at 3:49 am
yth bpk haitan.r
sy pernah 8 kali khuruj, artinya saya sdh mencoba cukup banyak untuk memahami dan untuk bergabung bersama saudara2 karkun ini.
awalnya sy berfikir mungkin sy hanya keluar bersama karkun2 muda yg kurang pengalaman, setelah sy keluar bersama senior2 yg kerap mengisi jajaran depan dan mimbar di masjid kebon jeruk sana, eh.. ternyata sama saja, bahkan beliau2 selalu menuduh, menghujat, ngomongin orang2 yg tdk sefaham dg mereka dan menjulukinya dg thogut2, kafir2, bahkan munafik dll.dan yang dihujat itu adalah ustad2, cendekiawan2 muslim sekelas ust arifin, AA gym, qurais sihab, bahkan seluruh dosen2 UIN dan muhammadiyah, pks , hisbut tahrir semua thogut. dan itu dibahas setiap kami makan atau menjelang tidur atau waktu2 tertentu.
mereka (pernah) ke IPB (india, pakistan banglades), tetapi lagaknya mereka orang yang paling pandai dan paling tinggi derajatnya.
(mudah2an)saya salah dalam mengamati, karena yg namanya takrir atau bayan(istilah mereka) hanyalah seperti sy latihan muhadloroh waktu di pondok modern dulu di jw timur.
oya, sy juga sudah mendapatkan gelar doktor dari universitas islam yg tersohor di jakarta beberapa tahun lalu, tetapi sy masih mau diajari oleh karkun2 muda usia belasan.
wass
Oleh: dennis on Oktober 16, 2009
at 4:45 pm
Sdr. Dennis,
1. Alhamdulillah, sdr. telah dapat menyelesaikan program S3 di salah satu perguruan tinggi Islam yang terkenal. Karena hal itu tidak banyak kaum muslimin yang mendapatkan kesempatan seperti sdr. Mudah-mudahan Ilmu yang diperoleh memberikan manfaat yang banyak, kepada sdr. sendiri, kepada keluarga sdr., dan juga umumnya kepada kaum muslimin dan juga ummat manusia. Amiin.
2. Kita memang terus belajar, karena pesan Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW, menekankan pentingnya mencari ilmu dari buaian sampai akhir hayat. Sehingga tentunya kita dapat belajar juga kepada anak-anak yang masih muda, meskipun mereka belum mendapatkan gelar S3 sekalipun.
Kami pernah diajari dengan kalimat yang sederhana dari seorang kawan lama yang mengajak kami pertama kali untuk usaha da’wah ini (orang menyebutnya JT), ketika kami menjulurkan kaki kami ke arah kiblat di dalam masjid. Dengan lembutnya, sambil kaki kaki dipijit dan berucap sederhana, kata Nabi Muhammad SAW tidak baik mengarahkan kaki kearah kiblat. Kami tersenyum.
3. Panggilan thoghut sangat berbahaya sekali dalam ucapan kita kaum muslimin, dalam al-quran terdapat kata hal itu dengan jelas. Bahkan Rasulullah SAW sangat sering menekankan untuk berdzikir dengan Al-baqarah(2): 255-256, karena di dalamnya sangat fundamental.
Dan kepada kaum muslimin lainnya, terdapat juga yang sangat dianjurkan untuk didzikirkan Ali-Imran ketika bangun tidur di dalamnya terdapat do’a untuk tidak terkena penyakit bahaya terhadap kaum mu’minin lainnya. Kami secara jujur, untuk tetap istiqomah mengamal bacaan beberapa ayat Ali-Imran cukup berat. Sudahkah sdr. mengetahui hal ini?
4. Dalam usaha da’wah terdapat satu sifat fundamental yang sering diulang-ulang dalam enam sifat shahabat yaitu Ikramul Muslimin (memuliakan kaum muslimin). Artinya menghina, meremehkan, menyindir, dan bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas sangat bertentangan dengan sifat yang sering diulang-ulang ini.
Ataupun dalam amal masjid yang perlu diperbanyak yaitu khidmat kepada Kaum muslimin. Artinya hinaan, sindiran dan bahkan menghujat sangat bertentangan dengan khidmat kepada kaum muslimin. Ataupun hal itu bertentangan dengan salah satu ushul da’wah yaitu membuka ‘aib masyarakat.
Begitupun kita akan sangat jahil yang pernah kenal dengan usaha da’wah ini terus membuka aib dari kaum muslimin. Tetapi kita harus merubahnya dengan baik dan hikmah. itulah yang diajarkan dalam QS Al-Ashr (103):1-3.
Da’i akan memperhatikan hal itu dengan baik, jadi jika ada kekurangan dari seseorang sebaiknya sdr. tegur dan kembalikan pada tertib dan ushul.
Apakah sdr. sering memperhatikan ushul-ushul da’wah dan 6 prinsip da’wah yang sering ulang. Bagaimana menurut sdr. perihal itu?
5. Sdr. mengetahui tidak perihal latar belakang turunnya Ali-Imran (3):100-105, silahkan kita pelajari dengan baik dalam kitab-kitab besar seperti Tafsir Ibnu Katsir, Imam Qurthubi.
Kami pribadi berlindung dari sifat yang tidak baik, sebagai latar belakang dari turunnya ayat-ayat itu.
Apakah sdr. sudah membacanya dengan baik perihal lalar belakang itu? Di sinilah para Ulama yang benar-benar faham terhadap usaha da’wah ini telah lama-lama hari menyiapkannya dengan baik, agar tidak dapat menjadi permainan atau bisa membedakan siapa yang menjadi orang yang mau benar-benar melakukan perbaikan diri dengan baik dan berkelanjutan.
Silahkan pelajari dengan yang menjadi latar belakang dari Ali-Imran (3):100-105! Orang yang tidak senang biasanya juga ada dalam lingkungan kita sendiri. Oleh karena itu Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW, selalu berpesan bahwa ada hasad dan iri yang diijinkan, karena memang manusia akan terkena hal itu. Tetapi ada yang berbahaya, silahkan perhatikan dengan baik latar belakang Ali-Imran (3):100-105.
6. Bagi kaum muslimin lainnya, coba membuka wacana dan pendalaman dengan baik. Kira-kira adakah masalah-masalah besar kaum muslimin dalam Ali-Imran (3):100-105.
Dan selanjutnya adakah Solusi juga dalam Ali-Imran (3): 100-105.
Jika orang yang selalu berusaha berhubungan usaha da’wah dan terus menggali sumber-sumber para Ulama dulu. Kita akan mendapatkan tertib dan ushul yang sering kita bahas ketika keluar ataupun maqomi, terdapat dalam sumber ayat-ayat itu dengan baik.
7. Silahkan kita bermudzakarah dengan baik, ILMIYYAH dan HIKMAH. Setiap mempunyai latar belakang, tentunya akan memberikan pengaruh terhadap ANALISA dan SINTESA.
Jika kita terlibat dalam usaha da’wah, jika kita ini ragu dengan usaha da’wah, atau jika kita kurang sreg dengan usaha da’wah; semua orang mempunyai haknya. TETAPI marilah kita membuka wacana dan berimbang, sehingga kaum muslimin akan mengalami perbaikan (ishlah) “Never-Ending Improvement”.
Kami sangat senang dengan ucapan Imam Syafi’i Rah yang berkaitan dengan QS Al-Ashr (103):1-3. Beliau telah memiliki ribuan mil jangkauan pandangan, sehingga muncul pandangan itu. Masya Allah. Beliau tidak menjelaskan ayat per ayat, seperti tafsir. Tetapi sebuah perkataan yang mengandung bahwa beliau benar-benar faqh dan dalam terhadap penghayatan. Itulah “Never-Ending Improvement”.
Oleh: Haitan Rachman on Oktober 18, 2009
at 12:03 am