Memahami Agama Dan Pengaruhnya Dalam Kehidupan

29 06 2008

Oleh ; Aminuddin Albuqisy*

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”(QS.Al-`Imran:19)

Agama sesungguhnya tidak mudah diberikan definisi atau dilukiskan, karena agama mengambil beberapa bentuk yang bermacam-macam diantara suku-suku dan bangsa bangsa di dunia. Watak agama adalah suatu subyek yang luas dan kompleks yang hanya dapat ditinjau dari pandangan yang bermacam-macam dan membingungkan. Akibatnya, terdapatlah keanekaragaman teori tentang watak agama seperti teori antropologi, sosiologi, psikologi, naturalis dan teori kealaman. Sebagai akibat dari keadaan tersebut, tak ada suatu definisi tentang agama yang dapat diterima secara universal.

Kesulitan memahami realitas agama salah satunya direspon oleh The Encyclopedia of Philosophy dengan memberikan daftar komponen-komponen agama. Menurut Encyclopedia itu, agama mempunyai ciri-ciri khas (characteristic features of religion) sebagai berikut :
1. Kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan).
2. Pembedaan antara yang sakral (keramat, suci, kerohanian) dan yang profan (tidak berhubungan dengan agama).
3. Tindakan ritual yang berpusat pada obyek sakral.
4. Tuntunan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan.
5. Perasaan yang khas agama (takjub, misteri, harap, cemas, merasa berdosa, memuja) yang cenderung muncul di tempat sakral atau diwaktu menjalankan ritual, dan kesemuanya itu dihubungkan dengan gagasan Ketuhanan.
6. Sembahyang atau doa dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan.
7. Konsep hidup di dunia dan apa yang harus dilakukan dihubungkan dengan Tuhan.
8. Kelompok sosial seagama, seiman atau seaspirasi.

Bicara soal agama, bagaimana pun juga, tidak bisa tidak kita harus terlebih dahulu memahami definisi agama. Dalam bahasa Arab agama disebut ‘Din’ yang secara bahasa berarti ketaatan, perilaku, hukum dan peraturan dsb. Dalam istilah, Din berarti keyakinan kepada Sang Pencipta manusia dan alam semesta serta ajaran-ajaran amaliah yang sesusai dengan keyakinan ini. Atas dasar ini orang yang tidak meyakini adanya Sang Pencipta dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai kejadian spontan atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis). Sebaliknya orang yang menyakini adanya Sang Pencipta alam semesta disebut sebagai orang yang beragama. Sekalipun keyakinannya atas ritual-ritual agamanya mengalami penyimpangan dan khurafat. Maka dari itu, agama terbagi menjadi hak dan batil.

Din juga dapat didefinisikan sebagai peraturan Allah yang membawa orang-orang berakal kearah kebahagiaan dunia dan akhirat, yang mencakup masalah aqidah dan amal. Ia adalah suatu sistem yang mencakup peraturan-peraturan yang menyeluruh, serta merupakan “undang-undang” yang lengkap dalam semua urusan hidup manusia untuk kita terima dan mengamalkannya secara total.

Agama adalah tata-tertib yang mengatur hubungan antara makhluk dengan Kahlik-Nya. Ia mengandung petunuk-petunjuk hidup manusia duniawi dan ukhrawi. Sebagian orang memberi penilaian benar atau tidaknya sebuah agama, sengat tergantung pada kehadiran Kitab Sucinya, kenabian, kelengkapan Syari`at, serta ketaatan penganutnya terhadap Khalik yang dianutnya. Masalahnya, karena hal agama adalah hak asasi yang paling mendasar dan manusia bebas memilih. Asas yang demikian sesuai dengan pernyataan Allah dengan firman-Nya: Al-Baqorah : 256

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahu”.

Perlu kami ingatkan bahwa pengertian agama di sini adalah cara hidup yang bermoral. Cara hidup yang disukai Allah. Cara yang dipilihNya dan yang paling tepat bagi semua jenis manusia. Cara hidup yang terbebas dari takhayul-takhayul dan mitos-mitos, dan sepenuhnya di bawah bimbingan Al-Qur’an.

Agama menciptakan lingkungan moral yang sangat aman dan nyaman. Sikap anarkis yang menyebabkan kerusakan pada bangsan dan negara terhenti sama sekali karena rasa takut kepada Allah. Orang tidak lagi melakukan tindakan yang merugikan ataupun berbuat kerusuhan. Orang-orang yang memegang nilai-nilai moral siap bangkit bagi bangsa dan negaranya serta tidak hendak berhenti untuk berkorban. Orang-orang semacam ini selalu berusaha untuk kesejahteraan dan keamanan negaranya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan berbagai ragam agama dan kepercayaan hidup menusia. Tetapi, bagaimanapun ragam dan jumlahnya, dia dapat kita golongkan kedalam dua kelompok, yaitu:
1. Agama yang lahir atas dasar wahyu (agama wahyu).
2. Agama yang lahir atas dasar budaya manusia.

Agama wahyu ialah agama yang dalam ajarannya diatur menurut wahyu Allah, malalui Nabi dan dengan Kitab Suci yang diterimanya dari Allah. Sementara Agama atau kepercayaan budaya, ia lahir atas hasil perkembangan zaman, seirama dengan tingkat berfikir dan kebutuhan manusia. Bentuk agama atau kepercayaan budaya yang demikian kebudayaanlah yang melahirkannya. Sementara pendapat lain menyebutkan bahwa semua agama adalah hasil budaya manusia. Masalahnya, pendapat akhir ini terpengaruh pada teori bahwa kehadiran manusia yang berbudaya dan beragama, juga adalah hasil perkembangan evolusi alam, dimana manusia hari ini adalah hasil rentetan panjang dari perkembangan mansuia purba yang terpaut oleh fase demi fase.

Namun pada hakekatnya hanya ada satu agama yang hak, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam ayat yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, dalam surah Al-`Imran:19

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.”

Dari sini kita dapat beralih kepada kesimpulan bahwa agama wahyu yang kita maksud adalah agama samawi dan tentunya dari potongan ayat diatas dengan jelas menyatakan hanyalah Islam agama yang diridhoi oleh-Nya. Dus, Islam bukan hanya agama spiritual atau mengurusi masalah-masalah akidah saja, malainkan juga merupakan agama yanag bisa memberikan inspirasi pada pemeluknya untuk menyusun konsep tentang kenegaraan, pedoman berperilaku yang luhur, sebagai titian mengarungi kehidupan dan sebagai undang-undang dalam bermasyarakat. Apabila makna hakiki akidah benar-benar tertanam pada kalbu seseorang dan telah memancarkan nur hidayah keTuhanan maka ia merupakan sumber bagi setiap kebajikan. Dan apabila sinar cahaya ibadah menyinari seseorang dan telah mampu memberikan suatu perasaan halus pada indranya maka hal itu sudah memasuki pendidikan dan pengajaran perliku sesorang, menjunjung tinggi norma dan nilai kemasyarakatan yang penuh dengan kebajikan dan berorientasi pada kemajuan, dan mempunyai beban moral untuk mengajak kepada masyarakat sekitarnya untuk selalu beribadah kepada Allah secara ikhlas.

Wallahu Waliyyuttaufiq alladzi qad hadaanaa birahmatihi..!

* Penulis adalah Mahasiswa S1 Shariah and Law, IIU Islamabad.

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: