Sikap Adil dalam Berda’wah

20 09 2007

Disampaikan oleh; *Fajar Basuni Hajar

Pendahuluan

Segala puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wata’ala, hanya kepada-Nya lah kami mohon ampunan, mohon pertolongan, dan mohon perlindungan dari segala kejahatan baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam pembawa risalah-Nya yang menunjukkan umat manusia kepada agama yang Haq, agama yang mengajak umatnya untuk ber-amar ma’ruf nahi mungkar agar selamat di dunia maupun di akhirat.

Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad adalah agama dari Allah yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sedangkan al-Quran merupakan wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya melalui perantara malaikat jibril sebagai pedoman, berupa – risalah yang memuat tuntutan – tuntutan, larangan – larangan, dan petunjuk – petunjuk secara global yang kemudian dijelaskan oleh Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam sehingga manusia mengetahui tujuan mereka di ciptakan ke dunia, yaitu laksaana musafir yang hendak pergi ke suatu daerah yang jauh, mereka senantiasa memiliki peta arah sebagai pedoman untuk melangkah, hingga akhirnya sampai pada tujuan. Tentu saja mereka sebelumnya telah mempersiapkan perbekalan yang sekiranya mereka butuhkan.

Nabi Muhammad Salallahu alaihi wa sallam sebagai seorang Rasul yang diberikan amanah untuk menyampaikan wahyu berupa Al-Qur’an berusaha dengan segala kemampuannya menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh manusia dengan sebaik – baiknya walaupun banyak cobaan besar yang beliau hadapi tetapi beliau jalani semuanya dengan penuh kesabaran sehingga bangsa arab yang terkenal dengan watak keras dan kejahiliahannya pada saat itu mampu beliau rubah sedikit demi sedikit menjadi bangsa yang beradab dan menerima Islam sebagai agama pedoman mereka.

Dengan jalan dakwah inilah akhirnya agama Islam tersebar ke seluruh dunia dan jumlah kaum muslimin yang hampir mencapai seluruh umat di dunia. Oleh karena itu sebagai seorang muslim, sudah semestinya kita senantiasa melanjutkan dakwah Islam sebagaimana dakwah yang dibawa oleh nabi Muhammad. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam ayat-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?“(QS fushshilat : 33)

Dari ayat di atas dapat difahami dengan makna nafi yaitu; tidak ada sebaik – baiknya perkataan, kemudian dapat ditarik dua kesimpulan yaitu :

  1. Menghilangkan sesuatu tersebut, yaitu bahwa tidak ada orang yang terbaik perkataannya selain orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang – orang muslim”
  2. Tantangan kepada seorang muslim untuk mengerjakannya yaitu jika padanya kebaikan maka sampaikanlah dan kerjakanlah.

Maksud dakwah Islam adalah dakwah kepada Allah berupa seruan – seruan kepada syariat – syariat – Nya sebagai perantara kepada kemuliaan – Nya. Sedangkan dakwah yang dibawa Rasulullah mencangkup tiga hal yaitu :

  1. Pengetahuan terhadap Allah, sifat – sifat, dan nama-nama – Nya.
  2. Pengetahuan terhadap syariat – syariat – Nya sebagai perantara kepada kemuliaan – Nya.
  3. Pengetahuan tentang pahala bagi orang – orang yang taat dan balasan bagi orang – orang yang bermaksiat.

Dakwah Islam merupakan salah satu bagian amal sholeh yang kesempurnaannya tidak terlepas darinya, sebagaimana Allah berfirman :

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(QS Al Asr:1-3)

Dari ayat diatas bahwa nasehat menasehati mentaati kebenaran tidak lepas dari dakwah kepada kebaikan begitu pula nasehat supaya menetapi kesabaran tak lepas dari dakwah kepada kesabaran dalam Islam.

Dakwah Islam yang senantiasa berlanjut, pada kenyataannya di zaman sekarang ini terbagi menjadi dua sisi yang saling berlawanan, golongan pertama adalah orang – orang yang cenderung keras di dalam berdakwah dan golongan orang – orang yang cenderung meremehkan didalam masalah dakwah.

Golongan yang cenderung keras didalam berda’wah

Kadangkala di jumpai ditengah – tengah masyarakat sekelompok orang – orang cenderung keras dalam berdakwah dan menginginkan agar pengikutnya melaksanakan

Segala apa yang telah diperintahkan, jika ada beberapa pengikutnya ada yang meninggalkan salah satu perintah atau berbeda pendapat dengan mereka walaupun dalam masalah – masalah yang dalam Islam di anggap mubah langsung dengan segera mendatangi mereka, sekaligus berbicara agar mereka mengerjakannya sebagaimana mereka, seolah – olah masalah itu sebagai suatu kewajiban. Berikut adalah beberapa permisalanan yang sering timbul di masyarakat :

  1. Sekelompok orang yang apabila melihat ada sebagian orang yang tidak melakukan duduk istirohah ketika akan bangkit pada rakaat kedua maupun keempat dalam sholat lalu segera mendatangi pelaku dan menegur seakan – akan duduk istirohah adalah suatu kewajiban padahal pendapat para ulama mengenai masalah ini berkisar antara tiga pendapat, yaitu :

1. Mubah secara mutlak

2. Tidak mubah secara mutlak

3. Mubah bagi orang – orang tertentu seperti orang yang susuh berdiri, orang sakit, dan orang yang semisal dengannya.

  1. Contoh lainnya yaitu; Sekelompok orang yang melihat beberapa orang meletakan tangan di dada ketika I’tidal sebagaimana berdiri dalam sholat langsung mengatakan pada mereka bahwa mereka adalah pelaku bid’ah padahal mereka menyandarkan pendapatnya berdasarkan pada hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui Suhail bin Sa’ad r.a.; “adalah orang – orang diperintah agar seseorang apabila dalam sholat hendaknya meletakkan tangan kanannya atas tangan kirinya dalam sholat”.

  1. Demikian pula sekelompok orang yang mengingkari orang yang banyak melakukan gerakan dalam sholat dan memberikan Cap kepada para pelakunya. Padahal, hal tersebut tidak terlarang sebagaimana kisah sahabat Abu Juhaifah ketika ia memegang tali pelana kudanya sedangkan ia dalam keadaan sholat begitu juga Rasulullah salallahu alaihi wassalam pernah suatu ketika beliau menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah, sedangkan beliau dalam keadaan menjadi imam sholat dihadapan para sahabat dan mereka menyaksikan Nabi meletakkan Umamah ketika hendak sujud dan menggendongnya kembali ketika berdiri dengan penuh kelembutan.

Demikianlah permisalan orang – orang yang begitu keras dalam berdakwah mereka berdakwah secara berlebih – lebihan atau diistilahkan ghuluw dalam berdakwah yang terkadang orang akan cenderung menghindarinya dari pada menerimanya.

Golongan orang-orang yang cenderung meremehkan didalam berda’wah

Disamping orang – orang yang berdakwah secara keras tadi, muncul juga orang – orang yang suka meremehkan didalam berdakwah seperti halya seseorang yang berada dalam daerah yang memerlukan dakwah Islam. Kemudian karena masyarakatnya buta dan sempit akan pengetahuan Islam. Maka ia semena-mena enggan untuk berdakwah dan mendapati dirinya merasa ketakutan, keputusasaan serta kecemasan untuk berdakwah, seakan – akan syetan telah menyusup dalam hatinya dan membisikkan padanya bahwa pada saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk berdakwah.

Adapula sebagian orang yang apabila melihat kemaksiatan membiarkannya atau merasa berat dan enggan untuk merubahnya lalu memilih untuk menghindar dari kewajiban berda’wah kepada-Nya dan putus asa akan perbaikan pada-Nya, nah yang demikian adalah masalah besar padahal Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan dalam firman – Nya; agar kita senantiasa bersabar dan selalu mempertimbangkan dengan baik dalam memutuskan masalah sebagaimana Dia memerintahkan kepada nabi – Nya :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنْ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ (الأحقاف35)

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS Al Ahqaaf:35).

Maka kewajiban atas seseorang bersabar dan mempertimbangkan dengan baik dalam memutuskan masalah walaupun padanya terdapat kekurangan atau kelemahan maka jadikan kelemahan tersebut disisi Allah SWT.

Dan ada pula sekelompok da’i – da’i yang memiliki kemampuan ilmu untuk berdakwah dan bisa menyerukan kebenaran, akan tetapi mereka takut datangnya cacian dan kecaman dari orang – orang yang memusuhinya sehingga mereka mengabaikan dakwah tersebut dan apabila ada seorang da’i –da’i yang berkata tentang kebenaran. Maka mereka menuduh dengan seenaknya kalau para Da’i itu tidak memiliki ilmu yang mendalam. Maka dari itulah bagi sudah selayaknya sebagai seorang muslim agar didalam berdakwah tidak mendasarkan pada ukuran kelembutan maupun kekerasan menurut perasaan dirinya ataupun kesukaannya , akan tetapi kembalikanlah kepada Rasulullah dan para sahabat serta tabi’in sebagaimana mereka melakukannya didalam mendakwahkan Islam ini, sehingga dakwah Islam ini dapat diterima dengan mudah oleh semua pihak. sebagaimana Rasulullah bersabda :

ان الدين يسر … (الحديث)

“Sesungguhnya agama itu mudah”.

Demikian pula sabda beliau ketika mengutus Muadz bin Jabal dan Abu Musa al Asy’ari ke Yaman

يسرا ولا تعسرا و بشرا ولا تنفرا… (الحديث)

Mudahkanlah dan janganlah kamu mempersulit,bergembiralah dan janganlah kamu membenci“.

Suatu ketika seorang yahudi lewat dihadapan Rasulullah, dan yahudi tersebut berkata kepada nabi; “atasmu saam (kematian) wahai Muhammad” dan disamping Rasulullah adalah istri beliau Aisyah r.a. lalu ia (‘Aisyah) berusaha membalas perkataan keji yahudi tersebut dengan berkata kepada yahudi tadi “atasmu saam (kematiaan) dan laknat”. Kemudian baginda Rasulullah berkata pada Aisyah :

ان الله رفيق يحب الرفق وان الله ليعطي بالرفق ما لا يعطي على العنف

Sesungguhnya Allah maha lembut dan menyukai kelembutan, dan Allah tidak memberi kelembutan terhadap orang yang berlaku kasar“.

Dari hadits inilah dapat diambil pelajaran bahwa hendaklah seorang muslim mendahulukan kelembutan dalam berdakwah serta memberi kemudahan – kemudahan orang – orang untuk menerima dan melaksanakan dakwahnya karena jika seorang muslim berdakwah kepada orang – orang awam yang belum mengerti dengan benar agama Islam lalu secara langsung membebankannya dengan segala perintah – perintah dan larangan – larangan agama tentu saja mereka akan merasa keberatan menjalankannya bahkan akan lari menjauh darinya ibarat menuang air dengan gayung besar kedalam botol yang memiliki lubang kecil. sekali tuang seluruhnya, maka airnya akan tumpah serta tercecer dan sedikit sekali yang masuk kedalam botol tersebut, begitu pula apabila kita berdakwah kepada orang yang memiliki pengetahuan tentang Islam hendaklah mengedepankan kelembutan dan sopan santun sebagaimana perintah Allah untuk berdakwah dengan hikmah, contoh -contoh yang baik, dan juga berdialog dengan baik, karena kebenaran akan tertutup untuk dua kelompok, yaitu; mereka yang mu’rad dan kelompok yang takabbur(sombong).

Adapun orang – orang yang terlalu mempermudah didalam agama seperti yang terjadi di zaman sekarang adalah, menuntu peran dari para orangtua terhadap putra – putri mereka ketika menginjak remaja yang mana pada usia tersebut sepatutnya dicontohkan untuk melakukan perbuatan kebajikan serta amalan-amalan sunah seperti; puasa senin kamis, melakukan sholat nawafil (rawatib) dan yang lainnya. Walaupun amalan tersebut bukan suatu keharusan pelaksanaannya akan tetapi para orang tua ini setidaknya telah memberi pelajaran kepada mereka tentang amalan – amalan tersebut. Dikhawatirkan jika tidak dikenalkan dengan amalan-amalan sunah diatas, bisa menyebabkan ketidaksenangan atau kebencian mereka terhadap amalan ini. Dan ini adalah sangat bahaya bagi mereka karena barang siapa yang membenci kebenaran, mereka bisa termasuk dalam kategori golongan orang – orang murtad sebagaimana firman Allah :

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُ

Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.(QS Muhammad : 9).

Dan tidak terputus amalan seseorang kecuali orang – orang yang murtad, Allah berfirman;

يَسْأَلُونَكَ عَنْ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنْ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنْ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seanDa’inya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya “. (QS Albaqarah: 217)

Dan dari sekelompok keluarga yang begitu mengutamakan dengan keras pengajaran agama terhadap para putra – putrinya hingga mengharuskan pelaksaan suatu perkara yang mubah dan ini pula tidak dibenarkan. Maka sikap seorang muslim dalam berdakwah hendaknya mencegah kemungkaran yang timbul adapun jika ia menjumpai sekelompok orang yang meninggalkan beberapa perkara yang mubah dan yang sunnah karena memberatkan bagi mereka untuk pelaksanaannya, maka janganlah bersikap keras kepada mereka dan demikian pula dalam masalah khilafiah yang berbeda dengannya akan tetapi apabila pendapat mereka didasarkan pada suatu hujah yang didukung oleh para ulama maka janganlah menyempitkannya dan bersikap kesar padanya.

Maka senantiasa orang yang berdakwah kepada Allah dengan sebenar – benarnya adalah antara golongan orang yang berlebih – lebihan(ghuluw) dan golongan yang meremehkan dalam berdakwah yaitu golongan yang istiqomah didalam jalan yang lurus menurut petunjuk dari Allah sebagaimana firman Allah :

شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun”. (QS Assyura : 13).

Yang dimaksud dengan orang yang menegakkan agama adalah orang yang berjalan lurus mengikuti syariat – syariat Allah dan tidak bercerai berai darinya. Karena sungguh besar bahaya bercerai berai ini bagi umat Islam yang memungkinkan syetan atau orang –orang yang membenci Islam untuk masuk dan membuat tipudaya dalam rangka mengadu domba antara umat Islam. Demikian Allah memperingatkan orang Islam dalam beberapa firman-Nya agar tidak bercerai berai.

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar“. (QS Alanfal : 46).

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم

ٌ“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS Ali imran : 105)

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون

َ“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS Alan’am : 159),

Lalu bagaimana dengan berselisih serta meninggalkan orang – orang yang suka berbuat bid’ah.?? Sesungguhnya bid’ah itu terbagi menjadi dua yaitu :

  1. Bid’ah mukaffarah adalah setiap bid’ah yang menjerumuskan pelakunya kepada kekafiran. Contoh : Seorang yang melakukan tawasul kepada kuburan salah seorang yang dianggap sholeh dengan menggunakan sesaji didalam ritualnya.
  2. Bid’ah selain bid’ah mukaffarah adalah setiap bid’ah yang tidak memiliki sandaran hujjah atas perbuatan yang dilakukan dari sumber agama dan tidak sampai kepada kekafiran pelakunya akan tetapi termasuk perbuatan dosa. Contoh : Seseorang yang mengkhususkan pembacaan shalawat nabi dalam memperingati hari kelahiran nabi.

Kepada kedua golongan tersebut hendaklah memberikan penjelasan untuk memahami kepada mereka tentang kekeliruannya serta dengan sikap yang lemah lembut dan tidak dengan mencaci atau meninggalkan mereka sebagaimana Allah berfirman :

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al-an’am : 108)

Sebagaimana pula Rasulullah melarang untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari, oleh karena itu bersabar untuk mengajak mereka kembali kepada jalan yang haq adalah seutama – utama dakwah, namun apabila mereka cenderung kepada kekeliruan mereka dan tetap bersikeras akan pendapat mereka setelah kita berusaha memberi penjelasan semaksimal mungkin, maka meninggalkan mereka adalah dibenarkan dan kembalikanlah masalah kepada Allah dan Rasul-Nya dengan senantiasa berdoa kepada – Nya, agar dibuka mata hatinya kepada jalan yang lurus.

Kesimpulan

Sepatutnya bagi seorang muslim untuk berdakwah dengan bersikap adil yaitu dengan tidak bersikap terlalu kasar tidak pula meremehkan dalam penyampaian dakwah Islam, walaupun mulai dari dalam lingkup kecil seperti keluarga hingga lingkup besar (masyarakat atau negara) karena sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah salallahu alaihi wa sallam telah memerintahkannya dan tertuang didalam Al-Quran maupun hadith– hadith. Yang perlu diperhatikan didalam dakwah Islam ini adalah hendaklah kita bersikap lemah lembut dan mengedepankan sopan santun dengan tanpa mengurangi bobot kebenaran itu sendiri, begitu juga hendaklah dalam mengajak manusia kepada jalan-Nya, dengan melihat dari kondisi mad’u ( orang yang diseru) sehingga mereka dapat menerima dengan penuh keridhaan, keikhlasan dan kesadaran tanpa adanya paksaan atau kepura-puraan. Maka apabila terjadi perbedaan pendapat maka kembalikanlah kepada tuntunan Rasululah dan para sahabat radhiallohu anhum ajma’in dalam mengambil keputusan sehingga terhindar dari perpecahan.

Wallahu a’lam bisshowab

* Maudhu’ tersbut di bawakan oleh saudara fajar Basuni Hajar dalam, pengajian (ta’lim) kerja sama antara Fospi & KKS. Pakistan

About these ads

Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: