STRATEGI MEMENANGKAN DAKWAH DI ERA REFORMASI

9 11 2008

Oleh: Hifni Muzammil

Ditandai dengan turunnya soeharto dari singgasana kediktatorannya, perlahan-lahan pintu kebebasan mulai terbuka. Masyarakat yang dulu terkungkung, mulai berani bersuara, berteriak menuntut hak-hak mereka yang ditindas. Kelompok masyarakat yang selama ini termarginalkan hak politiknya, berangsur-angsur mengejewantahkan diri dalam bentuk ormas/orpol. Kelompok minoritas termasuk minoritas nilai(atau yang dalam bahasa kita sebut menyimpang) berusaha memanfaatkan peluang ini demi memperluas akses penerimaan masyarakat. Para pengusung paham sepilis memanfaatkan momentum ini untuk mempromosikan ”produk” yang mereka suplai dari ”sang distributor” di Barat (Orientalis). Para seniman dan jurnalis tanpa malu-malu mengkampanyekan hal-hal yang bersifat absurd di masyarakat, seraya mengangkat bendera kebebasan berekspresi. Para Kapitalispun memanfaatkan era ini demi memperluas akses keberbagai sudut potensial pasar.

Dan yang tak boleh kita nafi’kan juga, dakwah yang selama ini terbelenggu, sekarang menemukan momentumnya. Para Aktivis Islam yang ketika zaman Soeharto seolah ”tiarap”, sekarang dengan leluasa berdakwah. Kezholiman para penguasa ketika itu, membuat ketidaknyamanan bagi para du’at. Secara sadar kita sebagai du’at meyakini bahwa akar kerusakan yang menimpa ummat Islam adalah kezholiman yang lahir dari kursi para penguasa dictator di Dunia Islam. Kebebasan yang tercabut menyebabkan potensi besar ummat islam kehilangan ruang gerak, dan karenanya tidak dapat mengekpresikan diri secara penuh.

Realita diatas adalah dua buah fenomena yang saling kontraduktif. Yang pertama menceritakan kebebasan ”ahlul bathil” melakukan kemungkaran-kemungkaran mereka, maka uraian terakhir adalah sebuah realita ”ahlul haq” yang juga bebas beramar ma’ruf nahi munkar. Itulah salah satu karakteristik demokrasi. Semua orang bebas. Kitapun bebas berdakwah, tapi kebebasan itu ada harganya. Karena para pelaku kemungkaran juga bebas melakukan kemungkaran. Secara eksplisit Anis Matta, Lc[1] dalam tulisannya di majalah SAKSI berkesimpulan bahwa ”Yang berlaku dalam sistem demokrasi bukan hukum benar salah, tapi hukum legalitas. Sesuatu itu harus legal walaupun salah. Dan sesuatu yang benar tapi tidak legal adalah salah. Begitulah aturan main demokrasi”.[2]

Oleh sebab itu, yang harus kita lakukan adalah bagaimana menintegrasikan kebenaran dengan legalitas. Bagaimana membuat sesuatu yang salah dalam pandangan agama menjadi tidak legal dalam pandangan hukum positif. Secara terbalik, itu pulalah yang dilakukan para pelaku kejahatan.

Titik Temu Sistem Demokrasi

Perbedaan mendasar antara demokrasi sekuler dengan konsep Politik Islam terletak pada pandangan tentang siapa pemegang kedaulatan. Konsep demokrasi sekuler memberikannya kepada rakyat. Suara rakyat adalah suara tuhan, yang kemudian diimplimentasikan dalam bentuk nota kesepakatan yang kita kenal dengan istilah konstitusi. Sementara dalam Islam kedaulatan itu bersifat given (sesuatu yang sudah ada) yang berasal dari Allah SWT.
Titik perbedaan demokrasi dengan Politik Islam begitu mendasar, tapi titik temu keduanya juga mendasar. Yaitu pada konsep partisipasi [3], yang dengan konsep itu masyarakat memiliki posisi yang kuat atas Negara. Dimana masyarakat memiliki kebebasan untuk berpartisipasi dan menyuarakan hak-hak mereka tanpa tekanan. Titik temu inilah yang mendasari sikap sebagian ‘Ulama [4] untuk berijtihad menerima sebagian konsep demokrasi. Bahwa seperti kata Hasan Al-Banna [5], demokrasi adalah salah satu sistem yang terdekat dengan Islam. Penjajahan Eropa atas Dunia Islam, munculnya para diktator/penguasa tiran dan pemerintahan militer represif, telah mematikan potensi umat secara keseluruhan. Dan Negara-negara Barat Penjajah secara sengaja membentuk dan mempertahankan para penguasa tiran tersebut. Yang dengan begitu SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam) di Negara tersebut (khususnya Negara-negara berpenduduk muslim) dengan mudah dikeruk. Maka jadilah Umat Islam kelaparan di ”lumbung padi” atau sebagai umat yang berada di bawah garis kemiskinan.

Tahapan Operasional Dakwah

Dalam mengoprasikan strategi ini, setidaknya Anis kembali mengusulkan tiga tahapan [6]:

1. Menangkanlah wacana public agar opini publik berpihak kepada kita.
2. Formulasikan wacana itu kedalam draf hukum untuk dimenangkan dalam wacana legislasi melalui lembaga legislative.Kemenangan disini menjadi legitimasi Negara dalam mengeksekusi pelanggar.
3. Pastikan bahwa para eksekutif pemerintah (polisi, pengadilan) melaksanakan dan menerapkan hukum tersebut.

Sebagai contoh, permasalahan pornografi di negeri ini. Itulah jalannya. Susunlah struktur gagasan yang kuat untuk meyakinkan public betapa merugikannya pornografi bagi kehidupan kita. Jika kita menang di sini, Buatlah sebuah rancangan undang -undang untuk membasmi segala bentuk pornografi. Jika kita menang di sini, kontrollah secara ketat apakah pemerintah melaksanakannya secara baik atau tidak. Kalau tidak kita tuntut pemerintah.

Demikianlah dakwah harus bekerja di era demokrasi. Ada kebebasan yang kita nikmati bersama. Tapi, juga tersedia ”cara tersendiri” untuk mematikan kemungkaran dan memenangkan dakwah.

Wallahu A’alam bish showab…

[1] Anggota Majelis Hikmah PP Muhammadiyah.

[2] Kolom Anis Matta di Majalah SAKSI.

[3] DR.Taufiq Muhammad Asy-Syawi, Asy-Syuro A’ala Maratib Ad-Dimoqrathiah

[4] Diantara ‘Ulama yang membolehkan terlibat dalam Parlemen tercantum dalam buku Syar’iyah Al-Intikhobat karangan DR.Abdul Karim Zaidan, Syeikh Abdul Majid Az-Zindani, Syeikh Muhammad Yusuf Harbah, Edisi Terjemahan: Pemilu dan Parpol dalam Perspektif Syariah.

[5] Hasan Al-Banna, Majmu’atul Rasail Edisi Terjemahan: Risalah Pergerakan 1, h.275

[6] Anis Matta, op.cit., h.34

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: